Friday, May 16, 2008

berpendar, bulan dalam cahaya

Aku terpana pada dua titik

Penghubung masa lalu dan kini

Entah aku terkapar dalam mimpi panjang

Yang tak bisa kuhindari nyata itu

Terpejam, dan terhuyung mendamaikan perasaan

Yang berkeping dalam ribuan detak jam

Nyata itu terhampar, dan terjadi

Dan kubentang kertas putih

Sahabat abadi dalam diam panjang malamku

Saat bulan tersenyum di alur perjalanan

Menyemangati kidung temaram, sendiri

Kertas putih, pena, secangkir kopi

Hembusan asap putih menunduk, melayang

Berpendar ditembus sorot cahaya

Atau sorot kosong tatapanku yang lelah

Pada nyata yang tak manis

Sepanjang nafas hidup, yang tetap berakhir kosong

Memaknai keikhlasan, kerelaan, serta guratan letih

Mengapa tetap tak kupejamkan mata

Sedangkan kopi telah habis berpuluh teguk

Sedangkan otot meregang kaku tak kuasa bersandar

Sedangkan pijar tatap redup semakin senyap

Padahal tak kutemui kembali makna itu

Entah aku diperbudak kenyataan

Ataukah aku memperbudak nurani sendiri

Atau aku siksa nadi ego ini semakin jauh

Semakin kabur dari aku sebenarnya

Melangkah aku dalam cinta tak padam

Dalam kasih tak berbatas

Dalam sayang tak terhitung bulan pun tahun

Aku tolong sekarat nafas ini, bantuan demi bantuan

Dari ikhtiar yang tak mati

Demi apa yang tak nyata?

Suka tak suka, aku tak bisa lagi

Bergerak, berpindah dari nyata itu

Seolah mengejar tiap perginya diri ini

Arwahku takut, merinding oleh bayangan siuman

Jiwa meregang, karena nyata itu bukan nyata dulu

Karena kini bukanlah dahulu

Karena ideal bukanlah realitas

Aku merinding membayangkan, aku terbunuh semu

Entah berapa penghujung jalan kuhampiri

Berlari tak berujung, tak berbatas

Merinding, peluh mengering, dingin

Sedingin inikah aku?

Terbius gelap, dulu yang tetap dulu?

Apa hari ini bergerak mundur?

Atau kemarin berakselerasi penuh mengejar harap kini?

Ataukah hidupku parallel bagai topeng?

Berapa wajah, berapa tampak yang terlihat?

Dua, tiga, sepuluh, ratusan?

Ataukah satu obsesi tak berakhir?

Meskipun nyata dulu telah berakhir, menyayat membelah

Pisau kemarin yang membunuh hangat ini, perlahan

Kujumpai cahaya bulan di perjalanan

Begitu jelas, begitu nyata

Meskipun mimpi itu begitu lelapkan aku

Tetap saja, nyata dulu adalah bayang

Bayang yang menguatkan tabah ini

Dan berjalan tanpa lelah, sadar pun mimpi

Dalam ego yang rendah pada kelana

Dalam ujar yang hilang berasap

Dalam hangat terpendam berpendam

Tetap tersimpan semua kokoh

Meski usang, namun begitu berharga

Begitu berharga….

Entah hingga kapan……………

 

 (re-written from original essay)

Jakarta, 20 Juni 2004

Untuk malam kelana mengembara

No comments: