Assalammu’alaikum….
Maafkanlah aku karena telah lama aku berdiam diri……….
Apa yang mesti kukatakan padamu tentang seorang laki-laki yang telah ditawan oleh Tuhan antara dua kehidupan, yang satu merubah impian si laki-laki ke alam kesadaran, dan yang satu lagi merubah kesadarannya menjadi impian? Apakah yang mesti kukatakan tentang seorang laki-laki yang diletakkan Tuhan diantara dua lampu? Apakah ia sendu ataukah bahagia? Adakah ia terasing dalam dunia ini? Aku tak tahu. Tapi aku ingin bertanya padamu jika engkau ingin berbicara dengan laki-laki ini dengan bahasa yang diucapkannya, karena engkau lebih bisa memahaminya daripada siapapun juga. Di dunia ini banyak orang yang tidak mengerti bahasa jiwaku.
Dalam hatiku, ada bayangan-bayangan dan berbagai khayalan yang terayun-ayun, berjalan-jalan dan menebar, laksana embun, namun aku tak bisa mengubahnya menjadi dunia kata-kata.
…apa yang mesti kukatakan padamu tentang perubahanku? Dahulu aku hidup dalam kebisingan dan keterasingan, orang-orang menelan seluruh siang-malamku dan menenggelamkan hidupku ke dalam konflik dan nafsu mereka. Telah berkali-kali aku menyingkir dari kota yang mengerikan ini ke suatu tempat terpencil untuk menjauhkan diri dari orang-orang dan juga dari bayangan diriku sendiri. Dan kini, kebisingan itu telah berubah menjadi ketenangan dan keterasinganku telah terganti kedamaian, meski belum kukenali semua itu.
Akan datang saatnya nanti aku akan kembali ke hidupku. Rinduku pada istana nurani nyaris meluluhkan hatiku. Jika saja bukan lantaran sangkar yang telah kuanyam dengan tanganku sendiri ini, pastilah aku sudah naik kapal pertama yang berlayar ke mimpiku. Tapi siapakah orang yang mampu meninggalkan sebuah bangunan besar yang telah dibangun dengan seluruh hidupnya, walaupun bangunan itu menjadi penjaranya sendiri? Sulit untuk melepaskan diri darinya begitu saja…
Aku berusaha untuk banyak tersenyum sejak pagi ini. Dan kini senyumku menyentuh jauh ke relung hati. Aku tersenyum seolah aku dilahirkan untuk tersenyum…hingga batas imaji yang membuat aku berdiri dalam ketakutan dan malu. Jiwa mulia yang merendahkan dirinya ke tingkatan itu tentu lebih dekat kepada malaikat daripada kepada manusia…Aku sendiri merasa bersalah, karena aku telah bersalah dalam diam dan putus asaku.
Kau berkata bahwa aku adalah pemusik dan penyair. Aku bukanlah pemusik, juga bukan penyair. Aku menghabiskan hari-hariku untuk bermusik dan menulis, namun aku tidak menyatu dengan hari-hariku. Sahabat, aku adalah awan, awan yang membaur dengan benda-benda, namun tak pernah menyatu dengannya. Akulah kabut, dan dalam kabut itu terdapat kesunyianku, kesendirianku, lapar dan hausku. Tetapi yang membuat duka hatiku ialah bahwa awan itu merindukan seorang berkata, “engkau tak sendiri, tetapi kita berdua bersama…dan aku tahu siapa dirimu.”
…Katakanlah, sahabat, adakah seseorang yang lain disana, yang mampu dan rela mengatakan padaku, “Akulah awan itu. Wahai kawan, marilah kita menebarkan diri di atas bukit-bukit dan di lembah-lembah; marilah kita berjalan di atas pepohonan dan di sela-selanya, marilah menutup batu-batu karang yang tinggi, marilah menembus hati umat manusia, marilah mengembara ke tempat-tempat jauh yang tak dikenal dan berpagar benteng.” Katakanlah padaku, sahabat, adakah seseorang yang mampu dan rela mengucapkan setidak-tidaknya salah satu dari kata-kata ini?
…Kita telah mencapai puncak, dan padang-padang, lembah-lembah serta hutan raya terpampang di depan kita. Mari beristirahat dan bercakap-cakap sejenak, sahabat. Kita tidak bisa tetap disini lebih lama, karena aku melihat puncak yang lebih tinggi di kejauhan, dan kita harus mencapainya sebelum sang surya tenggelam. Kita telah menyeberangi jalan pegunungan dalam kebingungan, dan aku mengakui di hadapanmu bahwa aku terburu-buru dan tidak selamanya bijaksana. Tetapi bukankah dalam kehidupan ini ada hal-hal yang tak tergapai oleh tangan-tangan kebijaksanaan? Bukankah ada sesuatu yang membekukan kebijaksanaan? Menunggu adalah cengkeraman sang waktu, sahabat, dan aku senantiasa menunggu sesuatu yang aku sendiri tak tahu. Kadang-kadang terasa sepertinya aku sedang mengharapkan terjadinya sesuatu yang belum pernah terjadi. Aku laksana orang-orang lemah yang biasa duduk di tepi danau menunggu kedatangan malaikat untuk menggerakkan air buat mereka. Malaikat itu kini telah memutar air, namun siapakah yang hendak menerjunkan aku ke dalamnya? Dan aku tetap berharap, satu saat nanti aku dapat memasuki tempat yang indah dan mempesona itu dengan mata yang tenang dan langkah-langkah bijak.
……Untuk seseorang,
yang berusaha membangunkan aku
yang tak kunjung bosan untuk mengajakku tersenyum dan tertawa
yang tak jenuh mengingatkan aku untuk terus menjalani hidup
terima kasih untuk semuanya
(taken from original essay)
Bandung, Kamar, 3 Juni ’98, 00:34
No comments:
Post a Comment