Friday, May 16, 2008

Di ufuk Barat

Ada alasan untuk yang terjadi

mencoba pahami semua

remuk yang terjadi setelah itu

kau hanya melayang terbang

tak indahkan semua

hanya tertegun tak berucap

kau tak mengerti ilalang yang membusuk

dalam pikirku, hanya menjaga hatimu

sedangkan aku, terus terjaga

mencoba mengerti diammu

tak terbasuh hangat, tak tersiram kasih

biarlah, aku toh tetap menjaga

setiap bilur yang hadir, terus menggores

kesadaran yang tipis dalam pias

meniriskanmu dalam jejakku, aku tak mampu

sungguh, setiap waktu telah kucoba

memang, kau tak pernah tahu

untukmu, aku tak tergubris

meski sebelah matahari telah berkabung

menatap panas gejolakku

buntu dalam mata air air mata

bagai kesurupan aku tetap berlari

berlari mencari sepatah harap

menitikkan peluh demi peluh kekuatan

pun, tetap tak habis

tak kering, tak membatu

semakin menjadikanku teduh

sembari mengingat setiap senyummu

kau tak pernah tahu

biarlah, ilalangku mungkin membusuk

ragawi semakin lusuh tak berbentuk

namun semesta cinta itu tak berujung

aku tunggu kau di ufuk barat

saat matahari hari kita menghangat

hantarkan seluruh diammu ke permadani

yang jujurkan setiap sentuhan

 

 (re-written from original essay)

Kamar, 28 Juli 2002, 04:43 WIB

No comments: