Dialog pertama...
Aku bicara cukup panjang semalam,
dinihari, saat semua lelap
hanya sajadah, sarung menyelimuti
memulai lagi dialog malam dengan Raja Manusia
Dia yang selalu mendengar, dan merespons, tersenyum, dan sabdanya membuatku semakin tunduk
Aku memulai dengan banyak pertanyaan, klise, sebagaimana kebanyakan manusia bertanya
dalam ketidakmampuannya mencari tahu, lelah amat sangat
dan aku bercerita, tertunduk
mungkin ini cara paling baik mengungkap semua, meskipun tahu bahwa Ia Maha Tahu
Beberapa tahun lalu, aku berikan hidup untuk sebuah cerita
dengan resiko & tanggungjawab besar yang aku tahu, akan berbentuk seperti apa
Aku tak menakar banyak hal, hanya sedikit semangat
dan kebingunganku aku tenggelamkan begitu dalam
ternyata, aku berikan hidup untuk sebuah cerita yang mengejutkan, berkali-kali
Sekarang, cerita banyak berdeviasi
melengkung dalam semesta yang unik
karena aku semakin rancu, nyata dan semu
dan pilihan itu tertatap nanar di depanku
seperti apa cerita akan bergulir terus?
Aku tak pernah menyerahkan diri dalam kekalahan
setidaknya, selama bertahun-tahun hidup aku jalani,
tak sedikitpun semangat lelaki ini tunduk pada kekalahan
Jatuh, biasa... bangun dari jatuh, ini hal yang terus aku jalani
dan aku terbiasa dengan ini
Bertahun dari masa lalu, aku sisipkan cerita besar
dan aku menyerahkan diri pada ikatan itu
yang tak kumengerti, betapa panjang cerita akan bergulir dalam tamparan-tamparan keras
yang menundukkan optimisme ke batas-batas di luar kesadaranku
semakin aku berpikir, menyambungkan semua, ternyata skeptikal hidupku makin nyata
Aku meratapi panjang, penyerahan diriku
yang berbuah manis penerus dalam senyumnya yang khas
Semangatnya membangunkanku, untuk tak meratapi ini
tak menakar kembali semua, meskipun bathin semakin lambat dan terseok
Toh, nyata-nyata kehidupan tak selamanya dalam optimisme buta
Silahkan meninjau kembali sebentuk kehidupan,
dan akan kutemukan seonggok harapan yang terdiam itu
dalam sela-sela pergantian musim, keringnya tetes mata air mata
dan begitu banyak memar tamparan kejatuhan
toh aku terdiam begitu lama
Bagaimana kita melihat hidup kita selanjutnya,
saat semua yang semu memeluk begitu halus, pun mengikat diri terlalu erat?
ternyata, hidup tak bercerita banyak dalam semangat empiris
dan kalbu semakin dingin dari hari ke hari
cerita ini, semua yang menyelimuti, perlahan ingin kulepas
Seperti apa pilihan pahit yang akan kita ambil?
Akankah kita mempermalukan diri sendiri dan kalah dalam penggalan ujung kehidupan
hingga ajal menjemput hari-hari kita?
Ataukah kita sejatinya memegang teguh tampuk kebebasan pilihan itu?
membelokkan semesta yang seolah tak berujung, menjadi satu keputusan hidup yang sangat jernih
meskipun dalam dua langkah yang akhirnya terpisah?
Keduanya pilihan pahit yang tak mudah
keduanya pun dapat membebaskan, sekaligus menghanyutkan dalam kehancuran
Tapi ternyata, keduanya tetap pilihan yang sangat jernih untuk disibakkan
sejernih mata air yang tak pernah kering, di alam keras padang pasir
Oasis yang selalu menjernihkan kepala
dan keduanya tetap pilihan yang (seharusnya) tak mengkerdilkan hati nurani kita
hana menenggelamkan kita dari kesadaran sekitar kita....
ah entahlah, sedikit tarikan nafas untuk menenangkan
dan melanjutkan tulisan ini lagi esok hari...
akhir dari dialog pertama
Selatan Jakarta, 25 Mei 2008
Babak awal dari tulisan (yang tampaknya akan) panjang
-------------------------------
Dialog kedua...
Menjelang malam, lelaki ini masih duduk di mejanya
layar menyala, setumpuk pekerjaan belum usai
menyalakan segenap energi, untuk membantunya tetap terjaga
ia hanya mendengar lagu itu, pikirannya entah kemana
yang pasti, ia akrab dengan lagu ini...
dan para musisi irlandia ini sukses menyayat hatinya...
hingga lembaran-lembaran tipis yang beterbangan
........
Did I disappoint you?
Or leave a bad taste in your mouth?
You act like you never had love
And you want me to go without
Lelaki ini memejam sejenak, larut dalam lelah panjang
hidup tak membuatnya tersenyum...
Well it's
Too late
Tonight
To drag the past out into the light
We're one, but we're not the same
entah berapa kali ia terjaga diam tak sadar
waktu menjelang malam, maghrib hampir usai
dan sayup ia menerawang, tetap panjang tak berkata
Have you come here for forgiveness?
Have you come to raise the dead?
Have you come here to play Jesus?
To the lepers in your head
....
Tetap, topiknya tak berganti di benaknyaTetap sama, tak bergerak...dan malam mulai muncul dalam dinginnya yang angkuhakhir dari dialog keduaTimur Jakarta, 26 Mei 2008------------------------------------------------------
No comments:
Post a Comment