Friday, May 16, 2008

Tetap Ada

Ia memanggil sang rembulan,

dalam rasa takut yang perlahan-lahan

membunuh kesadaran manusiawinya

mencoba memejamkan mata,

untuk mengingat…

betapa panjangnya jalan ia melangkah

Ya, ia takut berkata,

berucap dan mengungkapkan

“aku takut ia menjauh,

atas kejujuran yang tak tergantikan!”

Mengapa, mengapa harus selalu begini?

Ia bertanya-tanya

tentang perasaan yang tak pupus

dan selalu tentang rembulan yang sama

Ia berlutut tersedu

menahan, dan selalu menahan

keingintahuan akan satu jawaban

meski selalu temaram, tak jelas, kabur

Ia tak bergeming, tetap bergumam tentang cintanya

takdir yang tak berubah

“O, Maha Agung,… mengapa kau beri setiaku ini?”

Ia tak beranjak

meski merpati datang dan pergi

baginya, tak ada yang miliki hatinya,

selain kesetiaannya…

Ia hangat di bawah rembulan

 

 (re-written from original notes...)

kamar, 26 Mei 2002, 05:30

No comments: