Sunday, September 10, 2006

Garis-garis waktu

Terlalu banyak yang ingin kukatakan
Dalam bimbang bingung bersatu padu
Peluhku basah mengalir pada nadi
Bagai sungai-sungai sepi yang berarus liar
Bermuara samudera luas tak terbatas


Apa yang harus kukatakan lagi tentang hidup
Dan keluh kesahku berbalik pulang
selalu pada hati nurani

Tapi tidakkah kau bermimpi akan firdaus?
Dimana mengalir sumber mata air kehidupan
Dan bukanlah air mata yang menetes deras

Aku ingin berada bersandar di dalamnya,
bermimpi dalam dunia khayal
dimana ucap hasrat makna terbuka dalam wujud-ujud nyata

Dan seolah akupun terbang dalam kepak-kepak sayap
Ditengah sang awan dalam sejuknya sang Surya

Cobalah tolong kau katakan padaku
Tentang hari-harimu dalam sela-sela kesibukan
Bertemukah engkau dengan getar bayangmu yang lain?
Yang berujar sadarlah kau dari mimpi-mimpimu
Atau biarlah aku saja yang ucapkan bahasa itu padamu

Sebab aku ingin menjadi sosok sang penyadar
Sadarkanmu dari semua bayang yang menggangumu
Sebab aku bukanlah kenyataan nyata
Aku hanya simbol-simbol biasa dalam sikap
Yang setidaknya muncul dalam hari-hari tenang damai
Dan selalu bercumbu dengan garis-garis waktu


(re-write from original essay)
Bandung, Kamar, 16 Juni ’98, 01.30 dinihari

No comments: