Sunday, May 18, 2008

Tentang kesendirian

Dan dia bertanya tentang kesendirianku

Ada apa dengan itu

Ternyata, tidak mudah untuk menjelaskan

Di tengah malam-malam Jakarta yang tak berhenti berdenyut kencang

Apalagi, kebingunganku untuk memulainya

Karena tak bisa kuceritakan sepenggal demi sepenggal

 

‘apa yang kamu mau tahu tentang kehidupan aku?’

Kalimat sederhana yang lebih enak aku ungkapkan

Agar dia bisa utarakan pertanyaan demi pertanyaan

Sembari aku berpikir bagaimana mengurutkan jawabannya

 

Ternyata, rasa ingin tahunya membuka pertanyaan besar

Yang aku sendiri tak fasih untuk menjelaskannya

‘kenapa kamu suka menyendiri?’

Dan pertanyaan ini hanya bisa kujawab, kalau aku membuka semua hal

 

Dia begitu fasih untuk bertanya,

Sementara aku terbata untuk mengatur jawaban itu

Dan aku mulai, dengan seputaran hidup masa kecilku

Tentang beberapa kehilangan,

Dan bagaimana aku mendidik hidupku sendiri

Bagaimana Allah menghajar aku dengan banyak hal

 

‘aku memilih ke gunung, untuk tenangin perasaan, agar tidak membebani orang lain dengan masalah’

Sedikit bagian dari cerita itu

Dan ceritaku terpotong-potong, karena sulit aku gabungkan dengan baik

Dan dia mulai berkomentar..

 

‘kamu egois, sedikit cerita tadi sudah bisa membuat aku menyimpulkan itu..’

‘kamu menganggap orang lain punya kemampuan yang sama dengan kamu, dan menganggap mereka harus survive seperti kamu juga’

‘kamu gak pentingkan perasaan pasangan kamu’

‘kamu sembunyikan banyak permasalahan, dan biarkan semuanya meledak di bagian akhir’

 

Komentarnya menyayat, pun mengundang introspeksi

Tapi pikiranku melayang panjang, mungkin cerita ini masih sepotong

Dan belum terjalin

Sampai aku cerita semua dengan panjang, mungkin dia akan berpikir kembali

Meskipun tak mudah bercerita dengan lugas

Ternyata, aku harus buka banyak hal

 

Dan gak mudah cerita banyak hal, kembali membuka cerita yang terdalam

Dan jalanan panjang jakarta, semakin berasa panjang

Saat aku cerita bagaimana pilarku runtuh

Kehilangan-kehilangan yang amat sangat

Ternyata aku gak punya cukup kekuatan untuk cerita semuanya dengan tenang

 

Dan dia hanya diam, entah berpikir apa

Entah apa yang ada di pikirannya...

Sampai akhirnya kata-kata maaf yang keluar dari mulutnya

Dan aku juga tak habis pikir, kenapa akhirnya maaf yang diutarakan

Karena dia tak bersalah apapun

Hanya saja, untuk kenal aku, berarti harus tahu banyak tentang aku

Berarti harus mengumpulkan kepingan cerita panjang, untuk lihat intisari itu

 

Itu saja yang terceritakan, belum cukup panjang, tapi dia menyimpulkannya

Dalam, jauh di relung kata hatinya...

Biarkan dia menilaiku apa adanya, karena mengenalku tak cukup melihat masa kini

Jika dengan panjangnya cerita lalu, dia menyimpulkannya

Biarlah itu jadi perkenalannya tentang seorang aku...

 

 

Senopati, 18 Mei 2008

hidup gak beristirahat....

 

No comments: