Ia memanggil sang rembulan,
dalam rasa takut yang perlahan-lahan
membunuh kesadaran manusiawinya
mencoba memejamkan mata,
untuk mengingat…
betapa panjangnya jalan ia melangkah
Ya, ia takut berkata,
berucap dan mengungkapkan
“aku takut ia menjauh,
atas kejujuran yang tak tergantikan!”
Mengapa, mengapa harus selalu begini?
Ia bertanya-tanya
tentang perasaan yang tak pupus
dan selalu tentang rembulan yang sama
Ia berlutut tersedu
menahan, dan selalu menahan
keingintahuan akan satu jawaban
meski selalu temaram, tak jelas, kabur
Ia tak bergeming, tetap bergumam tentang cintanya
takdir yang tak berubah
“O, Maha Agung,… mengapa kau beri setiaku ini?”
Ia tak beranjak
meski merpati datang dan pergi
baginya, tak ada yang miliki hatinya,
selain kesetiaannya…
Ia hangat di bawah rembulan
kamar, 26 Mei 2002, 05:30
No comments:
Post a Comment