Thursday, August 03, 2006

Lepas dari persimpangan

Aku kenal dia dulu, cukup lama waktu yang sudah lepas

Di pojok ‘warung makan’ amrik-style – yang makanannya mengandung begitu banyak carsinogenic
Tapi tetap bisa membius banyak orang untuk jajan ala cowboy, roti lapis dengan daging, dengan maskot badut (yang menurut banyak orang begitu lucu, tapi aku gak pernah merasa maskot ini lucu..)
Aku lihat dia dengan baju sma-nya, duduk diam tekun membuka halaman demi halaman dari novel kecil
Hmmm, agatha christie…
Well, this lady knows the good one to be read… tapi koq agatha christie??? Siang-siang di riuh-hiruk-pikuk satu-satunya plaza yang dianggap paling layak untuk gaul di kota kembang?
Koq baca novel detektif? Monsieure Poirot jelas bukan tokoh yang menarik untuk aku siang itu, dengan baju sma melekat di badan, & baru belajar untuk mabal di kelas satu jenjang sekolah yang dikenal paling asyik untuk belajar nakal….
Koq nggak ngerumpi dengan genk cewek yang biasa kelihatan di penjuru-penjuru bandung, ngomongin hal-hal yang buat anak-anak cowok amat sangat nggak jelas?
& begitu banyak pertanyaan lain dalam benak, yang nggak bisa keluar begitu aja..
ya iyalah, kenal aja belum…

Tapi dia misterius

Jadi, aku ingat saat aku coba untuk duduk dekat, selisih semeja, & mulai ngajak ngomong.
Tegang, karena nggak biasanya nekad begitu.. kayanya lancang banget
Tapi toh tetep aku lebih pe-de kalo ngeliat sainganku ‘hanya’ agatha christie.

Beneran, ngajak kenalan cewek bener-bener hal yang asing banget buat aku, apalagi kelas satu sma, duhhh, kagok pisann euy…
Tapi si misterius ternyata responnya menyenangkan…
Aha! Dewi Fortuna lagi memihak sama anak mabal! (moga-moga besok nggak ketahuan kalau mabal).
& pembicaraan dimulai, khas anak baru kenalan, klise, garing kaya’ kerupuk, tapi asyik.

Aku kenal dia dulu, saat hidup memberi pelajaran kenakalan sekaligus kebijaksanaan

Perlahan tapi pasti, kata demi kata mengalir setiap harinya.
Rich family, gedongan, gadis yang nggak pernah hidup susah, tapi murah senyum, tetap bersahaja, dan banyak embel2 lain
yang sepertinya kombinasi yang sulit ditemukan di anak orang kaya, tapi mau makan di emperan jalan.
Tapi tetap, dia misterius…
Aku merasa sangat kenal dia, tapi saat yang bersamaan, sangat asing…
Entah apa yang disembunyikan..
Tapi namanya juga anak sma, doyan curhat…
Jadi gayung curhat mulai mengalir…
Ayah kerja, ibu kerja.. jarang di rumah, dua-duanya..
Adik ngelayap kemana aja, suka-suka
Rumah besar di bilangan setiabudi itu, jadi amat sangat kosong..
Sahabatnya tiap hari hanya si bibi yang setia menyiapkan sarapan, dan driver yang bergerak dari rumah tiap paginya mengantar ke sekolahannya di dago… sekolah negeri yang dikenal akrab dengan tawuran dengan sma swasta di sampingnya..
Tapi ceritanya memang banyak repetitif, mengarah terus-menerus ke tabir keluarga yang tertutup bisu
Melihat sang ayah meluangkan waktu dengan banyak wanita lain, dan ibu yang sibuk rapat dengan pria-pria lain di luar kota, atau di luar rumah, atau di dalam kamar di rumah yang sama dengan tempat dia sujud dengan mukenanya yang entah kapan terakhir dibelikan sang ibu, sudah kusam, tapi setia mendampingi di saat-saat curhatnya dengan Penguasa Jagad.
Dari dia aku belajar, banyak belajar, hidup tidak semurah-hati yang terlihat
Kisah klise yang sering jadi bahan skenario drama-drama televisi, ayah kerja, ibu arisan, ayah kerja fisik dengan pendamping wanita, ibu arisan untuk dapet pria, novel paling laris abad ini di kisah kejamnya kota besar… kota kembang yang mengembangkan begitu banyak birahi-luar-keluarga untuk bapak-ibu dengan putra-putri yang beranjak dewasa…

Aku kenal dia, ternyata cukup lama, dan masih lekat di ingatan

Pagi itu ada petir menyambar. Gendang telingaku perih sekali, telepon itu serasa menghujam sampai ke akar-akar akal sehat & hati kecil yang paling mungil…
Dia terbujur di rumah sakit, nyaris kehabisan darah…
Sahabat sebangkunya nyaris pingsan berbicara,
Gak kuat nahan berita itu.
Dia nyaris kehabisan darah.

Aku kenal dia, figur misterius tapi tetap periang.

Yang selalu tersenyum riang
Saat aku datang dengan toblerone hasil nabung dari uang jajan pas-pasan
Gadis dengan zodiak pemanah bertubuh kuda,
yang lahir saat musim salju sedang menyetubuhi kota Praha, dingin, sedingin rumah sakit eropa timur tempat keluarga indonesia itu sedang berbahagia menyambut bayi kecil
Dengan laras riang suster-suster rumah sakit, berbahasa a’la planet lain dengan bumi indonesia
Bayi kecil itu punya garis hidup pilu

Aku kenal dia,

yang terbujur lemah tanpa tenaga, di ruang khusus orang berduit di rumah sakit yang tak jauh dari sekolahnya..
Gadis manis itu serasa tersenyum saat gerbang putih mulai menyapanya dalam bisik lirih

Aku kenal dia yang ambruk di pojok sekolah, begitu paginya saat lonceng sekolah masih enggan dibunyikan oleh penjaga
Masuk ke rumah sakit dengan darah yang terbercak di sekujur baju osis putih, dan kulit putih tak berdosa.
Dan hari itu, wali kelasku memanggil karena satu berita penting yang hanya bisa disampaikan lewat telepon..
Awal yang kupikir satu keberuntungan saat satu-demi-satu anak-anak di kelasku disuruh maju bergantian untuk menyelesaikan soal-soal kimia, pelajaran neraka yang tidak pernah memberiku kenyamanan di kursi kelas yang termakan rayap.
Tapi telepon itu bukan nada menyenangkan… dan petir itu menyambar kesadaranku, berpuluh kali lipat dari yang kubayangkan.
Dan lariku mengejar angkot ke rumah sakit, terasa begitu lambat…

Aku kenal dia yang lemah di kasur putih ini

Dua potongan di urat nadi lengan kiri, cukup untuk mengantarkan dia semakin dekat dengan gerbang kedamaian. Paras manisnya tetap tidak hilang, meskipun pucat mulai menyambangi suluruh tubuhnya.
Dia terlambat dibawa ke rumah sakit.
Terlalu banyak darah yang habis saat tergeletak tak berdaya, saat lonceng sekolah belum berteriak di pagi yang selalu dingin.
Darah dari tubuhku tidak cukup banyak membantunya.
Meskipun teriakanku ke seluruh staff medis cukup keras untuk didengar satu lantai, memohon dengan amat-sangat agar darahku bisa diambil berapapun banyaknya, asal dia selamat …
& ayah-ibunya belum kunjung datang, sibuk dengan ribuan project & proposal menggunung di kantor, atau kisah percintaan babak baru yang terus membara.
Tubuh lunglai ini semakin miris ditengah kenyataan
Kenyataan kota kembang yang nggak bersahabat.

Aku sangat kenal dia…

Yang akhirnya menyerah dalam genggaman bergetar seorang aku,
Ratap tangis sahabat-sahabat lain… dan ayah-ibunya yang akhirnya datang setelah surga menjemput putri cantik mereka…….
Ledak tangisnya terdengar sangat terlambat di benakku

Selamat berkenalan (lagi) dengan air mata!
Selamat datang di kenyataan…
Selamat menikmati getir rumah sakit yang kembali terulang…
Only the good die young……

Aku sangat kenal dia…

Gadis cantik yang fasih bernyanyi
Suaranya khas dalam manja, yang selalu ditembangkan dalam kesendiriannya
Laras-laras sunyi yang hanya segelintir orang memahaminya
Dan kalimat terakhir di telinga… “terimakasih......”

Aku masih ingat nafas terakhirnya

Laras yang berakhir dalam damai
Darahku bersemayam di tubuhnya, yang memasuki ruang kosong dalam galian tanah
Semangatku tenggelam, amat-sangat dalam…
Menatap kosong pada nisan tertancap dalam…



(from original essay)

Bandung, 21 Desember 1999
Di kamar yang selalu bisu di tanggal ini



1 comment:

Anonymous said...

really don't know what to say...
i'm speechless...
kamu sebenernya siapa sih??
where are you now????