Saturday, May 10, 2008

Menunduk

Setahun sudah terkapar ini, kepingan yang terseret dalam kelam. Mungkin hanya ketidaksadaran yang mempermainkan, namun tak henti bayang itu menamparku di tiap keheningan. Ramadhan yang terulang, meski dalam kenangan yang demikian jauh berubah. Adakah keberadaan ini terlihatnya? Entahlah.

Manusia berjalan, dalam titik-titik jalur yang menggarisbawahi tangis dan tawa. Sudah tak dapat kubedakan tangis dan tawa, hamparan hampa yang mengiris perlahan, seolah sekarat semakin dekat. Sudah tercampakkan hati ini. Meski hingga kini tak kunjung reda kepingan itu kurekatkan lagi. Kembali, manusia mengais-ngais tong sampah yang bernama harapan. Namun, sudah demikian sampahkah harapan ini? Entah, meski sesuatu terlingkar di jari kini, mengapa ketenangan tak menyapaku, tetap?

Sedemikian bengis malaikat hidup yang menyambukku, waktu ke waktu. Seorang berjalan di sampingku kini, tak kuasa meredam kediaman ini, mulut yang mengunci dari setiap kenangan. Kukubur namun tak lenyap semua itu. Seorang berjalan disampingku, tetap tak mengenyahkan semua rapatnya bibir ini, yang terkunci dalam. Mengapa tak bisa ia luputkan kerasnya sikap itu, hanya untuk memahamiku barang sejenak?

Hidup ini mengalir, dan ternyata menimbulkan tanya. Seberapa kuat aku dapat berjalan dengannya kini? Apakah cinta yang begitu kuat, dapat mengunci mulut ini dari kata hati? Apa sebenarnya kata hatiku kini? Kesiapan itu sudah matang, namun digoyahkan oleh dirinya sendiri. Kemana aku berlari? Kemana aku teriak? Kemana aku terkapar? Ia tak tahu, tak cukup pengertiannya. Seperti biasa, kompleksnya hidupku tak dimengerti olehnya. Entah hingga kapan, entah, dan entah apakah aku cukup kuat dalam egosentrisnya yang terulang hingga kini.

Berlalu dan berlalu, yah berlalu tiap keringnya sedih dan amarah yang kupendam. Berputar konstan, nyaris statis. Mungkin sudah demikian jauhnya aku dengan Sang Khalik, hingga tamparannya begitu telak. Tapi sudah tak dapat kupertaruhkan nama baik, keluarga dan keluarga. Sudah pantang aku mundur. Hanya ikhtiar dan harap agar semua berjalan lebih baik esok dan esok masa depan.

Kugariskan jalur demi jalur dari tapak rencana kedepanku, yang tak bisa patah, tak boleh. Sudah kulakukan yang terbaik, sudah kubuktikan bahwa aku tak buta. Sudah tak dapat kubuang waktu demi waktu yang tersenyum karena kemegahannya tak dapat kuputar balik. Cinta itu tetap, tak goyah. Namun kembali, semoga semua menjadi lebih baik. Inilah aku, korban idealisme yang mengubur kenyataan yang lebih pahit dari yang kubayangkan. Dan kukubur setiap pahit yang mendera, kutepis. Tuhan, tetap tak yakin aku, akankah semua pahit itu benar-benar terkubur. Atau tetap semu dalam sabar yang, tipikal aku, diam... dan diam.

Sendiri di kamar ini, persis seperti tahun lalu, berpikir keras tak henti, seperti apa masa depanku nanti dengan semua usaha yang kuukir dalam. Semoga lebih baik, semoga lebih baik. Minal aidin walfaidzin, hati yang lelah. Seribu maaf, telah membuatmu letih dan kelu dari waktu ke waktu. Tolong aku untuk bangun semua ini, tolong aku.

(re-written from original essay)

Idul Fitri 1 Syawal 1424 H
Kamar Bandung, 26 November 2003

No comments: