Sunday, November 16, 2008

Maaf, atas semua kekurangan....

Apa yang dapat diceritakan, tentang sebuah kemarahan?
semua yang muncul begitu tiba-tiba, berubah begitu cepat, tidak sampai hitungan seminggu, atau sebulan, atau setahun....
saat kita yakin bahwa kita siap menghadapi semuanya, atas semua kekurangan kita yang berusaha terintrospeksi
saat semua hal kita coba rubah, kita coba yakinkan, kita coba bangunkan...
Ternyata hidup dengan begitu mudahnya menampar kita dalam bentuk-bentuknya yang begitu dekat dengan kita
dan kita begitu lemah untuk sadari bahwa semuanya sudah berputar cepat
Kita begitu letih di sudut jalan, dan tak mampu berkata apapun
selain senyum getir yang tersungging di ujung bibir kita
begitu getirnya, hingga kita tak sanggup bedakan antara murka dan ikhlas, atau apapun namanya...
kita lalu secepat mungkin membelenggu perasaan, menutup diri rapat-rapat...
atas tamparan telak yang terjadi, kita begitu lugas mencoba memproteksi perasaan
tak sedikitpun yang terjamah, tak tersentuh apapun...

Aku ada di titik ini
saat bicarapun sudah kelu, lidah begitu lemahnya untuk berucap, tak sanggup berkalimat sedikitpun...
tak ada gunanya pembelaan, toh semuanya sudah dilihat dari sudut pandang yang berbeda...
begitu panjang penjelasan tak akan mungkin tercerna oleh penilaian sepihak...
semua kekurangan yang coba dipenuhi, perbaiki semua, tetap sebuah kekurangan yang tak bertemu idealisme...
dan perlahan kita jabarkan itu sebagai bentuk yang tak tergantikan, ideal yang tak terpenuhi... semua yang akumulatif dalam bentuk yang bagi kita begitu angkuh, begitu tak dapat kita negosiasikan...
dan untuk sebentuk keping hidup, bukan negosiasi yang kita butuhkan, tapi penerimaan...
dan tak semua figur siap menerima, tak semua orang sanggup menerima...
entah kenapa, sedikit saja aku merasa menjadi orang yang begitu hancur, & tak berguna apapun
sedikit saja dari peristiwa, aku menjadi bukan siapa-siapa dalam kesendirian perasaan...
dan amarah itu tak berguna lagi menjelaskan panjang tentang semuanya...
seluruh kekurangan, akhirnya menjadi sebuah kekurangan yang berakhir ironis
dan aku tak bisa menjelaskan apapun, tetap tak mampu mengimbangi sebuah idealisme yang begitu menancap kuat...
dan aku menjadi tak berguna apapun.... tak berguna....


amarah, kecewa, atas segala kekurangan yang terakumulasi...
hidup tak mudah dirubah dalam perspektif idealisme...


jakarta, 16 November 2008
entah akan seperti apa hidup di depan nanti

Monday, September 08, 2008

... dan Malaikat....

Banyak hal yang bisa terjadi, bahkan dalam hitungan waktu yang teramat cepat untuk kita sadari..
seperti malam ini, saat aku nulis di ruangan ini, udara dingin yang entah makin rancu antara penyejuk udara dan hujan deras yang turun di barat jakarta...
Aku merasa ada begitu banyak hal yang berubah sangat cepat, dan kadang aku begitu ingin menulis satu demi satu
untuk bisa terbaca lagi di kemudian hari, untuk jadi sebuah cermin hidup yang selalu bisa membuat senyum atau tercenung, atau begitu banyak kespresi wajah lainnya
karena kita tak mudah berbohong dalam ekspresi kita yang mendalami cerita demi cerita..
Toh, berubahnya hidup atau kisah-kisah yang kita jalani, memang sebuah keharusan dari konsesi nafas kita dengan oksigen luas bumi ini, yang bernama hidup, sampai kematian menjemput akhir nafas kita yang terengah-engah dalam doa panjang..

Aku ingat, dua minggu ini aku cukup habiskan waktu dengan penasaranku di radio lokal jakarta
berusaha mencari lagu yang muncul baru saja, kudengar dalam sekilas tapi pelan-pelan menyibak keingintahuan, sangat..
Sekali aku dengar, hanya penggalan verse dua hingga interlude, dan belum sampai akhir, penyiar mulai memberi komentar-komentar yang menjadi gak penting saat aku ingin dengarkan lagu ini sampai akhir..
Kedua kali aku tangkap lagu ini di radio, muncul komentar yang akhirnya memberi sedikit petunjuk...
Dewi Lestari yang menyanyikannya.. Dee
Aku bukan penggemar lagu-lagu indonesia, kecuali beberapa musisi monumental yang aku anggap akan selalu hidup abadi, sebut saja Iwan Fals, Gank Pegangsaan, Gigi, and few others..
Dan Dee tentunya, saat aku dengar dia masih di trio Rida-Sita-Dewi..
Sebut aku konyol karena makhluk metal ini bisa mendengarkan juga lagu mellow... tapi satu lagu yang dulu membuat aku terdiam di depan speaker, tentunya satu lagu di RSD dengan penggalan lirik 'angkasa tanpa pesan...'
Oke, Dee, aku makin kenal dia lewat tulisan-tulisannya, dan memang aku penggemar buku-buku yang bercerita dari perspektif lain.. Sutardji Calzoum Bachry, Pramoedya Ananta Toer, Leo Tolstoy, Gandhi ... dan Dee lewat rangkaian tulisan di Supernova..

Buku Dee yang terakhir yang menggigit pikiran & perasaanku, adalah 'Filosofi Kopi'
bukan karena aku penggemar berat kafein & sebatang rokok sebagai teman malam-malamku
tapi karena filosofi kopi bercerita banyak tentang hal-hal kecil dalam penggalan cerita pendek yang tak rumit, tapi menggugah kita untuk rebah di penghayatan akan cerita sederhana..
dan seperti musik yang tulus, cerita-cerita Dee memang menggubris alam bawah sadarku untuk sedikit mencerna hidup panjang yang aku rasakan...
tanpa menghubung-hubungkan cerita-ceritanya dengan ceritaku, tetap saja kita bisa merenung panjang saat sebuah cerita dengan begitu jujur menelanjangi kesadaran kita untuk sedikit menoleh ke lubuk hati, ternyata ada kemiripan yang tak disengaja...
Supernova pertama - Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, betul-betul punya hentakan keras yang menampar kesadaranku saat membacanya...
buku ini merobek ego, dan mengajak aku larut dalam lelah tokoh yang terceritakan...

Okelah, stop bicara tentang Supernova, karena kita bisa habiskan waktu semalam suntuk seperti dengarkan wayang yang kadang kita butuh oksigen murni untuk mencernanya...
kembali ke musik...
ada apa dengan lagu yang dinyanyikan Dee?
'Malaikat juga tahu'... judul yang sesederhana lirik yang dikandungnya..
sederhana, bersahaja, ciri khas Dee yang mulai ditunjukkan dari supernova ketiga, dan filosofi kopi..
Aku penggemar lirik metaphoris, juga lirik simple yang mengandung banyak pertanyaan retrospektif..
namun, lagu ini punya aransemen yang tak lazim, beat & ritmik yang juga tidak lazim untuk kebanyakan lagu mellow indonesia...
tapi aku tak habiskan tenaga terlalu banyak ke aransemen, hanya menikmati keseluruhan lagu dengan tenang...
dan kemarin, perjalanan keluar kota, akhirnya aku temukan lagu ini baru rilis di sebuah toko musik..
Dee tak pernah setengah-setengah dalam launch sebuah artwork, setidaknya itu yang aku temukan dalam artwork novel-novelnya... dan cover album ini jauh dari kelaziman album musik indonesia yang hanya menjual wajah-wajah musisinya...
Album ini seperti novel, ini yang aku lihat tergambar kuat di album ini... tipikal Dee yang ingin memunculkan 'sisi pandang' yang lain dari biasanya...
Postmodernism atau entah apapun namanya, aku menikmati album ini secara menyeluruh..

Malaikat juga tahu, bercerita jujur tentang hal terdalam yang dimiliki seorang, saat ia tak tahu lagi bagaimana berhadapan dengan kebuntuan dari jujur yang berlanjut terus, atas nama setia..
Dalam waktu yang bergulir cepat, kita dapatkan setiap persona diri yang hadir dan pergi di hidup
ada yang bermakna begitu dalam, dan lainnya hanya lewat di segelintir cerita pendek
dan lagu ini, bercerita lebih banyak tentang diri yang bermakna atau tidak, pada diri orang lain..
dan dalam kebingungan, kita mencari tahu semua jawaban yang tak terjelaskan dengan sederhana
Lagu ini, entah bagaimana dan entah kenapa, menelusuri begitu banyak lorong di perasaan yang selalu bertanya dan mencari jawaban...
Hidup aku gak sederhana, bahkan rumitnya kadang membuat aku ingin ambil cuti panjang dari kesibukan kantor...
hanya untuk mencari jawaban dari rentetan hal yang gak mudah untuk diemban dalam waktu yang bergulir cepat
dan aku gak tahu, lagu ini mengajak aku mencari ketenangan jawaban itu dalam perspektif lain, dalam kebersahajaannya..
Allah menghadirkan pemandangan indah atau tidak dalam hidup, sangat tergantung bagaimana kita mencerna setiap peristiwa pahit dan manis... hidup selalu indah, dalam catatan Allah, itu pasti..
hanya saja, kita dalam begitu banyak keterbatasan, selalu menghindar kenyataan indah itu dalam ketakutan kita yang terpatri kaku dalam dogma atau stigma yang menjerumuskan lebih dalam lagi..
toh, lagu ini, entah dalam sadarku atau tidak, menghancurkan aku pelan-pelan, agar aku bisa sadar dan memungut serpihan itu menjadi cerita indah

Ya, lagu ini begitu jujur dalam kemanusiaan, tak muluk-muluk, hanya bercerita dalam alur yang ringkas, bahwa 'lelahmu adalah lelahku juga', 'kali ini hampir habis dayaku membuktikan padamu ada cinta yang nyata...'
kata-kata sederhana yang membius aku makin dalam untuk dengarkan bait demi bait...
'namun kau tak lihat, terkadang malaikat... tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan...'
Oke, cukup penggalan lirik ini tertulis disini, lebih baik memang kita dengarkan saja, dan kita larutkan itu dalam cairan bening di otak dan perasaan kita...
stimulus yang terus-menerus membangkitkan gairah untuk menjadi seseorang yang lebih baik dari waktu ke waktu...
dan aku memang tak banyak dengarkan lagu-lagu tanah air, meski saat ini aku terpaku pada lagu ini yang begitu jujur bercerita dalam dinginnya malam yang bergulir lambat....
Aku hanya terpaku dalam kejujuran yang mengalir di setiap penggalan liriknya


~ Thanks Dee, for enlight life with such a beautiful song... thanks a lot...


Barat Jakarta, 8 September 2008, 01:08 jelang sahur
Lagu punya kekuatan luar biasa untuk menggerakkan ruang hati kita...



Wednesday, August 20, 2008

... dan aku mempertanyakan semua....

Aku mempertanyakan hal yang paling mendasar, dari jiwa dan perasaan

Seseorang yang tenggelam dalam kebimbangan, atau pencarian…

Bagaimana mungkin, sebuah perasaan dapat dipadamkan, hanya dalam singkatnya hari yang berlalu..

Mungkinkah kita merubah semuanya dalam waktu begitu singkat?

Membuka semua dalam perjalanan panjang, namun meredupkannya dengan sekejap?

Pertanyaan yang tak berkesudahan, dalam usaha mengerti semua titik, menghubungkan seluruh kejadian dan pemahaman atas itu tak pernah mudah, sesungguhnya…

Kehidupan dapat berubah begitu cepat, sebagaimana kita anak manusia yang seterusnya mencari..

Apakah jatidiri kita sudah tercukupi, atau kita tak pernah terpenuhi untuk sebuah harapan sederhana..

Bahwa kebahagiaan yang kita perjuangkan akan memberi hidup kita sebuah senyum yang muncul..

Bersahaja namun kekal, karena perjuangan kita tak kunjung selesai, namun memberikan sedikit cahaya yang akan terus berpendar di hati kecil…

Tapi entah kenapa, pertanyaanku terus berputar di sekeliling perasaan…

Bagaimana sebuah perasaan dapat berubah sedemikian cepat, padam dan surut tak terlihat…

Dingin ini membunuhku perlahan, dalam malam panjang tak berkesudahan…



Timur Jakarta, 20 Agustus 2008,

Aku kosong di tengah keramaian….

Tuesday, August 19, 2008

Someday...


Sejenak, aku dengarkan lagu ini...
lagu memang banyak bercerita, dalam liriknya...
tentang sehari-hari, tentang langkah kita, kenyamanan, kebahagiaan, atau konsep apapun...
dan kadang, seringkali bahkan, kita ditarik oleh lagu,bukan hanya harmoni...
tapi kekuatan lirik di hadapan kita...

ada yang menarikku begitu kuat di lagu ini...
ada ketenangan di bait-baitnya....
entah, apa yang bisa menjabarkannya lebih jauh...
nikmati saja....

As days go by
and fade to nights
I still question
why you left
I wonder how
it didn’t work out
but now you’re gone
and memories all I have for now
but no it’s not over
we’ll get older we’ll get over
we’ll live to see the day that I hope for
come back to me
I still believe that
we’ll get it right again
we’ll come back to life again
we won’t say another goodbye again
you’ll live forever with me
someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
I heard someday
might be today
mysteries of destinies they
are somehow
and are someway
for all we know
they come tomorrow
for today
my eyes are open
my arms are raised for your embrace
my hands are here to mend what is broken
to feel again to walk on the face
I believe there is more to life
oh I love you much more than life
and still
I believe I can change your mind
revive what is dying inside
and someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
someday, someday
we’ll be together
we’ll be together
we’ll be together
someday...


Timur Jakarta, 19 Agustus 2008

siang yang terik, lirik yang tenang...



Siang yang membakar....


Selamat siang, hari yang terik..
Aku rasa, panasmu begitu gerah, membakar langkah
Tetap, penuh pertanyaan dalam kata yang terbisikan..
Kenapa harus ada situasi ini, kenapa harus kau lakukan ini?
Hari terlewati, malam yang mendingin,
Tetap pertanyaan yang sama aku ucapkan, perlahan, nyaris tak terdengar…
Kenapa harus kau lakukan ini?
Dalam kesabaran penuh, ketenangan yang kucoba ciptakan..
Dalam seluruh pertanyaan menggunung yang tak terjabarkan,
Aku jelas tak dapat berbicara apapun lebih banyak..
Hanya ketakutan yang membunuh, & mengiris setiap hela nafas yang terasa sulit untuk tenang
Ternyata, ketakutan ini membunuh perlahan, dengan dinginnya….
dan siang hari membakar sembari menunjukkan salamnya….


Timur Jakarta, 19 Agustus 2008…
Selamat siang, teriknya hari… aku kehabisan kata-kata…

Monday, August 18, 2008

Sesak...

Malam ini, aku merasa letih amat-sangat..
panjang nafas kuperlukan, untuk sedikit mengistirahatkan mata
entah, nyata dalam beberapa hari ini, aku melihat kehidupan di balik semuanya
malam ini, aku lelah sangat, namun tak sedikitpun waktu mengijinkanku beristirahat
atau apalah namanya, sesak yang masih menajam, mengiris semua detak nadi

Setiap langkah, adalah ingatan
setiap ruas jalan, ada kenangan menggenang
setiap bait lagu, ada fikiran yang tertuju
aku tetap rasakan betapa dekatnya semuanya, saat justru kehidupan menamparku demikian keras
kembali, aku tunduk dan tak dapat berucap apapun
aku rasa, Allah begitu Maha Baik dalam setiap kisah ini...
sejujurnya, Ia berikan begitu banyak tanda untukku
setidaknya, mempersiapkan sedikit celah untuk kenyataan yang berbeda
jauh dalam dekapan aku yang tak pernah siap
sedikitpun tak kupersiapkan semuanya, saat semuanya datang...

Allah Maha Baik, sejujurnya aku yang tak pernah bisa menangkap makna semuanya...
ternyata, akhirnya aku tahu apa arti pandangan dihadapanku,
saat air mata menggenang dan menetes tak berujung
saat dekapan kuat tak terlelahkan
saat kata-kata bergumam dalam isak yang begitu dalam...
ternyata, aku akhirnya paham semua itu.. tidak dalam sekejab aku mengerti semua,
justru dalam sedikit perbedaan hari berselang, akhirnya semua terbuka...
justru tak pernah kupersiapkan sebelumnya, hati kecil yang paling tenang untuk menerima semuanya..
saat seluruh hidup terserahkan seutuhnya, saat semua ingatan terfokus pada satu persona, saat semua langkahku untuknya, saat semua semangatku tertuju pada figur yang membangunkanku sangat...
aku tak menyisakan sedikit saja ruang untuk jatuh, tak ada sama sekali...
justru saat aku menutup lembaran kelam dengan seribu satu bentuk semangat baru untuk melangkah,
justru saat aku bersedekap dalam ketenangan yang begitu sahaja,
saat tiupan angin perlahan menyegarkan kata-kata hati,
toh hidup menunjukkan dirinya dalam bentuk yang jauh lebih tak terbayangkan sebelumnya, dalam cerita yang tak kumengerti sama sekali alurnya, begitu mengejutkan, begitu cepat semua berubah..
menghancurkan beragam semangat baru, mengiris ketenanganku dengan perlahan tapi pasti, memanaskan bilur angin yang menerpa dan berputar tak henti di sekelilingku...
nyata, semuanya begitu nyata, dan aku tak menyisakan sedikit saja ruang untuk hempasan yang begitu kencang.......

Ambruk dan letih, aku coba lagi membaca semuanya berulang, dan tetap semuanya kabur tak tersibak...
satu lagi saat dimana aku harus mencoba dengan seluruh keutuhan, mengumpulkan puing demi puing serakan perasaan yang tercabik, lunglai langkah tak terjabarkan...
tak pernah aku sisakan pertanyaan dalam perasaan, hanya ada semua keutuhan..
tak kupilah-pilah semua ruang itu, hanya ada keseluruhan aku yang memberi
mewujudkan persona diri dalam segenap tegakku yang selalu yakin untuk sebuah cahaya
Dan akhirnya, semua terjadi begitu keras di hadapanku
meski memohon aku dalam sujudku yang tak lepas di doa-doa panjang
meski sajadah membasah dalam wajahku yang menunduk getir
meski keseluruhan hidupku membelai jujur yang terdalam dan tak terbohongi apapun...
toh kenyataan bicara lebih kuat dari kata-kata, lebih tajam dari sayatan apapun benda tajam yang terpikirkan...
kembali aku meregang, sekarat dalam semangat yang entah bagaimana harus kurekatkan lagi...

Begitu banyak cara bagi manusia untuk hancur dalam pilihan yang tersudutkan,
sementara hanya sedikit jalan untuk kita memperjuangkan kebahagiaan abadi kita...
dan kenyataan itu, tak semua pilihan perjuangan kita memberikan senyum abadi dan kebahagiaan...
aku menemukan perjuanganku kandas tak beraturan, berkeping dalam debu yang tak tertiriskan.. dalam getir panjang yang berkarat, dan entah bagaimana aku menakar semuanya kembali, menimbang untuk menyatukan keseluruhan aku kembali...

Sesak ini begitu dalam, begitu tajam dalam perih yang tak terjelaskan...
... dan hidup, tersenyum kecut melihat hambaNya yang terperosok.....



Barat Jakarta, 18 Agustus 2008, 03:00 dinihari, mencoba menutup lelah yang tetap tak berujung...
aku tak pernah siap untuk ini, ternyata.....

Saturday, August 16, 2008

Perjalanan malam...

Malam ini, aku merasa ada yang bertubrukan
diriku yang berbeda, merasa asing sesama
atas nama sayang, kedua persona berselisih panjang
aku berbeda dalam satu tubuh, mencoba mengerti panjangnya hari
dan jalan yang harus dilalui
entah gila ataupun aku sudah masuk tahap baru dalam ketidakwarasan
yang jelas, kedua persona mencoba mengungguli satu sama lain

aku merasa, begitu dalam di satu persona
figur yang berdiri tegak dan tekun dalam hari yang bergerak lambat
mendengar dan melihatnya berbicara
dari seluruh kisah yang mengalir deras, dari hati dan dari sekeliling
aku akui, persona ini mengakrab dalam persahabatan
dan figur ini tetap berdiri tegak dalam getir yang ditakar hari demi hari, melalui jam yang panjang
persona ini melambat, menarik nafas, dan bergerak lagi
apa yang membuat sang persona ini tegak, akuilah bahwa cerita akan mengkristal dalam butir-butir detik di bibir yang bergerak, mengucap, atau mata yang meneteskan setitik air-air jernih

persona sisi lain, mencoba tafakur dalam, dan berhenti bernafas dalam setiap hadirnya persona sebelumnya..
ia mencoba memiliki, segenap semangat dan harapan hidup selanjutnya
ia menyayang, dan mencoba berdiri berdampingan, berharap sebuah keutuhan yang berjalan bersama hingga panjangnya usia berkisah tanpa henti
mereka bertukar posisi dengan cepat, sementara otak ini mencoba mengukur seberapa jauh kekuatanku bisa menjulur panjang
meliuk di sela-sala belantara yang membutakan mata di labirin ini
kalau bisa kau jelaskan sedikit, dalam perhentian kita, seberapa jauh aku bisa menggerakkan dua persona ini, satu demi satu bergantian, ataukan mereka akan kulepas bersamaan?
Jangan ajari aku bagaimana menundukkan keduanya, saat api itu menyala dengan kilau yang membara menyilaukan
karena hati akhirnya runtuh dalam arang pekat di hidup yang menampar, kembali menusuk

Bagaimana kita bersama menjelaskan arti perasaan yang beku dan akhirnya cair?
atau kedinginan itu yang tak mengijinkan sedikitpun pintumu cair dan terbuka?
Ataukah akan kita hitung hari demi hari dari tahun ini, tahun depan, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, atau saat ajal bersahabat dengan hariku dalam kesendirian?
seberapa jauh aku bisa membaca nafas yang terus terhembus hingga kapan yang tak terbaca?
Kembali, hidup tersenyum kecut melihat umatNya yang tersungkur
pahit, mirip dengan espresso double-shot yang dinikmati tanpa gula, pahit, miris, dan mengejutkan...
kembali mengingat, kopi dan filosofinya membangunkanku untuk memahami pahit di setiap langkah...
Sekarang, aku dan kedua persona ini, menjadi makin anomalyst...
makin aneh dalam kebisuan panjang yang enggan terjelaskan

Bagaimana menjelaskan kehidupan, dalam dua sisi yang berbeda...
atau dalam dua cerita yang berlanjut, berbeda namun sekilas sangat serupa
lelaki yang terhempas jauh, dan tak pernah menjadi pilihan...
ia tak berhak, atau tak berkesempatan...
pecundang atau pemenang, semakin tak penting ternyata
karena semuanya bukan tentang kemenangan
tapi tentang sebuah penggalan ketulusan
dan perasaan itu lebih penting dari sayangnya pada dirinya sendiri...

Aku rasa, kota ini semakin dingin melecehkanku
dari masa-masa yang seolah terlupakan, toh iklimnya bukan menyejukkan, tapi membekukan...
hingga aku tak tahu lagi, bagaimana aku mengakurkan kedua persona yang berseberangan ini...
mereka tak berbicara, mereka diam tak bergeming, berdiri jauh di kutub masing-masing
meskipun jelas, keduanya bersemayam dalam satu tubuh dan jiwa yang sama...
multiple personality atau apapun namanya, entahlah...
hidupku bertanya panjang dan getir, bagaimana merukunkan keduanya lagi...
Aku sejenak, ingin rebah dan berhenti bernafas, sejenak saja melupakan bahwa aku pernah hidup di dunia yang tak tersenyum ini...
.....dan kebekuanku akan bertahan terus tanpa aku tahu bagaimana mencairkannya....
aku betul-betul tak tahu...



16 Agustus 2008
kota ini, membekukan langkah dan nafas...
sejenak diam tak bergeming

Friday, July 18, 2008

Hidup kedua...

Bagaimanapun, hidup harus berjalan terus..
Dengan cerita pahit atau manis, toh tetap saja hidup sebetulnya manis...
Hidup itu indah, manis... Hanya lidah kita tak terbiasa untuk mengecap manis itu...
Jangan katakan hidup itu getir, karena sejatuh-jatuhnya kita, selalu ada kesempatan lagi untuk bangun..
Dan sejujurnya, aku harus bangun lagi dari jatuh saat ini...
Sesaat mengumpulkan tenaga,
dan bangkit lagi....
Hidup itu indah untuk dijalani, dan aku mau merasa kehidupanku bangun lagi di kesempatan kedua...


Barat Jakarta, 18 Juli 2008...
Selamat pagi hidup kedua..

Saturday, July 12, 2008

Lelaki dan keutuhannya....

Perasaan ini, melahirkan lelaki itu,
dalam bentuk yang sudah begitu lama hilang
dia memberikan utuh, tak tersisa apapun lagi...
hanya utuh dan sempurna...
tak berpikir celah ruang sedikitpun untuk terjatuh..
Para bijak masa lalu berkata,
perasaan yang tertunduk dalam sakit yang begitu dalam,
pastilah karena seorang yang kita sayangi dengan seluruh kehidupan kita...
dan atas nama cinta, kita relakan setiap detik kita melayang dalam kenangan panjang...
Setiap detik yang menggumpal dalam kumparan waktu, adalah bentuk paling nyata
dari wujud kepercayaan yang meluruh seratus persen, bahkan akan berlebih...
semua berpulang karena waktu...
Meskipun lelaki ini menyerahkan semua tanpa menggubris detik waktu apapun lagi...
karena keutuhan itu, tak pernah dapat ditakar oleh tirisan waktu...
dan lelaki ini, menyerahkan semuanya utuh... untuk sebuah kepercayaan....


Surabaya, 12 Juli 2008....
untuk sebuah kepercayaan...

Sunday, July 06, 2008

Kuhargai tiap detik yang bergerak cepat...

Apa yang dapat kita utarakan,
dalam waktu yang terasa begitu langka?
Kujalani kekosongan dalam kebanyakan jam di hari-hari biasa,
Namun kuresapi keindahan waktu yang hanya sekejap,
detik, menit, jam, yang berlalu cepat namun bermakna..
Kubukakan sepenuh-penuhnya pintu ruang untuk kau yang melangkah masuk
Memenuhi seluruh kepadatan ruang pikiranku
Karena nyata, aku kosong dalam hari-hari biasa yang berlalu lamban,
seakan ruang-waktu tak ingin bersahabat dengan kebahagiaanku

Apa yang dapat kita utarakan dalam singkat waktu,
tentu begitu banyak, ya, begitu banyak
Meskipun keterbatasan sang waktu memenjarakan ruang,
dimana kita mengucap sedikit kata-kata membutuhkan satu dan lainnya,
yang memberi gambar nyata betapa kita tak lepas satu dengan lainnya...
Kadang, hal yang bernama cinta, sayang, butuh, rindu, dan lainnya,
berwujud dalam keterbatasan tanpa status nyata
Dan hakikatnya, kita memang mengejar sebentuk ruang bersama
yang menjadi wujud nyata, bukan status yang terlabelkan

5 Jam di 5 Juli...
Aku merindu banyak hal,
Ayah, Ibu, dan kebahagiaan yang tak kutemukan
dan aku habiskan 5 jam dalam perkenalanku kembali dengan kasih sayang, denganmu...
Ya, komitmen jelas yang tercetak dalam kertas putih, bertajuk 'cerita'
Aku tahu, tidak hanya untuk jam yang bergerak di tanggal ini saja,
namun lebih lanjut, ya..
lebih lanjut akan berkelana dalam takaran waktu di masa depan
Yang pasti, aku terlahir kembali dalam semangat yang hilang,
semangat yang nyaris sekarat...
dan aku terlahir kembali dalam 5 jam, di dua tanggal ini...


6 Juli 2008, ruas utama jalanan Bandung
Aku tahu, aku akan & harus berjuang...

Tuesday, July 01, 2008

Sejenak, aku lupa begitu banyak hal…

Aku lupa, bagaimana cara bersikap
Dengan baik, dengan tenang, dengan kokoh, dengan senyum
Saat waktu ini datang menghampiri, saat yang menguji seluruh kesabaran
Aku lupa, dan mungkin aku lupa dalam satu jam lebih di siang yang terik,
Aku tetap harus duduk tenang dan terpaku pada ingatan,
Sementara suara-suara itu begitu dekat dan akrab di telinga…
Tetap aku begitu sulitnya untuk bersikap…

Sementara, sesudahnya, aku ingat begitu lekat
Betapa semua tulus ini bersemayam di perasaanku
Awal yang selalu kuanggap, dapat kulalui dengan tenang tanpa gelisah…
Pun nyatanya, perasaan melumpuhkan nalar terkuatku, dan membuatku menunduk dalam
Aku ambruk dalam gelisah yang menerawang, panjang
Pada siang yang teriknya memeluhkan butir resah, atau memanaskan seluruh emosi
Terpanggang dalam kondisi yang satir, ujung-ke-ujung yang tak berujung

Keberanian menggerakkanku untuk mengikuti
Panas suhu memang tak mendukung, toh aku ingin larut dalam situasi ini
Mencoba seberapa besar ketabahan bisa menjagaku, dalam duduk tenangku
Hidangkanlah pemandangan itu, dan aku akan meresapi seluruh kekuatan diri
Mengumpulkan semuanya, dan berkonsentrasi untuk bersabar
Aku tetap nyaris kehilangan akal sehat dalam beberapa waktu di panasnya siang ini
Ternyata, tak semudah yang kubayangkan
Aku larut dalam perputaran yang tak berpihak padaku
Dan sayup-sayup aku tetap mendengarnya, dalam canda dan tawa yang merebak,
Sekali pun aku akhirnya sendiri di tengah keramaian ini

Aku sudah jalankan itu, aku hadapi itu, dengan seluruh kekuatan yang kukumpulkan
Tak semudah yang terbayang, toh aku ingin mencobanya
Dan satir yang terasa, lebih cenderung aku memilih menenggak kopi pahit
Tapi bagaimanapun, hidup menunjukkan kebesarannya, lagi-lagi
Lingkaran ini yang ingin kujalani, kondisi ini yang ingin kutembus
Dan perlahan, bibirku mencoba mengeja kata-demi-kata
Aku bertahan dalam tulusku yang kupilih
Aku bertahan dalam badai-badai panjang tak berkesudahan
Aku menenangkan amarah diri, yang ingin berteriak dalam lubuk hati
Betapa aku tak berkesempatan untuk ikut menggenggam, karena tak mungkin itu terjadi
Di siang yang teriknya menyiksa hingga aura bawah sadarku

Sedikit saja, coba, sedikit saja, jelaskan & ajarkan aku, bagaimana aku menghadapi kondisi ini
Disaat aku tak berhak menuntut apapun, meminta sedikit dari ruangmu
Coba katakana dalam sebait kalimat sederhana, bagaimana aku menakar kehidupanku
Di hadapan bayanganmu yang mendekat namun tak tergenggam?
Dalam panasnya semesta waktu yang singkat pun menghancurkan?
Aku memang akan bercerita tentang banyak hal, tak ada satu titik pun yang tertutupi
Namun seperti apakah kalimat yang seharusnya keluar dari bibirku, saat aku terkunci pada terik yang semakin menggerah, dalam kesempatan pendek yang mengajarkanku akan banyak kesabaran?
Ataukah nilai sebuah tulus & ikhlas, begitu luar biasa akan dicoba dan dicambuk, bahkan oleh singkat waktu yang membakar logika & akal sehat perasaan?
Mohon, ucapkan sedikit kalimat sederhana, agar aku bisa pahami mengapa emosi ini merebak begitu kuatnya dalam siang yang begitu terik….
Aku mohon, dengan seluruh nafas yang mewakili hidupku, aku mohon….
Demi sedikit waktu yang kumiliki, di pagi hari yang pendek, dan sore hari yang menelusuri perjalanan…
Aku mohon, jelaskan dengan sedikit kalimat bijak yang menenangkan, bagaimana caraku memahami semuanya….


Selatan Jakarta, 1 Juli 2008
Hidup laki-laki yang makin 'anomalyst'...

Wednesday, June 11, 2008

Dalam waktu yang semakin lirih...

Entah kenapa, lelaki itu limbung hari ini
Begitu lumpuh, ia lunglai dan mencoba menarik nafas berkali-kali
Jalan raya dan kesibukan sepulang kantor, tak meluruskan pikiran
Ia tergoyah sayatan perasaan

Hari ini, kenyataan bercerita lain padanya
Hal yang tak mudah dimengertinya,
penggalan demi penggalan
Lelaki itu mencari tempat berpijak
Dari keseharian dalam kesendiriannya
Ia tertutup, amat sangat
Tak merelakan banyak orang bergumam dan berkomentar
Atau bahkan sedikit saja mengetahui dirinya
Ia kunci dirinya begitu rapat

Dalam sepenggal perjalanannya dalam hidup yang terseret panjang
Liku-liku yang membingungkan desah nafas panjang dan keresahan
Tetap, ia jalankan hidup dalam kesendirian yang tak menyenangkan
Toh ia berjuang dalam tahun-tahun panjangnya
Dan ceritanya dalam hati, adalah ironi panjang yang tak berkesudahan
Ia terkunci pada ada dan tiada kenyataan
Toh, ia tetap lanjutkan perjalanannya

Dalam perputaran tahun hidupnya, ia temukan nyata yang amat-sangat
Ia lalui subuh dengan tertunduk, hidup bercerita lain padanya
Ia yang tak punya siapapun lagi,
Dan pendengarannya harus berjuang keras mengerti kalimat pisah yang terucap lirih
Perceraian, yang tak terelakkan
Akhirnya, setelah sekian lama berjuang, pasangan ini tersungkur
Dalam, sangat dalam... dan ironi ini terjelaskan
Lelaki ini lumpuh untuk menjelaskan semua pada nisan kedua orang tuanya
Apa yang harus diucapkannya lebih lanjut, apa yang harus dijelaskan
Saat hidup tak berpihak padanya?

Demi waktu yang terjaga,
Allah memberikannya sedikit ruang pertemuan
Dengan figur yang menenangkan kegelisahan
Yang membangunkan keterpurukan
Lelaki ini lebih banyak tersenyum, akhirnya
Menyadari bahwa sedikit cahaya bernama kasih sayang
Diturunkan Khalik untuk hidupnya yang meregang
Ia menikmati detik demi detik bersama figur ini
Pangeran dan putri, yang berharap bahwa hidup masa depan akan lebih baik
Setidaknya dengan semakin banyak senyum yang mereka bagi

Tuhan memang selalu memahami keterpurukan
Dan ia memainkan bidak-bidak catur bernama manusia, dengan skenario agung
Ia turunkan cinta dan kasih sayang, untuk membangunkan keputusasaan
Lelaki ini, bersyukur dalam padaNya, tak henti berujar panjang dalam doa yang satir
Semoga cinta berpihak padanya, untuk saat ini dan masa selanjutnya
Karena demi masa yang terjaga, lelaki ini menemui hidupnya yang hilang
Dalam beragam skenario terburuk yang melintas di pikirannya
Ia kembali berpikir jernih
Dan memulainya dengan kalimat magis;
Cinta hadir dalam bentuk sederhana yang paling megah
Meskipun, pangeran tak memiliki putri, ia tahu hidupnya kembali bercahaya
Dan lelaki ini tak berharap banyak, pada awal masa yang menggumpal dalam putaran waktu
Ia jalani semua, pangeran tahu putri senantiasa memberikan senyum termanisnya
Membangunkan kejatuhan diri sang pangeran

Ternyata, Allah berbicara dalam skenario yang jauh lebih dahsyat
Lelaki itu tersudut, kedinginan dan menggigil
Dalam kesendirian dan hampa, dalam harapan yang perlahan terbentuk
Ia temukan jawaban jauh di dalam hati
Ikhtiarnya terjawab, dalam tanda tanya besar
Pangeran menyayangi putri, ternyata, lebih besar dari yang dapat ia bayangkan
Setelah sekian lama, waktu berbicara dengan tegas
Lelaki itu tersungkur dalam sebuah bahasa yang hanya dimengerti oleh hatinya
Cahaya ini terlalu kuat untuk dihindari, dan lelaki itu merasakan anugerah yang begitu nyata
Hidupnya bangkit lebih bercahaya, ia bangun dari tidur malam dengan kesegaran
Keanehan yang ia nikmati, amat sangat
Ia menyayanginya, semakin pasti

Apa yang dapat diceritakan, tentang lelaki dan harapannya?
Ia mulai temukan hidupnya kembali, dan mulai berharap
Sedikit demi sedikit, di setiap perjalanan yang ia rasakan
Harapannya tumbuh, semakin besar
Cinta menunjukkan kebesarannya, Allah memberikan kesempatan kembali
Mengumpulkan tenaga, bangkit lagi
Putri sudah membangunkannya, begitu nyata
Dan lelaki itu membuang jauh kunci ketertutupannya, akhirnya
Karena ia tahu, hidupnya memiliki kesempatan kedua untuk disiram & disemai

Namun, cerita tak berucap dengan seluruh kemulusan jalan pikiran
Putri terlalu jauh dari genggamannya,
sementara lelaki itu mempersiapkan seluruh dokumen pisah
Pengadilan agama, dokumen peradilan, sidang perceraian, perdebatan hak asuh, dan banyak hal lain akan ia jalani
Toh lelaki itu berusaha tetap tegar, dalam tamparan hidup masa lalu
Ia tahu, lembaran pahit harus ditutup, dan ia harus lanjutkan langkahnya
Dan sedikit ia bergumam, langkah seperti apa yang akan berlanjut,
Ketertutupan yang makin kronis, ataukah kunci itu dapat dibuangnya semakin jauh
Putri masih melayang begitu jauh dari genggamannya

Dan perlahan, ketakutan hinggap
Rasa takut yang membenalu dan menghisap seluruh kesadaran rasional
Lelaki ini benci pada dirinya, dan makin lama tersungkur
Ia bayangkan hari-hari selanjutnya dalam kehidupan sendiri di rumah
Berakhir pekan dengan pengawasan pengadilan atas hak asuh seorang anak
Dan kembali ke ruang kesendiriannya
Dan, hanya jika putri mengijinkannya, ia bisa bangun dan berjalan bersamanya
Hanya jika putri mengijinkannya....
Entah kenapa, lelaki ini menggigil dalam ketakutannya

Ternyata, Khalik menunjukkan kebesaranNya amat sangat
Cerita bisa berbeda dari langkah catur yang dimainkan di tahap awal
Hari ini berbicara lain, lelaki ini mulai kehilangan nafasnya
Perlahan, semangatnya teriris dan memuai
Bertransformasi dalam bentuk lain, ketakutan irasional
Pikiran subyektif yang menghangatkan, pun menghancurkan
Ia tak bisa kehilangan lagi, sungguh tak bisa
Kekhawatirannya seolah terwujud,
Dan seperti biasa, ia tak pernah bisa bicara banyak
Tentang putri dan sekelilingnya yang tetap belum tergenggam

Lelaki, dan perjalanannya
Ia mencoba teriak dalam tenggorokan yang tercekat
Ia tak mampu gerakkan tenaganya lebih banyak
Selain sedikit saja harapan, bahwa kehidupannya harus tetap berjalan
Apa adanya, seperti yang ia jalankan lebih dari empat tahun sebelum masa kini
Ruas jalan, keramaian, sudut kota, kota kembang yang membesarkan,
luka dan tawa, serta gambaran hidupnya di masa depan, kabur dan begitu sesak
Dan hari ini, kehidupannya limbung, ia tersungkur dalam....
Sedikit nafas, sepenggal demi sepenggal, ia kumpulkan menjelang maghrib

Hari ini, ia tak bersahabat dengan hari ini
Sungguh, mulutnya terkunci untuk ucapkan keinginan
Pangeran tahu, putri tak bisa terkunci.......
Sebentuk sayang, harusnya membebaskan
Menenangkan pun meneduhkan
Itu perannya saat ini, ia tak bisa menuntut banyak
Meskipun jujur ini, sangat dipahami olehNya

Hari ini, nafasnya mulai tersengal
Sedikit demi sedikit, lelaki itu rebahkan diri di belakang kemudi
Selepas maghrib yang menghancurkan buluh nadinya
Allah tahu, lelaki ini begitu ingin menggenggam cahaya yang hadir di kehidupannya
Lelaki ini begitu ingin membangun kehidupan kedua,
Dalam kehancuran masa kini, tetap harus ada harapan untuk masa depan
Tapi, sore ini berbicara lain, dalam kalimat yang tak ia mengerti
Lelaki, hidup, dan harapan
Entah, lelaki itu menatap suram maghrib hari ini
Ia sungguh tak bersahabat dengan hari ini...

Dalam waktu pendek sore hari,
Tenggorokannya mengering, ia tak dapat berucap
Semangatnya lunglai, amat-sangat
Dan satu hal yang ditakutkannya, mulai tergambar
Lelaki itu betul-betul merasakan, nafas yang tertatih...
Dan ia beranjak dari duduknya, dalam tenaga tersisa
Lelaki itu hancur, meski seperti biasa ia tak pernah menyisakan bekas
Kehancurannya dalam, begitu dalam
Dan hanya ia yang memahami, dan Allah tentunya

Air itu mengalir deras, sedikit menyakitkan bagian-bagian tubuh yang tersiram
Wudhu yang lebih panas, agaknya tak meneduhkan
Lelaki itu tahu pasti, Allah sedang menunggunya untuk berbicara
Dalam penggalan kalimat pelan, berbisik, dan tertunduk
Dalam judul hari yang penat, lelaki itu bersujud
Dan seperti biasa, Allah satu-satunya yang mendengarnya
Menatapnya dari atas, melebihi lapis langit ketujuh
Lelaki itu berharap keajaiban...
Entah, berhak atau tidak ia atas sebentuk keajaiban
Ia lunglai, betul-betul lumpuh

Duduk di belakang kemudi, ia tak acuhkan apapun lagi
Hanya mengarahkan diri tak jelas kemana
Lelaki itu tak ingat lagi ruas-ruas jalan, dan ia lupa dirinya
Kehidupan menamparnya, ya akhirnya kembali menamparnya
Sekuat apapun ia mengelak dan berlindung, hidup lebih bertahta jauh diatas dirinya
Dan kembali ia menakar cerita hidup
Mulai mengumpulkan kenangan, tapi tetap ia tak mampu
Lelaki itu mulai kehabisan penggalan nafasnya..
Merajut satu demi satu, untaian yang tak jelas
Ia kehilangan banyak energi hari ini, perasaan yang mengulitinya hidup-hidup
Ia hanya bicara sendiri, dalam ruas jalan yang dilalui
Ia hanya bisa cerita sendiri, meski tak ada siapapun, toh Allah tetap mendengarnya...

Sebentuk cerita, kadang tak terungkap di awal
Kita hanya jalani apa adanya, kita hanya menjadi diri sendiri
Meski tak selalu diri kita tersiram kesegaran, selalu harus ada keseimbangan
Dan lelaki itu mulai merangkum beberapa penggalan masa kini
Perceraian, langkah kesendirian,
Ketertutupan, senyum & kemarahan putri, kehilangan, jalan kesendirian,
nisan orang tuanya, jalan raya yang menamparnya, dan banyak hal lain...
Dan ia tahu, langkahnya mungkin akan bermuara pada kehidupan
Bangun dan berjalan sendiri, dalam setiap lembar hari-harinya
Ya, lelaki itu mulai bersahabat dengan gambaran masa depannya
Kalau ia masih berkesempatan dari Khalik,
....untuk bernafas di masa depan



Sudut Selatan Jakarta, 11 Juni 2008
Hancur........

Sunday, June 08, 2008

Semua hal menyapa..

Kadang, kita berpapasan,
bersua meski tak mengucap salam..
Pada hal-hal kecil yang mengiris pelan
cerita hidup yang terpikir panjang
lagu-lagu, film, ruas jalan, tempat dikunjungi, orang-orang, simbol & logo, atau apapun lainnya..

Dan meski kita menghindar untuk sadari,
toh tetap saja hal-hal itu berputar mengelilingi
hanya berucap dalam bahasa pelajaran mereka, dejavu yang tak berkesudahan...

& kita belajar dari semua hal yang berputar cepat di sekeliling kita...


Barat Jakarta, 8 Juni 2008
- salah pilih tontonan, but I like it...

Saturday, June 07, 2008

Sakit ini...

Seberapa jauh kita melangkah
seberapa jauh kita mendengar & melihat
ada yang tak asing lagi di benak dua manusia ini
Karena konsep 'rasa' tak bermusuhan dengan kenyataan
hanya berseberangan, mungkin...

Tak ada yang berhak menghakimi perasaan
tak ada yang bisa luluhkan sesuatu yang terdalam
tidak dalam hitungan waktu, tidak dalam memori ingatan
mungkin hingga kapanpun, tersimpan tak pupus

Sedikit saja berbicara, kita tahu
sepanjang apa langkah bisa kita teruskan
langkah nyata, meskipun bayangan kita memimpikan lebih jauh
Seberapa lama jam waktu akan tersedia untuk kita?
Aku tak tahu, tak bisa berucap

Jika pertanyaannya adalah, dapatkah sepenggal waktu dari 24 jam kau miliki
hanya dengan keberadaan aku dan kau
Mungkin jawaban paling jujur akan aku jabarkan dengan penuh detil
bahwa aku tak menyisihkan sepenggal waktu, namun penuh dua puluh empat jam
Aku hanya ingin dua puluh empat jam dari hari bergulir
Penuh, tak berkompromi dengan agenda apapun lagi

Seberapa jauh kau beranikan untuk itu?
Dan tak pernah mudah untuk berdiri dalam realitas lain, dan aku tahu pasti itu
Tak mudah, tak pernah sederhana
Meskipun harapan kita berdiri di atas apapun, tak serta-merta memuluskan jalan
Perasaan memang bermain di setiap sela kesibukan kita dengan yang lainnya

Jika sedikit dari harapanku bisa aku pahat
dalam jejak langkah yang kau ambil kemudian
mungkin aku memahat sedikit kalimat yang kau tahu pasti
Kalimat yang tidak akan pernah mudah untuk dilupakan
dan hari-hari belakangan, kau tahu tentang itu
Kau pasti tahu, karena kau sudah tak melihat itu hanya pahatan
...kau dengar dengan jelas
Namun, sejelas apa pendengaranmu berbanding kejelasan hidup?
Ini menjadi makin kompleks dan rumit

Kau tak mendungkan hari-harimu, juga aku
aku tak relakan semenit terlepas, bahkan sedapatnya bertambah
Putaran jalan, sudut kota, warung makan, cerita pendek-panjang
kau tahu banyak siapa aku
Sedikit saja aku berharap, jangan lupakan
karena tak mudah memutar kembali semuanya ini, saat masa depan merangkul kita dengan pelukan yang berbeda

Ada yang salah?
Tidak... mungkin dalam perasaan terdalammu, kita adalah figur terkasihani
dalam kondisi yang salah, dalam waktu yang tak tepat
Maaf, jika aku berseberangan dalam memandang ini semua
Tidak ada yang salah, atas nama perasaan
karena rasa diberikan Khalik, untuk kita resapi dan renungkan dalam
Untuk kita simpan dalam lembaran kertas putih tak terkotori, bernama hati
Untuk kita kenang dalam memori ber-giga-terra-byte, lumpuhkan teknologi apapun
Dan tak ada yang tersakiti, meskipun kemungkinan realisme tak dapat kita peluk
setidaknya saat ini, toh biarkan waktu menunjukkan kemegahannya dalam cerita bernama hidup
Karena kehidupan kita harus terus berjalan
dan aku tetap menjadi aku apa adanya, tak berlebihan, hanya dalam kebersahajaan
Tak melupakan semuanya



Selatan Jakarta, 7 Juni 2008, 23:41
Tambah usia, tambah kompleks dan rumit, tambah tabah,
dan dewasalah dalam sakit ini...

Salam untuk perasaan..

Siapa kita, yang mampu menyusun skenario?
siapa kiranya, yang bisa menggerakkan hati kecil?
Aku, kau, dan siapapun, kita mengucap salam yang sama
pada hati kecil dan nurani
sedikit mengukur, dan menakar, seberapa besar kelembutan menggoyahkan perasaan
dan ternyata kita tersungkur dalam, begitu rebah untuk memuji
karena kita tahu, kita tak pernah bisa kendalikan itu
hanya perasaan menggerakkan setiap langkah

dan sedikit saja aku ucapkan salam, atas perasaan yang mulai bermain
seberapa jauh kita akan berlari, entah
namun yang pasti, rasa takut menggelayuti pikiran kita
dan kita mulai bermain dengan detik demi detik pikiran
yang terkonsentrasi pada rasa takut
pada alam masa depan yang tak terjamah

Sedikit, mari kita ucapkan salam itu
pada perasaan yang mulai tak terkendali
siapa kita, adakah sedikit hak kita untuk mengadili sebentuk perasaan?
Tidak siapapun, aku, kamu, dan siapapun, berhak memutuskan rasa bersalah pada nurani
tak adil, tak ada yang adil dalam salam kita pada perasaan
toh, ketidakadilan ini memberikan kita sedikit semangat untuk lebih baik
pada diri sendiri
Karena jujur adalah bentuk tertinggi dari pertemuan dengan diri sendiri
kalaupun saat ini, kita bertemu dengan diri sendiri, biarlah itu terjadi
Karena tak sedikitpun waktu aku sia-siakan untuk ketidakjujuran...

salamku untuk perasaan..


Barat Jakarta, 7 Juni 2008, 18:29
sedikit salam dari hati kecil

Monday, June 02, 2008

Subuh yang terjaga...

Lelaki itu, terbiasa terjaga lebih panjang
dari orang-orang kebanyakan
pun tertidur lebih singkat dari umumnya
manusia-manusia lelah
ia terbiasa terbius sepi

Pangeran tak berucap banyak saat perjalanan,
hanya sempatkan diri menepi, menghirup kopi,
dan kembali berjalan

Lelaki itu, mendapatkan pasangannya lelap
lalu melanjutkan kehadirannya dalam sunyi malam,
saat tak banyak orang berbincang tentang kehidupan
ia hanya tertegun, dan lama diam

Saat adzan bersuarakan megahNya, ia basahi alur nadinya
lelaki itu, mendapati malaikat yang berbisik letih
untuk anak manusia yang terjerembab

Pasangannya terjaga, mereka bertatap,
dan mengambil tirta beberapa aliran
untuk bersama sujud dalam hening
Dua rakaat singkat
Dua manusia dalam pekat
Dua dunia yang tercekat

Pangeran hanya duduk diam di tepian
menikmati hitam kopi yang pahitnya membujur
ia tenggelam dalam kelam...

Lelaki itu tahu, sujud pagi ini akan membuat mereka berdua bercerita
ia tahu tatapan pasangannya,
ia mengenalnya...
Begitupun sebaliknya.....

Dan cerita, lalu terceritakan
dalam suara pelan, kebanyakan diam,
meresapi arti kata-kata
Mereka tahu pasti, dunia mereka tak lagi sama
nilai-nilai kukuh itu makin berseberangan
Dan menyadari bahwa jodoh, adalah konsep yang tak pernah terjabarkan hanya dari cerita manusia

Lelaki dan pasangannya, bertatap lekat
mereka mencintai, tapi tahu dengan begitu dalam
bahwa cinta memang bukan kekangan
bukan sangkar yang melemahkan
bukan idealisme semu yang membisukan
dan sejenak, mata air mata luluh dalam ucap getir
Dengan cinta, konsep hidup mereka terpisahkan
Dengan cinta, kehidupan menunjukkan kebesarannya untuk berlanjut sendiri

Pangeran, menatap sajadah lusuh
yang entah kapan terakhir dibersihkannya
ia kenal betul setiap tetes peluh dan wudhu kering
yang mengering di lembaran lembut itu

Lelaki dan pasangannya hanya bisa berucap
buah hati mereka adalah cinta abadi
yang tunjukkan pada dunia yang semakin angkuh
bahwa cinta melekatkan mereka begitu dalam
meskipun tetap berakhir dalam pembebasan
dan buah hati mereka, adalah genggaman mereka sepanjang masa, dalam dunia masing-masing yang tetap harus berjalan...
Hidup mereka harus tetap berjalan..

Pangeran berkhayal
tentang gambaran yang lekat di pandangannya
setahun, dua tahun, atau lima tahun ke depan..
Cerita yang bagai dongeng panjang, menghanyutkan
atau sealur dongeng yang nyata-amat-sangat
pangeran dan putri
putri dan raja
putri menjadi permaisuri
ataukah putri selamanya bersama pangeran
konsep dongeng yang nyata, pun sebaliknya

Lelaki dan pangeran
berpikir dengan otak kanan dan kiri
dalam hembus paru kanan dan kiri
dalam langkah kanan dan kiri
dalam genggaman kanan dan kiri...
Mereka berbagi pahit, mereka berbagi senyum
mereka berbagi seringai tawa, pun kemarahan
menertawai dan memarahi diri mereka sendiri...



pom bensin, selatan jakarta, 2 juni 2008
sedikit bernafas dalam sesak yang panjang

Kembali...

Kembali ke tempat ini, tidak pernah mudah..
Kota kembang yang harumnya semerbak dengan begitu dingin udara,
membuat kenyataan yang hadir belakangan ini dalam hari-hariku sedikit mereda...
sejak 13 november tahun lalu, akhirnya saat ini memberanikan diri untuk kembali ke rumah
Tempat yang membesarkan panjang kehidupanku..
Tidak mudah, saat tengah malam sedikit salamku terucap, pada rumah kosong yang perawatannya memburuk semenjak ditinggal lamanya waktu kami sekeluarga bergerak ke jakarta,
karena kerja, atau karena ibu yang berobat hingga akhir hayatnya...
Rumah ternyata obat luar biasa bagi ketidaktenangan,
saat aku sangat terasing di rumah jakarta.
Dan aku menatap lekat foto-foto di ruang tengah, aku, ibu, & kakak...
Semua kenangan mendadak berputar cepat, dan aku limbung luar biasa semalam...
Putuskan sejenak keluar dari rumah,
mengobati sesak yang tak terjelaskan

dan sehari penuh aku habiskan,
berbicara sendiri, jongkok & bersila
ruang tengah yang kosong lapang
semedi tafakur yang tak berujung
aku berbicara sendiri, seolah hilang kewarasan
Tak mengapa, toh aku menikmati saat-saat aku melayang jauh
terbang ke beberapa tahun ke belakang
dan mengenal kembali siapa aku, & apa peranan terbaik yang aku harapkan terwujud..

Meski tak pernah mudah kembali,
toh aku menikmati setiap detik dari saat aku kembali
Rumah ini begitu tenang & teduh, menyejukkan...



Tol Cikampek, rest area...
2 Juni 2008

Sunday, May 25, 2008

Musim berjalan, dalam pilihan yang menggenang...

Dialog pertama...
Aku bicara cukup panjang semalam,
dinihari, saat semua lelap
hanya sajadah, sarung menyelimuti
memulai lagi dialog malam dengan Raja Manusia
Dia yang selalu mendengar, dan merespons, tersenyum, dan sabdanya membuatku semakin tunduk

Aku memulai dengan banyak pertanyaan, klise, sebagaimana kebanyakan manusia bertanya
dalam ketidakmampuannya mencari tahu, lelah amat sangat
dan aku bercerita, tertunduk
mungkin ini cara paling baik mengungkap semua, meskipun tahu bahwa Ia Maha Tahu

Beberapa tahun lalu, aku berikan hidup untuk sebuah cerita
dengan resiko & tanggungjawab besar yang aku tahu, akan berbentuk seperti apa
Aku tak menakar banyak hal, hanya sedikit semangat
dan kebingunganku aku tenggelamkan begitu dalam
ternyata, aku berikan hidup untuk sebuah cerita yang mengejutkan, berkali-kali

Sekarang, cerita banyak berdeviasi
melengkung dalam semesta yang unik
karena aku semakin rancu, nyata dan semu
dan pilihan itu tertatap nanar di depanku
seperti apa cerita akan bergulir terus?

Aku tak pernah menyerahkan diri dalam kekalahan
setidaknya, selama bertahun-tahun hidup aku jalani,
tak sedikitpun semangat lelaki ini tunduk pada kekalahan
Jatuh, biasa... bangun dari jatuh, ini hal yang terus aku jalani
dan aku terbiasa dengan ini

Bertahun dari masa lalu, aku sisipkan cerita besar
dan aku menyerahkan diri pada ikatan itu
yang tak kumengerti, betapa panjang cerita akan bergulir dalam tamparan-tamparan keras
yang menundukkan optimisme ke batas-batas di luar kesadaranku
semakin aku berpikir, menyambungkan semua, ternyata skeptikal hidupku makin nyata

Aku meratapi panjang, penyerahan diriku
yang berbuah manis penerus dalam senyumnya yang khas
Semangatnya membangunkanku, untuk tak meratapi ini
tak menakar kembali semua, meskipun bathin semakin lambat dan terseok
Toh, nyata-nyata kehidupan tak selamanya dalam optimisme buta

Silahkan meninjau kembali sebentuk kehidupan,
dan akan kutemukan seonggok harapan yang terdiam itu
dalam sela-sela pergantian musim, keringnya tetes mata air mata
dan begitu banyak memar tamparan kejatuhan
toh aku terdiam begitu lama

Bagaimana kita melihat hidup kita selanjutnya,
saat semua yang semu memeluk begitu halus, pun mengikat diri terlalu erat?
ternyata, hidup tak bercerita banyak dalam semangat empiris
dan kalbu semakin dingin dari hari ke hari
cerita ini, semua yang menyelimuti, perlahan ingin kulepas

Seperti apa pilihan pahit yang akan kita ambil?
Akankah kita mempermalukan diri sendiri dan kalah dalam penggalan ujung kehidupan
hingga ajal menjemput hari-hari kita?
Ataukah kita sejatinya memegang teguh tampuk kebebasan pilihan itu?
membelokkan semesta yang seolah tak berujung, menjadi satu keputusan hidup yang sangat jernih
meskipun dalam dua langkah yang akhirnya terpisah?
Keduanya pilihan pahit yang tak mudah
keduanya pun dapat membebaskan, sekaligus menghanyutkan dalam kehancuran
Tapi ternyata, keduanya tetap pilihan yang sangat jernih untuk disibakkan
sejernih mata air yang tak pernah kering, di alam keras padang pasir
Oasis yang selalu menjernihkan kepala
dan keduanya tetap pilihan yang (seharusnya) tak mengkerdilkan hati nurani kita
hana menenggelamkan kita dari kesadaran sekitar kita....

ah entahlah, sedikit tarikan nafas untuk menenangkan 
dan melanjutkan tulisan ini lagi esok hari...


akhir dari dialog pertama

Selatan Jakarta, 25 Mei 2008
Babak awal dari tulisan (yang tampaknya akan) panjang

-------------------------------


Dialog kedua...

Menjelang malam, lelaki ini masih duduk di mejanya
layar menyala, setumpuk pekerjaan belum usai
menyalakan segenap energi, untuk membantunya tetap terjaga
ia hanya mendengar lagu itu, pikirannya entah kemana
yang pasti, ia akrab dengan lagu ini...
dan para musisi irlandia ini sukses menyayat hatinya...
hingga lembaran-lembaran tipis yang beterbangan

........
Did I disappoint you?
Or leave a bad taste in your mouth?
You act like you never had love
And you want me to go without

Lelaki ini memejam sejenak, larut dalam lelah panjang
hidup tak membuatnya tersenyum...

Well it's 
Too late
Tonight
To drag the past out into the light
We're one, but we're not the same

entah berapa kali ia terjaga diam tak sadar
waktu menjelang malam, maghrib hampir usai
dan sayup ia menerawang, tetap panjang tak berkata

Have you come here for forgiveness?
Have you come to raise the dead?
Have you come here to play Jesus?
To the lepers in your head

....


Tetap, topiknya tak berganti di benaknya
Tetap sama, tak bergerak...
dan malam mulai muncul dalam dinginnya yang angkuh


akhir dari dialog kedua

Timur Jakarta, 26 Mei 2008

------------------------------------------------------


Seperti apa, masa di depan kita?


Dan aku bertanya, seperti apa masa depan?
apa yang dapat kita bayangkan, sedikit saja
waktu kita luangkan, melihat dan mengapresiasi
hidupan saat ini, dan bagaimana kelak?
setahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun mendatang?
akan seperti apa kita?
Apakah dongeng-dongeng khayal mengarahkan
langkah kita mengejar itu semua?
Akankah getirnya kita membuat pilihan terjawabkan?
Atau hanya bersembunyi dalam takut akan realitas?

Beragam pertanyaan, hanya tersimpulkan 
dan jawabannya, bukan urusan perkara sederhana
karena tidak mudah, tidak pernah sederhana untuk berkata atas nama perasaan
dan kita bertempur habis-habisan untuk menyembunyikan semuanya
dalam dongeng harap kita setiap malam-kelam
antara realitas tak menguntungkan, dengan harapan yang jauh berbeda
ataukah harapan hanya bisa terjawab melalui keberanian langkah kita
saat ini, atau di hari mendatang?

Seperti apa dongeng itu nyata dalam tahun-tahun mendatang?
Seorang melihat dalam nyata
seorang lain tak berani berargumen pun menjawab
keduanya hanya tenggelam dalam kemungkinan-kemungkinan
dan tetap bertanya, meski dalam hati tak jelas terdengar
seperti apa dia akan berada di depanku, di masa depan?

Jangan anggap ini dongeng, cukup katakan saja
dimana semuanya bisa nyata atau tidak, dan semuanya akhirnya kembali ke pilihan
jika aku, kau, dan yang lain tak berujar apapun
mungkin kau lebih nyaman dalam diam membayangkan
Karena 'nyaman' adalah konsep yang tak pernah usang
dan diam adalah ruang sederhana tempat aku & kau terduduk
untuk berpikir panjang
sekali lagi, tentang bagaimana kita bertatapan di masa depan

Sedikit kejujuran mungkin tak berucap banyak saat ini
karena kita semua tak berkekuatan untuk menjawabnya
mungkin hanya dengan waktu yang mengantar kita 
panjang ke belantara masa depan tak membayang
dan waktu akan berujar perlahan, bahwa kita dihadapkan
pada kebetulan-kebetulan nyata, saat kita bertemu
dan bertegur-sapa kembali

biarlah waktu menjawab, dalam rangkulan masa-masa di depan
karena semua tetap belum terjawab saat ini



Barat Jakarta, 25 Mei 2008
ketika banyak hal tak terjawab saat ini

Friday, May 23, 2008

Lalu-lalang malam kelana

Sedikit saja, aku rebah di kursi ini
sama seperti malam-malam lain dalam
beberapa waktu kehidupan ke belakang...

meja bundar, kopi pahit dengan sedikit gula
alat komunikasi, tampilan layar, asbak, & rokok yang berasap tebal
menebalkan begitu banyak bayangan berseliweran di pikiran...
Malam ini, secangkir kopi ini sama getirnya dengan malam-malam lain berlalu

Lingkaranku menajam frontal
membentuk sesak yang tak mengerti aku sedikitpun
Sejenak, aku hanya hirup getir yang lekat
dalam cangkir yang terisi cairan jelaga
hitam pekat, pahit, beraroma
aku terjaga caffein yang melekat di buluh-buluh otak

Aku sulit cerita
hanya penggalan tak jelas yang semestinya, dirangkai rapih, seteratur tujuh lapisan langit dengan ceritanya...
Toh, tetap aku tak mampu merangkai awan menggulung itu, merapikannya
karena energi melayangku semakin tipis, sesak di penghujung hari yang makin pendek
aku tetap tercekat & tak bercerita

Dan semakin aku tenggelam
lamunan malam hitam kelam seperti
banyak malam lain yang berlalu
meja bundar kecil itu, tetap padat dengan beragam
hal-hal kecil menemani malam panjang
kelamnya semakin getir
semakin sesak...


Selatan Jakarta, 23 Mei 2008
kopi ini semakin pahit

Tak Berpijak

Semua ini tak berpijak tenang
hanya melayang, mengapung, atau bahkan
metafora rasa tak berkesudahan
hanya aliran dingin yang mencoba sedikit
sibakkan ruas-ruas perjalanan yang tak berakhir

cinta ini tak berpijak tegas, pun tenang...


Selatan Jakarta, 23 Mei 2008

Thursday, May 22, 2008

Mengapung


Apa yang dapat kita ceritakan, tentang panjangnya nafas letih
atau sedikit saja tarikan panjang mengelus dada
tak sedikitpun aku pahami semua
tak sedikitpun mulut ini bicara banyak

Apa yang kita tahu, tentang bagaimana langkah kita beberapa waktu mendatang
apakah sendu, atau bahagia, siapa kita?
Apa hak kita menceritakan semua yang tak terjabarkan dan belum nyata
ataukah kita hanya sosok pilu yang menakar seperti apa bakal garis tangan kita?

Getir yang tak terungkap, memanjakan kita perlahan tapi pasti
memanjakan, karena kita lelap panjang dalam ironi yang menggulung
tak kita sisakan jejak langkah untuk berbalik, karena hidup bukan menyesak
dan menyesali langkah yang tercetak rapih

Tak biasa memang, kita mencari sejenak yang berbeda
atau memang tak terbiasa, mendengar apa yang seharusnya
daun kuping kita terlena mendengar apa yang ingin kita tahu
dan tak mencari kita, suatu yang berbeda

Aku bertaut, pada biduk yang semakin tak jelas, mengapung tanpa tepian, 
berlayar tak berkompas, sedianya tak tersedia apapun tersisa
tak tersisa pasir itu lagi dalam genggaman...


Selatan Jakarta, 22 Mei 2008

Tuesday, May 20, 2008

Lingkaran empat persona


Lelaki itu menyerahkan

Kehidupannya pada pasangan

Tak panjang debatnya, yang ada hanya pemberian kehidupannya pada si wanita

Konflik, gencatan senjata, konflik, gencatan senjata, dan begitu seterusnya

Tapi ia memang tak mengambil keberanian sedikitpun untuk mengendalikan hidupnya sendiri

 

Sang wanita, mengendalikan sepenuhnya kehidupan pasangannya

Tak mengijinkan sedikitpun, ruang untuk lelaki itu

Bergerak, dan bebas memilih

Nyatanya, wanita ini menikmati setiap ikatannya

Entah atas nama apapun

 

Wanita kedua, datang

Kehidupan berwarna, dan lelaki itu terjepit

Mengambil keputusan tak semudah langkah hari-harinya

Dan ia terkunci pada ikatan atas nama apapun

Pasangannya tak rela sedikitpun, tak ada ruang untuk itu

 

Wanita kedua, datang dalam haus keingintahuan

Hanya membebaskan dirinya, dari penasaran, pencarian hidup dan kehidupannya

Ia membebaskan waktu demi waktu, dari semula ia datang

Ke kota yang akan memberi banyak cerita

Ilmu, atau apapun namanya, ia mencari tak berbatas

 

Bercerita banyak, sang wanita kedua

Tentang prinsip dan arah, pembebasannya atas semua realitas

Ia tak meminta banyak, hanya butuh ruang

Hal yang langka jika mendengar bait demi bait kalimat derasnya

Atas nama cinta, ia memberikan sedikit demi sedikit ruang lebih besar untuk dirinya

Ia mencintai ruang hidup yang dinamakannya kebebasan

 

Untuk terbang melayang, ia rindukan sayap-sayap

Yang tak hanya melekat kaku, namun fleksibel dan melegakan

Pelukan tiap malam dalam mimpi panjang yang membangunkan keresahan

Ia menghindari setiap belenggu yang mengecilkan impiannya

Memilih berteriak panjang dalam kesendirian, tetap atas nama pembebasan

 

Lelaki kedua, berpasangan dengan wanita kedua

Ia harapkan seluruh hidupnya, berdampinga, lengan yang merangkul setiap perjalanannya

Ia mencoba sesempurna mungkin, plus harapan yang tajam pada wanitanya

Ia mulai mengikat perlahan, tak memperbesar ruang

Karena hidup baginya, adalah langkah bersama tak terpisahkan

 

Lelaki kedua, mencari terus-menerus, jati dirinya untuk membahagia

Ia tak luruskan apapun, hanya mulai mengikat simpul

Apapun itu, jarak memang tak melegakan

Hanya memberi beribu pikiran yang tak leluasa

Ia semakin kecil dalam kerinduannya

 

Wanita pertama, mengucap kata-kata

Tak membebaskan, pun semakin mengunci lelakinya

Dan pembicaraan menajam, wanita kedua terkunci dalam

Ditengah keberadaan pasangan pertama, ia perlahan bercermin

Cermin yang selalu ia bawa kemana-mana, atas nama jati diri

Harapan lebih baik, dan harapan pendamping yang membebaskan malam-malamnya

 

Lelaki pertama, menyerahkan kunci kehidupan dan langkahnya

Lelaki kedua, mengendalikan kunci itu semakin kuat

Wanita kedua, lari dalam getir pembebasannya

Wanita pertama, percaya tak ada kebebasan atas nama cinta

Hidup semakin miris dalam keterhubungannya

 

Apa yang lebih indah, daripada kebebasan hati kecil

Langkah, dan harapan?

Seberapa besar kita bisa menakar dunia yang mengelilingi kita dengan bayangan tak lepas

Kita merakit mimpi dari penggalan nafas dan ide

Yang membangunkan pagi hari kita untuk bangkit dan berlari lagi

 

Wanita kedua, rindu akan dirinya

Ia tak ingin lepas, akan waktu-waktu panjang yang dirindukannya

Dalam pencarian diri, yang selalu indah

Tanpa perlu menakar izin untuk kunci kehidupannya

Seberapa jauh ia bisa melangkah, seberapa lama ia bisa berjalan

 

Wanita kedua, rindu akan pencariannya

Pembenaran atas sikapnya yang selama ini tak terizinkan

Ia hanya butuh ruang, yang merangkul ketidaktenangan istirahatnya

Tanpa perlu resep panjang untuk memulai tidur

Atau untuk meletihkan harinya dalam senyum-senyum bahagia karena ia menemukan dirinya dalam pembebasan tak berakhir

 

Wanita kedua tak mampu kehilangan

Tak mengizinkan waktu bergerak cepat tanpa ia belajar banyak

Ia ingin menghirup apapun ilmu yang melewatinya

Dan dirangkul hangatnya sayang yang mendewasakan

Atau apapun bentuknya, ia butuh figur yang melegakan

 

Sebentuk ironi menggulung

Benak para lelaki, terkoyak masing-masing untuk hal yang mereka tak mengerti

Lelaki pertama, berharap kunci hidupnya terpegang, hanya dan hanya karena dirinya

Persona yang ingin bisa melangkah panjang

Tanpa terbebani apapun

 

Lelaki kedua, berharap ia berlari panjang

Melintas jarak hanya untuk mengunci rapat-rapat

Jarak panjang yang mulai menggilai pikirannya

Ia tak mampu hidup dalam kebingungan

Akankah pasangannya meninggalkan, atau terbebas dari seluruh aturan yang ia buat

 

Bagaimanapun, cinta mengumpul jadi bentuk-bentuk norma dan aturan

Dengan beribu pasal yang hanya masing-masing ikatan yang mengartikannya

Lelaki kedua, paham betul jarak hanya terkompromikan dengan aturan

Karena ia menyerah pada rasa takut kehilangannya

Ia membebani hidup dengan ribuan pemikiran menakutkan

Kehilangan memang neraka kecil, yang membunuh kesadaran

 

Lelaki pertama, tidak mencoba paham atas aturan itu

Karena ia hanya mengkompromikan hidupnya dalam kunci yang ia sendiri tak pahami

Kenapa ia sedikitpun tak berhak menggenggam kunci diri

Tak ada yang lebih memilukan, dibanding kehilangan kebebasan hati kecil, langkah, dan harapan

 

Hidup memang keterhubungan

Sore tadi, kalimat ini tertulis jelas dari lelaki lainnya

Wanita kedua hanya tersenyum di kejauhan, membayangkan kata-kata pendek ini

Betapa semua bisa bergulir seperti lingkaran

Yang tak mudah ia sadari, tapi memang nyata

 

Bukan sesuatu yang dihubung-hubungkan

Lelaki lain itu, hanya melihat, empat figur ini sedang belajar banyak

Dari lingkaran yang bukan pilihan mereka

Sang Khalik punya banyak kartu truf, atau skenario, atau apapun namanya

Yang pasti, lingkaran ini belajar dalam kecepatan tinggi saat ini

 

Dan jika kita tak bisa mengatakan cinta

Tak bisa mengartikannya barang sedikit saja perumpamaan

Setidaknya, kita bisa mempelajari bahwa seluruh hidup kita

Menjadi cinta saat kebebasan kita terpenuhi tanpa terkekang, menjadi diri sendiri

Seluruh tubuh kita dapat berujar, kita mencintai tanpa batas

Atas nama kebebasan pencarian kita

 

Lelaki lain itu, hanya diam di kejauhan

Mencoba membayangkan empat persona yang melingkar

Terikat sesuatu yang tak mereka pahami

Lelaki lain, dengan pikiran lain yang beterbangan

Jauh dalam kebebasan yang jadi nama lainnya

 

 

Selatan Jakarta, 20 Mei 2008

Sedikit beristirahat hari ini, thanks God....