Sudah cukup lama, aku gak nulis
Beradu dengan begitu banyak kesibukan, dan ruwetnya pemikiran
Kadang kita perlu berhenti sejenak, tarik nafas, dan berjalan lagi
Meskipun aku harus jujur, sulit mengingat kapan terakhir aku berhenti sejenak,
Bernafas tenang, dan berlari lagi
Jalan-jalan Jakarta semakin penat, kelelahan ruas jalan yang tak dapat disembunyikan
Sama seperti banyak pengguna jalan yang tenggelam dalam sumpah-serapah mereka
Para pemilih tokoh politik yang berebut pengaruh, untuk membangun kota yang semakin lelah
Untung, aku memilih golput, hingga tak terpengaruh oleh sedikitpun beban moral
karena salah pilih
Ruas jalan ini akrab dengan perjalanan keseharian
Aku dekat dengan senopati, jalan yang selalu berdetak panjang
Jalan ini mungkin termasuk salah satu jalan yang terbangun paling pagi
Dan lelap paling subuh….
Dan tampaknya, ini ciri khas yang disenangi para penggemar tulis-menulis
Renungan, atau kesendirian
Ya, senopati punya banyak hal…
Mulai dari jajanan pinggir jalan yang mengundang lelah perjalanan untuk singgah sejenak
Toko buku memuaskan selera baca (entah beli atau tidak)
Udara segar dengan begitu banyak kerindangan pohon
Cafe-cafe yang tenang meskipun semrawut jalanan bikin pusing
Sampai atm-atm bank untuk tindakan gawat darurat pada kekosongan dompet
Cukup lengkap, hngga aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya berputar dan diam
Dari satu tempat ke tempat lain di ruas jalan ini
Dan yang paling utama, ruas jalan ini mungkin mengingatkanku akan bandung
Ketenangan & kepolosan kota yang buat aku, amat mahal di tengah kesombongan jakarta
Di tengah ribut & sumpek ibukota, aku bisa diam & tenang di beberapa tempat di senopati
Yah, karena senopati punya banyak hal tadi....
Tapi mungkin, keseimbangan otak kiri & kanan yang jadi pemicu
Kenapa akhir-akhir ini aku lebih memilih mengasingkan diri di satu tempat di senopati
Anomali yang cukup unik, karena saat orang lain kembali dari kantor dengan kepenatan mereka
Aku memilih menjauh dari rumah, mendinginkan kepala dengan meneguk kopi, beragam kopi
Di tempat yang aku kenal cukup ahli mengolah kopi
Beberapa waktu terakhir, aku habiskan waktu dengan bertukar pikiran
Beberapa orang cukup tajam dalam memecah kerumitan dalam pikiranku
Tentunya, kerumitan yang terjawab saat usai berdialog
Satu-dua orang, bahkan lebih ahli dalam memecah persoalan otak
Tidak dengan memberi saran, tapi justru dari cara mereka berbagi akan kehidupan mereka
Dan aku merenung panjang di senopati, tentang idealisme & realitas
Dari diskusi intensif, ringan pun berbobot panjang
Aku bertemu cerminan panjang masa lalu
Cukup hanya dengan diskusi dan kepolosan cerita
Pembelajaran yang logis dan masuk akal, tentang seberapa jauh aku sudah bergerak
Dari titik-titik idealisme masa lalu
Kadang, kebingungan muncul
Apakah Tuhan yang gak pernah memberi waktu kita untuk sejenak rehat
Ataukah kita yang memicu diri kita terus-menerus tanpa henti?
Tampaknya, opsi pertama bukan jawaban, karena Dia selalu memberikan pilihan
Untuk kita seimbangkan semua hal
Mungkin prinsipil, karena aku termasuk orang yang percaya bahwa Dia tidak akan merubah hidup kita lebih baik, jika tak ada usaha yang berarti dari kita
Dan aku mencambuk diriku lebih tajam dari hari ke hari
Mungkin tanpa sedikitpun saat untuk berhenti, sejenak menghela nafas
Dan kelelahan mulai jelas tampak di gurat nadiku
Hari-hari belakangan, tentang diskusi, memang membangunkan
Setidaknya, sedikit menggubris alam bawah sadar
Perlahan, aku ingat masa-masa ketajaman prinsip membungkam diri sendiri
Kelakuan yang tak mengijinkan realitas menembus batas-batas kokoh
Pikiran, otak, dan bawah sadar
Mereka menunjukkan kepolosan berpikir, & tak terasa aku harus angkat jempol
Untuk mereka yang berbagi idealisme unik itu
Unik? Ya, karena aku sudah lama tak melihat hal-hal itu
Bahkan mungkin, cukup lama teredam oleh kesibukanku sendiri
Atau mungkin aku sudah sedemikian toleran pada realisme
Tak mengapa, karena mungkin aku sudah menjabarkan satu tahap keseimbangan baru
Tapi mereka, masih menggenggam ide-ide dasar dengan sangat kuat,
Dan aku kagum atas itu semua
Tak semuanya benar, tapi tidak juga salah untuk diteruskan
Karena tidak pernah ada batas yang jelas antara kebenaran-kesalahan dalam hal prinsip
Apalagi idealisme
Mungkin bahasa yang tepat, cukup toleran atau tidak kita
Keseimbangan itu tadi, ide & aktual
Aku mungkin mulai masuk dalam tahap aktualisasi - pribadi, jiwa, pikiran
Dan untuk hal-hal ini, ada tuntutan keseimbangan antara ideal dan real
Kesibukan lain, sebetulnya tak berseberangan dengan kesempatan merenung
Hanya saja, keduanya tak selalu akur
Contoh berbeda-beda akan terlihat, di benak masing-masing pribadi
Yang pasti, aku tipikal ketidak-akuran itu
Heh, terlalu lama juga aku tinggalkan otak kanan
Oke, lalu mari kita coba gali kembali sahabat di kepala kanan ini
Agar kesadaran tidak terbebani selalu oleh keinginan
Sejenak, hanya sejenak saja, melepas kesadaran untuk bebas
Ternyata, cinta tak selalu membebaskan
Oke, ini hipotesa awal dari otak kanan
Logical yang terjawab sederhana, dengan merunut waktu demi waktu perjalanan
Atmosfir yang tak selalu teduh, karena atas-bawah perjalanan akan terurai perlahan,
Bukan dari perencanaan, hanya dari langkah demi langkah yang terjawab
Ternyata, cinta tak setoleran keinginanku
Hahaha, ya, ini lanjutan hipotesa diatas
Berarti kita mulai bertemu dengan lebih dari dua variabel
Yang membuat semua lebih pusing, variabel ini keduanya kualitatif
Silahkan menghitung validitas dari variable kualitatif yang tak terhitung,
Dan kita bertemu dengan beragam kemungkinan jawaban...
Tapi okelah, bicara cinta dengan hipotesa mungkin tak akan berakhir menyenangkan
Mari bicara dari sudut pandang lain, nurani
Mungkin jawaban akan lebih mudah dirumuskan, dibanding kita harus berputar-putar tak terarah
Karena aku tetap yakin, nurani bagian paling jujur dari kehidupan
Atau setidaknya, bagian yang paling sulit untuk diajak kompak dengan pikiran logis
Jadi, sejujurnya, nuraniku yang menjawab keberadaanku di senopati
Menjawab gelisah atau muramnya permainan otak saat ini
Hidangan yang sehari-hari terbersit saat melewati jalan ini,
yang bangun lebih awal dibanding jalan-jalan lain di kota angkuh ini
Lalu, seberapa besar kita sandarkan kepercayaan pada nurani
Saat keangkuhan kota hanya mengguratkan begitu banyak pertanyaan tak terjawab
Tapi mungkin setidaknya, cinta yang dihipotesakan diatas
Bisa terjawab perlahan
Kalau memang hal lima huruf ini tak membebaskan, toh nurani tetap berlari & berlompat kegirangan dalam kebebasan yang terbang tak terbatasi
Dan jika tak cukup toleran, setidaknya nurani tetap tolerir pada hasrat mencari tak berkesudahan
Bukankah akhir hidup, tak pernah terjabarkan bahkan oleh nujum terbaik sekalipun?
Jadi, jawaban sederhana sudah pasti,
Jika kita tak terbebaskan oleh cinta, dan tak dapat ditoleransi lebih jauh
Mungkin kesempatan terakhir adalah membiarkan nurani kita
terbang melayang dalam kebebasannya
mencari dalam kesendirian tak terselesaikan
Dan dengan dua hal ini, kebebasan pun toleransi tak terbatas akan melesat
Dalam enam huruf; nurani yang selalu mengintrospeksi hari-hari kita
Hmmm, aku mulai larut makin dalam
Larut yang nyaman, karena nuraniku tak kehabisan energi untuk melayang bebas
Dan terus mencari dalam ruang tak berbatas
Ya, senopati menemani hari-hari panjang
Dimana aku larut begitu dalam
Anomali, 12 Mei 2008, 23:15
Sering, kesendirian menyadarkan kita....
1 comment:
ya, karisma nulis emang gak bo'ong yah...
lama, aku cuma lihat tulisan lama kamu, bertahun2 lalu...
& sekarang, u're back... dengan tulisan yang khas banget gayanya kamu
sejujurnya, ada energi lain di tulisan ini
entah hampa atau nggak, yang pasti nih tulisan ngajak gua untuk looking back for my real life, again & again...
dalem banget
Post a Comment