Avatar Realm
Avatar, or Avatarim (Sanskrit: अवतार, IAST: avatāra), most commonly refers to the incarnation (bodily manifestation) onto planet Earth. The Sanskrit word Avatāra - literally means "descent" and usually implies a deliberate descent into lower realms of existence for special purposes. (definition compiled from many sources)
Wednesday, July 17, 2013
Monolog dua arah
Sunday, January 15, 2012
Terimakasih, atas kehancuran...
Dingin, kuputar jari di bibir gelas
Tatapan kosong, tak menghangatkan cairan itu, dari luar,
Tetap segelas yang panas di dalam..
Aku menenggak perlahan, seteguk, hingga aku lupa berhitung..
Panas menggelegak, mengembalikan begitu banyak ingatan, sakit, pedih, berbagi dalam senyum...
Aku lupa siapa aku..
Terimakasih, atas hari panjang yang pahit berakhir..
Terimakasih, setelah lembaran itu lumat berserak..
Terimakasih, atas perasaan yang dingin tak berujung
Terimakasih, atas kehancuran dalam tak terjabarkan,...
Barat Jakarta, 20 April 2009...
Basahkan jalan setapak
Menghargai tiap volume, oksigen yang memenuh pembuluh,
seolah terlahir kembali.
Dalam malam gerimisnya mulai menggenang, biarkan tubuh terangkul basah...
Mendingin, tapi memecah penat..
Semua menggigit, gerimis ini mencabik
Tapi sejuknya sesaat mendinginkan jantung berdetak memburu letih
Aku tahu, cukup kupahami di jalan mana kini aku berdiam
Di pinggirannya, aku sapa malam yang gerimisnya perlahan memeluk lembut
Karena semakin terbiasa, semakin terkuatkan...
Dalam malam, di pinggiran jalan ini,
Kusapa kau dalam doa.
Memuja Tuhan Raja Semesta dalam lirik.
Berharap Ia memeluk kita dalam satu yang menguatkan.
Dan syairmu mengalun lembut di pendengaranku.
Tak sedikitpun kulepas kata demi kata, bait yang menenangkan.
Halus berbicara, tak hilang dalam hiruk-pikuk teriknya siang, atau kesendirian fana tengah malam.
Kumohon, berbagilah sejenak.
Ceritakanlah meskipun dalam diam, kumohon berbagilah...
Karena kita sadari, semua perjalanan hidup tak seindah terbayang.
Tapi kita tahu, dari segenggam mimpi kita tumbuhkan,
Ada masing-masing kita di tengah genggaman itu...
Yang memohon lirih, tetaplah bersamaku...
Pinggiran jalan, Surabaya,
18 Februari 2010
Bulan dan lingkarannya
Saat kulihat bergerak perlahan, dan tak menyilaukan, hanya menerangi.
Saat angin memeluk malam kosong, kesendirianku tak berujar apapun.
Hanya menatap polos lekat ke atas, tak menyisakan sedikit jejak dalam suara, kata-kata.
Aku berjalan pelan, saat malam dalam langkah, tetap berjalan.
Karena saat semua diam, kesendirian berbisik perlahan.
Dan sepenggal waktu semakin hidup dalam sabar. Tak berujar, berucap.
Pusara berdua
mungkinkah kita legakan nafas sesaat?
Karena hidup berputar cepat,
mengeringkan dahaga untuk berucap patahan kata.
Yang ternyata, ucapku tertinggal banyak di leher, tak mampu keluar.
Hanya dalam malam yang kuhabiskan, melangkah pelan, tak bergumam.
Khayalan akan masa, mendapati diriku bergeming tak terseret, sedangkan mata air mata menggenang mendalam.
Lalu untuk apakah, saat ini kita rebahkan nafas? Jika waktu lampau tak menyisakan senyuman?
Jika ada sejenak waktu bagi aku, nafasku akan kubagi penuh dalam pelukan, cerita panjang, ceria atau sedih, apapun..
Yang meski hanya dalam sedikit waktu, aku yakin dapat menguatkan langkah yang kau jejaki...
Karena kehidupan, selalu bercerita utk kedua kalinya, untuk hidup yang terlahir kembali.
Barat Jakarta, 21 Februari 2010, dinihari.
Berjalan malam, selalu membuka renungan...
Selepas Hujan
Selepas hujan, aku resapkan dinginnya yang menusuk pori. Membiarkan tusukan udara itu memejamkan lamunan. Seperti saat-saat melangkah dibawah cemara yang berembun, atau setiap jalan kecil menyusuri sungai. Aku tak melepas keindahanmu, terlebih karena semua menancap kuat dalam gambar-gambar sempurna ingatan ini.
Dan ceritakanlah, kita berbagi, dalam waktu seperti selepas hujan. Dalam ruang yang terpisah jarak, rerintikan air yang menetes dari kaki langit. Kita mendengar suara kita, berbicara satu sama lain dengan bahasa yang hanya kita pahami. Tak mengapa, karena cinta punya keharmonisan kata yang tak perlu diurai panjang dengan beragam rumus. Ceritakanlah, berbagi penggalan hidup keseharian. Entah itu menebarkan senyum dan tawa lepas, atau menunduk diri untuk merenung dalam. Setidaknya, cerita-cerita itu menyatukan dan melegakan.
Selepas hujan, malam ini. Ingatanku tentangmu begitu lekat, kental dalam sayup-sayup suara tawa lepasmu yang tulus. Untuk saat-saat yang menguat di hati kecil, dan genggaman hangat saat dingin menyeruak. Dan tetap aku disamping, seperti yang kau lihat apa adanya, mendengarkan dan berbagi kisah...
Good person...
Orang baik, hakikatnya akan tetap begitu...
Dia tahu batasan yang jelas, dia tahu setiap konsekuensi atas kesalahan, dia melangkah, dan dalam kesalahan dia tundukkan kepala & bangun kembali....
Seorang dalam kebaikannya, boleh tenggelam di kesendirian, boleh tenggelam dalam jatuhnya tak berakhir, tapi ikhtiarnya tak pernah selesai, tak pernah berakhir...
Orang baik, kembali merenung, bangkit...
Dia tahu akan kembali dalam fitrahnya, menjadi cahaya untuk sekelilingnya...
Orang baik, semoga kita semua menuju kesana...
Selatan Jakarta, 26 Maret 2009, 00:17..
Semoga setiap jatuh, kita akan teringat...
Saturday, September 11, 2010
Hujan membebaskan...
Sunday, March 07, 2010
Dingin...
Cuaca saat itu, kabutnya menyelimuti, tebal.
Dan dingin bercerita, seberapa diam kita disana,
mencoba perlahan membuka cerita, dan semakin terceritakan banyak hal
dingin yang mendekap, yang menggetarkan bibir
larut yang semakin panjang, dan kita tetap terduduk berdua
Kadang berbisik dan sedikit menunduk, seolah mengingat banyak hal
Kadang terbahak, dan kadang diam menghela nafas
Dingin saat itu, menceritakan dalam pada kita, betapa kekuatan itu kita pulihkan
Sementara waktu panjang yang bergerak perlahan, seolah semakin cepat saat semua terbagi
saat wajah kita tak lagi kaku dan sungkan, kita semakin melepas banyak beban
Dan apa yang perlu kita simpan dan sembunyikan? Saat kenyamanan memberikan kita sedikit keberanian untuk mencerna perjalanan panjang, atau memberanikan perasaan untuk dikenal dan mungkin sedikit saja dapat dikenang.
Aku dan kau mungkin terkunci pada banyak hal yang tak mudah dijelaskan, tapi beberapa hal seringkali tak perlu dijelaskan panjang lebar dengan kalimat-kalimat panjang dan berantai.
Banyak hal cukup kita mengerti hanya dengan masuk sedalam mungkin pada sebuah pandangan, dan memahami bahwa hidup tak serta-merta memberikan senyum terbaiknya pada kita.
Cukup dengan mengerti, bahwa hidup menampar kita terus-menerus, dan kita adalah pejuang-pejuang yang kukuh pada jejak langkah kita.
Tak menatap balik ke belakang, karena kita hidup untuk detik ini dan selanjutnya.
Dan bukankah kebahagiaan itu adalah mimpi kita yang sekian lama tak tergubris oleh kerumitan sekeliling?
Atau ributnya lalu-lalang kendaraan saat kita melangkah di pinggiran,
Atau samar-samar bayangan yang kita coba kejar tapi tak tersentuh...
Kebahagiaan, ada dalam setiap cerita yang dapat kita bagi bersama,
saat wajah kita tak lagi kaku berekspresi dan memandang satu sama lain.
Aku, dan Kau, tahu persis di batas apa kita melangkah,
dan kita sangat paham bahwa melangkah melewati batas itu, adalah kebahagiaan yang kita bayangkan dan cahaya itu diberikan walau hanya secercah oleh Khalik.
Lalu, kita bertahan dalam dingin yang menusuk, karena kita sangat kenal pada sebuah harapan yang muncul, kita kenal perasaan itu amat-sangat...
Dan semakin lekat bayangan itu menampakkan pada kita, akan seperti apa hidup di depan kita.
Maka sedikit saja, dalam waktu-waktu pendek dimana kita bertemu dan melangkah bersama, mari kita sama-sama melekatkan cerita kita yang semakin padat berarti...
Karena kita semakin melepaskan sebagian diri kita untuk dilengkapi, dan dikuatkan...
Dan niscaya dingin itu semakin bersahabat untuk kita...
Selatan Jakarta,
7 Maret 2010
Sunday, January 31, 2010
Mari kita bicara
Mari, kita mulai semua bicara, dengan berkata perlahan
Bahwa Tuhan punya begitu banyak cara untuk mempertemukan kita
Mereka yang berjalan dengan kosong, atau bertabrakan dengan hidup,
Atau terus mencari dalam kosong, atau sepi di tengah keramaian
Semua selalu ada alasannya, untuk satu atau begitu banyak hal
Seringkali kita tanpa sadar terus berjalan padahal diberikan sebuah cahaya
Bahwa seseorang berjalan dengan ritme yang sama, irama yang sama, atau menunduk sama dengan kita, atau tengadah dengan begitu percayanya
Semuanya atas alasan yang tak mudah kita mengerti, namun nyata dan perlahan kita cernakan semua makna itu
Mari, kita mulai berbagi, dengan saling berdampingan
Dalam waktu-waktu kosong, dimana hilir-mudik keramaian tak valid lagi untuk sebuah kebersamaan, dan kita tinggalkan semua hal
Pergi ke tempat yang tak terganggu, hanya untuk saling berbagi
Cerita-cerita panjang yang tampak tak berakhir, tapi memperkuat diri
Semakin lama, semakin panjang dan tak berakhir, tapi berujung kekuatan yang terbentuk nyata
Dan kita, tak mau aus-kan diri kita atas hal-hal yang tidak alami
Aku dan kamu, kita berbagi untuk sebuah kekuatan yang tak bisa kita jelaskan banyak, hanya bisa kita rasakan dari jalan-jalan panjang yang dingin dan tak kita buka pada siapapun.
Seperti berjalan di bawah ratusan cemara, hutan dingin yang menyegarkan benak kita. Tak peduli suhu yang mendingin, kita tetap tapaki jalan setapak itu dan bergerak perlahan, mengatur nafas untuk terus melangkah dan bercerita.
Aromannya menyegarkan, membuat sebuah ruang ketenangan yang membebaskan kita menjadi diri sendiri. Lalu kita berharap waktu ini tak habis oleh detik jam, atau teori relativitas dapat terjadi bahwa kita bergerak lebih cepat dari waktu seolah sekeliling kita berhenti.
Ceritakanlah tentang dirimu, yang sepi di tengah keramaian, atau lamunan panjang yang menyesakkan pikirmu. Atau saat berada di dalam perjalanan jauh, dalam pesawat yang sedang lepas landas atau mendarat, dan kau daratkan pandangmu keluar bingkai jendela. Sendiri, tak berujar apapun dan hanya memutar begitu banyak kenangan. Kita selalu mencoba keluar dari belenggu, atas nama diri pribadi yang mencoba terbang lepas menjadi diri sendiri. Dan kita terkunci dalam alam yang menamakan dirinya norma, nilai, atau apapun namanya. Dan kita semakin anomaly di dunia yang nyata-nyata sering tak berpihak. Tapi bukankah itu bagian dari kebijaksanaan yang harus kita raih? Dan kebijaksanaan hadir lebih lambat dari ribuan pemahaman pengetahuan yang kita raih. Tak dapat dipercepat, hanya dapat didalami semakin lama waktu berjalan.
Dan aku mendengar. Biarkanlah benakku mendengar, karena kita melibatkan begitu banyak hal yang berputar dalam kalbu dan harus kita lepas, demi tenang yang dapat memeluk kita setelah sekian lama tak tersentuh. Lepaskanlah, dan aku merengkuh dalam setiap getir yang kau lepaskan, setiap peluh yang membasahi langkah, atau setiap kecaman pada diri sendiri atas hal-hal yang tak termengerti. Bukankah Tuhan Maha Baik? Mempertemukan manusia-manusia yang kehilangan tenaga, dengan yang lain untuk menyeimbangkan? Equilibrium terjadi dimanapun, mensejajarkan semangat pun getir. Karena hidup terlalu berharga untuk kita sia-siakan atas hal-hal yang tidak alami. Tapi bukankah kita terlalu sering memetamorfosakan kejujuran atas dalih-dalih artificial dengan maksud menjaga keseimbangan? Lalu, apakah jujur salah? Sama sekali tidak, hanya saja tidak semua hal jujur menyenangkan. Dan semakin dalih itu membelenggu ucap kata dan hati, semakin jauh kita tidak menjadi diri sendiri. Keseimbangan tidak lahir dari hal-hal dalih artificial. Sama sekali tidak. Keseimbangan justru lahir dari hal paling hakiki yang dapat kita utarakan. Dan ceritakanlah, bukankah saat ini kau dapatkan keseimbanganmu kembali dengan membuka ruang-ruang terdalam itu?
Aku menulis, sedikit kata hingga ratusan kata, adalah mencoba menembus batas-batasku yang tak mudah ku-urai, tak mudah aku keluarkan begitu saja. Dan mudah atau tidaknya setiap kata, sangat tergantung bagaimana kau ikut berjalan di setiap cerita. Karena juga begitu banyak hal yang terbagi, karena kau dan banyak hal lain di sekitarku ikut membangunnya. Aku memang mengijinkan begitu banyak hal bermain dengan alam fikirku, karena proses kebijakan tidak berjalan dalam alur yang pendek. Semakin jauh kita melangkah dan mengatur ritme atas banyaknya tamparan-tamparan yang harus kita selesaikan, semakin tenang kita berhadapan dengan hal-hal selanjutnya.
Aku sudah melangkah jauh meninggalkan banyak hal di belakang. Prahara atau api panas, atau malam-malam dingin yang mengunci, atau langkah tak berarah, atau apapun. Tetap aku mencari. Dan aku yakin, kau mencari titik yang sama. Atau sejalan. Atau hanya berbagi informasi agar tak tersesat. Apapun itu, tak mengapa. Karena kita berbagi untuk sebuah kekuatan. Kita menenangkan dan tak mengizinkan jatuh lagi dalam jurang dalam itu sendiri. Kita mengulur sebuah tarikan, yang menjaga keseimbangan kita. Kita bicara dalam bahasa yang akhirnya kita ketemukan setelah sekian lama.
Jadi, mari kita bicara, atas nama ketenangan yang menguatkan diri…
Selatan Jakarta, 31 Januari 2010, 20:44
Lama tak bicara, akhirnya lepas…
Atas nama kopi, malam, dan bintang...
Anak lelaki itu, digandeng bapaknya, berjalan pelan diatas tanah berbatu. Bergelombang, tapi cukup padat untuk menahan beban tiga kendaraan berat yang parkir di area itu. Dua orang mendatangi bapaknya, mengucap salam, dan berdiskusi. Anak lelaki itu hanya memperhatikan, tapi bukan pada tiga orang dewasa yang berbicara bahasa rumit untuk anak seusianya. Si kecil ini hanya melihat seksama pada truck-truck yang diparkir di dekatnya. Dan pelan-pelan ia berjalan mendekati, dan mengamati.
‘De, suka lihat truck?’
Si kecil hapal betul, suara berat bapaknya. Tetap menatap ke truck, ekspresinya terkagum-kagum.
‘Pah, kok bisa yah mobil segede ini?’
Perlahan bapaknya berjongkok di sampingnya, ‘ini, yang namanya truck... mobil gede yang dibuat untuk bawa banyak barang, De...’
‘Kenapa musti bawa banyak barang sih, Pa? Kan bisa pake yang kecil?’
‘Kan kalo bawanya bisa banyak, mobilnya gak usah bolak-balik ngambil muatan terus’
‘Mesinnya gede ya Pah?’
‘Ya pasti gede, kan supaya bisa jalan sambil bawa banyak barang’
‘Yang nyetirnya juga gede?’
‘Tuh, Oom-oom yang disana, yang tadi ngobrol sama Papa’
Si kecil melihat ke arah dua orang dewasa yang tadi berbicara dengan bapaknya.
‘Gede juga ya Pah...?’
‘Bukan badannya yang besar, De... tapi pekerjaannya yang besar’
‘Gak capek Pah, bawa mobil gede gini?’
‘Kalo buat anaknya bisa sekolah, mereka gak pernah capek De... ‘
Si kecil menatap ke bapaknya, yang tersenyum dan mengusap-usap rambut si kecil
‘Makanya, yang rajin yah sekolahnya... malu sama anak-anaknya Oom-oom itu yang tetap rajin sekolah, padahal jarang ketemu bapaknya...’
‘kenapa jarang Pah..?’
‘Kan bapaknya kerja bawa truck ini, supaya anaknya bisa sekolah...’
Si kecil mengangguk, dan tetap terkagum-kagum pada mobil besar dihadapannya.
~~~~~~~~~~~~~
Kadang, kita luput membaca arah mata angin
Atas tujuan yang mana, atau gerakan kita yang seolah tak mudah terpahami
Meskipun bintang berbaik hati mengarahkan, kita tak pandai membacanya
Namun hal fundamental, tertanam kuat dari bertahun-tahun lamanya
Sadar atau tidak, kita berputar dalam fondasi itu,
meskipun dalam bentuk-bentuk baru yang ber-evolusi...
~~~~~~~~~~~~~
Si kecil panik, uang ongkos angkutan pulang sekolahnya, habis karena dia kebanyakan jajan hari itu. Tinggal tersisa beberapa koin, dan ia berjinjit dengan susah-payah di depan telepon umum sekolahnya. Berhasil, satu koin masuk. Nomor yang dituju jelas, nomor kantor bapaknya.
‘Pa, minta tolong dong, uang ongkos aku habis... aku gak bisa pulang ke rumah...’
‘Kamu dimana De sekarang?’ Suara bapaknya terdengar jelas, tenang bergeming.
‘Masih di sekolah Pa... mustinya uangnya cukup, tapi...’
‘Kepake untuk jajan yah, De?’
‘Iya Pa...’
‘Kan kamu tahu, harusnya kamu sisakan untuk ongkos angkot pulang kan?’
‘Iya Pa... Aku lupa...’
‘Kamu tahu kan jalan pulang ke rumah, De? Kamu tetap punya kaki, tangan, badan, dan tenaga kamu sendiri. Kamu lupa sisakan uang untuk ongkos kamu, sekarang kamu pulang ke rumah jalan kaki, bisa kan?’
‘....tapi aku takut Pa...’
‘Gak usah takut... Baca doa dulu, dan Allah nanti nemenin kamu...’
‘Kalo aku gak kuat Pa?...’ Si kecil mulai panik...
‘Kan udah baca doa, berarti udah minta tolong sama Allah, nanti pasti dikasih kekuatan... Ade harus yakin Ade bisa, pasti dikasih kekuatan sama Allah... Berani kan?’
‘...iya deh Pa, aku coba... makasih ya Pa...’
Telepon ditutup, dan si kecil mulai komat-kamit, baca doa sederhana yang dia tahu. Secepat itu, kepanikan menjalar, tapi mulutnya tetap komat-kamit dengan doa-nya. Dan akhirnya, dia melangkah.
Hari itu, terik amat sangat, khas panas tropis di tengah hari. Ia jalan pelan, kadang berhenti sejenak menarik nafas. Tidak perduli mobil lalu-lalang, atau apapun ancaman-ancaman di jalan, dia mencoba tutup semua ketakutannya. Hampir dua jam berselang, saat ia melihat rumah dan berjalan makin cepat. Makin tersenyum, meskipun badannya protes keras karena lelah amat-sangat. Akhirnya ia tiba di rumah. Mengetuk pintu, dan pintu dibuka oleh Bapak-Ibunya. Menangis, ibunya memeluk si kecil. Bapaknya tersenyum lebar, dan ikut memeluk si kecil, dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
‘Apa yang tadi Papa bilang? Kamu pasti bisa kan...?’
‘Iya Pa, Ma... seneng banget aku bisa sampe rumah...’
‘Usaha siapa tadi, De...?’
‘Iya yah Ma, aku sendiri yang jalan sejauh itu...’
Bapaknya memeluknya lagi, dan berujar ‘hanya kamu yang bisa bawa diri kamu maju, De, percaya kalau kamu bisa, percaya pada kemampuan kamu... Allah gak akan membantu kita kalau kita gak mau bantu diri kita sendiri, De...’
Dan siang itu, si kecil begitu menikmati kebersamaan dengan Bapak-Ibu dan Kakaknya... Plus menu baru dalam pikirannya, belajar dan percaya bahwa dia harus bisa merubah dirinya untuk maju.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semesta tidak memelukmu dalam tawa terbahak saat sedih, pun tidak meninggalkan sebersit sinisme dalam kekalutan...
Semesta-mu merangkul kesendirian dalam senyum, yang bijaknya selalu merengkuh hati terdalam, tak membiarkan sungai air mata menggenang, tak akan...
Semesta-mu merengkuhmu dalam kehangatan yang tak kau duga, dia yang tak kau bayangkan, selalu ada dalam butuhmu meski kau tak melihatnya dalam...
Dia selalu ada untukmu, atas nama cinta yang diam tak banyak bersuara
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Lelaki itu ingat, bagaimana hidup menamparnya begitu keras. Duduk subuh dinihari, menutup rakaat terakhir dengan salam, diatas sajadah itu ia mengejamkan mata sejenak. Lorong rumah sakit tempat ia berlari kencang dulu, dulu sekali, saat bahkan seragam sekolah masih dikenakannya. Terlambat, tidak cukup waktu untuknya. Waktu berbulan-bulanpun tidak cukup meyakinkan, dan ia mendengar bisik lirih yang larasnya menembang pelan di telinganya. ‘Terimakasih, untuk semua yang sudah diberikan. Hanya ini jalan satu-satunya agar semuanya terobati, mengurangi pedih. Jaga diri kamu baik-baik, jaga impian kamu, kejar terus supaya jadi nyata.. aku lihat koq dari atas…’
Ucapan terakhirnya, Maha Besar Allah, terdengar menyakitkan dan ironis. Tapi lelaki itu masih terpejam. Lembaran-lembaran berputar cepat. Mundur ke waktu sebelumnya, atau maju ke masa akhir. Ia habiskan subuh ini dengan berkurangnya waktu di hidup, pertambahan masa, dan kalimat yang membunuh subuhnya. Hari ini semua berubah, dan akan berubah keras di hari-hari esok. Entah bagaimana pulih, tapi demi masa, semua tidak akan pernah sama lagi.
Lelaki itu ingat, dan terpejam. Dulu, kini, dan esok, semuanya mungkin sudah terlewati. Meskipun dia tak tahu bagaimana merangkak bangkit, tapi waktu memang menyembuhkan. Perlahan, waktu berbicara banyak hal. Tak sadar, subuh ini, ia sedikit mengulum senyum pada waktu yang begitu hebatnya menjadi tabib bagi therapy hidupnya. Untuk setiap bulan Mei dan Agustus, ia habiskan waktu berbincang di Tanah Kusir, mengangkat kepala ke langit dan tersenyum karena keduanya pasti melihatnya dari atas sana. Atau bulan desember saat ia luangkan waktu sejenak ke bandung hanya untuk nyekar bunga-bunga di tumpukan tanah itu. Tapi ia tahu pasti, waktu tidak meninggalkannya, dan serpihan itu terlekat lagi perlahan meski belum sempurna.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kau boleh menutupnya rapat, sekuat-kuatnya kau genggam tudung perasaanmu untuk tak tergapai, tersentuh siapapun...
Namun mungkin perlahan kau tak sadarkan, bahwa kau mulai sisipkan sedikit demi sedikit ruang perasaan itu, kau mulai terlindungi oleh seorang, nyaman-mu kau rasakan meski dalam bawah sadar...
Tapi kau mencinta kembali, akhirnya setelah kosong, pada figur yang hadir perlahan-lahan dan mengisi tawamu, meredakan tangismu...
Kau tak sadar tapi kau mencinta kembali, bangkit akhirnya, meski kau tak sadar sayang itu merengkuhmu lagi,
seorang yang sahaja tak banyak kata-kata muluk, tapi murni memeluk perasaanmu...
Ceritakanlah, jika kau bertemu perasaan yang bergetar lembut, pelan tapi pasti, apakah kau akan hindarkan diri dari rangkulannya, atau kau izinkan dirimu masuk jauh untuk ditenangkan dalam nyaman?
Bintangmu, sejatinya terangkan malam-malam panjangmu dalam tidur pulas, merangkul mimpi-mimpi yang kau kejar…
Dan lepaskanlah dirimu untuk dipeluk atas nama kasih sayang, yang menenangkan
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Lelaki itu, diam memegang lembaran surat pemutusan hubungan kerja. Ia berhadapan dengan dua lelaki yang sudah cukup berumur dihadapannya. Kasus mereka berat. Perkelahian di area kerja, tidak pernah ditolerir. Dan prinsipnya begitu jelas baginya, ia tak mungkin melanjutkan kedua orang di hadapannya untuk terus mencari nafkah di perusahaan ini. Tapi memberhentikan orang, bukan perkara mudah. Memberhentikan, berarti memutus rantai pencaharian bagi keluarga mereka. Dan kasus seperti ini tidak pernah mudah.
‘tolong pak, saya masih mau kerja disini. Saya salah pak, kami berdua emosi dan mengaku salah… tapi mohon kebijakan bapak untuk tidak memberhentikan kami… saya harus kerja dimana lagi pak?’
Rekan lainnya sudah meneteskan air mata. Berusaha menggali sedikit ruang belas-kasihan agar surat itu tidak ditandatangani. Lelaki itu menatap lekat-lekat ke kedua bapak-bapak di hadapannya. Tetap diam.
‘kalau saya tidak memutuskan, apa kata ratusan teman kalian yang lain? Kalian tahu resiko lebih besar di teman-teman kalian? Konflik fisik ternyata diperbolehkan, dan selanjutnya pengelolaan kita hanya jadi seperti hukum rimba…’
Kedua bapak di hadapannya, akhirnya menangis bebas. Tetap memelas, dengan begitu banyak alasan. Lelaki itu berdoa sejenak, dan mengambil pena.
‘silahkan ditandatangani, pak…’
Kedua bapak itu menatapnya dengan kaget, dan air mata semakin deras.
‘Pak, saya harus lindungi teman-teman bapak yang lain, supaya tidak jatuh di kesalahan yang sama… ini lebih besar dari permasalahan bapak-bapak, dan saya harap bapak bisa mengerti…’
Kedua lembar itu, ditarik oleh mereka berdua. Lelaki itu bisa melihat, air mata mereka menetes ke lembaran itu. Bergetar, dua lembar surat itu ditandatangani oleh mereka. Lelaki itu menarik kembali kedua lembar, dan mengambil pena dan mulai menandatangani bagian surat yang mewakili perusahaan.
‘Terimakasih pak. Tetap banyak doa dan ikhtiar yah pak, agar tetap diberi jalan oleh Allah…’
Ia berdiri, dan menghampiri kedua bapak yang masih menunduk terisak. Refleksnya saat ini mewakili individu pribadi kembali, bukan wakil entitas bisnis bernama perusahaan terbatas. Perlahan, ia merangkul bahu kedua bapak itu, dan berbisik kata-kata maaf yang bergetar pelan. Ia membalikkan badan, dan berjalan meninggalkan meja itu. Menyerahkan kedua lembar surat itu ke asistennya tanpa berbicara apapun, dan turun ke lantai dasar menuju musholla.
Sujudnya terasa begitu kosong, doanya begitu hampa. Nyaris lupa apa yang harus dia ucapkan dihadapan Khalik. Sore itu, ia putuskan mencari seorang pengemudi senior yang sudah bertahun-tahun berdedikasi sebagai pengemudi truck, di perusahaannya. Ia akrab dengan bapak yang satu ini, dan ia hanya ingin bercerita dan berbagi.
Ia bertemu bapak senior itu, di warung samping dekat parkiran truck. Dan seperti hari-hari biasanya, ia memesan secangkir kopi dan menyapa bapak senior itu dengan hangat. Bapak itu selalu ramah, dan murah senyum dengan gaya santun khas priyayi Jawa. Perbincangan berjalan mengalir, dan sampai pada saat bapak itu bertanya dengan ramah…
‘pak, sedang ada beban berat yah Pak..? Mungkin bisa dibagi, supaya ndak terlalu berat pak…’ gaya bicaranya khas Jawa Timuran, ditambah aksen kebapakan yang tenang.
Lelaki itu diam. Beberapa menit, mereka berdua hanya mendengar deru truck yang keluar-masuk di lahan parkir truck itu.
‘Pak, sudah berapa lama bapak bawa truck? Nggak capek pak, kerja seperti ini? Katanya dulu bapak pernah cerita, orang tua dulu punya sawah. Kenapa bapak nggak melanjutkan aja pak jadi petani? Koq malah belok jadi bawa truck?’ Lelaki itu bertanya santun ke pria yang sudah berumur tapi tetap tegap itu.
‘Ah, pak, jalan hidup orang itu beda-beda pak. Dulu, orang tua saya jadi petani, masih enak pak jadi petani. Wong cilik seperti kita, masih bisa manen padi trus kita jual dengan harga layak. Sekarang-sekarang ini, wis ndak iso pak, lebih susah.. kita habis manen padi, musti jual ke pengumpul, nanti pengumpulnya yang jual lagi ke pedagang besar. Kita dapetnya kecil pak, syukur-syukur bisa sisakan sedikit untuk ditabung. Kadang malah tetap berat. Jadi saya waktu seusia bapak ini, saya ingin coba kerja lain yang jujur, tapi masih bisa nabung pak.’
‘Tapi kerja kan dimana-mana gak ada yang gampang pak?’
‘Betul pak, itu dia makanya saya percaya, jalan hidup orang itu beda lho pak. Saya ambil jalan jadi bawa truck, beda jauh sama bapak saya dulu, tapi bukannya lebih ringan pak. Sama-sama berat koq…’
‘Tapi? Ada yang beda yah pak..?’
‘Yah, bedanya yah jalan-jalan pak, bisa lihat dunia luar, bisa punya wawasan, beda kalau di kampung saya cuma lihat sawah yang itu-itu aja… lha wong saya ini waktu muda suka sekali tantangan pak…’
‘Tapi bapak jadi jarang toh ketemu keluarga pak? Wong jalan-jalan ae koyo ngono?’
‘Hahaha, bapakku iki iso ae pak… Ndak opo-opo pak, memang kerjaannya yah begini ini.. saya dua puluh tahun lebih pak jadi supir, mulai malah jadi kernet pak, masangin kek-ban supaya truck-nya ndak mundur di tanjakan, trus bongkar-bongkar barang, trus pelan-pelan belajar bawa truck, trus bisa dan ada tabungan sedikit, saya ambil SIM truck pak. Tapi saya ya percaya aja pak, kalau kerja lurus yah pasti dikasih jalan terus sama Gusti Allah… pernah dikeroyok rampok, sampe diborgol, dibuang ke hutan, tetep aja pak saya bisa lepas karena dilindungi Gusti Allah… alhamdulillah pak, sekarang ini meskipun saya cuman sebulan dua kali tiga kali ketemu keluarga, tapi anak-anak saya bisa sekolah lebih tinggi dari saya pak… Yang sulung aja sudah masuk kuliah lho pak’
Bapak itu tersenyum, menyeruput kopinya, dan menghembuskan nafas lega dengan nikmat kopi sore hari itu.
‘Pak, Bapak nggak pernah capek pak? Pasti berat sekali kan kerja seperti bapak?’
Bapak berumur itu menatap lelaki muda di sampingnya, dan kembali tersenyum seperti figur bapak ke anaknya. Dengan santai, dia merangkul bahu lelaki muda itu..
‘Nggak pernah capek pak, wong aku kerja untuk anak-anakku koq, bukan untuk diri aku sendiri… kalo sudah bicara anak, pasti kita gak pernah capek pak’
Lelaki muda itu tersentak. Gemetar, ia putar waktu mundur jauh sekali ke masa sangat awal dari kehidupannya. Masih kabur, tapi ia mencoba terus.
‘Makasih yah pak, untuk kata-katanya. Anak-anak bapak pasti bangga kalau bapaknya laki-laki hebat’ ujar lelaki itu. Ia berdiri, bersalaman dengan bapak berumur itu.
‘Doa saya untuk bapak dan semua keluarga bapak. Jaga kesehatan lho pak, jangan ngebut-ngebut kalau bawa truck’ ujar lelaki muda itu sambil tersenyum.
Bapak berumur itu tertawa, ‘mohon doanya pak, doanya untuk anak-anak saya yah pak, semoga bisa pintar seperti bapak dan jadi pemimpin yang ngemong ke semua staff-nya’.
Lelaki itu menunduk, ‘saya bukan siapa-siapa pak… saya cuma lokomotif yang menggerakkan kereta.. kalau kereta nggak ada gerbongnya, nggak ada penumpang, lokomotifnya kan gak berfungsi pak’
Lelaki itu pamit dan berbalik, berjalan menjauh saat tiba-tiba ia mendengar bapak berumur itu berkata cukup keras..
‘Pak, gerbong dan penumpang selalu ada pak… tanpa lokomotif, gerbong dan penumpangnya nggak bakal sampai tujuan, pak… Kalau gak sampai tujuan, anak saya dan anaknya teman-teman lain gak bakal bisa sekolah tinggi-tinggi pak… Lokomotifnya harus tetap kuat yah pak. Doa saya untuk bapak, semoga selalu dilindungi Gusti Allah, diberi kesehatan dan kekuatan, supaya lokomotif bapak bisa jalan terus pak.’
Lelaki itu tersentak kembali. Ia berbalik badan dan menatap bapak berumur itu. Bapak itu berdiri kira-kira lima meter di hadapannya, lalu menunduk menghormat. Lelaki itu menundukkan badannya, menghormat lebih tunduk pada bapak berumur itu. Lalu berbalik arah, dan berjalan kembali ke ruangannya.
Duduk di ruangannya, ia putar kembali memori awal hidupnya. Ia sudah tidak tahu lagi, kemana mainan truck kayu yang dibuatkan oleh ayahnya dulu. Tapi ia masih ingat dengan tajam, saat mereka berdua berbincang di hadapan tiga truck ayahnya. Dan ia masih ingat dengan jelas kalimat yang keluar dari suara berat ayahnya…
‘Kalo buat anaknya bisa sekolah, mereka gak pernah capek De... ‘
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Berhenti sejenak, aku lihat langit, berbintang tak seramai biasa, tapi tetap cahayanya menunjukkan arah...
Mungkin kita bisa tersungkur, terjerembab, pun berbentur keras, dalam wujud realitas tak akrab...
Tapi perihal cinta, kita selalu tafakur-kan hati...
Membayangkan sejenak saja menggenggamnya, memberi sedikit senyum pada bathin...
Semoga waktuku masih panjang untuk menatapmu, dalam deru panjang debu beterbangan atau ruas jalan tak berujung...
Sedikit saja izinkan aku menggenggam halus..., dan kau rasakan waktu yang bersahabat pada seluruh hidupmu...
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Barat Jakarta, 24 Oktober 2009, 03:39 dinihari
‘Kalau punya mimpi & cita-cita, bangun dari tidur, bangkit dari tempat tidur, dan kejar mimpi itu jadi kenyataan... kalau terus tidur, mimpi itu tidak pernah jadi kenyataan...’