Di pantaimu bersatu
Setiap pasir yang berkelana
Terbawa arusmu yang tak bertepi
Berlayar, dalam kehangatan surya
Butir demi butir yang tertiup nafasmu
Mereka terbang ke satu tempat lain
Untuk beristirahat dari bayang-bayang kelam
Yang menghantui tiap tidur mereka
Butir demi butir, kehilangan raganya
Butir demi butir, lenyap bentuknya
O…pasir yang berserak…adakah sedikit kau bertanya
Demi semua mahligai jagad yang begitu megah
Mengapa kau terkucil dalam lembah keruh
Dimanakah tempatmu bersemayam semestinya?
Tidakkah sedikit pertanyaan bermain pada ruh-mu
Mengapa tak layak kau bersenandung
Sedangkan nyiur terus melambaikan derai senyum
Hanya sesaat kau termenung, tampaknya
Karena kau tetap bersemangat mengayuh perahumu
Wahai butir-butir pasir
Kau tetap sunggingkan senyum
Pada ragawi sang Pantai nan murah hati
Terjun, larut dalam kegembiraan
Karena…dan hanya untuk satu hal
Karena disanalah tempatmu bersanding
Disanalah kau mengingat tiap saat
Dimana sang bulan dan mentari selalu bercanda-tawa
Dari hari ke hari…bulan ke bulan, tahun ke tahun….
Ah…indahnya kenyataan
(re-written from original essay)
Kamar, 4 Okt. 2001, 00:21
No comments:
Post a Comment