Sunday, November 16, 2008

Maaf, atas semua kekurangan....

Apa yang dapat diceritakan, tentang sebuah kemarahan?
semua yang muncul begitu tiba-tiba, berubah begitu cepat, tidak sampai hitungan seminggu, atau sebulan, atau setahun....
saat kita yakin bahwa kita siap menghadapi semuanya, atas semua kekurangan kita yang berusaha terintrospeksi
saat semua hal kita coba rubah, kita coba yakinkan, kita coba bangunkan...
Ternyata hidup dengan begitu mudahnya menampar kita dalam bentuk-bentuknya yang begitu dekat dengan kita
dan kita begitu lemah untuk sadari bahwa semuanya sudah berputar cepat
Kita begitu letih di sudut jalan, dan tak mampu berkata apapun
selain senyum getir yang tersungging di ujung bibir kita
begitu getirnya, hingga kita tak sanggup bedakan antara murka dan ikhlas, atau apapun namanya...
kita lalu secepat mungkin membelenggu perasaan, menutup diri rapat-rapat...
atas tamparan telak yang terjadi, kita begitu lugas mencoba memproteksi perasaan
tak sedikitpun yang terjamah, tak tersentuh apapun...

Aku ada di titik ini
saat bicarapun sudah kelu, lidah begitu lemahnya untuk berucap, tak sanggup berkalimat sedikitpun...
tak ada gunanya pembelaan, toh semuanya sudah dilihat dari sudut pandang yang berbeda...
begitu panjang penjelasan tak akan mungkin tercerna oleh penilaian sepihak...
semua kekurangan yang coba dipenuhi, perbaiki semua, tetap sebuah kekurangan yang tak bertemu idealisme...
dan perlahan kita jabarkan itu sebagai bentuk yang tak tergantikan, ideal yang tak terpenuhi... semua yang akumulatif dalam bentuk yang bagi kita begitu angkuh, begitu tak dapat kita negosiasikan...
dan untuk sebentuk keping hidup, bukan negosiasi yang kita butuhkan, tapi penerimaan...
dan tak semua figur siap menerima, tak semua orang sanggup menerima...
entah kenapa, sedikit saja aku merasa menjadi orang yang begitu hancur, & tak berguna apapun
sedikit saja dari peristiwa, aku menjadi bukan siapa-siapa dalam kesendirian perasaan...
dan amarah itu tak berguna lagi menjelaskan panjang tentang semuanya...
seluruh kekurangan, akhirnya menjadi sebuah kekurangan yang berakhir ironis
dan aku tak bisa menjelaskan apapun, tetap tak mampu mengimbangi sebuah idealisme yang begitu menancap kuat...
dan aku menjadi tak berguna apapun.... tak berguna....


amarah, kecewa, atas segala kekurangan yang terakumulasi...
hidup tak mudah dirubah dalam perspektif idealisme...


jakarta, 16 November 2008
entah akan seperti apa hidup di depan nanti

No comments: