sama seperti malam-malam lain dalam
beberapa waktu kehidupan ke belakang...
meja bundar, kopi pahit dengan sedikit gula
alat komunikasi, tampilan layar, asbak, & rokok yang berasap tebal
menebalkan begitu banyak bayangan berseliweran di pikiran...
Malam ini, secangkir kopi ini sama getirnya dengan malam-malam lain berlalu
Lingkaranku menajam frontal
membentuk sesak yang tak mengerti aku sedikitpun
Sejenak, aku hanya hirup getir yang lekat
dalam cangkir yang terisi cairan jelaga
hitam pekat, pahit, beraroma
aku terjaga caffein yang melekat di buluh-buluh otak
Aku sulit cerita
hanya penggalan tak jelas yang semestinya, dirangkai rapih, seteratur tujuh lapisan langit dengan ceritanya...
Toh, tetap aku tak mampu merangkai awan menggulung itu, merapikannya
karena energi melayangku semakin tipis, sesak di penghujung hari yang makin pendek
aku tetap tercekat & tak bercerita
Dan semakin aku tenggelam
lamunan malam hitam kelam seperti
banyak malam lain yang berlalu
meja bundar kecil itu, tetap padat dengan beragam
hal-hal kecil menemani malam panjang
kelamnya semakin getir
semakin sesak...
Selatan Jakarta, 23 Mei 2008
kopi ini semakin pahit
No comments:
Post a Comment