Apa yang diserahkan Allah, atas tanda-tanda untuk setiap kejadian mendatang?
Apa yang kita terima dalam peristiwa, sebagai benang merah atas semuanya?
Apakah Allah memberikan kita sedikit saja ‘bocoran’, untuk hal-hal yang akan menimpa kita di depan perjalanan hidup?
Aku rasa, tamparan itu begitu kuatnya
Aku rasa, kesendirian membunuhku sekarang, detik demi detik
Aku rasa, tajamnya pisauNya menghancurkan tiap kesadaran fisik dan fikiran dan tak mampu aku lari menjauh dari semua
Ibu, aku temani dia sepanjang kekuatanku sebagai seorang anak
Meskipun aku tahu, tak akan seberapa dibanding tahun-tahun panjang dia menjalaninya, bersama anak-anaknya
Ibu, ia tak bercerita banyak tentang penderitaannya
Hanya diam setiap saat aku tanyakan banyak hal
Ibu tak merintih kesakitan, ia tak terbiasa mengeluh
Ia hanya terbiasa memperjuangkan keluarganya
1989, tahun dimana ayah direnggut dalam nafas terakhirnya
dalam kesakitan panjang yang ia alami, dalam rasa sakit yang ternyata begitu dalam dan tak bisa kami bayangkan sebelumnya
kami anak-anaknya, masih demikian kecilnya
masih demikian awam untuk paham semuanya
1989, kami semua belajar untuk hidup kembali
kami semua belajar, bagaimana rasanya disisihkan
dan dicampakkan begitu jauhnya dari apa yang bernama “keluarga besar”
1989, kami belajar bahwa satu-satunya yang dapat kami perjuangkan untuk harga diri kami, adalah berasal dari kekuatan kami sendiri
kami bertiga, aku dan kakak serta ibu, belajar bahwa harta terbesar yang diberikan Allah pada kami, hanya terdiri dari beberapa kata singkat yang sederhana
Ilmu, semangat, dan pengabdian kami pada ibu dan kemanusiaan yang lain
1989, kami belajar apa rasanya jatuh begitu dalam, dan perlahan-lahan bangkit kembali
dari semua posisi puncak yang dirasakan sebelumnya, kami belajar bagaimana hidup mendidik kami dalam bentuk yang jauh lebih realistis
kami belajar bagaimana kami hanya bisa berdiri dengan mengandalkan diri kami sendiri
tidak siapapun, tidak saudara-saudara ibu, terlebih saudara ayah
yang sepeninggal ayah, jadi begitu jauhnya dari kami
17 tahun kemudian, cerita kami berubah jauh
kami menjadi besar, berdua, kami anak-anak mereka
tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak goyah dalam cobaan
aku pribadi, berkeras bahwa aku salah satu orang yang mengalami hal-hal paling getir dalam kehidupan
sedikit dari banyak orang yang bisa survive dari begitu rusaknya kehidupan nyata yang ada di seputarku
dan aku bangga, karena ibuku dengan semua keterbatasannya bisa menjadikanku pribadi yang tak lemah
17 tahun, waktu yang cukup panjang untuk bangkit dan berdiri tegak
dan 17 tahun, adalah waktu yang tepat bagi Allah untuk kembali mencoba kami semua
17 tahun adalah keremajaan hidup yang tepat untuk menjadikan kami pribadi yang lebih kuat lagi
dan 17 tahun, adalah waktu yang dibutuhkan oleh Allah untuk kembali memberikan kami satu skenario yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya
ibu diberikan sakit berat
sakit yang bahkan serupa dengan ayah
begitu samanya, begitu miripnya, hingga kami anak-anaknya tertegun saat mendengar vonis bahwa 9 bulan adalah sedikit waktu yang dimiliki oleh ibu
sedikit waktu yang dimiliki, untuk mencoba tegar dan berjuang hingga titik darah terakhir yang dimilikinya
titik darah penghabisan, layaknya pejuang kemerdekaan yang ingin lepas dari begitu banyak kemunafikan penjajahan
serupa, bedanya hanya ibu berjuang dari kehancuran penyakit yang perlahan tapi pasti menggerogotinya
ia tidak tahu tentang 9 bulan itu, tapi kami anak-anaknya tertunduk dalam setiap doa kami
begitu tegakah Allah memberikan kami satu permainan dengan akhir yang pasti seperti ini lagi
atau kami memang diberikan anugerah untuk berdiri tegak sebagai anak-anak mereka dalam perjalanan individual kami
9 bulan, waktu yang tidak sedikit, dan aku membuat keputusan penting begitu banyaknya dalam waktu 9 bulan ini
kami berlari dalam hitungan detik per detik, millisecond,
mungkin tak kenal lelah, dan aku putuskan untuk kembali ke Jakarta, setelah karierku yang menanjak di kota pahlawan Surabaya
kota pahlawan, yang bahkan membuat diriku begitu miris
karena aku bahkan tak mampu menjadi pahlawan bagi ibuku sendiri
tapi setidaknya, aku ingin berada di dekatnya, dalam 9 bulan vonis kedokteran yang membuatku begitu membenci dunia medis dan segala hal tentang rumah sakit
9 bulan, aku ternyata makin bersahabat dengan rumah sakit
berdampingan dengannya dalam begitu banyak pengobatan yang dijalaninya
membuatku pelan-pelan berteman dengan aura rumah sakit
ibu, sudah jauh lebih dulu bersahabat dengan rumah sakit
diluar latar belakangnya sebagai dokter, ia sudah tahu pasti apa yang menjalar di dalam tubuhnya
dan salah satu jalan untuk tenang menghadapi akhir hidup, adalah bersahabat dengan dinginnya kimiawi obat-obatan jahanam yang ternyata membantu perjuangan ibu
ibu tak biasa mengeluh, ia tidak kenal dengan rintihan
ia tidak kenal dengan rasa sakit, separah apapun penderitaannya
ia hanya mengenal ketertutupannya bisa membahagiakan orang-orang lain
terutama kedua anaknya
ia hanya kenal, dengan menyembunyikan rasa sakit, ia bisa membuat anak-anaknya tetap berdiri tegak
tak dihancurkan dan tak dilecehkan
ia tak terbiasa meminta tolong
ia akrab dengan kemandirian yang teguh
Tapi kami anak-anaknya,
Diluar ketegaran yang kami tunjukkan
Ternyata kami tak pernah ikhlas atas penyakit yang dideritanya
Kami rasa, semuanya tak adil bagi dia
Tak pernah adil, baik bagi ayah, maupun bagi ibu
Tapi aku toh sadar, aku bukan siapa-siapa di mata Allah
Dan apa yang aku bisa, bukanlah memprotes semua kebijakan ‘kun fayakun’ yang dikeluarkannya
Melainkan hidup dengan ikhtiar luar biasa untuk bangun dari keterpurukan kedua kali ini
9 bulan vonis yang ditujukan padanya, ternyata meleset
ibu hidup melebihi waktu yang diperkirakan
ia berjuang panjang sekali, bahkan melebihi 18 bulan
hal yang membuat optimisme kami bangkit
meskipun perlahan, tubuhnya membuktikan hal berbeda
penyakit keparat itu menjalar lebih cepat dari semua obat-obatan yang ia habiskan
menjalar lebih kuat dari chemotherapy yang ia jalani, minggu demi minggu
setiap seri pengobatan, harapan kami bangkit, meskipun hasilnya menunjukkan hal berbeda
ibu keluar masuk rumah sakit, hingga ramadhan 2007 ini, ia pulang karena dokter mengijinkan...
hanya butuh waktu satu minggu, sampai akhirnya ia menderita hal yang lebih buruk, dan membuatnya harus kembali ke rumah sakit lagi
dan kami berlebaran di rumah sakit, begitu ramainya, hingga aku yakin ibu begitu bahagia ditemani oleh kami semua
dan lebaran, membuatnya kembali merajut silaturahmi dengan keluarga ayah
hubungan yang sebelumnya hancur, semuanya terjalin, semuanya bisa diperbaiki
meskipun sebetulnya, semuanya tetap dalam akhir masa hidupnya
dan ibu tidak menyesal sedikitpun akan hal itu, karena ia begitu bahagia dipertemukan jalan terbaik untuk kembali tertawa dengan semuanya
selepas lebaran, 2007, kisah menjadi semakin buruk
kondisinya turun perlahan
dalam hitungan hari, kami semakin tak bisa berucap banyak
aku datang dengan menggenggam buku yassiin
dan membacakannya setiap kali aku disampingnya
meskipun kalimat-kalimat ini hanya akhirnya mengiris nadiku perlahan-lahan
tapi aku tahu, aku tetap harus bersahabat dengan malaikat-malaikat yang mulai berdatangan di kamar 369 itu
hingga ibu mulai semakin sering melihat hal-hal lain di luar dunia kami
dan berkomunikasi dengan mereka
aku tahu, aku hanya bisa sedikit saja merayu para malaikat itu, tapi tetap tak bisa merubah keputusan yang sudah diberikan pada mereka
dan malam itu datang, saat pagi hari sebelumnya aku dengar kabar bahwa ibu sudah tak bisa lagi makan
ibu harus dibedah, satu-satunya cara untuk memasukkan makanan itu ke tubuhnya, karena makanan lewat infus hanya akan menyiksa pembuluh darahnya
dan aku tak tahu lagi, harus menyetujui saran gila itu atau tidak, karena saran itu datang dari mulut para professor medis yang menanganinya
tapi kami tak punya cukup ruang di bathin kami untuk merelakan ia dibedah dalam kondisi seperti itu
dan perlahan, malam itu menjadi semakin dingin
aku sempatkan bicara dengannya, setengah sepuluh malam hari
aku bicara dalam kata-kata yang aku sendiri sudah tak bisa mengatur keluarnya bagaimana
hanya tahu, sepertinya aku harus bicara banyak dengannya
hati ke hati
meskipun ia sudah tak mampu menjawab banyak kalimat-kalimatku
monolog yang benar-benar membunuhku perlahan
dan setengah 12 malam, saat perawat datang ke kamar, mencoba menyuntikkan morfin kembali agar ia dapat tidur setelah begitu lama tak bisa beristirahat
aku tahu, sesuatu akan terjadi
saat para perawat mulai bergegas memasukkan elektro-cardiogram untuk memantau respon nadi-nya
saat grafik tergambar mulai landai dan melurus, aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana, selain shalawat yang mulai kubicarakan terus menerus di telinganya
aku tak tahu, berapa puluh atau ratus kali aku bacakan kata-kata indah memuji Allah, yang kutahu, nafasnya perlahan semakin sayup terdengar, semakin jauh meninggalkan kesadarannya
dan tangisan mulai terdengar di ruangan itu
tangisan yang paling kubenci seumur hidup, tangisan yang aku sendiri akhirnya berteman dengannya dan kuteteskan air mata dalam kesedihan panjang yang dimulai saat pukul 00:10 waktu rumah sakit Jakarta
ibu akhirnya dipanggil dalam cara paling tenang yang pernah aku tahu
dalam ketenangan luar biasa, saat sakit terburuknya menghancurkannya begitu dalam
ibu menghembuskan nafas terakhir dengan pipinya yang menyentuh basahnya pipiku, dalam raut muka yang begitu bersih, seakan ia begitu bahagia karena didampingi shalawat tak berujung
ibu menutupkan matanya, dalam kata-kata terakhir yang akhirnya bisa kuucapkan
‘ma, pergi yang tenang yah… papa sudah nungguin koq diatas’
kata-kata yang entah kenapa, membuat amarahku redup, membuatku begitu kecil dalam keputusan sakaratul maut dari Allah
dan aku merasakan begitu hancurnya aku ditengah-tengah tarikan nafas yang diangkat oleh para malaikat itu
dan aku tak tahu harus marah atau menunduk didepan para malaikat utusanNya
Aku luar biasa mencintainya
Tapi untuk terus memohon kesembuhan untuk ibu, sama dengan memperpanjang rasa sakitnya yang tak pernah sedikitpun ia tunjukkan sebelumnya pada kami
Ketegaran yang luar biasa, akhirnya ia menyerah dalam kesakitan yang jauh lebih besar
Aku meringis tajam, berteriak yang tak pernah bisa keluar
13 November 2007, ibu meninggalkan kami
memberi kami satu babak baru untuk berjalan tanpa cerminan fisik dan teladan seorang ayah, pun seorang ibu
teriakanku hilang ditengah air mata yang tak bisa kuhapus
teriakanku hilang dalam kecilnya debu manusia dihadapanNya
teriakanku hilang dalam doa yang tak berujung untuknya
teriakanku hilang dalam amarah yang kutundukkan dalam-dalam
aku tak mampu marah padaNya, Raja semesta alam
aku tak mampu membenci utusanNya, dalam harga diriku yang rendah
aku tak mampu berteriak dalam penolakanku atas takdirNya
aku tak mampu berteriak dalam kosongnya hidup yang kutelan pahit saat ini
13 November 2007,
18 tahun setelah ayah pergi
dan 13:00 dhuhur, aku dan kakak melihat perlahan ia ditumpuk oleh tanah yang terpacul selangkah demi selangkah
dhuhur yang menggetirkan pribadiku
dhuhur yang tak terlepas dari ingatan
dhuhur yang semakin mendinginkan urat nadiku
13 November 2007, aku tak mampu berkata banyak di depan nisannya
ucapan selamat jalan pun terasa begitu sulit aku ucapkan
dan dhuhur itu, 13 November 2007, aku mulai belajar untuk menikmati kehidupan
lengkap tanpa seorang ibu, dan seorang ayah
13 November 2007…..
~ ternyata, hidup lebih pahit dari yang bisa kita bayangkan……
Setiabudhi building, 14 November 2007
19:40
untuk cinta yang tak pernah habis untuk ibu & ayahku…
2 comments:
...
...
have no words to say
cinta yang tak pernah tergantikan
selamanya...
aku cuma bisa tarik nafas panjang
...
...
aku sangat ingin bicara malam ini, tp entah siapa yang mau mendengarkan
aku sangat benci hidupku malam ini, tp entah siapa yang mau mengerti
aku lelah..
Post a Comment