Ada alasan untuk yang terjadi
mencoba pahami semua
remuk yang terjadi setelah itu
kau hanya melayang terbang
tak indahkan semua
hanya tertegun tak berucap
kau tak mengerti ilalang yang membusuk
dalam pikirku, hanya menjaga hatimu
sedangkan aku, terus terjaga
mencoba mengerti diammu
tak terbasuh hangat, tak tersiram kasih
biarlah, aku toh tetap menjaga
setiap bilur yang hadir, terus menggores
kesadaran yang tipis dalam pias
meniriskanmu dalam jejakku, aku tak mampu
sungguh, setiap waktu telah kucoba
memang, kau tak pernah tahu
untukmu, aku tak tergubris
meski sebelah matahari telah berkabung
menatap panas gejolakku
buntu dalam mata air air mata
bagai kesurupan aku tetap berlari
berlari mencari sepatah harap
menitikkan peluh demi peluh kekuatan
pun, tetap tak habis
tak kering, tak membatu
semakin menjadikanku teduh
sembari mengingat setiap senyummu
kau tak pernah tahu
biarlah, ilalangku mungkin membusuk
ragawi semakin lusuh tak berbentuk
namun semesta cinta itu tak berujung
aku tunggu kau di ufuk barat
saat matahari hari kita menghangat
hantarkan seluruh diammu ke permadani
yang jujurkan setiap sentuhan
Kamar, 28 Juli 2002, 04:43 WIB
No comments:
Post a Comment