Lelaki itu menyerahkan
Kehidupannya pada pasangan
Tak panjang debatnya, yang ada hanya pemberian kehidupannya pada si wanita
Konflik, gencatan senjata, konflik, gencatan senjata, dan begitu seterusnya
Tapi ia memang tak mengambil keberanian sedikitpun untuk mengendalikan hidupnya sendiri
Sang wanita, mengendalikan sepenuhnya kehidupan pasangannya
Tak mengijinkan sedikitpun, ruang untuk lelaki itu
Bergerak, dan bebas memilih
Nyatanya, wanita ini menikmati setiap ikatannya
Entah atas nama apapun
Wanita kedua, datang
Kehidupan berwarna, dan lelaki itu terjepit
Mengambil keputusan tak semudah langkah hari-harinya
Dan ia terkunci pada ikatan atas nama apapun
Pasangannya tak rela sedikitpun, tak ada ruang untuk itu
Wanita kedua, datang dalam haus keingintahuan
Hanya membebaskan dirinya, dari penasaran, pencarian hidup dan kehidupannya
Ia membebaskan waktu demi waktu, dari semula ia datang
Ke kota yang akan memberi banyak cerita
Ilmu, atau apapun namanya, ia mencari tak berbatas
Bercerita banyak, sang wanita kedua
Tentang prinsip dan arah, pembebasannya atas semua realitas
Ia tak meminta banyak, hanya butuh ruang
Hal yang langka jika mendengar bait demi bait kalimat derasnya
Atas nama cinta, ia memberikan sedikit demi sedikit ruang lebih besar untuk dirinya
Ia mencintai ruang hidup yang dinamakannya kebebasan
Untuk terbang melayang, ia rindukan sayap-sayap
Yang tak hanya melekat kaku, namun fleksibel dan melegakan
Pelukan tiap malam dalam mimpi panjang yang membangunkan keresahan
Ia menghindari setiap belenggu yang mengecilkan impiannya
Memilih berteriak panjang dalam kesendirian, tetap atas nama pembebasan
Lelaki kedua, berpasangan dengan wanita kedua
Ia harapkan seluruh hidupnya, berdampinga, lengan yang merangkul setiap perjalanannya
Ia mencoba sesempurna mungkin, plus harapan yang tajam pada wanitanya
Ia mulai mengikat perlahan, tak memperbesar ruang
Karena hidup baginya, adalah langkah bersama tak terpisahkan
Lelaki kedua, mencari terus-menerus, jati dirinya untuk membahagia
Ia tak luruskan apapun, hanya mulai mengikat simpul
Apapun itu, jarak memang tak melegakan
Hanya memberi beribu pikiran yang tak leluasa
Ia semakin kecil dalam kerinduannya
Wanita pertama, mengucap kata-kata
Tak membebaskan, pun semakin mengunci lelakinya
Dan pembicaraan menajam, wanita kedua terkunci dalam
Ditengah keberadaan pasangan pertama, ia perlahan bercermin
Cermin yang selalu ia bawa kemana-mana, atas nama jati diri
Harapan lebih baik, dan harapan pendamping yang membebaskan malam-malamnya
Lelaki pertama, menyerahkan kunci kehidupan dan langkahnya
Lelaki kedua, mengendalikan kunci itu semakin kuat
Wanita kedua, lari dalam getir pembebasannya
Wanita pertama, percaya tak ada kebebasan atas nama cinta
Hidup semakin miris dalam keterhubungannya
Apa yang lebih indah, daripada kebebasan hati kecil
Langkah, dan harapan?
Seberapa besar kita bisa menakar dunia yang mengelilingi kita dengan bayangan tak lepas
Kita merakit mimpi dari penggalan nafas dan ide
Yang membangunkan pagi hari kita untuk bangkit dan berlari lagi
Wanita kedua, rindu akan dirinya
Ia tak ingin lepas, akan waktu-waktu panjang yang dirindukannya
Dalam pencarian diri, yang selalu indah
Tanpa perlu menakar izin untuk kunci kehidupannya
Seberapa jauh ia bisa melangkah, seberapa lama ia bisa berjalan
Wanita kedua, rindu akan pencariannya
Pembenaran atas sikapnya yang selama ini tak terizinkan
Ia hanya butuh ruang, yang merangkul ketidaktenangan istirahatnya
Tanpa perlu resep panjang untuk memulai tidur
Atau untuk meletihkan harinya dalam senyum-senyum bahagia karena ia menemukan dirinya dalam pembebasan tak berakhir
Wanita kedua tak mampu kehilangan
Tak mengizinkan waktu bergerak cepat tanpa ia belajar banyak
Ia ingin menghirup apapun ilmu yang melewatinya
Dan dirangkul hangatnya sayang yang mendewasakan
Atau apapun bentuknya, ia butuh figur yang melegakan
Sebentuk ironi menggulung
Benak para lelaki, terkoyak masing-masing untuk hal yang mereka tak mengerti
Lelaki pertama, berharap kunci hidupnya terpegang, hanya dan hanya karena dirinya
Persona yang ingin bisa melangkah panjang
Tanpa terbebani apapun
Lelaki kedua, berharap ia berlari panjang
Melintas jarak hanya untuk mengunci rapat-rapat
Jarak panjang yang mulai menggilai pikirannya
Ia tak mampu hidup dalam kebingungan
Akankah pasangannya meninggalkan, atau terbebas dari seluruh aturan yang ia buat
Bagaimanapun, cinta mengumpul jadi bentuk-bentuk norma dan aturan
Dengan beribu pasal yang hanya masing-masing ikatan yang mengartikannya
Lelaki kedua, paham betul jarak hanya terkompromikan dengan aturan
Karena ia menyerah pada rasa takut kehilangannya
Ia membebani hidup dengan ribuan pemikiran menakutkan
Kehilangan memang neraka kecil, yang membunuh kesadaran
Lelaki pertama, tidak mencoba paham atas aturan itu
Karena ia hanya mengkompromikan hidupnya dalam kunci yang ia sendiri tak pahami
Kenapa ia sedikitpun tak berhak menggenggam kunci diri
Tak ada yang lebih memilukan, dibanding kehilangan kebebasan hati kecil, langkah, dan harapan
Hidup memang keterhubungan
Sore tadi, kalimat ini tertulis jelas dari lelaki lainnya
Wanita kedua hanya tersenyum di kejauhan, membayangkan kata-kata pendek ini
Betapa semua bisa bergulir seperti lingkaran
Yang tak mudah ia sadari, tapi memang nyata
Bukan sesuatu yang dihubung-hubungkan
Lelaki lain itu, hanya melihat, empat figur ini sedang belajar banyak
Dari lingkaran yang bukan pilihan mereka
Sang Khalik punya banyak kartu truf, atau skenario, atau apapun namanya
Yang pasti, lingkaran ini belajar dalam kecepatan tinggi saat ini
Dan jika kita tak bisa mengatakan cinta
Tak bisa mengartikannya barang sedikit saja perumpamaan
Setidaknya, kita bisa mempelajari bahwa seluruh hidup kita
Menjadi cinta saat kebebasan kita terpenuhi tanpa terkekang, menjadi diri sendiri
Seluruh tubuh kita dapat berujar, kita mencintai tanpa batas
Atas nama kebebasan pencarian kita
Lelaki lain itu, hanya diam di kejauhan
Mencoba membayangkan empat persona yang melingkar
Terikat sesuatu yang tak mereka pahami
Lelaki lain, dengan pikiran lain yang beterbangan
Jauh dalam kebebasan yang jadi nama lainnya
Selatan Jakarta, 20 Mei 2008
Sedikit beristirahat hari ini, thanks God....
1 comment:
hehe..
tampak seperti empat manusia konyol yang terjebak dalam cinta konyol..
Well, that's life..
Never ending journey 'rite?
dd
Post a Comment