Sunday, August 27, 2006

SIKLUS

Pada suatu hari, jauh di alam lain, pada perbatasan antara hutan rimba dan ladang pertanian di daerah Khyrgystan, seekor burung hantu terjaga dari tidur panjangnya di terik hari.

“Aneh, mengapa aku terjaga di tengah hari?”, sang burung bertanya untuk satu jawaban yang tak didapatnya. Akhirnya, ia pun terbang ke arah ladang pertanian. Mereka, sang padi yang bersiap untuk lepas dari bumi, ujar burung hantu dalam hati. Dan iapun terbang ke arah para padi yang tengah bersuka cita.


“Wahai padi, gerangan apakah kalian bersuka-cita? Tidakkah kau tahu, bagian dari dirimu akan dipisahkan oleh manusia? Tidakkah hal itu menyedihkan?”, ujar sang burung dalam keingintahuannya.
Sang padi menjawab dengan tenang,
“Kawanku, tahukah engkau apa rasanya bila bagian tubuhmu akan diambil, sedangkan engkau kemudian sadar dalam sekarat ajal?”
“Ohh, itu hal yang mengerikan. Bukankah hidup untuk kita nikmati sesuka hati? Aku tidur dalam hari yang panjang, dan pergi mencari makan saat bulan menerbitkan senyumnya. Kemudian terlelap kembali. Bukankah itu menyenangkan?”, jawab burung hantu.
“Kawan, kita menempuh jalan yang lain. Sadarlah akan itu. Kami lahir dari benih-benih kecil, yang ditumbuh-kembangkan oleh tuan kami dalam kerja keras tanpa lelah. Kami dipelihara, agar suatu saat kami menjadi mutiara yang berharga bagi mereka mempertahankan kehidupannya. Kami lalui kehidupan dengan kencangnya angin, terik surya dan derasnya tangisan sang mega. Kasih sayang induk semang kami, mempertahankan kami dari penyakit. Tidakkah ini sangat berbeda dengan kenyataanmu?”, ujar sang padi dalam keikhlasannya.

“Akupun menjalani kerasnya hidup, sendiri, tanpa uluran siapapun. Mengapa kau serahkan hidup dan kehidupanmu pada mereka, tak habisnya aku berpikir. Betapa indahnya hidup kita, saat kita bebas melayangkan pikir, untuk bertindak dan melangkah. Bunda Alam akan sepakat denganku…,” ujar burung hantu, tak mengalah.

Sang padi menjawab,
“Kami memang tergantung pada tuan kami, atas hidup dan mati kami, atas sehat-tidaknya kami, atas subur-tidaknya kami. Tapi, coba katakan wahai kawan, dimana letak kesalahan itu? Kami berikan mereka daya hidup, setelah semua lelah letih mereka yang merawat kehidupan kami. Kami akan tiada, namun benih-benih itu akan tumbuh dan tumbuh terus. Ini pilihan yang kami jalani. Ada rasa sayang dalam ikatan kami, karena mereka akan meneruskan benih kami yang baru, dan kami membantu mereka mempertahankan kehidupan. Apakah ini suatu kesalahan?”

Burung hantu tetap tak habis pikir, dicobanya untuk meyakinkan sang padi akan hakekat kebebasan. Dan sang padipun tetap mencoba meyakinkan hakekat dari ikatan tersebut. Akhirnya mereka berpisah, tanpa satupun kesimpulan atas pembicaraan panjang mereka.

Sementara itu, tak jauh dari sana, seekor tupai yang tengah mengumpulkan makanan, mencuri pembicaraan mereka. Sang tupai tercenung dalam bimbang,
“jadi, pilihan seperti apa untukku?”
Beberapa waktu kemudian, sang tupai akhirnya meninggalkan istana alamnya, pergi jauh sekali, menjadi seekor pengembara arti hidup…


(taken from original essay)
Bandung, Kamar, 30 Mei ‘98

No comments: