Sunday, May 25, 2008

Musim berjalan, dalam pilihan yang menggenang...

Dialog pertama...
Aku bicara cukup panjang semalam,
dinihari, saat semua lelap
hanya sajadah, sarung menyelimuti
memulai lagi dialog malam dengan Raja Manusia
Dia yang selalu mendengar, dan merespons, tersenyum, dan sabdanya membuatku semakin tunduk

Aku memulai dengan banyak pertanyaan, klise, sebagaimana kebanyakan manusia bertanya
dalam ketidakmampuannya mencari tahu, lelah amat sangat
dan aku bercerita, tertunduk
mungkin ini cara paling baik mengungkap semua, meskipun tahu bahwa Ia Maha Tahu

Beberapa tahun lalu, aku berikan hidup untuk sebuah cerita
dengan resiko & tanggungjawab besar yang aku tahu, akan berbentuk seperti apa
Aku tak menakar banyak hal, hanya sedikit semangat
dan kebingunganku aku tenggelamkan begitu dalam
ternyata, aku berikan hidup untuk sebuah cerita yang mengejutkan, berkali-kali

Sekarang, cerita banyak berdeviasi
melengkung dalam semesta yang unik
karena aku semakin rancu, nyata dan semu
dan pilihan itu tertatap nanar di depanku
seperti apa cerita akan bergulir terus?

Aku tak pernah menyerahkan diri dalam kekalahan
setidaknya, selama bertahun-tahun hidup aku jalani,
tak sedikitpun semangat lelaki ini tunduk pada kekalahan
Jatuh, biasa... bangun dari jatuh, ini hal yang terus aku jalani
dan aku terbiasa dengan ini

Bertahun dari masa lalu, aku sisipkan cerita besar
dan aku menyerahkan diri pada ikatan itu
yang tak kumengerti, betapa panjang cerita akan bergulir dalam tamparan-tamparan keras
yang menundukkan optimisme ke batas-batas di luar kesadaranku
semakin aku berpikir, menyambungkan semua, ternyata skeptikal hidupku makin nyata

Aku meratapi panjang, penyerahan diriku
yang berbuah manis penerus dalam senyumnya yang khas
Semangatnya membangunkanku, untuk tak meratapi ini
tak menakar kembali semua, meskipun bathin semakin lambat dan terseok
Toh, nyata-nyata kehidupan tak selamanya dalam optimisme buta

Silahkan meninjau kembali sebentuk kehidupan,
dan akan kutemukan seonggok harapan yang terdiam itu
dalam sela-sela pergantian musim, keringnya tetes mata air mata
dan begitu banyak memar tamparan kejatuhan
toh aku terdiam begitu lama

Bagaimana kita melihat hidup kita selanjutnya,
saat semua yang semu memeluk begitu halus, pun mengikat diri terlalu erat?
ternyata, hidup tak bercerita banyak dalam semangat empiris
dan kalbu semakin dingin dari hari ke hari
cerita ini, semua yang menyelimuti, perlahan ingin kulepas

Seperti apa pilihan pahit yang akan kita ambil?
Akankah kita mempermalukan diri sendiri dan kalah dalam penggalan ujung kehidupan
hingga ajal menjemput hari-hari kita?
Ataukah kita sejatinya memegang teguh tampuk kebebasan pilihan itu?
membelokkan semesta yang seolah tak berujung, menjadi satu keputusan hidup yang sangat jernih
meskipun dalam dua langkah yang akhirnya terpisah?
Keduanya pilihan pahit yang tak mudah
keduanya pun dapat membebaskan, sekaligus menghanyutkan dalam kehancuran
Tapi ternyata, keduanya tetap pilihan yang sangat jernih untuk disibakkan
sejernih mata air yang tak pernah kering, di alam keras padang pasir
Oasis yang selalu menjernihkan kepala
dan keduanya tetap pilihan yang (seharusnya) tak mengkerdilkan hati nurani kita
hana menenggelamkan kita dari kesadaran sekitar kita....

ah entahlah, sedikit tarikan nafas untuk menenangkan 
dan melanjutkan tulisan ini lagi esok hari...


akhir dari dialog pertama

Selatan Jakarta, 25 Mei 2008
Babak awal dari tulisan (yang tampaknya akan) panjang

-------------------------------


Dialog kedua...

Menjelang malam, lelaki ini masih duduk di mejanya
layar menyala, setumpuk pekerjaan belum usai
menyalakan segenap energi, untuk membantunya tetap terjaga
ia hanya mendengar lagu itu, pikirannya entah kemana
yang pasti, ia akrab dengan lagu ini...
dan para musisi irlandia ini sukses menyayat hatinya...
hingga lembaran-lembaran tipis yang beterbangan

........
Did I disappoint you?
Or leave a bad taste in your mouth?
You act like you never had love
And you want me to go without

Lelaki ini memejam sejenak, larut dalam lelah panjang
hidup tak membuatnya tersenyum...

Well it's 
Too late
Tonight
To drag the past out into the light
We're one, but we're not the same

entah berapa kali ia terjaga diam tak sadar
waktu menjelang malam, maghrib hampir usai
dan sayup ia menerawang, tetap panjang tak berkata

Have you come here for forgiveness?
Have you come to raise the dead?
Have you come here to play Jesus?
To the lepers in your head

....


Tetap, topiknya tak berganti di benaknya
Tetap sama, tak bergerak...
dan malam mulai muncul dalam dinginnya yang angkuh


akhir dari dialog kedua

Timur Jakarta, 26 Mei 2008

------------------------------------------------------


Seperti apa, masa di depan kita?


Dan aku bertanya, seperti apa masa depan?
apa yang dapat kita bayangkan, sedikit saja
waktu kita luangkan, melihat dan mengapresiasi
hidupan saat ini, dan bagaimana kelak?
setahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun mendatang?
akan seperti apa kita?
Apakah dongeng-dongeng khayal mengarahkan
langkah kita mengejar itu semua?
Akankah getirnya kita membuat pilihan terjawabkan?
Atau hanya bersembunyi dalam takut akan realitas?

Beragam pertanyaan, hanya tersimpulkan 
dan jawabannya, bukan urusan perkara sederhana
karena tidak mudah, tidak pernah sederhana untuk berkata atas nama perasaan
dan kita bertempur habis-habisan untuk menyembunyikan semuanya
dalam dongeng harap kita setiap malam-kelam
antara realitas tak menguntungkan, dengan harapan yang jauh berbeda
ataukah harapan hanya bisa terjawab melalui keberanian langkah kita
saat ini, atau di hari mendatang?

Seperti apa dongeng itu nyata dalam tahun-tahun mendatang?
Seorang melihat dalam nyata
seorang lain tak berani berargumen pun menjawab
keduanya hanya tenggelam dalam kemungkinan-kemungkinan
dan tetap bertanya, meski dalam hati tak jelas terdengar
seperti apa dia akan berada di depanku, di masa depan?

Jangan anggap ini dongeng, cukup katakan saja
dimana semuanya bisa nyata atau tidak, dan semuanya akhirnya kembali ke pilihan
jika aku, kau, dan yang lain tak berujar apapun
mungkin kau lebih nyaman dalam diam membayangkan
Karena 'nyaman' adalah konsep yang tak pernah usang
dan diam adalah ruang sederhana tempat aku & kau terduduk
untuk berpikir panjang
sekali lagi, tentang bagaimana kita bertatapan di masa depan

Sedikit kejujuran mungkin tak berucap banyak saat ini
karena kita semua tak berkekuatan untuk menjawabnya
mungkin hanya dengan waktu yang mengantar kita 
panjang ke belantara masa depan tak membayang
dan waktu akan berujar perlahan, bahwa kita dihadapkan
pada kebetulan-kebetulan nyata, saat kita bertemu
dan bertegur-sapa kembali

biarlah waktu menjawab, dalam rangkulan masa-masa di depan
karena semua tetap belum terjawab saat ini



Barat Jakarta, 25 Mei 2008
ketika banyak hal tak terjawab saat ini

Friday, May 23, 2008

Lalu-lalang malam kelana

Sedikit saja, aku rebah di kursi ini
sama seperti malam-malam lain dalam
beberapa waktu kehidupan ke belakang...

meja bundar, kopi pahit dengan sedikit gula
alat komunikasi, tampilan layar, asbak, & rokok yang berasap tebal
menebalkan begitu banyak bayangan berseliweran di pikiran...
Malam ini, secangkir kopi ini sama getirnya dengan malam-malam lain berlalu

Lingkaranku menajam frontal
membentuk sesak yang tak mengerti aku sedikitpun
Sejenak, aku hanya hirup getir yang lekat
dalam cangkir yang terisi cairan jelaga
hitam pekat, pahit, beraroma
aku terjaga caffein yang melekat di buluh-buluh otak

Aku sulit cerita
hanya penggalan tak jelas yang semestinya, dirangkai rapih, seteratur tujuh lapisan langit dengan ceritanya...
Toh, tetap aku tak mampu merangkai awan menggulung itu, merapikannya
karena energi melayangku semakin tipis, sesak di penghujung hari yang makin pendek
aku tetap tercekat & tak bercerita

Dan semakin aku tenggelam
lamunan malam hitam kelam seperti
banyak malam lain yang berlalu
meja bundar kecil itu, tetap padat dengan beragam
hal-hal kecil menemani malam panjang
kelamnya semakin getir
semakin sesak...


Selatan Jakarta, 23 Mei 2008
kopi ini semakin pahit

Tak Berpijak

Semua ini tak berpijak tenang
hanya melayang, mengapung, atau bahkan
metafora rasa tak berkesudahan
hanya aliran dingin yang mencoba sedikit
sibakkan ruas-ruas perjalanan yang tak berakhir

cinta ini tak berpijak tegas, pun tenang...


Selatan Jakarta, 23 Mei 2008

Thursday, May 22, 2008

Mengapung


Apa yang dapat kita ceritakan, tentang panjangnya nafas letih
atau sedikit saja tarikan panjang mengelus dada
tak sedikitpun aku pahami semua
tak sedikitpun mulut ini bicara banyak

Apa yang kita tahu, tentang bagaimana langkah kita beberapa waktu mendatang
apakah sendu, atau bahagia, siapa kita?
Apa hak kita menceritakan semua yang tak terjabarkan dan belum nyata
ataukah kita hanya sosok pilu yang menakar seperti apa bakal garis tangan kita?

Getir yang tak terungkap, memanjakan kita perlahan tapi pasti
memanjakan, karena kita lelap panjang dalam ironi yang menggulung
tak kita sisakan jejak langkah untuk berbalik, karena hidup bukan menyesak
dan menyesali langkah yang tercetak rapih

Tak biasa memang, kita mencari sejenak yang berbeda
atau memang tak terbiasa, mendengar apa yang seharusnya
daun kuping kita terlena mendengar apa yang ingin kita tahu
dan tak mencari kita, suatu yang berbeda

Aku bertaut, pada biduk yang semakin tak jelas, mengapung tanpa tepian, 
berlayar tak berkompas, sedianya tak tersedia apapun tersisa
tak tersisa pasir itu lagi dalam genggaman...


Selatan Jakarta, 22 Mei 2008

Tuesday, May 20, 2008

Lingkaran empat persona


Lelaki itu menyerahkan

Kehidupannya pada pasangan

Tak panjang debatnya, yang ada hanya pemberian kehidupannya pada si wanita

Konflik, gencatan senjata, konflik, gencatan senjata, dan begitu seterusnya

Tapi ia memang tak mengambil keberanian sedikitpun untuk mengendalikan hidupnya sendiri

 

Sang wanita, mengendalikan sepenuhnya kehidupan pasangannya

Tak mengijinkan sedikitpun, ruang untuk lelaki itu

Bergerak, dan bebas memilih

Nyatanya, wanita ini menikmati setiap ikatannya

Entah atas nama apapun

 

Wanita kedua, datang

Kehidupan berwarna, dan lelaki itu terjepit

Mengambil keputusan tak semudah langkah hari-harinya

Dan ia terkunci pada ikatan atas nama apapun

Pasangannya tak rela sedikitpun, tak ada ruang untuk itu

 

Wanita kedua, datang dalam haus keingintahuan

Hanya membebaskan dirinya, dari penasaran, pencarian hidup dan kehidupannya

Ia membebaskan waktu demi waktu, dari semula ia datang

Ke kota yang akan memberi banyak cerita

Ilmu, atau apapun namanya, ia mencari tak berbatas

 

Bercerita banyak, sang wanita kedua

Tentang prinsip dan arah, pembebasannya atas semua realitas

Ia tak meminta banyak, hanya butuh ruang

Hal yang langka jika mendengar bait demi bait kalimat derasnya

Atas nama cinta, ia memberikan sedikit demi sedikit ruang lebih besar untuk dirinya

Ia mencintai ruang hidup yang dinamakannya kebebasan

 

Untuk terbang melayang, ia rindukan sayap-sayap

Yang tak hanya melekat kaku, namun fleksibel dan melegakan

Pelukan tiap malam dalam mimpi panjang yang membangunkan keresahan

Ia menghindari setiap belenggu yang mengecilkan impiannya

Memilih berteriak panjang dalam kesendirian, tetap atas nama pembebasan

 

Lelaki kedua, berpasangan dengan wanita kedua

Ia harapkan seluruh hidupnya, berdampinga, lengan yang merangkul setiap perjalanannya

Ia mencoba sesempurna mungkin, plus harapan yang tajam pada wanitanya

Ia mulai mengikat perlahan, tak memperbesar ruang

Karena hidup baginya, adalah langkah bersama tak terpisahkan

 

Lelaki kedua, mencari terus-menerus, jati dirinya untuk membahagia

Ia tak luruskan apapun, hanya mulai mengikat simpul

Apapun itu, jarak memang tak melegakan

Hanya memberi beribu pikiran yang tak leluasa

Ia semakin kecil dalam kerinduannya

 

Wanita pertama, mengucap kata-kata

Tak membebaskan, pun semakin mengunci lelakinya

Dan pembicaraan menajam, wanita kedua terkunci dalam

Ditengah keberadaan pasangan pertama, ia perlahan bercermin

Cermin yang selalu ia bawa kemana-mana, atas nama jati diri

Harapan lebih baik, dan harapan pendamping yang membebaskan malam-malamnya

 

Lelaki pertama, menyerahkan kunci kehidupan dan langkahnya

Lelaki kedua, mengendalikan kunci itu semakin kuat

Wanita kedua, lari dalam getir pembebasannya

Wanita pertama, percaya tak ada kebebasan atas nama cinta

Hidup semakin miris dalam keterhubungannya

 

Apa yang lebih indah, daripada kebebasan hati kecil

Langkah, dan harapan?

Seberapa besar kita bisa menakar dunia yang mengelilingi kita dengan bayangan tak lepas

Kita merakit mimpi dari penggalan nafas dan ide

Yang membangunkan pagi hari kita untuk bangkit dan berlari lagi

 

Wanita kedua, rindu akan dirinya

Ia tak ingin lepas, akan waktu-waktu panjang yang dirindukannya

Dalam pencarian diri, yang selalu indah

Tanpa perlu menakar izin untuk kunci kehidupannya

Seberapa jauh ia bisa melangkah, seberapa lama ia bisa berjalan

 

Wanita kedua, rindu akan pencariannya

Pembenaran atas sikapnya yang selama ini tak terizinkan

Ia hanya butuh ruang, yang merangkul ketidaktenangan istirahatnya

Tanpa perlu resep panjang untuk memulai tidur

Atau untuk meletihkan harinya dalam senyum-senyum bahagia karena ia menemukan dirinya dalam pembebasan tak berakhir

 

Wanita kedua tak mampu kehilangan

Tak mengizinkan waktu bergerak cepat tanpa ia belajar banyak

Ia ingin menghirup apapun ilmu yang melewatinya

Dan dirangkul hangatnya sayang yang mendewasakan

Atau apapun bentuknya, ia butuh figur yang melegakan

 

Sebentuk ironi menggulung

Benak para lelaki, terkoyak masing-masing untuk hal yang mereka tak mengerti

Lelaki pertama, berharap kunci hidupnya terpegang, hanya dan hanya karena dirinya

Persona yang ingin bisa melangkah panjang

Tanpa terbebani apapun

 

Lelaki kedua, berharap ia berlari panjang

Melintas jarak hanya untuk mengunci rapat-rapat

Jarak panjang yang mulai menggilai pikirannya

Ia tak mampu hidup dalam kebingungan

Akankah pasangannya meninggalkan, atau terbebas dari seluruh aturan yang ia buat

 

Bagaimanapun, cinta mengumpul jadi bentuk-bentuk norma dan aturan

Dengan beribu pasal yang hanya masing-masing ikatan yang mengartikannya

Lelaki kedua, paham betul jarak hanya terkompromikan dengan aturan

Karena ia menyerah pada rasa takut kehilangannya

Ia membebani hidup dengan ribuan pemikiran menakutkan

Kehilangan memang neraka kecil, yang membunuh kesadaran

 

Lelaki pertama, tidak mencoba paham atas aturan itu

Karena ia hanya mengkompromikan hidupnya dalam kunci yang ia sendiri tak pahami

Kenapa ia sedikitpun tak berhak menggenggam kunci diri

Tak ada yang lebih memilukan, dibanding kehilangan kebebasan hati kecil, langkah, dan harapan

 

Hidup memang keterhubungan

Sore tadi, kalimat ini tertulis jelas dari lelaki lainnya

Wanita kedua hanya tersenyum di kejauhan, membayangkan kata-kata pendek ini

Betapa semua bisa bergulir seperti lingkaran

Yang tak mudah ia sadari, tapi memang nyata

 

Bukan sesuatu yang dihubung-hubungkan

Lelaki lain itu, hanya melihat, empat figur ini sedang belajar banyak

Dari lingkaran yang bukan pilihan mereka

Sang Khalik punya banyak kartu truf, atau skenario, atau apapun namanya

Yang pasti, lingkaran ini belajar dalam kecepatan tinggi saat ini

 

Dan jika kita tak bisa mengatakan cinta

Tak bisa mengartikannya barang sedikit saja perumpamaan

Setidaknya, kita bisa mempelajari bahwa seluruh hidup kita

Menjadi cinta saat kebebasan kita terpenuhi tanpa terkekang, menjadi diri sendiri

Seluruh tubuh kita dapat berujar, kita mencintai tanpa batas

Atas nama kebebasan pencarian kita

 

Lelaki lain itu, hanya diam di kejauhan

Mencoba membayangkan empat persona yang melingkar

Terikat sesuatu yang tak mereka pahami

Lelaki lain, dengan pikiran lain yang beterbangan

Jauh dalam kebebasan yang jadi nama lainnya

 

 

Selatan Jakarta, 20 Mei 2008

Sedikit beristirahat hari ini, thanks God....

Sunday, May 18, 2008

Tentang kesendirian

Dan dia bertanya tentang kesendirianku

Ada apa dengan itu

Ternyata, tidak mudah untuk menjelaskan

Di tengah malam-malam Jakarta yang tak berhenti berdenyut kencang

Apalagi, kebingunganku untuk memulainya

Karena tak bisa kuceritakan sepenggal demi sepenggal

 

‘apa yang kamu mau tahu tentang kehidupan aku?’

Kalimat sederhana yang lebih enak aku ungkapkan

Agar dia bisa utarakan pertanyaan demi pertanyaan

Sembari aku berpikir bagaimana mengurutkan jawabannya

 

Ternyata, rasa ingin tahunya membuka pertanyaan besar

Yang aku sendiri tak fasih untuk menjelaskannya

‘kenapa kamu suka menyendiri?’

Dan pertanyaan ini hanya bisa kujawab, kalau aku membuka semua hal

 

Dia begitu fasih untuk bertanya,

Sementara aku terbata untuk mengatur jawaban itu

Dan aku mulai, dengan seputaran hidup masa kecilku

Tentang beberapa kehilangan,

Dan bagaimana aku mendidik hidupku sendiri

Bagaimana Allah menghajar aku dengan banyak hal

 

‘aku memilih ke gunung, untuk tenangin perasaan, agar tidak membebani orang lain dengan masalah’

Sedikit bagian dari cerita itu

Dan ceritaku terpotong-potong, karena sulit aku gabungkan dengan baik

Dan dia mulai berkomentar..

 

‘kamu egois, sedikit cerita tadi sudah bisa membuat aku menyimpulkan itu..’

‘kamu menganggap orang lain punya kemampuan yang sama dengan kamu, dan menganggap mereka harus survive seperti kamu juga’

‘kamu gak pentingkan perasaan pasangan kamu’

‘kamu sembunyikan banyak permasalahan, dan biarkan semuanya meledak di bagian akhir’

 

Komentarnya menyayat, pun mengundang introspeksi

Tapi pikiranku melayang panjang, mungkin cerita ini masih sepotong

Dan belum terjalin

Sampai aku cerita semua dengan panjang, mungkin dia akan berpikir kembali

Meskipun tak mudah bercerita dengan lugas

Ternyata, aku harus buka banyak hal

 

Dan gak mudah cerita banyak hal, kembali membuka cerita yang terdalam

Dan jalanan panjang jakarta, semakin berasa panjang

Saat aku cerita bagaimana pilarku runtuh

Kehilangan-kehilangan yang amat sangat

Ternyata aku gak punya cukup kekuatan untuk cerita semuanya dengan tenang

 

Dan dia hanya diam, entah berpikir apa

Entah apa yang ada di pikirannya...

Sampai akhirnya kata-kata maaf yang keluar dari mulutnya

Dan aku juga tak habis pikir, kenapa akhirnya maaf yang diutarakan

Karena dia tak bersalah apapun

Hanya saja, untuk kenal aku, berarti harus tahu banyak tentang aku

Berarti harus mengumpulkan kepingan cerita panjang, untuk lihat intisari itu

 

Itu saja yang terceritakan, belum cukup panjang, tapi dia menyimpulkannya

Dalam, jauh di relung kata hatinya...

Biarkan dia menilaiku apa adanya, karena mengenalku tak cukup melihat masa kini

Jika dengan panjangnya cerita lalu, dia menyimpulkannya

Biarlah itu jadi perkenalannya tentang seorang aku...

 

 

Senopati, 18 Mei 2008

hidup gak beristirahat....