Tuesday, May 20, 2008

Lingkaran empat persona


Lelaki itu menyerahkan

Kehidupannya pada pasangan

Tak panjang debatnya, yang ada hanya pemberian kehidupannya pada si wanita

Konflik, gencatan senjata, konflik, gencatan senjata, dan begitu seterusnya

Tapi ia memang tak mengambil keberanian sedikitpun untuk mengendalikan hidupnya sendiri

 

Sang wanita, mengendalikan sepenuhnya kehidupan pasangannya

Tak mengijinkan sedikitpun, ruang untuk lelaki itu

Bergerak, dan bebas memilih

Nyatanya, wanita ini menikmati setiap ikatannya

Entah atas nama apapun

 

Wanita kedua, datang

Kehidupan berwarna, dan lelaki itu terjepit

Mengambil keputusan tak semudah langkah hari-harinya

Dan ia terkunci pada ikatan atas nama apapun

Pasangannya tak rela sedikitpun, tak ada ruang untuk itu

 

Wanita kedua, datang dalam haus keingintahuan

Hanya membebaskan dirinya, dari penasaran, pencarian hidup dan kehidupannya

Ia membebaskan waktu demi waktu, dari semula ia datang

Ke kota yang akan memberi banyak cerita

Ilmu, atau apapun namanya, ia mencari tak berbatas

 

Bercerita banyak, sang wanita kedua

Tentang prinsip dan arah, pembebasannya atas semua realitas

Ia tak meminta banyak, hanya butuh ruang

Hal yang langka jika mendengar bait demi bait kalimat derasnya

Atas nama cinta, ia memberikan sedikit demi sedikit ruang lebih besar untuk dirinya

Ia mencintai ruang hidup yang dinamakannya kebebasan

 

Untuk terbang melayang, ia rindukan sayap-sayap

Yang tak hanya melekat kaku, namun fleksibel dan melegakan

Pelukan tiap malam dalam mimpi panjang yang membangunkan keresahan

Ia menghindari setiap belenggu yang mengecilkan impiannya

Memilih berteriak panjang dalam kesendirian, tetap atas nama pembebasan

 

Lelaki kedua, berpasangan dengan wanita kedua

Ia harapkan seluruh hidupnya, berdampinga, lengan yang merangkul setiap perjalanannya

Ia mencoba sesempurna mungkin, plus harapan yang tajam pada wanitanya

Ia mulai mengikat perlahan, tak memperbesar ruang

Karena hidup baginya, adalah langkah bersama tak terpisahkan

 

Lelaki kedua, mencari terus-menerus, jati dirinya untuk membahagia

Ia tak luruskan apapun, hanya mulai mengikat simpul

Apapun itu, jarak memang tak melegakan

Hanya memberi beribu pikiran yang tak leluasa

Ia semakin kecil dalam kerinduannya

 

Wanita pertama, mengucap kata-kata

Tak membebaskan, pun semakin mengunci lelakinya

Dan pembicaraan menajam, wanita kedua terkunci dalam

Ditengah keberadaan pasangan pertama, ia perlahan bercermin

Cermin yang selalu ia bawa kemana-mana, atas nama jati diri

Harapan lebih baik, dan harapan pendamping yang membebaskan malam-malamnya

 

Lelaki pertama, menyerahkan kunci kehidupan dan langkahnya

Lelaki kedua, mengendalikan kunci itu semakin kuat

Wanita kedua, lari dalam getir pembebasannya

Wanita pertama, percaya tak ada kebebasan atas nama cinta

Hidup semakin miris dalam keterhubungannya

 

Apa yang lebih indah, daripada kebebasan hati kecil

Langkah, dan harapan?

Seberapa besar kita bisa menakar dunia yang mengelilingi kita dengan bayangan tak lepas

Kita merakit mimpi dari penggalan nafas dan ide

Yang membangunkan pagi hari kita untuk bangkit dan berlari lagi

 

Wanita kedua, rindu akan dirinya

Ia tak ingin lepas, akan waktu-waktu panjang yang dirindukannya

Dalam pencarian diri, yang selalu indah

Tanpa perlu menakar izin untuk kunci kehidupannya

Seberapa jauh ia bisa melangkah, seberapa lama ia bisa berjalan

 

Wanita kedua, rindu akan pencariannya

Pembenaran atas sikapnya yang selama ini tak terizinkan

Ia hanya butuh ruang, yang merangkul ketidaktenangan istirahatnya

Tanpa perlu resep panjang untuk memulai tidur

Atau untuk meletihkan harinya dalam senyum-senyum bahagia karena ia menemukan dirinya dalam pembebasan tak berakhir

 

Wanita kedua tak mampu kehilangan

Tak mengizinkan waktu bergerak cepat tanpa ia belajar banyak

Ia ingin menghirup apapun ilmu yang melewatinya

Dan dirangkul hangatnya sayang yang mendewasakan

Atau apapun bentuknya, ia butuh figur yang melegakan

 

Sebentuk ironi menggulung

Benak para lelaki, terkoyak masing-masing untuk hal yang mereka tak mengerti

Lelaki pertama, berharap kunci hidupnya terpegang, hanya dan hanya karena dirinya

Persona yang ingin bisa melangkah panjang

Tanpa terbebani apapun

 

Lelaki kedua, berharap ia berlari panjang

Melintas jarak hanya untuk mengunci rapat-rapat

Jarak panjang yang mulai menggilai pikirannya

Ia tak mampu hidup dalam kebingungan

Akankah pasangannya meninggalkan, atau terbebas dari seluruh aturan yang ia buat

 

Bagaimanapun, cinta mengumpul jadi bentuk-bentuk norma dan aturan

Dengan beribu pasal yang hanya masing-masing ikatan yang mengartikannya

Lelaki kedua, paham betul jarak hanya terkompromikan dengan aturan

Karena ia menyerah pada rasa takut kehilangannya

Ia membebani hidup dengan ribuan pemikiran menakutkan

Kehilangan memang neraka kecil, yang membunuh kesadaran

 

Lelaki pertama, tidak mencoba paham atas aturan itu

Karena ia hanya mengkompromikan hidupnya dalam kunci yang ia sendiri tak pahami

Kenapa ia sedikitpun tak berhak menggenggam kunci diri

Tak ada yang lebih memilukan, dibanding kehilangan kebebasan hati kecil, langkah, dan harapan

 

Hidup memang keterhubungan

Sore tadi, kalimat ini tertulis jelas dari lelaki lainnya

Wanita kedua hanya tersenyum di kejauhan, membayangkan kata-kata pendek ini

Betapa semua bisa bergulir seperti lingkaran

Yang tak mudah ia sadari, tapi memang nyata

 

Bukan sesuatu yang dihubung-hubungkan

Lelaki lain itu, hanya melihat, empat figur ini sedang belajar banyak

Dari lingkaran yang bukan pilihan mereka

Sang Khalik punya banyak kartu truf, atau skenario, atau apapun namanya

Yang pasti, lingkaran ini belajar dalam kecepatan tinggi saat ini

 

Dan jika kita tak bisa mengatakan cinta

Tak bisa mengartikannya barang sedikit saja perumpamaan

Setidaknya, kita bisa mempelajari bahwa seluruh hidup kita

Menjadi cinta saat kebebasan kita terpenuhi tanpa terkekang, menjadi diri sendiri

Seluruh tubuh kita dapat berujar, kita mencintai tanpa batas

Atas nama kebebasan pencarian kita

 

Lelaki lain itu, hanya diam di kejauhan

Mencoba membayangkan empat persona yang melingkar

Terikat sesuatu yang tak mereka pahami

Lelaki lain, dengan pikiran lain yang beterbangan

Jauh dalam kebebasan yang jadi nama lainnya

 

 

Selatan Jakarta, 20 Mei 2008

Sedikit beristirahat hari ini, thanks God....

1 comment:

Anonymous said...

hehe..

tampak seperti empat manusia konyol yang terjebak dalam cinta konyol..

Well, that's life..
Never ending journey 'rite?

dd