Malam ini, aku merasa ada yang bertubrukan
diriku yang berbeda, merasa asing sesama
atas nama sayang, kedua persona berselisih panjang
aku berbeda dalam satu tubuh, mencoba mengerti panjangnya hari
dan jalan yang harus dilalui
entah gila ataupun aku sudah masuk tahap baru dalam ketidakwarasan
yang jelas, kedua persona mencoba mengungguli satu sama lain
aku merasa, begitu dalam di satu persona
figur yang berdiri tegak dan tekun dalam hari yang bergerak lambat
mendengar dan melihatnya berbicara
dari seluruh kisah yang mengalir deras, dari hati dan dari sekeliling
aku akui, persona ini mengakrab dalam persahabatan
dan figur ini tetap berdiri tegak dalam getir yang ditakar hari demi hari, melalui jam yang panjang
persona ini melambat, menarik nafas, dan bergerak lagi
apa yang membuat sang persona ini tegak, akuilah bahwa cerita akan mengkristal dalam butir-butir detik di bibir yang bergerak, mengucap, atau mata yang meneteskan setitik air-air jernih
persona sisi lain, mencoba tafakur dalam, dan berhenti bernafas dalam setiap hadirnya persona sebelumnya..
ia mencoba memiliki, segenap semangat dan harapan hidup selanjutnya
ia menyayang, dan mencoba berdiri berdampingan, berharap sebuah keutuhan yang berjalan bersama hingga panjangnya usia berkisah tanpa henti
mereka bertukar posisi dengan cepat, sementara otak ini mencoba mengukur seberapa jauh kekuatanku bisa menjulur panjang
meliuk di sela-sala belantara yang membutakan mata di labirin ini
kalau bisa kau jelaskan sedikit, dalam perhentian kita, seberapa jauh aku bisa menggerakkan dua persona ini, satu demi satu bergantian, ataukan mereka akan kulepas bersamaan?
Jangan ajari aku bagaimana menundukkan keduanya, saat api itu menyala dengan kilau yang membara menyilaukan
karena hati akhirnya runtuh dalam arang pekat di hidup yang menampar, kembali menusuk
Bagaimana kita bersama menjelaskan arti perasaan yang beku dan akhirnya cair?
atau kedinginan itu yang tak mengijinkan sedikitpun pintumu cair dan terbuka?
Ataukah akan kita hitung hari demi hari dari tahun ini, tahun depan, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, atau saat ajal bersahabat dengan hariku dalam kesendirian?
seberapa jauh aku bisa membaca nafas yang terus terhembus hingga kapan yang tak terbaca?
Kembali, hidup tersenyum kecut melihat umatNya yang tersungkur
pahit, mirip dengan espresso double-shot yang dinikmati tanpa gula, pahit, miris, dan mengejutkan...
kembali mengingat, kopi dan filosofinya membangunkanku untuk memahami pahit di setiap langkah...
Sekarang, aku dan kedua persona ini, menjadi makin anomalyst...
makin aneh dalam kebisuan panjang yang enggan terjelaskan
Bagaimana menjelaskan kehidupan, dalam dua sisi yang berbeda...
atau dalam dua cerita yang berlanjut, berbeda namun sekilas sangat serupa
lelaki yang terhempas jauh, dan tak pernah menjadi pilihan...
ia tak berhak, atau tak berkesempatan...
pecundang atau pemenang, semakin tak penting ternyata
karena semuanya bukan tentang kemenangan
tapi tentang sebuah penggalan ketulusan
dan perasaan itu lebih penting dari sayangnya pada dirinya sendiri...
Aku rasa, kota ini semakin dingin melecehkanku
dari masa-masa yang seolah terlupakan, toh iklimnya bukan menyejukkan, tapi membekukan...
hingga aku tak tahu lagi, bagaimana aku mengakurkan kedua persona yang berseberangan ini...
mereka tak berbicara, mereka diam tak bergeming, berdiri jauh di kutub masing-masing
meskipun jelas, keduanya bersemayam dalam satu tubuh dan jiwa yang sama...
multiple personality atau apapun namanya, entahlah...
hidupku bertanya panjang dan getir, bagaimana merukunkan keduanya lagi...
Aku sejenak, ingin rebah dan berhenti bernafas, sejenak saja melupakan bahwa aku pernah hidup di dunia yang tak tersenyum ini...
.....dan kebekuanku akan bertahan terus tanpa aku tahu bagaimana mencairkannya....
aku betul-betul tak tahu...
16 Agustus 2008
kota ini, membekukan langkah dan nafas...
sejenak diam tak bergeming
No comments:
Post a Comment