Lelaki sepi; terlahir sebagai batu
Meninggalkan jejak debu masa lalu
Tangannya mengepal kobaran jiwanya
Mengikat tambang pada dahan
dan menggantung jagad raya
Hingga hembus tawa membeku
Lelaki besi; berdo’a dan berlutut
Dengan obor yang terus menyala
Menggantung pada paras malam kelana
Melukis pisau-pisau kesabaran
Yang dicium oleh sedikit raja-raja
Dimana sangkakala pengelana butakan pandangan
Tembok-tembok yang tak goyah
Sang altar satu-satunya
Tiada teriak terucap dalam kapalku
Para pemuda tidak mati dalam karavan
Keberanian tak butuh sekuntum bunga
Pena-pena telah mengukir namanya
Antar batas lalu-kini-mendatang…
(re-write from original essay)
Bandung, Kamar, 16 Juni 1998, 01.45 malam
No comments:
Post a Comment