Thursday, August 30, 2007

dan semua akan sakit

udah lama nggak nulis lagi
beberapa mulai berkarat di kepala
kata-kata yang selalu susah ditulis
mungkin aku udah mulai kehilangan akal sehat untuk nulis
toh nulis butuh ketenangan....

berapa hari ini,
aku berasa disayang banget sama Tuhan
Raja manusia ini mulai menunjukkan kebesaranNya lagi
tampil dengan begitu bijaksana dihadapanku
sambil menunggui ibuku yang terbujur lemah di rumah sakit

pelan-pelan aku mulai bicara sendiri
pada kata hati, pada nurani
betapa semua orang akan tunduk pada rasa sakit yang diberikanNya
dan bertanya aku mulai
pada satu demi satu kenyataan yang muncul berurutan

Ibu terbaring lemah
sakitnya berkelanjutan
bertahun dipendamnya sendiri
dan berjuang hanya menutup semua kekhawatiran kita,
anak-anaknya yang satu demi satu berjalan
dalam hidup masing-masing

dan hidup kita belum berhasil, belum juga menuai
meskipun kita selalu bersyukur atas semua hal
label sosial, dan catatan hidup yang terukir
menguatkan langkah aku dan kakak
beranjak terus dari satu titik ke titik lain

cinta ibu nggak pernah hilang
nggak terukur, meskipun perlahan ingatannya tergerus halus
oleh sakit yang harus dimusnahkan oleh morphin
obat neraka yang menghilangkan kesadaran
namun untuk ibu, dia menikmatinya agar sedetik lebih dia bertahan dalam sakitnya

aku bertanya banyak, sama Tuhan
betapa kebijaksanaannya membuatku terdiam beberapa malam ini
aku nggak mampu bicara banyak, takut membangunkannya
malam demi malam kunjunganku selepas kantor,
hanya menyisakan kecupan halus untuknya

Ibu memang nggak pernah bicara banyak
tentang hidup, keluhan, sakit, tangis, dan banyak hal lainnya
yang dia tahu, anak-anaknya harus maju, ratusan langkah
lebih maju dari yang didapatkannya dan suaminya
aku dan kakak, meskipun nggak pernah akur
tapi perlahan, kita diam dan tunduk, sembunyikan ketidakcocokan itu
dan tetap memegang tangan ibu

sakitnya menghancurkannya, lebih dari kekuatan yang diprediksi dokter
estimasi 9 bulan, sudah dilewatinya
hidupnya berjalan hingga 15 bulan, sampai saat ini
entah sudah hilang kemana air mataku
tak berjejak, hanya meninggalkan rasa haru
dan aku tetap harus ikhlas

aku dan kakak, bicara bersama
tiada yang lebih kami inginkan, selain yang terbaik untuk ibu
melihat malam demi malam perjuangannya
dalam air mata dan tangis
kami tahu, berteriak pada Tuhan untuk menyembuhkan dia, perlahan ditelan oleh angin malam yang terus menusuk tulang

entah doa apalagi yang harus kami ucapkan
hingga akhirnya kami sadar, hanya ada dua pilihan
yah, Tuhan akan menyembuhkannya total, atau memanggilnya kembali ke pelukan langit ketujuh
aku tetap diam, seperti banyak hari-hari dan malam lain yang kuhabiskan dengan diam
aku bersahabat erat dengan diam
dan begitu banyak diam yang membuatku diprotes

ternyata, diam memang tak membantu banyak,
selain meredakan hati, praktis tak banyak tak mengobati
toh, hidup dalam diam, memang perlahan membunuh kita
bernafas, tapi tak merasa
dan malam aku bicara tanpa terdengar siapapun
hanya diam yang terus, berkepanjangan....

entah apa yang akan terjadi pada ibu
ikhtiar, sudah aku lakukan
entah, cukup atau tidak perjuangan ini
hanya aku berujar dalam getir, nyaris tak terdengar
Tuhan, jika ada keajaiban untuk sembuhkan ibu
aku mohon, sembuhkanlah...
tapi jika catatan hidupMu berbeda untuknya
panggillah ibu dalam ketenangan
hilangkan rasa sakitnya
dan panggil dia dalam senyumnya yang luar biasa....


hot-spot, diam dalam keramaian

No comments: