Sunday, August 09, 2009

Kembali ke Bumi

Bapak telah pergi

saat kering melanda rumah

kata ibu, bapak pergi mencari sejuk

bersama sembrani yang melayang di seribu malam

gelap yang panjang, yang merenungkan kita

renungan kita akan mengenangnya

tenang dalam putih abadi

telah pergi, untuk kembali bersama

saat semua penggalan hatinya

menyatu bersama bumi



(re-written from original essay)

Kamar, 28 Juli 2002, 04:48 WIB

Keheningan

Di keheningan kita bertemu

Saat bulan menjulur menggapai dalam paras malam

Tak kita mengerti, sepersekian waktu berlari

Dalam keheningan kita memanggil

Bayang harap figur, menghilang

Entah kemana

Dalam keheningan kita terbujur

Kaku tak bergeming, semakin lemah

Tanpa beranjak, terlalu takut

Lalu, dalam keheningan kita bertemu

Saat luka memerih merajam

Dalam kasih tanpa balas

Menghina-dina hati nurani

Dan sepersekian waktu, kita saling menarik

Satu sama lain bermagnet, menggetar kesadaran

Kita tak sendiri, kau aku, semakin sadar

Perlu beranjak, tak dapat diam begitu

Lalu, dalam keheningan kita meraba

Satu sama lain yang membangunkan

Kenyataan yang jujur dari mimpi buruk berkepanjangan

Saat bulan menjulur menggapai,

tersibak terik yang mulai tampil

cepat kita berlari, meninggalkan luka tak perlu itu

dalam getir yang sudah tak perlu lagi

Dalam keheningan itu, kita saling bertanya

Dan menjawabnya sendiri, setiap butir tanya

Yang tak perlu dijelaskan lagi...

Bukan kebodohan, bukan kealpaan

Hanya sadar, telah dipertemukan

Setelah begitu jauh mencari

Hanya sadar dalam sekejap

Perlukah penjelasan lagi?

Dan waktu akan bergulir menyatakan semua

Aku tak sama dengan lainnya

Cukup lihat itu, semoga menenangkan

Semoga menjawab tanya tak perlu

Karena kau sungguh-sungguh tahu jawab itu

Tanpa perlu kujabarkan

Dan keheningan tersenyum

Karena mungkin masih kau tutup hatimu...

Dan keheningan tersenyum

Dalam waktu yang bergulir......


(re-written from original essay)

Kost, 29 April 2003, 01:26

…dan melayang aku

Seberapa besar jatidiri kita dalam sepi?

bukankah sendiri membunuh aura, sekarat

dan semakin terpejam dalam lelah?

Apakah cukup kita temukan nurani dalam pertemuan?

sedalam hayat yang melayang, mengembara di rimba

rimba kasih sayang dan pelukan

Jujur, kutemukan hikayat diri sebenar-benarnya

saat terbang bebas masuki peristirahatanmu

saat rebah tubuh ini di hangatmu yang kekal

kuharap tak kau pungkiri keberadaanku,

semoga tak hilang semua harap ini,

meskipun seribu tanya akan hinggap di berjuta langkah mendatang

meskipun sabar waktu harus kita lewati


(re-written from original essay)

Kost, 14 Agustus 2003

... kita memberi

Kita memberi, tak kenal lelah

Cinta dalam persembahan yang tak berujung

Tanpamu, aku hancur

Jelas, berkeping dalam pilu nurani yang tak terengkuh

Sabdaku memujamu, tak kenal lelah

Ya, berhentilah kau sesaat, lihat aku barang sejenak

Meskipun pikirmu masih bermain di semua tanda tanya

Coba lihat aku, sesaat saja

Jangan gunakan penilaian yang sama dengan masa lalumu

Karena aku tak sama dengan yang lain

Jangan pernah samakan aku

Kita memberi, untuk alasan yang tak perlu lagi dijelaskan

Karena kau sudah rasakan semua diriku

Mengenal aku, dalam seribu ketertutupanku

Dan kita memberi, tak kenal lelah

Karena masa depan kita terpampang dalam

Gambaran khayal, impian yang ingin terwujud


(re-written from original essay)

Kost, 5 Mei 2003, 19:24

Pendar Temaram


Sejauh ini, sudah kulangkahkan

Telapak kaki dalam cerita hidup

Berpendar temaram pun benderang

Merobek tiap guratan kertas takdir yang terbolak-balik

Dengan cepat, secepat pandangan yang berpindah

Sudah cukup jauh perjalanan

Yang menggurat di sekujur kalimat pikir

Aku tak lelap dalam kalut

Pun tak regang dalam tenang

Atau apalah semua arti kata-kata jiwa

Yang membasuh sendi-sendi nikmatnya nafas

Dan menjauhku dari keramaian, sejenak

Untuk temukan keramaian sukma yang bergejolak

Dan menenangkan paras bathin letih ini


(re-written from original essay)

Kebon Jeruk, 1 Mei 2004

Saturday, July 25, 2009

Rebahkan semua…


Kalau saja semua berputar

dalam dimensi yang tak tergubris

tak bisa kubalik semua

waktu yang lenyap, tak hadir.

Namun horizon terhampar

dalam batas-batas yang luas

tak termaktub hati nurani

hanya mengalirlah hidup

terus mengalir

karena tak kita tahu segala

yang akan berpapasan

dengan hidup kita

Saat bintang melejit melaju

menembus kelambu kosmos

peraduan kita

Semoga kita rebahkan diri

pada sosok yang memberi…


(re-written from original essay)

Classroom, April 1st , 2003, 14:33

Jakarta, Januari 17


Aku hidup dalam segurat masa lalu

semua harapan indah tiada pernah usai

menyambut hangatnya genggamanmu

yang tak kulepas dalam mimpi panjang…


Kau ada dalam setiap perjalananku

kau menusuk rindu hati yang terlena

meskipun kau tak lagi hadir disini

meninggalkan semua luka mendalam


Aku berdiri pada kebenaran sendu

kenyataan hidup tiada pernah usai

meskipun kau tak lagi hadir disini

kucoba ciptakan kebahagiaanmu


Dan sesaat, coba mengingat senyummu

yang selalu terangi keresahanku

walau semua semakin membuatku merindu

sepenggal waktu yang hidup dalam sabarku

.....Hidup dalam sabarku


(re-written from original essay)


Kereta, 17 Januari ’99, 20:34

Bersandar di sini

Kutemui kau di ujung harap
saat pertapa membelai sekat
bathinmu terkulai tak menatap
hampa menghunus semakin berat

Tanpa sapa rasa, menjadi semu
duka dalam, mata hati tertegun
kubuka tabir sesak di penghujung
kala air mata itu datang membesuk

Adakah cinta mewakili hidup seluruh
saat terkapar kita semakin meluruh
dapatkah tersalahkan semua tulus
disaat semua kebenaran tanpa jemu

Kusapa kau di dinding panjang
bersandar lunglai di sepi menjenjang
kuminta sedikit waktumu yang berharga
hanya mengucap sebait istikharah

Pilihlah, karena tak semua kau jalani
genggamlah dalam cengkeraman nurani
yang tak berbohong di setiap sepi hati
semoga cinta datang dalam kebenaran hakiki


Kost, 13 April 2003, 02:50

Friday, July 24, 2009

Perginya sang Jiwa


Satu jiwa telah punah
Musnah dalam peraduan awan-awan kelabu
Ironisnya, sang jiwa adalah pesanggrahan abadi
Sumber kekekalan dawai-dawai bijak
Pernah kau katakan;
“akulah bumi, engkaulah surya, bersinarlah!
Agar sinarmu dapat kunikmati, kuresapi penuh
Dalam tiap buluh-buluh nadiku yang bergetar…
…harmonis, seharmonis lidah apimu yang menjalar
silih berganti, sejilat demi sejilat,
karena dianmu tak kenal padam, pun redup!!”
Apa yang bisa kukatakan lagi?
Harmoni itu telah pergi dalam kereta kencana
kencang berlari, berpacu bersama insan-insan citra
Sinarku redup bersama tetes-tetes kehancuran
tidak ada lagi kata abadi, mimpi itu terlalu tinggi
Dan bilamana kau tetap berkeras
biarlah jiwa itu jadi debu
Kepunahan adalah siklus
dan siklus itu tiada berhenti
Biarlah jiwa itu pergi


(re-written from original essay)


Rumah, 10 Januari ‘99


Yakin


Keyakinan kita

yang membuat kita terus berjuang

percaya pada semua yang dijalani

terhadap semua kemunafikan

yang tampil sebagai bentuk lain

dari jati diri alamiah

Keyakinan kita

yang membuat kita tegar

dan tetap percaya


(re-written from original essay)


Ciumbuleuit 155, 2 Maret ’99, 15:53


Sunday, February 22, 2009

Nafasku fana, tak berguna...

Kau memutuskan, dalam pandangan sepihak..
tak memberi apapun waktu, dan kesempatan, sedikit untuk aku berujar
sedikit saja bercerita, memang mungkin sudah terlanjur berkali ini terjadi
tapi apa yang harus kujelaskan tentang ketertutupanku, namun jelas aku tak membagi apapun yang ada dalam perasaan.. tidak ingin itu..
Tapi kau menilaiku tajam, dan sepihak...

Aku memberikan semua, tak bertanya
tak bergumam, meski hanya diam tak terarah
ketertutupan ini, kadang menyakitkan, tak sederhana untuk menemaniku
namun apa yang harus kujelaskan lebih lanjut? toh kau sudah mengucap tajam untuk semuanya
aku tak mampu bicara sedikitpun, meski berkali kucoba

Jika dalam sekejab kau menilaiku begitu hancur dalam perspektif-mu, kumohon jangan..
karena aku tidak berada dalam gambaran yang kau anggap itu
Kehadiranku, jauh lebih tulus dari yang kau bayangkan, jauh...
Coba saja sejenak kau telusuri semua perjalanan panjang,
dan hayati detik-demi-detik yang telah terjalankan,
agar kau tak sesali setiap kata-kata sepihakmu
karena tetap, aku tak akan membalas apapun kata-katamu selain memohon sedikit saja agar kau percaya
meskipun pandangmu sudah tak izinkan kepercayaan datang kembali, aku tak tahu
tapi kumohon, jangan ucapkan itu padaku, karena aku tak begitu,
karena aku tak ingin kau sesali semua kata-kata sepihakmu, saat hidupku berakhir pendek
dalam getir yang tak bertuan
karena aku sudah tak perduli apapun lagi dalam hidupku kini, sudah letih berjalan tak tersenyum

Mungkin saja, jika nafasku tak berpanjang dalam takdir tak berpihak,
aku tetap ikhlaskan semuanya untuk pribadi yang membangunkanku...
meskipun aku tak pernah mau kau menangis dalam ketakberdayaan,
karena sudah tak dapat lagi kau peluk atau kau lihat diriku tertawa...
dan tolonglah, jika aku berkata tak ada artinya lagi nafasku, aku sangat mempertimbangkannya..
karena kulihat kehidupan akhiratku lebih sejuk dalam peluk ayah-ibuku
dan tak ada lagi tiap kemarahan atau cercamu yang tak dapat kujawab, karena tak kau izinkan itu...
Meski aku lihat kau dari atas sana, setiap langkah yang kau jalankan dalam hampa dan sepi,
karena hanya aku satu-satunya yang dapat selami setiap kata-katamu, setiap isak tangismu,
setiap ketidakberdayaanmu...

Dan jika tetap kau tak izinkan aku berbicara
kini dan esok hari...
maka biarlah kesendirian akan fana dalam hati, tanpa senyum dan harap...
dan jangan kau campakkan pribadiku untuk menyerah dalam nafas terakhir yang kutarik panjang,
dalam keengganan hidup lebih panjang lagi...


Dalam sakit kesekian kali
mohon maaf atas segalanya
22 Februari 2009