Aku terlelap di peraduanmu
Berlabuh pada tepian danau sunyi
Tenang, setenang parasmu yang tersungging
Menjamu setiap letih lunglaiku
Kemenangan itu ada padamu,
pada setiap rongga hatimu
Cukup lama rintik hujan itu menetes,
setitik demi setitik
Cukup sabar roh-ku terus memandangmu
Telanjang, mata hati ini, begitu tulus
Serak-serak bebatuan yang selalu gores pori-pori
Tandailah semua permainanmu
Seperti bangau beranjak dari danau itu
Aku temaram dalam sujud mentari
Menatap merahnya awan, senja alam
Mengangkat sauh kembali
Bergerak kembali menuju sisi alam yang lain
Pergi jauh, sementara kau tetap tersenyum
(re-written from original essay)
Kamar, 5 Januari ’99, dinihari
No comments:
Post a Comment