Saturday, July 25, 2009

Rebahkan semua…


Kalau saja semua berputar

dalam dimensi yang tak tergubris

tak bisa kubalik semua

waktu yang lenyap, tak hadir.

Namun horizon terhampar

dalam batas-batas yang luas

tak termaktub hati nurani

hanya mengalirlah hidup

terus mengalir

karena tak kita tahu segala

yang akan berpapasan

dengan hidup kita

Saat bintang melejit melaju

menembus kelambu kosmos

peraduan kita

Semoga kita rebahkan diri

pada sosok yang memberi…


(re-written from original essay)

Classroom, April 1st , 2003, 14:33

Jakarta, Januari 17


Aku hidup dalam segurat masa lalu

semua harapan indah tiada pernah usai

menyambut hangatnya genggamanmu

yang tak kulepas dalam mimpi panjang…


Kau ada dalam setiap perjalananku

kau menusuk rindu hati yang terlena

meskipun kau tak lagi hadir disini

meninggalkan semua luka mendalam


Aku berdiri pada kebenaran sendu

kenyataan hidup tiada pernah usai

meskipun kau tak lagi hadir disini

kucoba ciptakan kebahagiaanmu


Dan sesaat, coba mengingat senyummu

yang selalu terangi keresahanku

walau semua semakin membuatku merindu

sepenggal waktu yang hidup dalam sabarku

.....Hidup dalam sabarku


(re-written from original essay)


Kereta, 17 Januari ’99, 20:34

Bersandar di sini

Kutemui kau di ujung harap
saat pertapa membelai sekat
bathinmu terkulai tak menatap
hampa menghunus semakin berat

Tanpa sapa rasa, menjadi semu
duka dalam, mata hati tertegun
kubuka tabir sesak di penghujung
kala air mata itu datang membesuk

Adakah cinta mewakili hidup seluruh
saat terkapar kita semakin meluruh
dapatkah tersalahkan semua tulus
disaat semua kebenaran tanpa jemu

Kusapa kau di dinding panjang
bersandar lunglai di sepi menjenjang
kuminta sedikit waktumu yang berharga
hanya mengucap sebait istikharah

Pilihlah, karena tak semua kau jalani
genggamlah dalam cengkeraman nurani
yang tak berbohong di setiap sepi hati
semoga cinta datang dalam kebenaran hakiki


Kost, 13 April 2003, 02:50

Friday, July 24, 2009

Perginya sang Jiwa


Satu jiwa telah punah
Musnah dalam peraduan awan-awan kelabu
Ironisnya, sang jiwa adalah pesanggrahan abadi
Sumber kekekalan dawai-dawai bijak
Pernah kau katakan;
“akulah bumi, engkaulah surya, bersinarlah!
Agar sinarmu dapat kunikmati, kuresapi penuh
Dalam tiap buluh-buluh nadiku yang bergetar…
…harmonis, seharmonis lidah apimu yang menjalar
silih berganti, sejilat demi sejilat,
karena dianmu tak kenal padam, pun redup!!”
Apa yang bisa kukatakan lagi?
Harmoni itu telah pergi dalam kereta kencana
kencang berlari, berpacu bersama insan-insan citra
Sinarku redup bersama tetes-tetes kehancuran
tidak ada lagi kata abadi, mimpi itu terlalu tinggi
Dan bilamana kau tetap berkeras
biarlah jiwa itu jadi debu
Kepunahan adalah siklus
dan siklus itu tiada berhenti
Biarlah jiwa itu pergi


(re-written from original essay)


Rumah, 10 Januari ‘99


Yakin


Keyakinan kita

yang membuat kita terus berjuang

percaya pada semua yang dijalani

terhadap semua kemunafikan

yang tampil sebagai bentuk lain

dari jati diri alamiah

Keyakinan kita

yang membuat kita tegar

dan tetap percaya


(re-written from original essay)


Ciumbuleuit 155, 2 Maret ’99, 15:53