....
Avatar, or Avatarim (Sanskrit: अवतार, IAST: avatāra), most commonly refers to the incarnation (bodily manifestation) onto planet Earth. The Sanskrit word Avatāra - literally means "descent" and usually implies a deliberate descent into lower realms of existence for special purposes. (definition compiled from many sources)
Sunday, May 25, 2008
Musim berjalan, dalam pilihan yang menggenang...
Seperti apa, masa di depan kita?
Dan aku bertanya, seperti apa masa depan?
Friday, May 23, 2008
Lalu-lalang malam kelana
sama seperti malam-malam lain dalam
beberapa waktu kehidupan ke belakang...
meja bundar, kopi pahit dengan sedikit gula
alat komunikasi, tampilan layar, asbak, & rokok yang berasap tebal
menebalkan begitu banyak bayangan berseliweran di pikiran...
Malam ini, secangkir kopi ini sama getirnya dengan malam-malam lain berlalu
Lingkaranku menajam frontal
membentuk sesak yang tak mengerti aku sedikitpun
Sejenak, aku hanya hirup getir yang lekat
dalam cangkir yang terisi cairan jelaga
hitam pekat, pahit, beraroma
aku terjaga caffein yang melekat di buluh-buluh otak
Aku sulit cerita
hanya penggalan tak jelas yang semestinya, dirangkai rapih, seteratur tujuh lapisan langit dengan ceritanya...
Toh, tetap aku tak mampu merangkai awan menggulung itu, merapikannya
karena energi melayangku semakin tipis, sesak di penghujung hari yang makin pendek
aku tetap tercekat & tak bercerita
Dan semakin aku tenggelam
lamunan malam hitam kelam seperti
banyak malam lain yang berlalu
meja bundar kecil itu, tetap padat dengan beragam
hal-hal kecil menemani malam panjang
kelamnya semakin getir
semakin sesak...
Selatan Jakarta, 23 Mei 2008
kopi ini semakin pahit
Tak Berpijak
hanya melayang, mengapung, atau bahkan
metafora rasa tak berkesudahan
hanya aliran dingin yang mencoba sedikit
sibakkan ruas-ruas perjalanan yang tak berakhir
cinta ini tak berpijak tegas, pun tenang...
Selatan Jakarta, 23 Mei 2008
Thursday, May 22, 2008
Mengapung
Tuesday, May 20, 2008
Lingkaran empat persona
Lelaki itu menyerahkan
Kehidupannya pada pasangan
Tak panjang debatnya, yang ada hanya pemberian kehidupannya pada si wanita
Konflik, gencatan senjata, konflik, gencatan senjata, dan begitu seterusnya
Tapi ia memang tak mengambil keberanian sedikitpun untuk mengendalikan hidupnya sendiri
Sang wanita, mengendalikan sepenuhnya kehidupan pasangannya
Tak mengijinkan sedikitpun, ruang untuk lelaki itu
Bergerak, dan bebas memilih
Nyatanya, wanita ini menikmati setiap ikatannya
Entah atas nama apapun
Wanita kedua, datang
Kehidupan berwarna, dan lelaki itu terjepit
Mengambil keputusan tak semudah langkah hari-harinya
Dan ia terkunci pada ikatan atas nama apapun
Pasangannya tak rela sedikitpun, tak ada ruang untuk itu
Wanita kedua, datang dalam haus keingintahuan
Hanya membebaskan dirinya, dari penasaran, pencarian hidup dan kehidupannya
Ia membebaskan waktu demi waktu, dari semula ia datang
Ke kota yang akan memberi banyak cerita
Ilmu, atau apapun namanya, ia mencari tak berbatas
Bercerita banyak, sang wanita kedua
Tentang prinsip dan arah, pembebasannya atas semua realitas
Ia tak meminta banyak, hanya butuh ruang
Hal yang langka jika mendengar bait demi bait kalimat derasnya
Atas nama cinta, ia memberikan sedikit demi sedikit ruang lebih besar untuk dirinya
Ia mencintai ruang hidup yang dinamakannya kebebasan
Untuk terbang melayang, ia rindukan sayap-sayap
Yang tak hanya melekat kaku, namun fleksibel dan melegakan
Pelukan tiap malam dalam mimpi panjang yang membangunkan keresahan
Ia menghindari setiap belenggu yang mengecilkan impiannya
Memilih berteriak panjang dalam kesendirian, tetap atas nama pembebasan
Lelaki kedua, berpasangan dengan wanita kedua
Ia harapkan seluruh hidupnya, berdampinga, lengan yang merangkul setiap perjalanannya
Ia mencoba sesempurna mungkin, plus harapan yang tajam pada wanitanya
Ia mulai mengikat perlahan, tak memperbesar ruang
Karena hidup baginya, adalah langkah bersama tak terpisahkan
Lelaki kedua, mencari terus-menerus, jati dirinya untuk membahagia
Ia tak luruskan apapun, hanya mulai mengikat simpul
Apapun itu, jarak memang tak melegakan
Hanya memberi beribu pikiran yang tak leluasa
Ia semakin kecil dalam kerinduannya
Wanita pertama, mengucap kata-kata
Tak membebaskan, pun semakin mengunci lelakinya
Dan pembicaraan menajam, wanita kedua terkunci dalam
Ditengah keberadaan pasangan pertama, ia perlahan bercermin
Cermin yang selalu ia bawa kemana-mana, atas nama jati diri
Harapan lebih baik, dan harapan pendamping yang membebaskan malam-malamnya
Lelaki pertama, menyerahkan kunci kehidupan dan langkahnya
Lelaki kedua, mengendalikan kunci itu semakin kuat
Wanita kedua, lari dalam getir pembebasannya
Wanita pertama, percaya tak ada kebebasan atas nama cinta
Hidup semakin miris dalam keterhubungannya
Apa yang lebih indah, daripada kebebasan hati kecil
Langkah, dan harapan?
Seberapa besar kita bisa menakar dunia yang mengelilingi kita dengan bayangan tak lepas
Kita merakit mimpi dari penggalan nafas dan ide
Yang membangunkan pagi hari kita untuk bangkit dan berlari lagi
Wanita kedua, rindu akan dirinya
Ia tak ingin lepas, akan waktu-waktu panjang yang dirindukannya
Dalam pencarian diri, yang selalu indah
Tanpa perlu menakar izin untuk kunci kehidupannya
Seberapa jauh ia bisa melangkah, seberapa lama ia bisa berjalan
Wanita kedua, rindu akan pencariannya
Pembenaran atas sikapnya yang selama ini tak terizinkan
Ia hanya butuh ruang, yang merangkul ketidaktenangan istirahatnya
Tanpa perlu resep panjang untuk memulai tidur
Atau untuk meletihkan harinya dalam senyum-senyum bahagia karena ia menemukan dirinya dalam pembebasan tak berakhir
Wanita kedua tak mampu kehilangan
Tak mengizinkan waktu bergerak cepat tanpa ia belajar banyak
Ia ingin menghirup apapun ilmu yang melewatinya
Dan dirangkul hangatnya sayang yang mendewasakan
Atau apapun bentuknya, ia butuh figur yang melegakan
Sebentuk ironi menggulung
Benak para lelaki, terkoyak masing-masing untuk hal yang mereka tak mengerti
Lelaki pertama, berharap kunci hidupnya terpegang, hanya dan hanya karena dirinya
Persona yang ingin bisa melangkah panjang
Tanpa terbebani apapun
Lelaki kedua, berharap ia berlari panjang
Melintas jarak hanya untuk mengunci rapat-rapat
Jarak panjang yang mulai menggilai pikirannya
Ia tak mampu hidup dalam kebingungan
Akankah pasangannya meninggalkan, atau terbebas dari seluruh aturan yang ia buat
Bagaimanapun, cinta mengumpul jadi bentuk-bentuk norma dan aturan
Dengan beribu pasal yang hanya masing-masing ikatan yang mengartikannya
Lelaki kedua, paham betul jarak hanya terkompromikan dengan aturan
Karena ia menyerah pada rasa takut kehilangannya
Ia membebani hidup dengan ribuan pemikiran menakutkan
Kehilangan memang neraka kecil, yang membunuh kesadaran
Lelaki pertama, tidak mencoba paham atas aturan itu
Karena ia hanya mengkompromikan hidupnya dalam kunci yang ia sendiri tak pahami
Kenapa ia sedikitpun tak berhak menggenggam kunci diri
Tak ada yang lebih memilukan, dibanding kehilangan kebebasan hati kecil, langkah, dan harapan
Hidup memang keterhubungan
Sore tadi, kalimat ini tertulis jelas dari lelaki lainnya
Wanita kedua hanya tersenyum di kejauhan, membayangkan kata-kata pendek ini
Betapa semua bisa bergulir seperti lingkaran
Yang tak mudah ia sadari, tapi memang nyata
Bukan sesuatu yang dihubung-hubungkan
Lelaki lain itu, hanya melihat, empat figur ini sedang belajar banyak
Dari lingkaran yang bukan pilihan mereka
Sang Khalik punya banyak kartu truf, atau skenario, atau apapun namanya
Yang pasti, lingkaran ini belajar dalam kecepatan tinggi saat ini
Dan jika kita tak bisa mengatakan cinta
Tak bisa mengartikannya barang sedikit saja perumpamaan
Setidaknya, kita bisa mempelajari bahwa seluruh hidup kita
Menjadi cinta saat kebebasan kita terpenuhi tanpa terkekang, menjadi diri sendiri
Seluruh tubuh kita dapat berujar, kita mencintai tanpa batas
Atas nama kebebasan pencarian kita
Lelaki lain itu, hanya diam di kejauhan
Mencoba membayangkan empat persona yang melingkar
Terikat sesuatu yang tak mereka pahami
Lelaki lain, dengan pikiran lain yang beterbangan
Jauh dalam kebebasan yang jadi nama lainnya
Selatan Jakarta, 20 Mei 2008
Sedikit beristirahat hari ini, thanks God....
Sunday, May 18, 2008
Tentang kesendirian
Dan dia bertanya tentang kesendirianku
Ada apa dengan itu
Ternyata, tidak mudah untuk menjelaskan
Di tengah malam-malam Jakarta yang tak berhenti berdenyut kencang
Apalagi, kebingunganku untuk memulainya
Karena tak bisa kuceritakan sepenggal demi sepenggal
‘apa yang kamu mau tahu tentang kehidupan aku?’
Kalimat sederhana yang lebih enak aku ungkapkan
Agar dia bisa utarakan pertanyaan demi pertanyaan
Sembari aku berpikir bagaimana mengurutkan jawabannya
Ternyata, rasa ingin tahunya membuka pertanyaan besar
Yang aku sendiri tak fasih untuk menjelaskannya
‘kenapa kamu suka menyendiri?’
Dan pertanyaan ini hanya bisa kujawab, kalau aku membuka semua hal
Dia begitu fasih untuk bertanya,
Sementara aku terbata untuk mengatur jawaban itu
Dan aku mulai, dengan seputaran hidup masa kecilku
Tentang beberapa kehilangan,
Dan bagaimana aku mendidik hidupku sendiri
Bagaimana Allah menghajar aku dengan banyak hal
‘aku memilih ke gunung, untuk tenangin perasaan, agar tidak membebani orang lain dengan masalah’
Sedikit bagian dari cerita itu
Dan ceritaku terpotong-potong, karena sulit aku gabungkan dengan baik
Dan dia mulai berkomentar..
‘kamu egois, sedikit cerita tadi sudah bisa membuat aku menyimpulkan itu..’
‘kamu menganggap orang lain punya kemampuan yang sama dengan kamu, dan menganggap mereka harus survive seperti kamu juga’
‘kamu gak pentingkan perasaan pasangan kamu’
‘kamu sembunyikan banyak permasalahan, dan biarkan semuanya meledak di bagian akhir’
Komentarnya menyayat, pun mengundang introspeksi
Tapi pikiranku melayang panjang, mungkin cerita ini masih sepotong
Dan belum terjalin
Sampai aku cerita semua dengan panjang, mungkin dia akan berpikir kembali
Meskipun tak mudah bercerita dengan lugas
Ternyata, aku harus buka banyak hal
Dan gak mudah cerita banyak hal, kembali membuka cerita yang terdalam
Dan jalanan panjang jakarta, semakin berasa panjang
Saat aku cerita bagaimana pilarku runtuh
Kehilangan-kehilangan yang amat sangat
Ternyata aku gak punya cukup kekuatan untuk cerita semuanya dengan tenang
Dan dia hanya diam, entah berpikir apa
Entah apa yang ada di pikirannya...
Sampai akhirnya kata-kata maaf yang keluar dari mulutnya
Dan aku juga tak habis pikir, kenapa akhirnya maaf yang diutarakan
Karena dia tak bersalah apapun
Hanya saja, untuk kenal aku, berarti harus tahu banyak tentang aku
Berarti harus mengumpulkan kepingan cerita panjang, untuk lihat intisari itu
Itu saja yang terceritakan, belum cukup panjang, tapi dia menyimpulkannya
Dalam, jauh di relung kata hatinya...
Biarkan dia menilaiku apa adanya, karena mengenalku tak cukup melihat masa kini
Jika dengan panjangnya cerita lalu, dia menyimpulkannya
Biarlah itu jadi perkenalannya tentang seorang aku...
Senopati, 18 Mei 2008
hidup gak beristirahat....