Entah kenapa, lelaki itu limbung hari ini
Begitu lumpuh, ia lunglai dan mencoba menarik nafas berkali-kali
Jalan raya dan kesibukan sepulang kantor, tak meluruskan pikiran
Ia tergoyah sayatan perasaan
Hari ini, kenyataan bercerita lain padanya
Hal yang tak mudah dimengertinya,
penggalan demi penggalan
Lelaki itu mencari tempat berpijak
Dari keseharian dalam kesendiriannya
Ia tertutup, amat sangat
Tak merelakan banyak orang bergumam dan berkomentar
Atau bahkan sedikit saja mengetahui dirinya
Ia kunci dirinya begitu rapat
Dalam sepenggal perjalanannya dalam hidup yang terseret panjang
Liku-liku yang membingungkan desah nafas panjang dan keresahan
Tetap, ia jalankan hidup dalam kesendirian yang tak menyenangkan
Toh ia berjuang dalam tahun-tahun panjangnya
Dan ceritanya dalam hati, adalah ironi panjang yang tak berkesudahan
Ia terkunci pada ada dan tiada kenyataan
Toh, ia tetap lanjutkan perjalanannya
Dalam perputaran tahun hidupnya, ia temukan nyata yang amat-sangat
Ia lalui subuh dengan tertunduk, hidup bercerita lain padanya
Ia yang tak punya siapapun lagi,
Dan pendengarannya harus berjuang keras mengerti kalimat pisah yang terucap lirih
Perceraian, yang tak terelakkan
Akhirnya, setelah sekian lama berjuang, pasangan ini tersungkur
Dalam, sangat dalam... dan ironi ini terjelaskan
Lelaki ini lumpuh untuk menjelaskan semua pada nisan kedua orang tuanya
Apa yang harus diucapkannya lebih lanjut, apa yang harus dijelaskan
Saat hidup tak berpihak padanya?
Demi waktu yang terjaga,
Allah memberikannya sedikit ruang pertemuan
Dengan figur yang menenangkan kegelisahan
Yang membangunkan keterpurukan
Lelaki ini lebih banyak tersenyum, akhirnya
Menyadari bahwa sedikit cahaya bernama kasih sayang
Diturunkan Khalik untuk hidupnya yang meregang
Ia menikmati detik demi detik bersama figur ini
Pangeran dan putri, yang berharap bahwa hidup masa depan akan lebih baik
Setidaknya dengan semakin banyak senyum yang mereka bagi
Tuhan memang selalu memahami keterpurukan
Dan ia memainkan bidak-bidak catur bernama manusia, dengan skenario agung
Ia turunkan cinta dan kasih sayang, untuk membangunkan keputusasaan
Lelaki ini, bersyukur dalam padaNya, tak henti berujar panjang dalam doa yang satir
Semoga cinta berpihak padanya, untuk saat ini dan masa selanjutnya
Karena demi masa yang terjaga, lelaki ini menemui hidupnya yang hilang
Dalam beragam skenario terburuk yang melintas di pikirannya
Ia kembali berpikir jernih
Dan memulainya dengan kalimat magis;
Cinta hadir dalam bentuk sederhana yang paling megah
Meskipun, pangeran tak memiliki putri, ia tahu hidupnya kembali bercahaya
Dan lelaki ini tak berharap banyak, pada awal masa yang menggumpal dalam putaran waktu
Ia jalani semua, pangeran tahu putri senantiasa memberikan senyum termanisnya
Membangunkan kejatuhan diri sang pangeran
Ternyata, Allah berbicara dalam skenario yang jauh lebih dahsyat
Lelaki itu tersudut, kedinginan dan menggigil
Dalam kesendirian dan hampa, dalam harapan yang perlahan terbentuk
Ia temukan jawaban jauh di dalam hati
Ikhtiarnya terjawab, dalam tanda tanya besar
Pangeran menyayangi putri, ternyata, lebih besar dari yang dapat ia bayangkan
Setelah sekian lama, waktu berbicara dengan tegas
Lelaki itu tersungkur dalam sebuah bahasa yang hanya dimengerti oleh hatinya
Cahaya ini terlalu kuat untuk dihindari, dan lelaki itu merasakan anugerah yang begitu nyata
Hidupnya bangkit lebih bercahaya, ia bangun dari tidur malam dengan kesegaran
Keanehan yang ia nikmati, amat sangat
Ia menyayanginya, semakin pasti
Apa yang dapat diceritakan, tentang lelaki dan harapannya?
Ia mulai temukan hidupnya kembali, dan mulai berharap
Sedikit demi sedikit, di setiap perjalanan yang ia rasakan
Harapannya tumbuh, semakin besar
Cinta menunjukkan kebesarannya, Allah memberikan kesempatan kembali
Mengumpulkan tenaga, bangkit lagi
Putri sudah membangunkannya, begitu nyata
Dan lelaki itu membuang jauh kunci ketertutupannya, akhirnya
Karena ia tahu, hidupnya memiliki kesempatan kedua untuk disiram & disemai
Namun, cerita tak berucap dengan seluruh kemulusan jalan pikiran
Putri terlalu jauh dari genggamannya,
sementara lelaki itu mempersiapkan seluruh dokumen pisah
Pengadilan agama, dokumen peradilan, sidang perceraian, perdebatan hak asuh, dan banyak hal lain akan ia jalani
Toh lelaki itu berusaha tetap tegar, dalam tamparan hidup masa lalu
Ia tahu, lembaran pahit harus ditutup, dan ia harus lanjutkan langkahnya
Dan sedikit ia bergumam, langkah seperti apa yang akan berlanjut,
Ketertutupan yang makin kronis, ataukah kunci itu dapat dibuangnya semakin jauh
Putri masih melayang begitu jauh dari genggamannya
Dan perlahan, ketakutan hinggap
Rasa takut yang membenalu dan menghisap seluruh kesadaran rasional
Lelaki ini benci pada dirinya, dan makin lama tersungkur
Ia bayangkan hari-hari selanjutnya dalam kehidupan sendiri di rumah
Berakhir pekan dengan pengawasan pengadilan atas hak asuh seorang anak
Dan kembali ke ruang kesendiriannya
Dan, hanya jika putri mengijinkannya, ia bisa bangun dan berjalan bersamanya
Hanya jika putri mengijinkannya....
Entah kenapa, lelaki ini menggigil dalam ketakutannya
Ternyata, Khalik menunjukkan kebesaranNya amat sangat
Cerita bisa berbeda dari langkah catur yang dimainkan di tahap awal
Hari ini berbicara lain, lelaki ini mulai kehilangan nafasnya
Perlahan, semangatnya teriris dan memuai
Bertransformasi dalam bentuk lain, ketakutan irasional
Pikiran subyektif yang menghangatkan, pun menghancurkan
Ia tak bisa kehilangan lagi, sungguh tak bisa
Kekhawatirannya seolah terwujud,
Dan seperti biasa, ia tak pernah bisa bicara banyak
Tentang putri dan sekelilingnya yang tetap belum tergenggam
Lelaki, dan perjalanannya
Ia mencoba teriak dalam tenggorokan yang tercekat
Ia tak mampu gerakkan tenaganya lebih banyak
Selain sedikit saja harapan, bahwa kehidupannya harus tetap berjalan
Apa adanya, seperti yang ia jalankan lebih dari empat tahun sebelum masa kini
Ruas jalan, keramaian, sudut kota, kota kembang yang membesarkan,
luka dan tawa, serta gambaran hidupnya di masa depan, kabur dan begitu sesak
Dan hari ini, kehidupannya limbung, ia tersungkur dalam....
Sedikit nafas, sepenggal demi sepenggal, ia kumpulkan menjelang maghrib
Hari ini, ia tak bersahabat dengan hari ini
Sungguh, mulutnya terkunci untuk ucapkan keinginan
Pangeran tahu, putri tak bisa terkunci.......
Sebentuk sayang, harusnya membebaskan
Menenangkan pun meneduhkan
Itu perannya saat ini, ia tak bisa menuntut banyak
Meskipun jujur ini, sangat dipahami olehNya
Hari ini, nafasnya mulai tersengal
Sedikit demi sedikit, lelaki itu rebahkan diri di belakang kemudi
Selepas maghrib yang menghancurkan buluh nadinya
Allah tahu, lelaki ini begitu ingin menggenggam cahaya yang hadir di kehidupannya
Lelaki ini begitu ingin membangun kehidupan kedua,
Dalam kehancuran masa kini, tetap harus ada harapan untuk masa depan
Tapi, sore ini berbicara lain, dalam kalimat yang tak ia mengerti
Lelaki, hidup, dan harapan
Entah, lelaki itu menatap suram maghrib hari ini
Ia sungguh tak bersahabat dengan hari ini...
Dalam waktu pendek sore hari,
Tenggorokannya mengering, ia tak dapat berucap
Semangatnya lunglai, amat-sangat
Dan satu hal yang ditakutkannya, mulai tergambar
Lelaki itu betul-betul merasakan, nafas yang tertatih...
Dan ia beranjak dari duduknya, dalam tenaga tersisa
Lelaki itu hancur, meski seperti biasa ia tak pernah menyisakan bekas
Kehancurannya dalam, begitu dalam
Dan hanya ia yang memahami, dan Allah tentunya
Air itu mengalir deras, sedikit menyakitkan bagian-bagian tubuh yang tersiram
Wudhu yang lebih panas, agaknya tak meneduhkan
Lelaki itu tahu pasti, Allah sedang menunggunya untuk berbicara
Dalam penggalan kalimat pelan, berbisik, dan tertunduk
Dalam judul hari yang penat, lelaki itu bersujud
Dan seperti biasa, Allah satu-satunya yang mendengarnya
Menatapnya dari atas, melebihi lapis langit ketujuh
Lelaki itu berharap keajaiban...
Entah, berhak atau tidak ia atas sebentuk keajaiban
Ia lunglai, betul-betul lumpuh
Duduk di belakang kemudi, ia tak acuhkan apapun lagi
Hanya mengarahkan diri tak jelas kemana
Lelaki itu tak ingat lagi ruas-ruas jalan, dan ia lupa dirinya
Kehidupan menamparnya, ya akhirnya kembali menamparnya
Sekuat apapun ia mengelak dan berlindung, hidup lebih bertahta jauh diatas dirinya
Dan kembali ia menakar cerita hidup
Mulai mengumpulkan kenangan, tapi tetap ia tak mampu
Lelaki itu mulai kehabisan penggalan nafasnya..
Merajut satu demi satu, untaian yang tak jelas
Ia kehilangan banyak energi hari ini, perasaan yang mengulitinya hidup-hidup
Ia hanya bicara sendiri, dalam ruas jalan yang dilalui
Ia hanya bisa cerita sendiri, meski tak ada siapapun, toh Allah tetap mendengarnya...
Sebentuk cerita, kadang tak terungkap di awal
Kita hanya jalani apa adanya, kita hanya menjadi diri sendiri
Meski tak selalu diri kita tersiram kesegaran, selalu harus ada keseimbangan
Dan lelaki itu mulai merangkum beberapa penggalan masa kini
Perceraian, langkah kesendirian,
Ketertutupan, senyum & kemarahan putri, kehilangan, jalan kesendirian,
nisan orang tuanya, jalan raya yang menamparnya, dan banyak hal lain...
Dan ia tahu, langkahnya mungkin akan bermuara pada kehidupan
Bangun dan berjalan sendiri, dalam setiap lembar hari-harinya
Ya, lelaki itu mulai bersahabat dengan gambaran masa depannya
Kalau ia masih berkesempatan dari Khalik,
....untuk bernafas di masa depan
Sudut Selatan Jakarta, 11 Juni 2008
Hancur........
Avatar, or Avatarim (Sanskrit: अवतार, IAST: avatāra), most commonly refers to the incarnation (bodily manifestation) onto planet Earth. The Sanskrit word Avatāra - literally means "descent" and usually implies a deliberate descent into lower realms of existence for special purposes. (definition compiled from many sources)
Wednesday, June 11, 2008
Sunday, June 08, 2008
Semua hal menyapa..
Kadang, kita berpapasan,
bersua meski tak mengucap salam..
Pada hal-hal kecil yang mengiris pelan
cerita hidup yang terpikir panjang
lagu-lagu, film, ruas jalan, tempat dikunjungi, orang-orang, simbol & logo, atau apapun lainnya..
Dan meski kita menghindar untuk sadari,
toh tetap saja hal-hal itu berputar mengelilingi
hanya berucap dalam bahasa pelajaran mereka, dejavu yang tak berkesudahan...
& kita belajar dari semua hal yang berputar cepat di sekeliling kita...
Barat Jakarta, 8 Juni 2008
- salah pilih tontonan, but I like it...
bersua meski tak mengucap salam..
Pada hal-hal kecil yang mengiris pelan
cerita hidup yang terpikir panjang
lagu-lagu, film, ruas jalan, tempat dikunjungi, orang-orang, simbol & logo, atau apapun lainnya..
Dan meski kita menghindar untuk sadari,
toh tetap saja hal-hal itu berputar mengelilingi
hanya berucap dalam bahasa pelajaran mereka, dejavu yang tak berkesudahan...
& kita belajar dari semua hal yang berputar cepat di sekeliling kita...
Barat Jakarta, 8 Juni 2008
- salah pilih tontonan, but I like it...
Saturday, June 07, 2008
Sakit ini...
Seberapa jauh kita melangkah
seberapa jauh kita mendengar & melihat
ada yang tak asing lagi di benak dua manusia ini
Karena konsep 'rasa' tak bermusuhan dengan kenyataan
hanya berseberangan, mungkin...
Tak ada yang berhak menghakimi perasaan
tak ada yang bisa luluhkan sesuatu yang terdalam
tidak dalam hitungan waktu, tidak dalam memori ingatan
mungkin hingga kapanpun, tersimpan tak pupus
Sedikit saja berbicara, kita tahu
sepanjang apa langkah bisa kita teruskan
langkah nyata, meskipun bayangan kita memimpikan lebih jauh
Seberapa lama jam waktu akan tersedia untuk kita?
Aku tak tahu, tak bisa berucap
Jika pertanyaannya adalah, dapatkah sepenggal waktu dari 24 jam kau miliki
hanya dengan keberadaan aku dan kau
Mungkin jawaban paling jujur akan aku jabarkan dengan penuh detil
bahwa aku tak menyisihkan sepenggal waktu, namun penuh dua puluh empat jam
Aku hanya ingin dua puluh empat jam dari hari bergulir
Penuh, tak berkompromi dengan agenda apapun lagi
Seberapa jauh kau beranikan untuk itu?
Dan tak pernah mudah untuk berdiri dalam realitas lain, dan aku tahu pasti itu
Tak mudah, tak pernah sederhana
Meskipun harapan kita berdiri di atas apapun, tak serta-merta memuluskan jalan
Perasaan memang bermain di setiap sela kesibukan kita dengan yang lainnya
Jika sedikit dari harapanku bisa aku pahat
dalam jejak langkah yang kau ambil kemudian
mungkin aku memahat sedikit kalimat yang kau tahu pasti
Kalimat yang tidak akan pernah mudah untuk dilupakan
dan hari-hari belakangan, kau tahu tentang itu
Kau pasti tahu, karena kau sudah tak melihat itu hanya pahatan
...kau dengar dengan jelas
Namun, sejelas apa pendengaranmu berbanding kejelasan hidup?
Ini menjadi makin kompleks dan rumit
Kau tak mendungkan hari-harimu, juga aku
aku tak relakan semenit terlepas, bahkan sedapatnya bertambah
Putaran jalan, sudut kota, warung makan, cerita pendek-panjang
kau tahu banyak siapa aku
Sedikit saja aku berharap, jangan lupakan
karena tak mudah memutar kembali semuanya ini, saat masa depan merangkul kita dengan pelukan yang berbeda
Ada yang salah?
Tidak... mungkin dalam perasaan terdalammu, kita adalah figur terkasihani
dalam kondisi yang salah, dalam waktu yang tak tepat
Maaf, jika aku berseberangan dalam memandang ini semua
Tidak ada yang salah, atas nama perasaan
karena rasa diberikan Khalik, untuk kita resapi dan renungkan dalam
Untuk kita simpan dalam lembaran kertas putih tak terkotori, bernama hati
Untuk kita kenang dalam memori ber-giga-terra-byte, lumpuhkan teknologi apapun
Dan tak ada yang tersakiti, meskipun kemungkinan realisme tak dapat kita peluk
setidaknya saat ini, toh biarkan waktu menunjukkan kemegahannya dalam cerita bernama hidup
Karena kehidupan kita harus terus berjalan
dan aku tetap menjadi aku apa adanya, tak berlebihan, hanya dalam kebersahajaan
Tak melupakan semuanya
Selatan Jakarta, 7 Juni 2008, 23:41
Tambah usia, tambah kompleks dan rumit, tambah tabah,
dan dewasalah dalam sakit ini...
seberapa jauh kita mendengar & melihat
ada yang tak asing lagi di benak dua manusia ini
Karena konsep 'rasa' tak bermusuhan dengan kenyataan
hanya berseberangan, mungkin...
Tak ada yang berhak menghakimi perasaan
tak ada yang bisa luluhkan sesuatu yang terdalam
tidak dalam hitungan waktu, tidak dalam memori ingatan
mungkin hingga kapanpun, tersimpan tak pupus
Sedikit saja berbicara, kita tahu
sepanjang apa langkah bisa kita teruskan
langkah nyata, meskipun bayangan kita memimpikan lebih jauh
Seberapa lama jam waktu akan tersedia untuk kita?
Aku tak tahu, tak bisa berucap
Jika pertanyaannya adalah, dapatkah sepenggal waktu dari 24 jam kau miliki
hanya dengan keberadaan aku dan kau
Mungkin jawaban paling jujur akan aku jabarkan dengan penuh detil
bahwa aku tak menyisihkan sepenggal waktu, namun penuh dua puluh empat jam
Aku hanya ingin dua puluh empat jam dari hari bergulir
Penuh, tak berkompromi dengan agenda apapun lagi
Seberapa jauh kau beranikan untuk itu?
Dan tak pernah mudah untuk berdiri dalam realitas lain, dan aku tahu pasti itu
Tak mudah, tak pernah sederhana
Meskipun harapan kita berdiri di atas apapun, tak serta-merta memuluskan jalan
Perasaan memang bermain di setiap sela kesibukan kita dengan yang lainnya
Jika sedikit dari harapanku bisa aku pahat
dalam jejak langkah yang kau ambil kemudian
mungkin aku memahat sedikit kalimat yang kau tahu pasti
Kalimat yang tidak akan pernah mudah untuk dilupakan
dan hari-hari belakangan, kau tahu tentang itu
Kau pasti tahu, karena kau sudah tak melihat itu hanya pahatan
...kau dengar dengan jelas
Namun, sejelas apa pendengaranmu berbanding kejelasan hidup?
Ini menjadi makin kompleks dan rumit
Kau tak mendungkan hari-harimu, juga aku
aku tak relakan semenit terlepas, bahkan sedapatnya bertambah
Putaran jalan, sudut kota, warung makan, cerita pendek-panjang
kau tahu banyak siapa aku
Sedikit saja aku berharap, jangan lupakan
karena tak mudah memutar kembali semuanya ini, saat masa depan merangkul kita dengan pelukan yang berbeda
Ada yang salah?
Tidak... mungkin dalam perasaan terdalammu, kita adalah figur terkasihani
dalam kondisi yang salah, dalam waktu yang tak tepat
Maaf, jika aku berseberangan dalam memandang ini semua
Tidak ada yang salah, atas nama perasaan
karena rasa diberikan Khalik, untuk kita resapi dan renungkan dalam
Untuk kita simpan dalam lembaran kertas putih tak terkotori, bernama hati
Untuk kita kenang dalam memori ber-giga-terra-byte, lumpuhkan teknologi apapun
Dan tak ada yang tersakiti, meskipun kemungkinan realisme tak dapat kita peluk
setidaknya saat ini, toh biarkan waktu menunjukkan kemegahannya dalam cerita bernama hidup
Karena kehidupan kita harus terus berjalan
dan aku tetap menjadi aku apa adanya, tak berlebihan, hanya dalam kebersahajaan
Tak melupakan semuanya
Selatan Jakarta, 7 Juni 2008, 23:41
Tambah usia, tambah kompleks dan rumit, tambah tabah,
dan dewasalah dalam sakit ini...
Salam untuk perasaan..
Siapa kita, yang mampu menyusun skenario?
siapa kiranya, yang bisa menggerakkan hati kecil?
Aku, kau, dan siapapun, kita mengucap salam yang sama
pada hati kecil dan nurani
sedikit mengukur, dan menakar, seberapa besar kelembutan menggoyahkan perasaan
dan ternyata kita tersungkur dalam, begitu rebah untuk memuji
karena kita tahu, kita tak pernah bisa kendalikan itu
hanya perasaan menggerakkan setiap langkah
dan sedikit saja aku ucapkan salam, atas perasaan yang mulai bermain
seberapa jauh kita akan berlari, entah
namun yang pasti, rasa takut menggelayuti pikiran kita
dan kita mulai bermain dengan detik demi detik pikiran
yang terkonsentrasi pada rasa takut
pada alam masa depan yang tak terjamah
Sedikit, mari kita ucapkan salam itu
pada perasaan yang mulai tak terkendali
siapa kita, adakah sedikit hak kita untuk mengadili sebentuk perasaan?
Tidak siapapun, aku, kamu, dan siapapun, berhak memutuskan rasa bersalah pada nurani
tak adil, tak ada yang adil dalam salam kita pada perasaan
toh, ketidakadilan ini memberikan kita sedikit semangat untuk lebih baik
pada diri sendiri
Karena jujur adalah bentuk tertinggi dari pertemuan dengan diri sendiri
kalaupun saat ini, kita bertemu dengan diri sendiri, biarlah itu terjadi
Karena tak sedikitpun waktu aku sia-siakan untuk ketidakjujuran...
salamku untuk perasaan..
Barat Jakarta, 7 Juni 2008, 18:29
sedikit salam dari hati kecil
siapa kiranya, yang bisa menggerakkan hati kecil?
Aku, kau, dan siapapun, kita mengucap salam yang sama
pada hati kecil dan nurani
sedikit mengukur, dan menakar, seberapa besar kelembutan menggoyahkan perasaan
dan ternyata kita tersungkur dalam, begitu rebah untuk memuji
karena kita tahu, kita tak pernah bisa kendalikan itu
hanya perasaan menggerakkan setiap langkah
dan sedikit saja aku ucapkan salam, atas perasaan yang mulai bermain
seberapa jauh kita akan berlari, entah
namun yang pasti, rasa takut menggelayuti pikiran kita
dan kita mulai bermain dengan detik demi detik pikiran
yang terkonsentrasi pada rasa takut
pada alam masa depan yang tak terjamah
Sedikit, mari kita ucapkan salam itu
pada perasaan yang mulai tak terkendali
siapa kita, adakah sedikit hak kita untuk mengadili sebentuk perasaan?
Tidak siapapun, aku, kamu, dan siapapun, berhak memutuskan rasa bersalah pada nurani
tak adil, tak ada yang adil dalam salam kita pada perasaan
toh, ketidakadilan ini memberikan kita sedikit semangat untuk lebih baik
pada diri sendiri
Karena jujur adalah bentuk tertinggi dari pertemuan dengan diri sendiri
kalaupun saat ini, kita bertemu dengan diri sendiri, biarlah itu terjadi
Karena tak sedikitpun waktu aku sia-siakan untuk ketidakjujuran...
salamku untuk perasaan..
Barat Jakarta, 7 Juni 2008, 18:29
sedikit salam dari hati kecil
Monday, June 02, 2008
Subuh yang terjaga...
Lelaki itu, terbiasa terjaga lebih panjang
dari orang-orang kebanyakan
pun tertidur lebih singkat dari umumnya
manusia-manusia lelah
ia terbiasa terbius sepi
Pangeran tak berucap banyak saat perjalanan,
hanya sempatkan diri menepi, menghirup kopi,
dan kembali berjalan
Lelaki itu, mendapatkan pasangannya lelap
lalu melanjutkan kehadirannya dalam sunyi malam,
saat tak banyak orang berbincang tentang kehidupan
ia hanya tertegun, dan lama diam
Saat adzan bersuarakan megahNya, ia basahi alur nadinya
lelaki itu, mendapati malaikat yang berbisik letih
untuk anak manusia yang terjerembab
Pasangannya terjaga, mereka bertatap,
dan mengambil tirta beberapa aliran
untuk bersama sujud dalam hening
Dua rakaat singkat
Dua manusia dalam pekat
Dua dunia yang tercekat
Pangeran hanya duduk diam di tepian
menikmati hitam kopi yang pahitnya membujur
ia tenggelam dalam kelam...
Lelaki itu tahu, sujud pagi ini akan membuat mereka berdua bercerita
ia tahu tatapan pasangannya,
ia mengenalnya...
Begitupun sebaliknya.....
Dan cerita, lalu terceritakan
dalam suara pelan, kebanyakan diam,
meresapi arti kata-kata
Mereka tahu pasti, dunia mereka tak lagi sama
nilai-nilai kukuh itu makin berseberangan
Dan menyadari bahwa jodoh, adalah konsep yang tak pernah terjabarkan hanya dari cerita manusia
Lelaki dan pasangannya, bertatap lekat
mereka mencintai, tapi tahu dengan begitu dalam
bahwa cinta memang bukan kekangan
bukan sangkar yang melemahkan
bukan idealisme semu yang membisukan
dan sejenak, mata air mata luluh dalam ucap getir
Dengan cinta, konsep hidup mereka terpisahkan
Dengan cinta, kehidupan menunjukkan kebesarannya untuk berlanjut sendiri
Pangeran, menatap sajadah lusuh
yang entah kapan terakhir dibersihkannya
ia kenal betul setiap tetes peluh dan wudhu kering
yang mengering di lembaran lembut itu
Lelaki dan pasangannya hanya bisa berucap
buah hati mereka adalah cinta abadi
yang tunjukkan pada dunia yang semakin angkuh
bahwa cinta melekatkan mereka begitu dalam
meskipun tetap berakhir dalam pembebasan
dan buah hati mereka, adalah genggaman mereka sepanjang masa, dalam dunia masing-masing yang tetap harus berjalan...
Hidup mereka harus tetap berjalan..
Pangeran berkhayal
tentang gambaran yang lekat di pandangannya
setahun, dua tahun, atau lima tahun ke depan..
Cerita yang bagai dongeng panjang, menghanyutkan
atau sealur dongeng yang nyata-amat-sangat
pangeran dan putri
putri dan raja
putri menjadi permaisuri
ataukah putri selamanya bersama pangeran
konsep dongeng yang nyata, pun sebaliknya
Lelaki dan pangeran
berpikir dengan otak kanan dan kiri
dalam hembus paru kanan dan kiri
dalam langkah kanan dan kiri
dalam genggaman kanan dan kiri...
Mereka berbagi pahit, mereka berbagi senyum
mereka berbagi seringai tawa, pun kemarahan
menertawai dan memarahi diri mereka sendiri...
pom bensin, selatan jakarta, 2 juni 2008
sedikit bernafas dalam sesak yang panjang
dari orang-orang kebanyakan
pun tertidur lebih singkat dari umumnya
manusia-manusia lelah
ia terbiasa terbius sepi
Pangeran tak berucap banyak saat perjalanan,
hanya sempatkan diri menepi, menghirup kopi,
dan kembali berjalan
Lelaki itu, mendapatkan pasangannya lelap
lalu melanjutkan kehadirannya dalam sunyi malam,
saat tak banyak orang berbincang tentang kehidupan
ia hanya tertegun, dan lama diam
Saat adzan bersuarakan megahNya, ia basahi alur nadinya
lelaki itu, mendapati malaikat yang berbisik letih
untuk anak manusia yang terjerembab
Pasangannya terjaga, mereka bertatap,
dan mengambil tirta beberapa aliran
untuk bersama sujud dalam hening
Dua rakaat singkat
Dua manusia dalam pekat
Dua dunia yang tercekat
Pangeran hanya duduk diam di tepian
menikmati hitam kopi yang pahitnya membujur
ia tenggelam dalam kelam...
Lelaki itu tahu, sujud pagi ini akan membuat mereka berdua bercerita
ia tahu tatapan pasangannya,
ia mengenalnya...
Begitupun sebaliknya.....
Dan cerita, lalu terceritakan
dalam suara pelan, kebanyakan diam,
meresapi arti kata-kata
Mereka tahu pasti, dunia mereka tak lagi sama
nilai-nilai kukuh itu makin berseberangan
Dan menyadari bahwa jodoh, adalah konsep yang tak pernah terjabarkan hanya dari cerita manusia
Lelaki dan pasangannya, bertatap lekat
mereka mencintai, tapi tahu dengan begitu dalam
bahwa cinta memang bukan kekangan
bukan sangkar yang melemahkan
bukan idealisme semu yang membisukan
dan sejenak, mata air mata luluh dalam ucap getir
Dengan cinta, konsep hidup mereka terpisahkan
Dengan cinta, kehidupan menunjukkan kebesarannya untuk berlanjut sendiri
Pangeran, menatap sajadah lusuh
yang entah kapan terakhir dibersihkannya
ia kenal betul setiap tetes peluh dan wudhu kering
yang mengering di lembaran lembut itu
Lelaki dan pasangannya hanya bisa berucap
buah hati mereka adalah cinta abadi
yang tunjukkan pada dunia yang semakin angkuh
bahwa cinta melekatkan mereka begitu dalam
meskipun tetap berakhir dalam pembebasan
dan buah hati mereka, adalah genggaman mereka sepanjang masa, dalam dunia masing-masing yang tetap harus berjalan...
Hidup mereka harus tetap berjalan..
Pangeran berkhayal
tentang gambaran yang lekat di pandangannya
setahun, dua tahun, atau lima tahun ke depan..
Cerita yang bagai dongeng panjang, menghanyutkan
atau sealur dongeng yang nyata-amat-sangat
pangeran dan putri
putri dan raja
putri menjadi permaisuri
ataukah putri selamanya bersama pangeran
konsep dongeng yang nyata, pun sebaliknya
Lelaki dan pangeran
berpikir dengan otak kanan dan kiri
dalam hembus paru kanan dan kiri
dalam langkah kanan dan kiri
dalam genggaman kanan dan kiri...
Mereka berbagi pahit, mereka berbagi senyum
mereka berbagi seringai tawa, pun kemarahan
menertawai dan memarahi diri mereka sendiri...
pom bensin, selatan jakarta, 2 juni 2008
sedikit bernafas dalam sesak yang panjang
Kembali...
Kembali ke tempat ini, tidak pernah mudah..
Kota kembang yang harumnya semerbak dengan begitu dingin udara,
membuat kenyataan yang hadir belakangan ini dalam hari-hariku sedikit mereda...
sejak 13 november tahun lalu, akhirnya saat ini memberanikan diri untuk kembali ke rumah
Tempat yang membesarkan panjang kehidupanku..
Tidak mudah, saat tengah malam sedikit salamku terucap, pada rumah kosong yang perawatannya memburuk semenjak ditinggal lamanya waktu kami sekeluarga bergerak ke jakarta,
karena kerja, atau karena ibu yang berobat hingga akhir hayatnya...
Rumah ternyata obat luar biasa bagi ketidaktenangan,
saat aku sangat terasing di rumah jakarta.
Dan aku menatap lekat foto-foto di ruang tengah, aku, ibu, & kakak...
Semua kenangan mendadak berputar cepat, dan aku limbung luar biasa semalam...
Putuskan sejenak keluar dari rumah,
mengobati sesak yang tak terjelaskan
dan sehari penuh aku habiskan,
berbicara sendiri, jongkok & bersila
ruang tengah yang kosong lapang
semedi tafakur yang tak berujung
aku berbicara sendiri, seolah hilang kewarasan
Tak mengapa, toh aku menikmati saat-saat aku melayang jauh
terbang ke beberapa tahun ke belakang
dan mengenal kembali siapa aku, & apa peranan terbaik yang aku harapkan terwujud..
Meski tak pernah mudah kembali,
toh aku menikmati setiap detik dari saat aku kembali
Rumah ini begitu tenang & teduh, menyejukkan...
Tol Cikampek, rest area...
2 Juni 2008
Kota kembang yang harumnya semerbak dengan begitu dingin udara,
membuat kenyataan yang hadir belakangan ini dalam hari-hariku sedikit mereda...
sejak 13 november tahun lalu, akhirnya saat ini memberanikan diri untuk kembali ke rumah
Tempat yang membesarkan panjang kehidupanku..
Tidak mudah, saat tengah malam sedikit salamku terucap, pada rumah kosong yang perawatannya memburuk semenjak ditinggal lamanya waktu kami sekeluarga bergerak ke jakarta,
karena kerja, atau karena ibu yang berobat hingga akhir hayatnya...
Rumah ternyata obat luar biasa bagi ketidaktenangan,
saat aku sangat terasing di rumah jakarta.
Dan aku menatap lekat foto-foto di ruang tengah, aku, ibu, & kakak...
Semua kenangan mendadak berputar cepat, dan aku limbung luar biasa semalam...
Putuskan sejenak keluar dari rumah,
mengobati sesak yang tak terjelaskan
dan sehari penuh aku habiskan,
berbicara sendiri, jongkok & bersila
ruang tengah yang kosong lapang
semedi tafakur yang tak berujung
aku berbicara sendiri, seolah hilang kewarasan
Tak mengapa, toh aku menikmati saat-saat aku melayang jauh
terbang ke beberapa tahun ke belakang
dan mengenal kembali siapa aku, & apa peranan terbaik yang aku harapkan terwujud..
Meski tak pernah mudah kembali,
toh aku menikmati setiap detik dari saat aku kembali
Rumah ini begitu tenang & teduh, menyejukkan...
Tol Cikampek, rest area...
2 Juni 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)