Wednesday, June 11, 2008

Dalam waktu yang semakin lirih...

Entah kenapa, lelaki itu limbung hari ini
Begitu lumpuh, ia lunglai dan mencoba menarik nafas berkali-kali
Jalan raya dan kesibukan sepulang kantor, tak meluruskan pikiran
Ia tergoyah sayatan perasaan

Hari ini, kenyataan bercerita lain padanya
Hal yang tak mudah dimengertinya,
penggalan demi penggalan
Lelaki itu mencari tempat berpijak
Dari keseharian dalam kesendiriannya
Ia tertutup, amat sangat
Tak merelakan banyak orang bergumam dan berkomentar
Atau bahkan sedikit saja mengetahui dirinya
Ia kunci dirinya begitu rapat

Dalam sepenggal perjalanannya dalam hidup yang terseret panjang
Liku-liku yang membingungkan desah nafas panjang dan keresahan
Tetap, ia jalankan hidup dalam kesendirian yang tak menyenangkan
Toh ia berjuang dalam tahun-tahun panjangnya
Dan ceritanya dalam hati, adalah ironi panjang yang tak berkesudahan
Ia terkunci pada ada dan tiada kenyataan
Toh, ia tetap lanjutkan perjalanannya

Dalam perputaran tahun hidupnya, ia temukan nyata yang amat-sangat
Ia lalui subuh dengan tertunduk, hidup bercerita lain padanya
Ia yang tak punya siapapun lagi,
Dan pendengarannya harus berjuang keras mengerti kalimat pisah yang terucap lirih
Perceraian, yang tak terelakkan
Akhirnya, setelah sekian lama berjuang, pasangan ini tersungkur
Dalam, sangat dalam... dan ironi ini terjelaskan
Lelaki ini lumpuh untuk menjelaskan semua pada nisan kedua orang tuanya
Apa yang harus diucapkannya lebih lanjut, apa yang harus dijelaskan
Saat hidup tak berpihak padanya?

Demi waktu yang terjaga,
Allah memberikannya sedikit ruang pertemuan
Dengan figur yang menenangkan kegelisahan
Yang membangunkan keterpurukan
Lelaki ini lebih banyak tersenyum, akhirnya
Menyadari bahwa sedikit cahaya bernama kasih sayang
Diturunkan Khalik untuk hidupnya yang meregang
Ia menikmati detik demi detik bersama figur ini
Pangeran dan putri, yang berharap bahwa hidup masa depan akan lebih baik
Setidaknya dengan semakin banyak senyum yang mereka bagi

Tuhan memang selalu memahami keterpurukan
Dan ia memainkan bidak-bidak catur bernama manusia, dengan skenario agung
Ia turunkan cinta dan kasih sayang, untuk membangunkan keputusasaan
Lelaki ini, bersyukur dalam padaNya, tak henti berujar panjang dalam doa yang satir
Semoga cinta berpihak padanya, untuk saat ini dan masa selanjutnya
Karena demi masa yang terjaga, lelaki ini menemui hidupnya yang hilang
Dalam beragam skenario terburuk yang melintas di pikirannya
Ia kembali berpikir jernih
Dan memulainya dengan kalimat magis;
Cinta hadir dalam bentuk sederhana yang paling megah
Meskipun, pangeran tak memiliki putri, ia tahu hidupnya kembali bercahaya
Dan lelaki ini tak berharap banyak, pada awal masa yang menggumpal dalam putaran waktu
Ia jalani semua, pangeran tahu putri senantiasa memberikan senyum termanisnya
Membangunkan kejatuhan diri sang pangeran

Ternyata, Allah berbicara dalam skenario yang jauh lebih dahsyat
Lelaki itu tersudut, kedinginan dan menggigil
Dalam kesendirian dan hampa, dalam harapan yang perlahan terbentuk
Ia temukan jawaban jauh di dalam hati
Ikhtiarnya terjawab, dalam tanda tanya besar
Pangeran menyayangi putri, ternyata, lebih besar dari yang dapat ia bayangkan
Setelah sekian lama, waktu berbicara dengan tegas
Lelaki itu tersungkur dalam sebuah bahasa yang hanya dimengerti oleh hatinya
Cahaya ini terlalu kuat untuk dihindari, dan lelaki itu merasakan anugerah yang begitu nyata
Hidupnya bangkit lebih bercahaya, ia bangun dari tidur malam dengan kesegaran
Keanehan yang ia nikmati, amat sangat
Ia menyayanginya, semakin pasti

Apa yang dapat diceritakan, tentang lelaki dan harapannya?
Ia mulai temukan hidupnya kembali, dan mulai berharap
Sedikit demi sedikit, di setiap perjalanan yang ia rasakan
Harapannya tumbuh, semakin besar
Cinta menunjukkan kebesarannya, Allah memberikan kesempatan kembali
Mengumpulkan tenaga, bangkit lagi
Putri sudah membangunkannya, begitu nyata
Dan lelaki itu membuang jauh kunci ketertutupannya, akhirnya
Karena ia tahu, hidupnya memiliki kesempatan kedua untuk disiram & disemai

Namun, cerita tak berucap dengan seluruh kemulusan jalan pikiran
Putri terlalu jauh dari genggamannya,
sementara lelaki itu mempersiapkan seluruh dokumen pisah
Pengadilan agama, dokumen peradilan, sidang perceraian, perdebatan hak asuh, dan banyak hal lain akan ia jalani
Toh lelaki itu berusaha tetap tegar, dalam tamparan hidup masa lalu
Ia tahu, lembaran pahit harus ditutup, dan ia harus lanjutkan langkahnya
Dan sedikit ia bergumam, langkah seperti apa yang akan berlanjut,
Ketertutupan yang makin kronis, ataukah kunci itu dapat dibuangnya semakin jauh
Putri masih melayang begitu jauh dari genggamannya

Dan perlahan, ketakutan hinggap
Rasa takut yang membenalu dan menghisap seluruh kesadaran rasional
Lelaki ini benci pada dirinya, dan makin lama tersungkur
Ia bayangkan hari-hari selanjutnya dalam kehidupan sendiri di rumah
Berakhir pekan dengan pengawasan pengadilan atas hak asuh seorang anak
Dan kembali ke ruang kesendiriannya
Dan, hanya jika putri mengijinkannya, ia bisa bangun dan berjalan bersamanya
Hanya jika putri mengijinkannya....
Entah kenapa, lelaki ini menggigil dalam ketakutannya

Ternyata, Khalik menunjukkan kebesaranNya amat sangat
Cerita bisa berbeda dari langkah catur yang dimainkan di tahap awal
Hari ini berbicara lain, lelaki ini mulai kehilangan nafasnya
Perlahan, semangatnya teriris dan memuai
Bertransformasi dalam bentuk lain, ketakutan irasional
Pikiran subyektif yang menghangatkan, pun menghancurkan
Ia tak bisa kehilangan lagi, sungguh tak bisa
Kekhawatirannya seolah terwujud,
Dan seperti biasa, ia tak pernah bisa bicara banyak
Tentang putri dan sekelilingnya yang tetap belum tergenggam

Lelaki, dan perjalanannya
Ia mencoba teriak dalam tenggorokan yang tercekat
Ia tak mampu gerakkan tenaganya lebih banyak
Selain sedikit saja harapan, bahwa kehidupannya harus tetap berjalan
Apa adanya, seperti yang ia jalankan lebih dari empat tahun sebelum masa kini
Ruas jalan, keramaian, sudut kota, kota kembang yang membesarkan,
luka dan tawa, serta gambaran hidupnya di masa depan, kabur dan begitu sesak
Dan hari ini, kehidupannya limbung, ia tersungkur dalam....
Sedikit nafas, sepenggal demi sepenggal, ia kumpulkan menjelang maghrib

Hari ini, ia tak bersahabat dengan hari ini
Sungguh, mulutnya terkunci untuk ucapkan keinginan
Pangeran tahu, putri tak bisa terkunci.......
Sebentuk sayang, harusnya membebaskan
Menenangkan pun meneduhkan
Itu perannya saat ini, ia tak bisa menuntut banyak
Meskipun jujur ini, sangat dipahami olehNya

Hari ini, nafasnya mulai tersengal
Sedikit demi sedikit, lelaki itu rebahkan diri di belakang kemudi
Selepas maghrib yang menghancurkan buluh nadinya
Allah tahu, lelaki ini begitu ingin menggenggam cahaya yang hadir di kehidupannya
Lelaki ini begitu ingin membangun kehidupan kedua,
Dalam kehancuran masa kini, tetap harus ada harapan untuk masa depan
Tapi, sore ini berbicara lain, dalam kalimat yang tak ia mengerti
Lelaki, hidup, dan harapan
Entah, lelaki itu menatap suram maghrib hari ini
Ia sungguh tak bersahabat dengan hari ini...

Dalam waktu pendek sore hari,
Tenggorokannya mengering, ia tak dapat berucap
Semangatnya lunglai, amat-sangat
Dan satu hal yang ditakutkannya, mulai tergambar
Lelaki itu betul-betul merasakan, nafas yang tertatih...
Dan ia beranjak dari duduknya, dalam tenaga tersisa
Lelaki itu hancur, meski seperti biasa ia tak pernah menyisakan bekas
Kehancurannya dalam, begitu dalam
Dan hanya ia yang memahami, dan Allah tentunya

Air itu mengalir deras, sedikit menyakitkan bagian-bagian tubuh yang tersiram
Wudhu yang lebih panas, agaknya tak meneduhkan
Lelaki itu tahu pasti, Allah sedang menunggunya untuk berbicara
Dalam penggalan kalimat pelan, berbisik, dan tertunduk
Dalam judul hari yang penat, lelaki itu bersujud
Dan seperti biasa, Allah satu-satunya yang mendengarnya
Menatapnya dari atas, melebihi lapis langit ketujuh
Lelaki itu berharap keajaiban...
Entah, berhak atau tidak ia atas sebentuk keajaiban
Ia lunglai, betul-betul lumpuh

Duduk di belakang kemudi, ia tak acuhkan apapun lagi
Hanya mengarahkan diri tak jelas kemana
Lelaki itu tak ingat lagi ruas-ruas jalan, dan ia lupa dirinya
Kehidupan menamparnya, ya akhirnya kembali menamparnya
Sekuat apapun ia mengelak dan berlindung, hidup lebih bertahta jauh diatas dirinya
Dan kembali ia menakar cerita hidup
Mulai mengumpulkan kenangan, tapi tetap ia tak mampu
Lelaki itu mulai kehabisan penggalan nafasnya..
Merajut satu demi satu, untaian yang tak jelas
Ia kehilangan banyak energi hari ini, perasaan yang mengulitinya hidup-hidup
Ia hanya bicara sendiri, dalam ruas jalan yang dilalui
Ia hanya bisa cerita sendiri, meski tak ada siapapun, toh Allah tetap mendengarnya...

Sebentuk cerita, kadang tak terungkap di awal
Kita hanya jalani apa adanya, kita hanya menjadi diri sendiri
Meski tak selalu diri kita tersiram kesegaran, selalu harus ada keseimbangan
Dan lelaki itu mulai merangkum beberapa penggalan masa kini
Perceraian, langkah kesendirian,
Ketertutupan, senyum & kemarahan putri, kehilangan, jalan kesendirian,
nisan orang tuanya, jalan raya yang menamparnya, dan banyak hal lain...
Dan ia tahu, langkahnya mungkin akan bermuara pada kehidupan
Bangun dan berjalan sendiri, dalam setiap lembar hari-harinya
Ya, lelaki itu mulai bersahabat dengan gambaran masa depannya
Kalau ia masih berkesempatan dari Khalik,
....untuk bernafas di masa depan



Sudut Selatan Jakarta, 11 Juni 2008
Hancur........

No comments: