Bulan menyeruak dalam kesendirianku
pada malam-malam tak bergeming, panjang
sesekali teriakku hanya terbujur sekarat
di relung hati yang tetap tersayat
Kusibakkan kantuk yang perlahan menggoda
seperti kematian yang merayapi leher
tak kutemui sebaris kata untuk jelaskan
bagaimana perasaanku terlewati
Bulan tak tersenyum padaku, seperti tahu
perihal hari-hari berlalu, tertatihku dalam kelu
yang tak perlu siapapun untuk mengerti
hanya kesombongan yang berlari sendiri
dan terjerembab menangisi kepanikan pahit
kiranya tak bisa kutemukan diri ini dalam kesendirian
tak bisa kukuasai lemahnya diri yang hening
tak bisa kubohongi jejak-jejak perasaanku
harus kutemui kau yang kurasakan di mimpi
Bulan ternyata hanya menertawaiku
dalam kebodohan yang terjadi, dalam kebodohan
kuikuti kau yang membekas dalam, tanpa tahu
apakah kau mewujud ataukah lenyap
di belantara masa lalumu yang tak kau maafkan
secepat itu perasaan bergulir dalam tabir waktu
merontokkan setiap dinding yang membatu
aku tenggelam, ya, tenggelam…
dalam batas-batas yang tak kumengerti
beginikah semuanya berjalan?
perlahan atau tergesa, tak penting semua itu
diatas mahligai cahaya yang menyilaukan
hati nurani, tetap kurasa kau melingkari setiap hariku
semoga saja dapat terjelaskan semuanya
meskipun bulan belum tersenyum malam ini
kost, 26 Maret 2003, 19:44
No comments:
Post a Comment