Friday, May 16, 2008

Perihal hari-hari berlalu

Bulan menyeruak dalam kesendirianku

pada malam-malam tak bergeming, panjang

sesekali teriakku hanya terbujur sekarat

di relung hati yang tetap tersayat

Kusibakkan kantuk yang perlahan menggoda

seperti kematian yang merayapi leher

tak kutemui sebaris kata untuk jelaskan

bagaimana perasaanku terlewati

Bulan tak tersenyum padaku, seperti tahu

perihal hari-hari berlalu, tertatihku dalam kelu

yang tak perlu siapapun untuk mengerti

hanya kesombongan yang berlari sendiri

dan terjerembab menangisi kepanikan pahit

kiranya tak bisa kutemukan diri ini dalam kesendirian

tak bisa kukuasai lemahnya diri yang hening

tak bisa kubohongi jejak-jejak perasaanku

harus kutemui kau yang kurasakan di mimpi

Bulan ternyata hanya menertawaiku

dalam kebodohan yang terjadi, dalam kebodohan

kuikuti kau yang membekas dalam, tanpa tahu

apakah kau mewujud ataukah lenyap

di belantara masa lalumu yang tak kau maafkan

secepat itu perasaan bergulir dalam tabir waktu

merontokkan setiap dinding yang membatu

aku tenggelam, ya, tenggelam…

dalam batas-batas yang tak kumengerti

beginikah semuanya berjalan?

perlahan atau tergesa, tak penting semua itu

diatas mahligai cahaya yang menyilaukan

hati nurani, tetap kurasa kau melingkari setiap hariku

semoga saja dapat terjelaskan semuanya

meskipun bulan belum tersenyum malam ini

 

 (re-written from original essay)

kost, 26 Maret 2003, 19:44

No comments: