Tapa Brata tak berakhir
Nyanyian penantian, dalam pilar-pilar waktu
Merenung dalam langkah-langkah berat
Dalam getar hati yang terseret
Dalam riak-riak ombak pantai
Penantian tak berakhir
Tapa Brata tak berujung
Disini aku berdiri menatap awan bergumpal
Disini aku torehkan sepatah bisu melalui tinta hati
Dalam butiran-butiran garam getir
Dan asinnya tetes air mata Sang Penunggu
Menunggu yang tak berujung
Tapa Brata tak kenal lelah
Berdiam untuk mencerna kata terucap bibir
Dalam desah nafas kaku beku
Menatap jejak-jejakmu yang tak pernah sirna
Mendengar ucapmu dalam nada-nada bijak
pun tiada terhapus
Membayang sosokmu dalam genggaman jemari kalbu
Tapa Brata tetes kesedihan
Untukmu jiwaku rela menunggu
Dalam kencangnya badai Sang Gurun
Dalam dinginnya titik beku ujung kutub bumi
Dalam gerahnya fokus cermin pantul
Dalam sepinya malam panjang tak berbulan-bintang
Tapa Brata nazar bersabar
Bersabar aku menanti gerbangmu membuka
Bernazarlah aku bersabar menunggu tatapmu
Berdiam aku menatap riang-wajahmu
dalam perih-parasku
Terbisu aku kau benamkan dalam
harapan-harapan tak menentu
Tercenung aku dalam mimpi tak nyata
Tapa Brata tak berakhir
Biarlah kau simak adanya diriku dalam getir lelah
Air mata penanti jiwa hati nurani
Biarlah kau simak adanya diriku dalam lumpuh nadi
Semakin terbujur usang menanti
Bandung, kamar, 25 Mei 1998, 14.22
(taken from original words)
No comments:
Post a Comment