Aku terpana pada dua titik
Penghubung masa lalu dan kini
Entah aku terkapar dalam mimpi panjang
Yang tak bisa kuhindari nyata itu
Terpejam, dan terhuyung mendamaikan perasaan
Yang berkeping dalam ribuan detak jam
Nyata itu terhampar, dan terjadi
Dan kubentang kertas putih
Sahabat abadi dalam diam panjang malamku
Saat bulan tersenyum di alur perjalanan
Menyemangati kidung temaram, sendiri
Kertas putih, pena, secangkir kopi
Hembusan asap putih menunduk, melayang
Berpendar ditembus sorot cahaya
Atau sorot kosong tatapanku yang lelah
Pada nyata yang tak manis
Sepanjang nafas hidup, yang tetap berakhir kosong
Memaknai keikhlasan, kerelaan, serta guratan letih
Mengapa tetap tak kupejamkan mata
Sedangkan kopi telah habis berpuluh teguk
Sedangkan otot meregang kaku tak kuasa bersandar
Sedangkan pijar tatap redup semakin senyap
Padahal tak kutemui kembali makna itu
Entah aku diperbudak kenyataan
Ataukah aku memperbudak nurani sendiri
Atau aku siksa nadi ego ini semakin jauh
Semakin kabur dari aku sebenarnya
Melangkah aku dalam cinta tak padam
Dalam kasih tak berbatas
Dalam sayang tak terhitung bulan pun tahun
Aku tolong sekarat nafas ini, bantuan demi bantuan
Dari ikhtiar yang tak mati
Demi apa yang tak nyata?
Suka tak suka, aku tak bisa lagi
Bergerak, berpindah dari nyata itu
Seolah mengejar tiap perginya diri ini
Arwahku takut, merinding oleh bayangan siuman
Jiwa meregang, karena nyata itu bukan nyata dulu
Karena kini bukanlah dahulu
Karena ideal bukanlah realitas
Aku merinding membayangkan, aku terbunuh semu
Entah berapa penghujung jalan kuhampiri
Berlari tak berujung, tak berbatas
Merinding, peluh mengering, dingin
Sedingin inikah aku?
Terbius gelap, dulu yang tetap dulu?
Apa hari ini bergerak mundur?
Atau kemarin berakselerasi penuh mengejar harap kini?
Ataukah hidupku parallel bagai topeng?
Berapa wajah, berapa tampak yang terlihat?
Dua, tiga, sepuluh, ratusan?
Ataukah satu obsesi tak berakhir?
Meskipun nyata dulu telah berakhir, menyayat membelah
Pisau kemarin yang membunuh hangat ini, perlahan
Kujumpai cahaya bulan di perjalanan
Begitu jelas, begitu nyata
Meskipun mimpi itu begitu lelapkan aku
Tetap saja, nyata dulu adalah bayang
Bayang yang menguatkan tabah ini
Dan berjalan tanpa lelah, sadar pun mimpi
Dalam ego yang rendah pada kelana
Dalam ujar yang hilang berasap
Dalam hangat terpendam berpendam
Tetap tersimpan semua kokoh
Meski usang, namun begitu berharga
Begitu berharga….
Entah hingga kapan……………
Untuk malam kelana mengembara
No comments:
Post a Comment