Sunday, September 10, 2006

Sayap sang Kelana

Sayap-sayap lunglai mata hati
sayap-sayap itu telah pulih
Dalam kepak-kepak tapa rangkulan waktu
yang lama teronggok usang-berdebu

Sayap-sayap harap yang terbang
Sang Kelana bangun kembali
meniriskan debu waktu
dengan tapis tekad bulat utuh
bulat bagai roda kereta sang hidup

Senyum kembali, kembali bangun
sekian lama terpuruk dan berserakan
puing-puing harapnya sudah sangat hancur
sekian lama pula dikumpulkannya
puing demi puing, butir demi butir
‘hiduplah untuk kini dan mendatang, wahai kelana!’

Tetes-tetes darah air mata sang kelana
rekat kembali puing-butir serpih-serpih
dalam rekatan niat yang bertekad bulat
karena roda-roda bulat itu tengah berputar
ke atas, melangkah lagi, senyum sang hidup

Separah apapun puing yang terserak
sayap sang kelana berkepak lagi, dan terbang…
dan terbang jauh…sangat jauh…
dalam hidupnya
untuk saat ini; dan akan datang
…kini…dan mendatang…


(re-written from original essay)
Bandung, Kamar, 28 Juli ’98, 23:07

No comments: