Tuesday, May 13, 2008

Larut di Senopati

Sudah cukup lama, aku gak nulis

Beradu dengan begitu banyak kesibukan, dan ruwetnya pemikiran

Kadang kita perlu berhenti sejenak, tarik nafas, dan berjalan lagi

Meskipun aku harus jujur, sulit mengingat kapan terakhir aku berhenti sejenak,

Bernafas tenang, dan berlari lagi

 

Jalan-jalan Jakarta semakin penat, kelelahan ruas jalan yang tak dapat disembunyikan

Sama seperti banyak pengguna jalan yang tenggelam dalam sumpah-serapah mereka

Para pemilih tokoh politik yang berebut pengaruh, untuk membangun kota yang semakin lelah

Untung, aku memilih golput, hingga tak terpengaruh oleh sedikitpun beban moral

karena salah pilih

 

Ruas jalan ini akrab dengan perjalanan keseharian

Aku dekat dengan senopati, jalan yang selalu berdetak panjang

Jalan ini mungkin termasuk salah satu jalan yang terbangun paling pagi

Dan lelap paling subuh….

Dan tampaknya, ini ciri khas yang disenangi para penggemar tulis-menulis

Renungan, atau kesendirian

 

Ya, senopati punya banyak hal…

Mulai dari jajanan pinggir jalan yang mengundang lelah perjalanan untuk singgah sejenak

Toko buku memuaskan selera baca (entah beli atau tidak)

Udara segar dengan begitu banyak kerindangan pohon

Cafe-cafe yang tenang meskipun semrawut jalanan bikin pusing

Sampai atm-atm bank untuk tindakan gawat darurat pada kekosongan dompet

Cukup lengkap, hngga aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya berputar dan diam

Dari satu tempat ke tempat lain di ruas jalan ini

 

Dan yang paling utama, ruas jalan ini mungkin mengingatkanku akan bandung

Ketenangan & kepolosan kota yang buat aku, amat mahal di tengah kesombongan jakarta

Di tengah ribut & sumpek ibukota, aku bisa diam & tenang di beberapa tempat di senopati

Yah, karena senopati punya banyak hal tadi....

 

Tapi mungkin, keseimbangan otak kiri & kanan yang jadi pemicu

Kenapa akhir-akhir ini aku lebih memilih mengasingkan diri di satu tempat di senopati

Anomali yang cukup unik, karena saat orang lain kembali dari kantor dengan kepenatan mereka

Aku memilih menjauh dari rumah, mendinginkan kepala dengan meneguk kopi, beragam kopi

Di tempat yang aku kenal cukup ahli mengolah kopi

 

Beberapa waktu terakhir, aku habiskan waktu dengan bertukar pikiran

Beberapa orang cukup tajam dalam memecah kerumitan dalam pikiranku

Tentunya, kerumitan yang terjawab saat usai berdialog

Satu-dua orang, bahkan lebih ahli dalam memecah persoalan otak

Tidak dengan memberi saran, tapi justru dari cara mereka berbagi akan kehidupan mereka

 

Dan aku merenung panjang di senopati, tentang idealisme & realitas

Dari diskusi intensif, ringan pun berbobot panjang

Aku bertemu cerminan panjang masa lalu

Cukup hanya dengan diskusi dan kepolosan cerita

Pembelajaran yang logis dan masuk akal, tentang seberapa jauh aku sudah bergerak

Dari titik-titik idealisme masa lalu

 

Kadang, kebingungan muncul

Apakah Tuhan yang gak pernah memberi waktu kita untuk sejenak rehat

Ataukah kita yang memicu diri kita terus-menerus tanpa henti?

Tampaknya, opsi pertama bukan jawaban, karena Dia selalu memberikan pilihan

Untuk kita seimbangkan semua hal

Mungkin prinsipil, karena aku termasuk orang yang percaya bahwa Dia tidak akan merubah hidup kita lebih baik, jika tak ada usaha yang berarti dari kita

Dan aku mencambuk diriku lebih tajam dari hari ke hari

Mungkin tanpa sedikitpun saat untuk berhenti, sejenak menghela nafas

Dan kelelahan mulai jelas tampak di gurat nadiku

 

Hari-hari belakangan, tentang diskusi, memang membangunkan

Setidaknya, sedikit menggubris alam bawah sadar

Perlahan, aku ingat masa-masa ketajaman prinsip membungkam diri sendiri

Kelakuan yang tak mengijinkan realitas menembus batas-batas kokoh

Pikiran, otak, dan bawah sadar

Mereka menunjukkan kepolosan berpikir, & tak terasa aku harus angkat jempol

Untuk mereka yang berbagi idealisme unik itu

 

Unik? Ya, karena aku sudah lama tak melihat hal-hal itu

Bahkan mungkin, cukup lama teredam oleh kesibukanku sendiri

Atau mungkin aku sudah sedemikian toleran pada realisme

Tak mengapa, karena mungkin aku sudah menjabarkan satu tahap keseimbangan baru

Tapi mereka, masih menggenggam ide-ide dasar dengan sangat kuat,

Dan aku kagum atas itu semua

 

Tak semuanya benar, tapi tidak juga salah untuk diteruskan

Karena tidak pernah ada batas yang jelas antara kebenaran-kesalahan dalam hal prinsip

Apalagi idealisme

Mungkin bahasa yang tepat, cukup toleran atau tidak kita

Keseimbangan itu tadi, ide & aktual

Aku mungkin mulai masuk dalam tahap aktualisasi - pribadi, jiwa, pikiran

Dan untuk hal-hal ini, ada tuntutan keseimbangan antara ideal dan real

 

Kesibukan lain, sebetulnya tak berseberangan dengan kesempatan merenung

Hanya saja, keduanya tak selalu akur

Contoh berbeda-beda akan terlihat, di benak masing-masing pribadi

Yang pasti, aku tipikal ketidak-akuran itu

Heh, terlalu lama juga aku tinggalkan otak kanan

Oke, lalu mari kita coba gali kembali sahabat di kepala kanan ini

Agar kesadaran tidak terbebani selalu oleh keinginan

Sejenak, hanya sejenak saja, melepas kesadaran untuk bebas

 

Ternyata, cinta tak selalu membebaskan

Oke, ini hipotesa awal dari otak kanan

Logical yang terjawab sederhana, dengan merunut waktu demi waktu perjalanan

Atmosfir yang tak selalu teduh, karena atas-bawah perjalanan akan terurai perlahan,

Bukan dari perencanaan, hanya dari langkah demi langkah yang terjawab

 

Ternyata, cinta tak setoleran keinginanku

Hahaha, ya, ini lanjutan hipotesa diatas

Berarti kita mulai bertemu dengan lebih dari dua variabel

Yang membuat semua lebih pusing, variabel ini keduanya kualitatif

Silahkan menghitung validitas dari variable kualitatif yang tak terhitung,

Dan kita bertemu dengan beragam kemungkinan jawaban...

 

Tapi okelah, bicara cinta dengan hipotesa mungkin tak akan berakhir menyenangkan

Mari bicara dari sudut pandang lain, nurani

Mungkin jawaban akan lebih mudah dirumuskan, dibanding kita harus berputar-putar tak terarah

Karena aku tetap yakin, nurani bagian paling jujur dari kehidupan

Atau setidaknya, bagian yang paling sulit untuk diajak kompak dengan pikiran logis

Jadi, sejujurnya, nuraniku yang menjawab keberadaanku di senopati

Menjawab gelisah atau muramnya permainan otak saat ini

Hidangan yang sehari-hari terbersit saat melewati jalan ini,

yang bangun lebih awal dibanding jalan-jalan lain di kota angkuh ini

 

Lalu, seberapa besar kita sandarkan kepercayaan pada nurani

Saat keangkuhan kota hanya mengguratkan begitu banyak pertanyaan tak terjawab

Tapi mungkin setidaknya, cinta yang dihipotesakan diatas

Bisa terjawab perlahan

Kalau memang hal lima huruf ini tak membebaskan, toh nurani tetap berlari & berlompat kegirangan dalam kebebasan yang terbang tak terbatasi

Dan jika tak cukup toleran, setidaknya nurani tetap tolerir pada hasrat mencari tak berkesudahan

Bukankah akhir hidup, tak pernah terjabarkan bahkan oleh nujum terbaik sekalipun?

 

Jadi, jawaban sederhana sudah pasti,

Jika kita tak terbebaskan oleh cinta, dan tak dapat ditoleransi lebih jauh

Mungkin kesempatan terakhir adalah membiarkan nurani kita

terbang melayang dalam kebebasannya

mencari dalam kesendirian tak terselesaikan

Dan dengan dua hal ini, kebebasan pun toleransi tak terbatas akan melesat

Dalam enam huruf; nurani yang selalu mengintrospeksi hari-hari kita

 

Hmmm, aku mulai larut makin dalam

Larut yang nyaman, karena nuraniku tak kehabisan energi untuk melayang bebas

Dan terus mencari dalam ruang tak berbatas

Ya, senopati menemani hari-hari panjang

Dimana aku larut begitu dalam

 

 

Anomali, 12 Mei 2008, 23:15

 

Sering, kesendirian menyadarkan kita....

1 comment:

Anonymous said...

ya, karisma nulis emang gak bo'ong yah...
lama, aku cuma lihat tulisan lama kamu, bertahun2 lalu...
& sekarang, u're back... dengan tulisan yang khas banget gayanya kamu

sejujurnya, ada energi lain di tulisan ini
entah hampa atau nggak, yang pasti nih tulisan ngajak gua untuk looking back for my real life, again & again...

dalem banget