Dunia ini terlalu kecil
untuk saling berbohong
pun terlampau sempit
untuk saling ingkar dari hati kecil
Nyatanya, entah bagaimana
kita tetap berbohong pada hati
kau padaku, aku padamu…
misteri yang seolah tak terelakkan
Aku mencintai seutuhnya dirimu
lewat berbagai pemahaman tentang setia
dan perihal kesabaran
hanya darimu, karena kau ajarkan itu
Nyatanya, kau tak sadar itu
tak sadar betapa jauh tatapanmu menyihirku
jauh dalam hati, menelanjangi alam fikirku
kau yang terus tersenyum
Dua ribu seratus sembilan puluh hari kuhabiskan
untuk menyelami seluruh duka dan ceriamu
melintas alam dan dunia lain, cita-cita dan getir
tak luluh sedikitpun, aku tak kalah
Menggapaimu bukanlah kesedihan
tidak, itu adalah kebahagiaan tanpa batas
berjuang dalam setiap tetes air mata
memberi utuh setiap kejujuranku, tak berpamrih
Entah, bagaimana kalimat yang indah
harus kuucapkan, demi penggambaran ketulusan
karena keindahan itu adalah dirimu,
tanpa perlu kugambarkan kembali
Hasrat ini terus tumbuh
dalam setiap persemaian benih kalbu
hari ke hari yang melebihi seribu satu malam
di setiap berganti bulan dan matahari
Sedikit saja akhirnya kulihat itu dari matamu
majas yang bukan pengandaian dari bibirmu
karena kau tak pernah mendustaiku sedikitpun
hanya keengganan untuk membuka pintu
Karena cintamu tak harus dijalani seperti
mereka yang terus berkasih tanpa kejelasan
Cintamu adalah kepercayaan untuk hidup
bersama persona keyakinanmu
Akhirnya sedikit kupahami arti engganmu
untuk sebuah kepercayaan yang tak ternilai
untuk hidup denganmu yang dibina perlahan
oleh tamparan waktu, demi percayamu
Cintamu adalah satu saat dimana aku harus datang
dengan segenap diriku, keberanianku
untuk membawamu terbang, tinggi tanpa beban
dan masuk tanpa ragu dalam hidupmu
Kiranya telah kumaknakan setiap kehangatanmu
yang sekian lamanya telah merasuki kesadaranku
yang mengikat abadi tiap kasih sayangku
hingga tak seorangpun menaklukkan dirimu, dimataku…
Mungkin kegigihanku mengganggumu
menggerogoti tiap kebebasanmu
atau menjadi mimpi buruk dalam kembang tidurmu
aku, yang tak pernah berhenti
Jika begitu, maafkanlah
karena pilihanku begitu sempit, begitu kecil
mengharapmu yang telah begitu dalam kukenal
atau berjalan dengan ketidakpastian yang naif
Meskipun mengharapmu pun berarti ketidakpastian
tapi aku begitu terikatnya, begitu terpana dan kaku
tak bisa berlari dari ketidakpastianmu
bukankah telah kau bukakan gerbang itu sedikit?
Maafkanlah, yah, itu saja
kesetiaanku adalah bukti dari panjangnya jalan kita
yang melampaui batas-batas pengertian sederhana
lebih dari itu, setiaku adalah luas dan tak terjabarkan
Matahari yang menusuk tiap hariku, mengerti
betapa aku memegang satu yang tak dimiliki semua
aku, diriku yang terus begini, tak berubah
dan bila hari itu berganti, tetaplah aku begini
Jangan kau hindari, tak perlu……
karena sepertiku langka di dunia ini
dunia yang semakin sendu dan temaram
dalam tangisan kekecewaan angkara
Jangan hindari, karena aku tak bergeming
kau tahu itu, tetap tak berubah, apapun bencananya
aku, diriku, senantiasa ada dalam setiap celahmu
terus berusaha mencari sedikit celah dalam hatimu
Tak perlu hindari, karena aku ada untukmu
memberi seluruh kehidupanku untukmu
bentuk tertinggi dari keabadian rasa manusia
cinta yang tak usang, tak rapuh dan terus bergema
Dan bila tiba saatnya, aku akan masuk
dalam setitik celahmu yang membuka
karena kau izinkan aku,
karena Sang Khalik tersenyum padamu
padaku, pada perjalanan kita
karena aku selalu berdoa, untuk keabadian ini
Kamar, 11 Juni 2002, 04:17
No comments:
Post a Comment