Friday, May 16, 2008

Celah-celaH

Dunia ini terlalu kecil

untuk saling berbohong

pun terlampau sempit

untuk saling ingkar dari hati kecil

Nyatanya, entah bagaimana

kita tetap berbohong pada hati

kau padaku, aku padamu…

misteri yang seolah tak terelakkan

Aku mencintai seutuhnya dirimu

lewat berbagai pemahaman tentang setia

dan perihal kesabaran

hanya darimu, karena kau ajarkan itu

Nyatanya, kau tak sadar itu

tak sadar betapa jauh tatapanmu menyihirku

jauh dalam hati, menelanjangi alam fikirku

kau yang terus tersenyum

Dua ribu seratus sembilan puluh hari kuhabiskan

untuk menyelami seluruh duka dan ceriamu

melintas alam dan dunia lain, cita-cita dan getir

tak luluh sedikitpun, aku tak kalah

 

Menggapaimu bukanlah kesedihan

tidak, itu adalah kebahagiaan tanpa batas

berjuang dalam setiap tetes air mata

memberi utuh setiap kejujuranku, tak berpamrih

Entah, bagaimana kalimat yang indah

harus kuucapkan, demi penggambaran ketulusan

karena keindahan itu adalah dirimu,

tanpa perlu kugambarkan kembali

Hasrat ini terus tumbuh

dalam setiap persemaian benih kalbu

hari ke hari yang melebihi seribu satu malam

di setiap berganti bulan dan matahari

Sedikit saja akhirnya kulihat itu dari matamu

majas yang bukan pengandaian dari bibirmu

karena kau tak pernah mendustaiku sedikitpun

hanya keengganan untuk membuka pintu

Karena cintamu tak harus dijalani seperti

mereka yang terus berkasih tanpa kejelasan

Cintamu adalah kepercayaan untuk hidup

bersama persona keyakinanmu

Akhirnya sedikit kupahami arti engganmu

untuk sebuah kepercayaan yang tak ternilai

untuk hidup denganmu yang dibina perlahan

oleh tamparan waktu, demi percayamu

Cintamu adalah satu saat dimana aku harus datang

dengan segenap diriku, keberanianku

untuk membawamu terbang, tinggi tanpa beban

dan masuk tanpa ragu dalam hidupmu

Kiranya telah kumaknakan setiap kehangatanmu

yang sekian lamanya telah merasuki kesadaranku

yang mengikat abadi tiap kasih sayangku

hingga tak seorangpun menaklukkan dirimu, dimataku…

Mungkin kegigihanku mengganggumu

menggerogoti tiap kebebasanmu

atau menjadi mimpi buruk dalam kembang tidurmu

aku, yang tak pernah berhenti

Jika begitu, maafkanlah

karena pilihanku begitu sempit, begitu kecil

mengharapmu yang telah begitu dalam kukenal

atau berjalan dengan ketidakpastian yang naif

Meskipun mengharapmu pun berarti ketidakpastian

tapi aku begitu terikatnya, begitu terpana dan kaku

tak bisa berlari dari ketidakpastianmu

bukankah telah kau bukakan gerbang itu sedikit?

 

Maafkanlah, yah, itu saja

kesetiaanku adalah bukti dari panjangnya jalan kita

yang melampaui batas-batas pengertian sederhana

lebih dari itu, setiaku adalah luas dan tak terjabarkan

Matahari yang menusuk tiap hariku, mengerti

betapa aku memegang satu yang tak dimiliki semua

aku, diriku yang terus begini, tak berubah

dan bila hari itu berganti, tetaplah aku begini

Jangan kau hindari, tak perlu……

karena sepertiku langka di dunia ini

dunia yang semakin sendu dan temaram

dalam tangisan kekecewaan angkara

Jangan hindari, karena aku tak bergeming

kau tahu itu, tetap tak berubah, apapun bencananya

aku, diriku, senantiasa ada dalam setiap celahmu

terus berusaha mencari sedikit celah dalam hatimu

Tak perlu hindari, karena aku ada untukmu

memberi seluruh kehidupanku untukmu

bentuk tertinggi dari keabadian rasa manusia

cinta yang tak usang, tak rapuh dan terus bergema

Dan bila tiba saatnya, aku akan masuk

dalam setitik celahmu yang membuka

karena kau izinkan aku,

karena Sang Khalik tersenyum padamu

padaku, pada perjalanan kita

karena aku selalu berdoa, untuk keabadian ini

 

 (re-written from original essay)

Kamar, 11 Juni 2002, 04:17

No comments: