I.
Seorang datang padaku, tebarkan pesona
Seorang datang, tebarkan angkuhnya
Seorang datang, sunggingkan senyuman
Seorang datang, amukkan angkara
Seorang datang, berikan dendam
Seorang datang, sentuh manja kalbu
Seorang datang, bisikkan kisah indah
Seorang datang, sebarkan roman
Seorang datang, tebarkan masa lalu
…dan aku tebarkan hidup
kesemuanya kubisikkan, “kembali ke nurani!”
II.
Kalau dunia penuh oleh ilmuwan
Kita sudah jadi kelinci percobaan
Kalau dunia penuh sastrawan
Hidup kita tak lebih dari kiasan
Jika dunia penuh petualang…
Kita hidup tanpa batas……
……wallahu’alam……
III.
Dawai-dawai itu masih tetap bergetar
Nada-nada minor, kesedihan yang terpatri dalam
Berkepanjangan, tak berkesudahan perih itu
Orang-orang macam apa kita
Yang terkejut akan ombak tajam samudera luas
Tersindir oleh permainan ganas paras sinis
Bagaimana dengan diriku yang tiada menyalahkanmu
Atas semua yang telah parah terjadi
Bagaimana denganku yang menikmati semua saat
Walau sekejab, nyaris tak terasa
Bagaimana dengan memaafkan, rasa yang agung
Entahlah,…karena dawai-dawai itu tetap bergumam
..sendiri, tak berkesudahan…
(re-written from original essay)
kamar, 5 januari ’99, sahur
No comments:
Post a Comment