Kau memutuskan, dalam pandangan sepihak..
tak memberi apapun waktu, dan kesempatan, sedikit untuk aku berujar
sedikit saja bercerita, memang mungkin sudah terlanjur berkali ini terjadi
tapi apa yang harus kujelaskan tentang ketertutupanku, namun jelas aku tak membagi apapun yang ada dalam perasaan.. tidak ingin itu..
Tapi kau menilaiku tajam, dan sepihak...
Aku memberikan semua, tak bertanya
tak bergumam, meski hanya diam tak terarah
ketertutupan ini, kadang menyakitkan, tak sederhana untuk menemaniku
namun apa yang harus kujelaskan lebih lanjut? toh kau sudah mengucap tajam untuk semuanya
aku tak mampu bicara sedikitpun, meski berkali kucoba
Jika dalam sekejab kau menilaiku begitu hancur dalam perspektif-mu, kumohon jangan..
karena aku tidak berada dalam gambaran yang kau anggap itu
Kehadiranku, jauh lebih tulus dari yang kau bayangkan, jauh...
Coba saja sejenak kau telusuri semua perjalanan panjang,
dan hayati detik-demi-detik yang telah terjalankan,
agar kau tak sesali setiap kata-kata sepihakmu
karena tetap, aku tak akan membalas apapun kata-katamu selain memohon sedikit saja agar kau percaya
meskipun pandangmu sudah tak izinkan kepercayaan datang kembali, aku tak tahu
tapi kumohon, jangan ucapkan itu padaku, karena aku tak begitu,
karena aku tak ingin kau sesali semua kata-kata sepihakmu, saat hidupku berakhir pendek
dalam getir yang tak bertuan
karena aku sudah tak perduli apapun lagi dalam hidupku kini, sudah letih berjalan tak tersenyum
Mungkin saja, jika nafasku tak berpanjang dalam takdir tak berpihak,
aku tetap ikhlaskan semuanya untuk pribadi yang membangunkanku...
meskipun aku tak pernah mau kau menangis dalam ketakberdayaan,
karena sudah tak dapat lagi kau peluk atau kau lihat diriku tertawa...
dan tolonglah, jika aku berkata tak ada artinya lagi nafasku, aku sangat mempertimbangkannya..
karena kulihat kehidupan akhiratku lebih sejuk dalam peluk ayah-ibuku
dan tak ada lagi tiap kemarahan atau cercamu yang tak dapat kujawab, karena tak kau izinkan itu...
Meski aku lihat kau dari atas sana, setiap langkah yang kau jalankan dalam hampa dan sepi,
karena hanya aku satu-satunya yang dapat selami setiap kata-katamu, setiap isak tangismu,
setiap ketidakberdayaanmu...
Dan jika tetap kau tak izinkan aku berbicara
kini dan esok hari...
maka biarlah kesendirian akan fana dalam hati, tanpa senyum dan harap...
dan jangan kau campakkan pribadiku untuk menyerah dalam nafas terakhir yang kutarik panjang,
dalam keengganan hidup lebih panjang lagi...
Dalam sakit kesekian kali
mohon maaf atas segalanya
22 Februari 2009