Sunday, August 27, 2006

SENYUM HYANG RIANG

Malam kelam dalam dian temaram
Berputar dalam sudut-sudut kota
Perempatan dan gang-gang bisu dalam hampa nyali
Ruang-ruas jalan merindingkan nurani sedih
Bilamana sang pertapa tanggalkan simbol
Dalam sisi-sisi riang semu
Makhluk-makhluk malam tengadahkan kepala
Menjenjang leher mencoba menatap luas diam
Bilamana mereka pulang ke peraduan senyap-gelap
Bila cahaya kota tak urung menggoda debu-debu kalbu
Sang pertapa tersenyum menatap langit-langit
Yang padanya direkatkan impian-impian sukma
Langit-langit itu masih saja tetap diam dan menggoda
Ruas-ruas jalan itu tetap saja takut pada
roda-roda menggilas
dan bilamana surya tampil menggeliat
Dalam kebekuan embun-embun pagi
Dalam teriknya amarah lidah-lidah api
Mereka kembali ke peraduannya



(taken from original essay)
Bandung, Gazibu, 6 Juni ’98, subuh

No comments: