Aku ada di persimpangan
batas tak jelas
antara kenyataan dan bayangan
Semua semu dan temaram
hanya melintas cepat
dan tak meninggalkan legenda
Memori itu tetap indah
lewat bertahun lalu
mengiris-iris rindu hati
Air mataku menetes dalam
hadir saat ia tersenyum
dengan jubah kemilaunya yang suci
Kabut kaburku berlabuh
cintaku padanya tak pernah usang
dimakan usia hari
Pun tiada berlalu
melewati tiap sepi malam panjang
meski pisaunya mengiris pedih
Sosoknya hadir dalam pengembaraan
dalam belantara dendam yang sendu
di celah kengerian sinis
Ia pulang bersama bunga
bersama tangis kerabat yang haru
dan anak istrinya yang diam meratapi
Manusia lahir
menangis di tengah senyuman pendahulunya
yang menimangnya tanpa ragu
Manusia pulang
dengan senyuman tersungging di wajah
di tengah tangis yang membiru
Ajari aku terus bertahan
untuk menerima kepulanganmu
ditengah hinaan palsu
Pada sosok istri setia
dan anak-anak kebanggaanmu
tolong ajari aku….
(re-written on original essay)
kasur, 12 Juni 2000, 01:18
No comments:
Post a Comment