Dan dia bertanya tentang kesendirianku
Ada apa dengan itu
Ternyata, tidak mudah untuk menjelaskan
Di tengah malam-malam Jakarta yang tak berhenti berdenyut kencang
Apalagi, kebingunganku untuk memulainya
Karena tak bisa kuceritakan sepenggal demi sepenggal
‘apa yang kamu mau tahu tentang kehidupan aku?’
Kalimat sederhana yang lebih enak aku ungkapkan
Agar dia bisa utarakan pertanyaan demi pertanyaan
Sembari aku berpikir bagaimana mengurutkan jawabannya
Ternyata, rasa ingin tahunya membuka pertanyaan besar
Yang aku sendiri tak fasih untuk menjelaskannya
‘kenapa kamu suka menyendiri?’
Dan pertanyaan ini hanya bisa kujawab, kalau aku membuka semua hal
Dia begitu fasih untuk bertanya,
Sementara aku terbata untuk mengatur jawaban itu
Dan aku mulai, dengan seputaran hidup masa kecilku
Tentang beberapa kehilangan,
Dan bagaimana aku mendidik hidupku sendiri
Bagaimana Allah menghajar aku dengan banyak hal
‘aku memilih ke gunung, untuk tenangin perasaan, agar tidak membebani orang lain dengan masalah’
Sedikit bagian dari cerita itu
Dan ceritaku terpotong-potong, karena sulit aku gabungkan dengan baik
Dan dia mulai berkomentar..
‘kamu egois, sedikit cerita tadi sudah bisa membuat aku menyimpulkan itu..’
‘kamu menganggap orang lain punya kemampuan yang sama dengan kamu, dan menganggap mereka harus survive seperti kamu juga’
‘kamu gak pentingkan perasaan pasangan kamu’
‘kamu sembunyikan banyak permasalahan, dan biarkan semuanya meledak di bagian akhir’
Komentarnya menyayat, pun mengundang introspeksi
Tapi pikiranku melayang panjang, mungkin cerita ini masih sepotong
Dan belum terjalin
Sampai aku cerita semua dengan panjang, mungkin dia akan berpikir kembali
Meskipun tak mudah bercerita dengan lugas
Ternyata, aku harus buka banyak hal
Dan gak mudah cerita banyak hal, kembali membuka cerita yang terdalam
Dan jalanan panjang jakarta, semakin berasa panjang
Saat aku cerita bagaimana pilarku runtuh
Kehilangan-kehilangan yang amat sangat
Ternyata aku gak punya cukup kekuatan untuk cerita semuanya dengan tenang
Dan dia hanya diam, entah berpikir apa
Entah apa yang ada di pikirannya...
Sampai akhirnya kata-kata maaf yang keluar dari mulutnya
Dan aku juga tak habis pikir, kenapa akhirnya maaf yang diutarakan
Karena dia tak bersalah apapun
Hanya saja, untuk kenal aku, berarti harus tahu banyak tentang aku
Berarti harus mengumpulkan kepingan cerita panjang, untuk lihat intisari itu
Itu saja yang terceritakan, belum cukup panjang, tapi dia menyimpulkannya
Dalam, jauh di relung kata hatinya...
Biarkan dia menilaiku apa adanya, karena mengenalku tak cukup melihat masa kini
Jika dengan panjangnya cerita lalu, dia menyimpulkannya
Biarlah itu jadi perkenalannya tentang seorang aku...
Senopati, 18 Mei 2008
hidup gak beristirahat....
No comments:
Post a Comment