Monday, September 08, 2008

... dan Malaikat....

Banyak hal yang bisa terjadi, bahkan dalam hitungan waktu yang teramat cepat untuk kita sadari..
seperti malam ini, saat aku nulis di ruangan ini, udara dingin yang entah makin rancu antara penyejuk udara dan hujan deras yang turun di barat jakarta...
Aku merasa ada begitu banyak hal yang berubah sangat cepat, dan kadang aku begitu ingin menulis satu demi satu
untuk bisa terbaca lagi di kemudian hari, untuk jadi sebuah cermin hidup yang selalu bisa membuat senyum atau tercenung, atau begitu banyak kespresi wajah lainnya
karena kita tak mudah berbohong dalam ekspresi kita yang mendalami cerita demi cerita..
Toh, berubahnya hidup atau kisah-kisah yang kita jalani, memang sebuah keharusan dari konsesi nafas kita dengan oksigen luas bumi ini, yang bernama hidup, sampai kematian menjemput akhir nafas kita yang terengah-engah dalam doa panjang..

Aku ingat, dua minggu ini aku cukup habiskan waktu dengan penasaranku di radio lokal jakarta
berusaha mencari lagu yang muncul baru saja, kudengar dalam sekilas tapi pelan-pelan menyibak keingintahuan, sangat..
Sekali aku dengar, hanya penggalan verse dua hingga interlude, dan belum sampai akhir, penyiar mulai memberi komentar-komentar yang menjadi gak penting saat aku ingin dengarkan lagu ini sampai akhir..
Kedua kali aku tangkap lagu ini di radio, muncul komentar yang akhirnya memberi sedikit petunjuk...
Dewi Lestari yang menyanyikannya.. Dee
Aku bukan penggemar lagu-lagu indonesia, kecuali beberapa musisi monumental yang aku anggap akan selalu hidup abadi, sebut saja Iwan Fals, Gank Pegangsaan, Gigi, and few others..
Dan Dee tentunya, saat aku dengar dia masih di trio Rida-Sita-Dewi..
Sebut aku konyol karena makhluk metal ini bisa mendengarkan juga lagu mellow... tapi satu lagu yang dulu membuat aku terdiam di depan speaker, tentunya satu lagu di RSD dengan penggalan lirik 'angkasa tanpa pesan...'
Oke, Dee, aku makin kenal dia lewat tulisan-tulisannya, dan memang aku penggemar buku-buku yang bercerita dari perspektif lain.. Sutardji Calzoum Bachry, Pramoedya Ananta Toer, Leo Tolstoy, Gandhi ... dan Dee lewat rangkaian tulisan di Supernova..

Buku Dee yang terakhir yang menggigit pikiran & perasaanku, adalah 'Filosofi Kopi'
bukan karena aku penggemar berat kafein & sebatang rokok sebagai teman malam-malamku
tapi karena filosofi kopi bercerita banyak tentang hal-hal kecil dalam penggalan cerita pendek yang tak rumit, tapi menggugah kita untuk rebah di penghayatan akan cerita sederhana..
dan seperti musik yang tulus, cerita-cerita Dee memang menggubris alam bawah sadarku untuk sedikit mencerna hidup panjang yang aku rasakan...
tanpa menghubung-hubungkan cerita-ceritanya dengan ceritaku, tetap saja kita bisa merenung panjang saat sebuah cerita dengan begitu jujur menelanjangi kesadaran kita untuk sedikit menoleh ke lubuk hati, ternyata ada kemiripan yang tak disengaja...
Supernova pertama - Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, betul-betul punya hentakan keras yang menampar kesadaranku saat membacanya...
buku ini merobek ego, dan mengajak aku larut dalam lelah tokoh yang terceritakan...

Okelah, stop bicara tentang Supernova, karena kita bisa habiskan waktu semalam suntuk seperti dengarkan wayang yang kadang kita butuh oksigen murni untuk mencernanya...
kembali ke musik...
ada apa dengan lagu yang dinyanyikan Dee?
'Malaikat juga tahu'... judul yang sesederhana lirik yang dikandungnya..
sederhana, bersahaja, ciri khas Dee yang mulai ditunjukkan dari supernova ketiga, dan filosofi kopi..
Aku penggemar lirik metaphoris, juga lirik simple yang mengandung banyak pertanyaan retrospektif..
namun, lagu ini punya aransemen yang tak lazim, beat & ritmik yang juga tidak lazim untuk kebanyakan lagu mellow indonesia...
tapi aku tak habiskan tenaga terlalu banyak ke aransemen, hanya menikmati keseluruhan lagu dengan tenang...
dan kemarin, perjalanan keluar kota, akhirnya aku temukan lagu ini baru rilis di sebuah toko musik..
Dee tak pernah setengah-setengah dalam launch sebuah artwork, setidaknya itu yang aku temukan dalam artwork novel-novelnya... dan cover album ini jauh dari kelaziman album musik indonesia yang hanya menjual wajah-wajah musisinya...
Album ini seperti novel, ini yang aku lihat tergambar kuat di album ini... tipikal Dee yang ingin memunculkan 'sisi pandang' yang lain dari biasanya...
Postmodernism atau entah apapun namanya, aku menikmati album ini secara menyeluruh..

Malaikat juga tahu, bercerita jujur tentang hal terdalam yang dimiliki seorang, saat ia tak tahu lagi bagaimana berhadapan dengan kebuntuan dari jujur yang berlanjut terus, atas nama setia..
Dalam waktu yang bergulir cepat, kita dapatkan setiap persona diri yang hadir dan pergi di hidup
ada yang bermakna begitu dalam, dan lainnya hanya lewat di segelintir cerita pendek
dan lagu ini, bercerita lebih banyak tentang diri yang bermakna atau tidak, pada diri orang lain..
dan dalam kebingungan, kita mencari tahu semua jawaban yang tak terjelaskan dengan sederhana
Lagu ini, entah bagaimana dan entah kenapa, menelusuri begitu banyak lorong di perasaan yang selalu bertanya dan mencari jawaban...
Hidup aku gak sederhana, bahkan rumitnya kadang membuat aku ingin ambil cuti panjang dari kesibukan kantor...
hanya untuk mencari jawaban dari rentetan hal yang gak mudah untuk diemban dalam waktu yang bergulir cepat
dan aku gak tahu, lagu ini mengajak aku mencari ketenangan jawaban itu dalam perspektif lain, dalam kebersahajaannya..
Allah menghadirkan pemandangan indah atau tidak dalam hidup, sangat tergantung bagaimana kita mencerna setiap peristiwa pahit dan manis... hidup selalu indah, dalam catatan Allah, itu pasti..
hanya saja, kita dalam begitu banyak keterbatasan, selalu menghindar kenyataan indah itu dalam ketakutan kita yang terpatri kaku dalam dogma atau stigma yang menjerumuskan lebih dalam lagi..
toh, lagu ini, entah dalam sadarku atau tidak, menghancurkan aku pelan-pelan, agar aku bisa sadar dan memungut serpihan itu menjadi cerita indah

Ya, lagu ini begitu jujur dalam kemanusiaan, tak muluk-muluk, hanya bercerita dalam alur yang ringkas, bahwa 'lelahmu adalah lelahku juga', 'kali ini hampir habis dayaku membuktikan padamu ada cinta yang nyata...'
kata-kata sederhana yang membius aku makin dalam untuk dengarkan bait demi bait...
'namun kau tak lihat, terkadang malaikat... tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan...'
Oke, cukup penggalan lirik ini tertulis disini, lebih baik memang kita dengarkan saja, dan kita larutkan itu dalam cairan bening di otak dan perasaan kita...
stimulus yang terus-menerus membangkitkan gairah untuk menjadi seseorang yang lebih baik dari waktu ke waktu...
dan aku memang tak banyak dengarkan lagu-lagu tanah air, meski saat ini aku terpaku pada lagu ini yang begitu jujur bercerita dalam dinginnya malam yang bergulir lambat....
Aku hanya terpaku dalam kejujuran yang mengalir di setiap penggalan liriknya


~ Thanks Dee, for enlight life with such a beautiful song... thanks a lot...


Barat Jakarta, 8 September 2008, 01:08 jelang sahur
Lagu punya kekuatan luar biasa untuk menggerakkan ruang hati kita...



No comments: