Sunday, May 11, 2008

Kembangmu semerbak

Dunia aku lihat dalam segenggam nyawa
Segaris kasih peduli dalam rintih jiwa

Aku lihat jiwa tak ubahnya satu pribadi

Dimana kau tak kuasa melawan tetesan air mata

Yang tak pernah datang, namun siksa batin terpuruk

Aku pikir tak ada lagi yang terpikirkan

Batin adalah jendela jiwa dan hati

Yang tak pernah dusta dan durhaka

Dan biarlah harum kembangmu semerbak

Dalam tiap-tiap celah waktu dimana dunia

Selalu tersenyum penuh arti



(re-written from original essay)

Hegarmanah, 30 Desember ’98, dinihari

No comments: