Thursday, August 03, 2006

Kosmos yang bergerak.. hampa.....

Bukan, ini bukan merek produk temannya ibu-ibu di dapur!
Bukan alat untuk masak nasi, atau memanaskan makanan...

Kosmos hanyalah ruang kosong
Tempat kita ada dan berputar pelan
Berkhayal, dan sedikit banyak berimajinasi tentang dunia-dunia lain, imajiner
Dunia yang berkilau sesaat, redup sesaat, tenang, ramai
Teduh karena banjir kesejukan

Bicara sedikit tentang kosmos ini,
Adalah bicara banyak tentang kerinduan
Yang sepi dalam dingin malam
Malam-malam tak berujung-pangkal, yang lekat dalam keseharian
Sedihnya, aku hanya bicara sendiri tanpa menggerak bibir

Kosmos bicara tentang hidup,
Tentang kasih, tentang perjuangan
Dalam jalur-jalur panjang yang kita pilih sebagai petualangan
Alam tapal batas, antara sabar dan geram
Selalu tanpa letih dalam pencarian

Dan katakan padaku, sebanyak apa yang kau faham tentang kosmos?
Apakah sedikit biluh kepedihan...
Atau sebanyak senyum tersungging?
Dalam malam-malam panjang keriaan
Yang membunuh kehidupan hati kecil ini

Dan semburat tawa yang senandungkan kidung
Anak-anak kecil tak berdosa
Lepas dari lara menggunung, aku sabdakan sedikit saja
Dari sisa-sisa letihku hari ini

Kosmos adalah tentang aku, dan Dia
Sebagian besar kosmos yang menyedot ibaku pada diri sendiri
Betapa sedihnya melupakan sejenak dalam hadapku
Ia hanya tetap tersenyum,
Lihatlah, kebiasaan yang Kucipta tak lepas dari lupa

Dan Kosmos sebagai ruang kosong
Akan menerimamu
Lebih dari sekedar gedung-gedung batu
Dengan pilar-pilar megah dan kubah raksasa
Kosmos menerimamu lebih dari itu

Menyedot dalam sekali ke pembuluh nadi
Nadi raksasa tanpa status
Hanya keyakinan dalam yang membisikkan adanya Dia
Tanpa tiada, sabda keabadian
Dan ruangNya kekal dalam sanubari

Sedikit saja kuluangkan waktu untuk itu
Dan semakin banyak tamparan yang kuhadapi
Sedikit membangunkanku bahwa hidup tak sedingin yang kukira
Padahal kukira kosmos hanyalah merek fabrikasi,
Mesin pencari keuntungan dari tangan-tangan darah dan mesin yang tersedot

Kosmosku tak bicara banyak,
Hanya mengundangku masuk lebih jauh, itu saja
Karena aku tahu ruang ini tak bicara, pun berbisik
Tapi kurasakan detak hati itu begitu berdebaran
Saat kuhampiri perlahan, dan bertanya yang tak terjawab

Ruangan itu kecil, di hati kecil mungil
Selalu ada, & muncul
Menghampiri setiap gerbang jalan-jalan pilihan
Kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang
Dan aku tak peduli keramaian itu lagi

Dan katakan padaku, mengapa aku tetap terdiam dalam gemuruh?
Adakah Ia menghilang dalam keramaian
Dan datang dalam kekosongan?
Ataukah ia menyapa biduk-biduk yang singgah perlahan
Di sungai-sungai air-mata?

Katakan padaku, mengapa aku begitu yakinnya
Mengapa aku begitu percayanya akan Itu
Sedangkan bertahun-tahun kupelajari Marxisme, Das Capital,
Kennedy, Il Principe, dan begitu banyak lainnya
Dan ketakutan akan kebutaan pengetahuan

Kawan, aku semakin dalam tenggelam
Kedekatanku tak pupus meskipun dalam tulisan dunia
Dia tak muncul dalam bangunan batu & tanah
Dalam kubah-kubah raksasa & ukiran emas
Dia tak muncul dalam kidung-kidung harmoni

Para sufi menyanjungnya dalam kosmos mereka
Para ilmuwan tafakur dalam keajaibanNya
Hewan bersorak-sorai dalam bahasa Sulaiman yang menyatukan
Semakin banyak tanya, semakin semuanya mencari kosmosnya
Dan sekali lagi, bukan merek dagang sahabat ibu-ibu
Yang tertawa bila masakan mereka sukses berat terbantu

Ribuan mil terlewati dalam pertanyaan
Petualanganku hanya mencariNya, tak ayal terjawab
Karena Dia toh dimana-mana,
Tak menjawab, hanya menunjukkan
Bukan dari kemegahan tulisan, bukan dari pesan-pesan agung
Hanya nurani penunjuk arah
Meskipun mata angin berputar membingungkan

Dan kau tersejukkan
Dalam ruang kosmosmu yang dihampiri
FigurNya abadi, kekal tak berakhir
Caraku tersendiri, membiarkanku masuk jauh
Tersedot vacuum-cleaner pesan-pesan hayati

Kosmosku bicara dalam bahasaku
Bukan aramaic, arabic, yunani, romawi, ibrani,
Tapi nurani terdalam yang merangkai bait demi bait
Kekaguman akan hadirNya di semburat letih dan lelah
Begitu kuhargaiNya yang menemani setiap peluhku
Dan mengingatkanku tengadah dalam kebahagiaan
Senyum-senyum yang terangkai tetap dariNya
Kosmosku bicara begitu banyak kata
Yang hanya dapat kumengerti sendiri
Tak butuh bantuan banyak orang
Karena Khalik-ku merajaiku tiap saat
Selalu...

Lalu mengapa mesti takut untuk pergi
Ucapkanlah selamat jalan, untuk langkah panjang
Saat gerbang putih terbuka lebar,
Mengapa takut untuk pergi?
Tak ada bedanya, sekarang, sejam lagi, besok, lusa, atau bertahun-tahun kedepan
Saat kontras terbuka, lahir dalam tangis dan pergi dalam senyum
Mengapa takut pergi?
Toh Khalik-ku ada selalu untukku, sekarang, dan kapan saja...



(from original essay)
Bandung, 15 Januari 2003
Speaking about God, always interesting.....
Ternyata anak gunung bisa khusuk dalam lamunan

1 comment:

Anonymous said...

tulisannya menarik nih...
pengen tahu lebih banyak lagi
keep up posting yah,
it's been an enlightment, reading your essay :-)