Kepada priyayi hidup yang sendiri, tertegun dalam bijak yang sirna atau entah. Jika masih ada yang tersisa dari jejak-jejak panjang melelahkan, hingga kapan kau beristirahat, dalam sepotong rasa tersirat di jiwa.
Hingga kapan kau berlari mencari untuk memeluk bayang kesetiaan panjang. Sementara bulan sabit menyaksikanmu melirih panjang dalam desah lebur. Sudah cukupkah hai petualang, apa yang kau ingin temukan? Temukan yang kau inginkan dari terbit mentari hingga melirik bulan. Padahal terlalu panjang tiap renungan yang kau jalani dalam sesak dan mata air mata.
Hidupmu tak berakhir, belum, mungkin tetap panjang berjalan. Kau mengerti dalam tiap tafakurmu, bahwa kasihmu hanya untuk seorang yang menggugahmu. Namun hingga kapan kau terseok berlari sementara hidup telah nampak dalam mahligai cahaya yang demikian jelas.
Kau memberi tanpa meminta, sementara tak usai kau terhisap dalam siksa bathin. Sudahlah, sudah cukup untukmu. Akhiri keterpurukan itu dan melangkah tenang, hingga ajal menjemputmu dalam kebahagiaan di pelukannya.
(re-written from original essay)
Kost, 13 April 2003, 14:49
No comments:
Post a Comment