Mungkin, tulisan ini akan berbicara lebih banyak
Dari jumlah kalimat yang tertulis di dalamnya.
Aku akan menmbiarkannya mengalir, lebih dari banyak hal yang kau bayangkan
Karena untukku, membebaskan jari untuk menulis banyak hal untukmu,
Adalah sebagian dari makna hari-hari kita yang tak bisa berlalu bersama.
Entah sibuk, entah status, entah jarak,
Apapun itu namanya.
Kalau tulisan ini menjadi begitu dalam,
Mohon jangan salahkan aku, hanya membebaskannya mengalir...
Kalaupun menjadi demikian vulgar, mungkin aku hanya berbicara dari sisi kelelakianku yang jujur, dalam ironi kita bersama sebagai manusia
Mari, lepaskan batas-batas norma yang mengunci
Dan biarkan kita lepaskan diri sejenak sebagai warisan Adam-Hawa yang berkeinginan, berhasrat, dan bergelora untuk selalu memanusiakan diri
Aku mengenalmu, dalam ketidakberdayaanku
Sebagai manusia, pun sebagai hamba sahaya
Mengenalmu dalam jarak dekat, dan menghirup seluruh aroma wangimu, semerbak yang membangunkan kelelahanku dalam pergulatan panjang.
Kau sudah membius begitu dalam, dan aku relakan saat pendek sore hari itu menjadi sore yang meluluhlantakkan rasionalku
Kotamu, dan kotaku, membebaskanku dari belenggu
Senyummu, kusaksikan dalam ketulusan yang mengajakku terbang terus
Aku memang tak ingin mendarat, dan tetap terbang.
Semakin mengenalmu, semakin kurelakan diriku berteriak untuk melepaskan diri dari penjara yang mengikatku panjang
Dan kerelaan ini mengisi hari-hariku dengan begitu banyak candamu, manja dan ciummu dari jauh
Aku sengsara tak di dekatmu, dan aku mengatur ritmeku dalam kehangatan rayu manja yang kau bisikkan.
Entah cintamu menunjukkan angin segar untukku, atau tidak
Yang pasti, lima huruf cinta tak bisa kuucapkan terlalu sering dalam tulisan ini,
Karena yang kurasakan lebih dari sekedar huruf demi huruf yang menggambarkan semuanya.
Malam-malam panjang berlalu cepat, dengan canda yang bergulir dari bibirmu
Aku manghapal setiap gerak badan, dan membayangkan kau berdiri atau duduk dihadapan, dengan lekukmu yang menghangatkan
Malam-malam panjang ini membiusku
Keintiman yang kuraih dari jarak jauh, entah kau sadari atau tidak, entah kau terhangatkan atau tidak, yang pasti kau adalah kehangatan.
Aku lupa sudah sejak berapa lama, kehangatan ini tak kurasakan
Aku biarkan diriku berlari dalam kata-katamu, karena aku tak mau waktu senyum ini berlalu begitu saja.
Ah, kau memang indah
Begitu indah hingga kubiarkan setiap malamku berlalu dalam mimpi panjang tentangmu
Lelaki yang melepaskan diri dalam dekapanmu, dalam tiap peluk yang kau berikan saat aku lelah
Hingga saat-saat aku betul2 lelah, dan kau tetap membiarkanku tertidur di pangkuanmu
Kau berbagi sayang, dalam hasratmu yang mistis
Kau biarkan aku masuki dirimu, perlahan, sangat perlahan
Dalam sentuhan-sentuhan manis yang membekukan seluruh rasioku
Aku bergetar, dan terus bergetar
Cobalah kau berjalan sedikit, pejamkan mata, dan ikut bersamaku
Dalam malam-malam dingin yang melemahkan ketegaran privasi kita
Dan aku, tetap membiarkan diri larut dalam emosi dan semua yang tak kudapat sebelumnya.
Kedekatan seperti apa yang kurahapkan, selain kau mendengar dan mendekap erat, yang menghancurkan kekuatan laki-laki ini
Bila sedikit saja waktu dapat kubekukan,
Mungkin aku akan bergerak jauh menusuk kesetiap lekuk dirimu
Dan mungkin akan tetap kau tarik diriku untuk masuk terus dan terus
Dan tak ingin kau lepas setiap kebekuan waktu yang mengizinkan kita memasuki dan terasuki oleh segala rindu, imaji, figur, hasrat, dan bara
Kau taklukkan aku begitu dalam
Tapi kau memang sudah membekukan waktu yang kumiliki
Dengan segenap kesadaran apapun, tetap aku takluk di hadapanmu
Tetap aku membiarkan bibir ini tak dapat diam dan bercerita
Mendekati dirimu dan mengecup lembut, dan tak ingin lepas
Kelembutan yang dapat kau ikuti pelan, dan bergerak semakin cepat dan panas
Kamu memang menarikku begitu dalam
Tapi tak kusesali apapun dari itu semua, karena aku ikhlaskan diriku sepenuhnya
Kita semua, semua zat yang menurun dari darah adam-hawa
Tetap adalah makhluk-makhluk tak berdaya
Dalam ikatan norma dan moral apapun, kita tetap tak berdaya
Dan bukankan ketidakberdayaan itu yang membuat hidup kita semakin manusiawi?
Cobalah, kau tolak sedikit cumbu yang memanas dalam tubuhmu
Atas nama cinta, hati, dan pengorbanan
Apakah mampu kau tepis saat-saat nyata dalam pelukanku?
Dan aku, aku memilih tak mampu menepis,
Karena pelukanmu menghangatkanku lebih dari apa yang kubayangkan
Karena sedikit ciumanmu membangunkan kelelahan yang membunuhku
Karena cumbumu, cumbu kita bersama, menghidupkan ampas-ampas lelaki lemah ini, lepas ke tingkat kesekian dari jatidiri lelaki ini
Magnet, tetap smakin kuta
Dan kau magnetku dengan kemampuan amplitudo yang semakin tajam
Semakin kuat, dan tak melemah
Ijinkan aku mengecup bibirmu perlahan, lembut
Dalam waktu yang bergerak lambat
Di ruang-ruang mimpiku yang panjang
Meski tak bersama kita dalam nyata
Entah semakin sakit jiwa atau tidak
Yang pasti, mimpi-mimpi tentangmu menyemangati lelaki ini
Jakarta, hari yang panas...
Tetap teduh dalam ingatan tentangmu
No comments:
Post a Comment