Ruas-ruas jalan tak bernama
Yang memanggil hati nurani masuk ke dalamnya
Jejak setapak-demi-setapak dari onggokan masa lalu
Muram terlihat dalam suntuk menggunung…
yang semakin uzur
buluh-buluh nadi bergetar dalam canda semu
Kucing-kucing liar pada ruas jalan tanpa nama
menatap kosong, bola matanya bersinar tajam
Aku lihat mereka terdiam…
Ragu, kaku pun tetap semu
Bagai senyum seru sekalian sendu
Buah dari hati semakin menjadi batu
Dinding-dinding waktu, pilar-pilar masa
Saksi yang selalu bisu akan hadirnya amarah
Pada kejadian yang melambai sesal
Semakin lama mengapa semakin jelas
Padahal aku tetap bersimpuh pada sajadah
Ia-lah Maha Tahu dari semua ikhtiarku
Dan biarlah aku tetap menatap kosong
Duapuluhempat jam hari-hari terus berlalu
Dan biarlah aku tetap menatap kosong
Lampu remang-remang pada ruas jalan
Yang entah kenapa tetap tak bernama
Dan aku akan tetap berjalan pada ruas ini
Yang entah mengapa,
Tetap aku tak bisa berpaling darinya
Bandung, kamar, 27 Mei 1998
(taken from original words)
1 comment:
wow, tulisan dari "masa lalu"..
kayanya banyak yah, tulisan2 lainnya?
Boleh juga nih dokumentasinya, terus di upload dong, pengen baca-baca yang lain lagi...
Post a Comment