Saturday, September 11, 2010

Hujan membebaskan...

Lebaran tahun ini, berjalan bergulir apa adanya
saat pagi di Ied, kakak berucap 'ini lebaran ketiga gak ada mama yah...'
well I hate to hear that, gak pernah pengen dengar kata-kata itu.
Belenggu, kenangan memang membelenggu, gak mengijinkan kita melangkah panjang
Atau mungkin aku memang terlalu terkunci pada masa itu...

Yang pasti, tidak ada rendang, ketupat, atau apapun masakan yang biasanya kita siapkan bertiga dalam 3 hari menjelang lebaran. Tahun ketiga, tetap aku dingin dalam diam.
Dan ini adalah lebaran ketiga juga aku berjalan dengan status ini..
pisah dari kehidupan keluarga yang dibangun, dan diperjuangkan, dan kandas karena jalan yang melebar berbeda..
Lebaran ketiga menjadi father but not a husband
Lebaran ketiga dengan ziarah dan kembang yang kusekar ramai di peraduan
dalam dingin hujan yang perlahan membebaskan

Dan sejujurnya, masih tak mampu tengadah dengan kepercayaan diri yang kuat..
entahlah... jalani saja



Bandung, 11 September 2010
Sudut warung kopi...

Sunday, March 07, 2010

Dingin...


Cuaca saat itu, kabutnya menyelimuti, tebal.

Dan dingin bercerita, seberapa diam kita disana,

mencoba perlahan membuka cerita, dan semakin terceritakan banyak hal

dingin yang mendekap, yang menggetarkan bibir

larut yang semakin panjang, dan kita tetap terduduk berdua

Kadang berbisik dan sedikit menunduk, seolah mengingat banyak hal

Kadang terbahak, dan kadang diam menghela nafas

Dingin saat itu, menceritakan dalam pada kita, betapa kekuatan itu kita pulihkan

Sementara waktu panjang yang bergerak perlahan, seolah semakin cepat saat semua terbagi

saat wajah kita tak lagi kaku dan sungkan, kita semakin melepas banyak beban

Dan apa yang perlu kita simpan dan sembunyikan? Saat kenyamanan memberikan kita sedikit keberanian untuk mencerna perjalanan panjang, atau memberanikan perasaan untuk dikenal dan mungkin sedikit saja dapat dikenang.

Aku dan kau mungkin terkunci pada banyak hal yang tak mudah dijelaskan, tapi beberapa hal seringkali tak perlu dijelaskan panjang lebar dengan kalimat-kalimat panjang dan berantai.

Banyak hal cukup kita mengerti hanya dengan masuk sedalam mungkin pada sebuah pandangan, dan memahami bahwa hidup tak serta-merta memberikan senyum terbaiknya pada kita.

Cukup dengan mengerti, bahwa hidup menampar kita terus-menerus, dan kita adalah pejuang-pejuang yang kukuh pada jejak langkah kita.

Tak menatap balik ke belakang, karena kita hidup untuk detik ini dan selanjutnya.

Dan bukankah kebahagiaan itu adalah mimpi kita yang sekian lama tak tergubris oleh kerumitan sekeliling?

Atau ributnya lalu-lalang kendaraan saat kita melangkah di pinggiran,

Atau samar-samar bayangan yang kita coba kejar tapi tak tersentuh...

Kebahagiaan, ada dalam setiap cerita yang dapat kita bagi bersama,

saat wajah kita tak lagi kaku berekspresi dan memandang satu sama lain.

Aku, dan Kau, tahu persis di batas apa kita melangkah,

dan kita sangat paham bahwa melangkah melewati batas itu, adalah kebahagiaan yang kita bayangkan dan cahaya itu diberikan walau hanya secercah oleh Khalik.

Lalu, kita bertahan dalam dingin yang menusuk, karena kita sangat kenal pada sebuah harapan yang muncul, kita kenal perasaan itu amat-sangat...

Dan semakin lekat bayangan itu menampakkan pada kita, akan seperti apa hidup di depan kita.

Maka sedikit saja, dalam waktu-waktu pendek dimana kita bertemu dan melangkah bersama, mari kita sama-sama melekatkan cerita kita yang semakin padat berarti...

Karena kita semakin melepaskan sebagian diri kita untuk dilengkapi, dan dikuatkan...

Dan niscaya dingin itu semakin bersahabat untuk kita...


Selatan Jakarta,

7 Maret 2010

Sunday, January 31, 2010

Mari kita bicara


Mari, kita mulai semua bicara, dengan berkata perlahan

Bahwa Tuhan punya begitu banyak cara untuk mempertemukan kita

Mereka yang berjalan dengan kosong, atau bertabrakan dengan hidup,

Atau terus mencari dalam kosong, atau sepi di tengah keramaian

Semua selalu ada alasannya, untuk satu atau begitu banyak hal

Seringkali kita tanpa sadar terus berjalan padahal diberikan sebuah cahaya

Bahwa seseorang berjalan dengan ritme yang sama, irama yang sama, atau menunduk sama dengan kita, atau tengadah dengan begitu percayanya

Semuanya atas alasan yang tak mudah kita mengerti, namun nyata dan perlahan kita cernakan semua makna itu

Mari, kita mulai berbagi, dengan saling berdampingan

Dalam waktu-waktu kosong, dimana hilir-mudik keramaian tak valid lagi untuk sebuah kebersamaan, dan kita tinggalkan semua hal

Pergi ke tempat yang tak terganggu, hanya untuk saling berbagi

Cerita-cerita panjang yang tampak tak berakhir, tapi memperkuat diri

Semakin lama, semakin panjang dan tak berakhir, tapi berujung kekuatan yang terbentuk nyata

Dan kita, tak mau aus-kan diri kita atas hal-hal yang tidak alami

Aku dan kamu, kita berbagi untuk sebuah kekuatan yang tak bisa kita jelaskan banyak, hanya bisa kita rasakan dari jalan-jalan panjang yang dingin dan tak kita buka pada siapapun.

Seperti berjalan di bawah ratusan cemara, hutan dingin yang menyegarkan benak kita. Tak peduli suhu yang mendingin, kita tetap tapaki jalan setapak itu dan bergerak perlahan, mengatur nafas untuk terus melangkah dan bercerita.

Aromannya menyegarkan, membuat sebuah ruang ketenangan yang membebaskan kita menjadi diri sendiri. Lalu kita berharap waktu ini tak habis oleh detik jam, atau teori relativitas dapat terjadi bahwa kita bergerak lebih cepat dari waktu seolah sekeliling kita berhenti.

Ceritakanlah tentang dirimu, yang sepi di tengah keramaian, atau lamunan panjang yang menyesakkan pikirmu. Atau saat berada di dalam perjalanan jauh, dalam pesawat yang sedang lepas landas atau mendarat, dan kau daratkan pandangmu keluar bingkai jendela. Sendiri, tak berujar apapun dan hanya memutar begitu banyak kenangan. Kita selalu mencoba keluar dari belenggu, atas nama diri pribadi yang mencoba terbang lepas menjadi diri sendiri. Dan kita terkunci dalam alam yang menamakan dirinya norma, nilai, atau apapun namanya. Dan kita semakin anomaly di dunia yang nyata-nyata sering tak berpihak. Tapi bukankah itu bagian dari kebijaksanaan yang harus kita raih? Dan kebijaksanaan hadir lebih lambat dari ribuan pemahaman pengetahuan yang kita raih. Tak dapat dipercepat, hanya dapat didalami semakin lama waktu berjalan.

Dan aku mendengar. Biarkanlah benakku mendengar, karena kita melibatkan begitu banyak hal yang berputar dalam kalbu dan harus kita lepas, demi tenang yang dapat memeluk kita setelah sekian lama tak tersentuh. Lepaskanlah, dan aku merengkuh dalam setiap getir yang kau lepaskan, setiap peluh yang membasahi langkah, atau setiap kecaman pada diri sendiri atas hal-hal yang tak termengerti. Bukankah Tuhan Maha Baik? Mempertemukan manusia-manusia yang kehilangan tenaga, dengan yang lain untuk menyeimbangkan? Equilibrium terjadi dimanapun, mensejajarkan semangat pun getir. Karena hidup terlalu berharga untuk kita sia-siakan atas hal-hal yang tidak alami. Tapi bukankah kita terlalu sering memetamorfosakan kejujuran atas dalih-dalih artificial dengan maksud menjaga keseimbangan? Lalu, apakah jujur salah? Sama sekali tidak, hanya saja tidak semua hal jujur menyenangkan. Dan semakin dalih itu membelenggu ucap kata dan hati, semakin jauh kita tidak menjadi diri sendiri. Keseimbangan tidak lahir dari hal-hal dalih artificial. Sama sekali tidak. Keseimbangan justru lahir dari hal paling hakiki yang dapat kita utarakan. Dan ceritakanlah, bukankah saat ini kau dapatkan keseimbanganmu kembali dengan membuka ruang-ruang terdalam itu?

Aku menulis, sedikit kata hingga ratusan kata, adalah mencoba menembus batas-batasku yang tak mudah ku-urai, tak mudah aku keluarkan begitu saja. Dan mudah atau tidaknya setiap kata, sangat tergantung bagaimana kau ikut berjalan di setiap cerita. Karena juga begitu banyak hal yang terbagi, karena kau dan banyak hal lain di sekitarku ikut membangunnya. Aku memang mengijinkan begitu banyak hal bermain dengan alam fikirku, karena proses kebijakan tidak berjalan dalam alur yang pendek. Semakin jauh kita melangkah dan mengatur ritme atas banyaknya tamparan-tamparan yang harus kita selesaikan, semakin tenang kita berhadapan dengan hal-hal selanjutnya.

Aku sudah melangkah jauh meninggalkan banyak hal di belakang. Prahara atau api panas, atau malam-malam dingin yang mengunci, atau langkah tak berarah, atau apapun. Tetap aku mencari. Dan aku yakin, kau mencari titik yang sama. Atau sejalan. Atau hanya berbagi informasi agar tak tersesat. Apapun itu, tak mengapa. Karena kita berbagi untuk sebuah kekuatan. Kita menenangkan dan tak mengizinkan jatuh lagi dalam jurang dalam itu sendiri. Kita mengulur sebuah tarikan, yang menjaga keseimbangan kita. Kita bicara dalam bahasa yang akhirnya kita ketemukan setelah sekian lama.

Jadi, mari kita bicara, atas nama ketenangan yang menguatkan diri…



Selatan Jakarta, 31 Januari 2010, 20:44

Lama tak bicara, akhirnya lepas…

Atas nama kopi, malam, dan bintang...

Anak lelaki itu, digandeng bapaknya, berjalan pelan diatas tanah berbatu. Bergelombang, tapi cukup padat untuk menahan beban tiga kendaraan berat yang parkir di area itu. Dua orang mendatangi bapaknya, mengucap salam, dan berdiskusi. Anak lelaki itu hanya memperhatikan, tapi bukan pada tiga orang dewasa yang berbicara bahasa rumit untuk anak seusianya. Si kecil ini hanya melihat seksama pada truck-truck yang diparkir di dekatnya. Dan pelan-pelan ia berjalan mendekati, dan mengamati.

‘De, suka lihat truck?’

Si kecil hapal betul, suara berat bapaknya. Tetap menatap ke truck, ekspresinya terkagum-kagum.

‘Pah, kok bisa yah mobil segede ini?’

Perlahan bapaknya berjongkok di sampingnya, ‘ini, yang namanya truck... mobil gede yang dibuat untuk bawa banyak barang, De...’

‘Kenapa musti bawa banyak barang sih, Pa? Kan bisa pake yang kecil?’

‘Kan kalo bawanya bisa banyak, mobilnya gak usah bolak-balik ngambil muatan terus’

‘Mesinnya gede ya Pah?’

‘Ya pasti gede, kan supaya bisa jalan sambil bawa banyak barang’

‘Yang nyetirnya juga gede?’

‘Tuh, Oom-oom yang disana, yang tadi ngobrol sama Papa’

Si kecil melihat ke arah dua orang dewasa yang tadi berbicara dengan bapaknya.

‘Gede juga ya Pah...?’

‘Bukan badannya yang besar, De... tapi pekerjaannya yang besar’

‘Gak capek Pah, bawa mobil gede gini?’

‘Kalo buat anaknya bisa sekolah, mereka gak pernah capek De... ‘

Si kecil menatap ke bapaknya, yang tersenyum dan mengusap-usap rambut si kecil

‘Makanya, yang rajin yah sekolahnya... malu sama anak-anaknya Oom-oom itu yang tetap rajin sekolah, padahal jarang ketemu bapaknya...’

‘kenapa jarang Pah..?’

‘Kan bapaknya kerja bawa truck ini, supaya anaknya bisa sekolah...’

Si kecil mengangguk, dan tetap terkagum-kagum pada mobil besar dihadapannya.

~~~~~~~~~~~~~

Kadang, kita luput membaca arah mata angin

Atas tujuan yang mana, atau gerakan kita yang seolah tak mudah terpahami

Meskipun bintang berbaik hati mengarahkan, kita tak pandai membacanya

Namun hal fundamental, tertanam kuat dari bertahun-tahun lamanya

Sadar atau tidak, kita berputar dalam fondasi itu,

meskipun dalam bentuk-bentuk baru yang ber-evolusi...

~~~~~~~~~~~~~

Si kecil panik, uang ongkos angkutan pulang sekolahnya, habis karena dia kebanyakan jajan hari itu. Tinggal tersisa beberapa koin, dan ia berjinjit dengan susah-payah di depan telepon umum sekolahnya. Berhasil, satu koin masuk. Nomor yang dituju jelas, nomor kantor bapaknya.

‘Pa, minta tolong dong, uang ongkos aku habis... aku gak bisa pulang ke rumah...’

‘Kamu dimana De sekarang?’ Suara bapaknya terdengar jelas, tenang bergeming.

‘Masih di sekolah Pa... mustinya uangnya cukup, tapi...’

‘Kepake untuk jajan yah, De?’

‘Iya Pa...’

‘Kan kamu tahu, harusnya kamu sisakan untuk ongkos angkot pulang kan?’

‘Iya Pa... Aku lupa...’

‘Kamu tahu kan jalan pulang ke rumah, De? Kamu tetap punya kaki, tangan, badan, dan tenaga kamu sendiri. Kamu lupa sisakan uang untuk ongkos kamu, sekarang kamu pulang ke rumah jalan kaki, bisa kan?’

‘....tapi aku takut Pa...’

‘Gak usah takut... Baca doa dulu, dan Allah nanti nemenin kamu...’

‘Kalo aku gak kuat Pa?...’ Si kecil mulai panik...

‘Kan udah baca doa, berarti udah minta tolong sama Allah, nanti pasti dikasih kekuatan... Ade harus yakin Ade bisa, pasti dikasih kekuatan sama Allah... Berani kan?’

‘...iya deh Pa, aku coba... makasih ya Pa...’

Telepon ditutup, dan si kecil mulai komat-kamit, baca doa sederhana yang dia tahu. Secepat itu, kepanikan menjalar, tapi mulutnya tetap komat-kamit dengan doa-nya. Dan akhirnya, dia melangkah.

Hari itu, terik amat sangat, khas panas tropis di tengah hari. Ia jalan pelan, kadang berhenti sejenak menarik nafas. Tidak perduli mobil lalu-lalang, atau apapun ancaman-ancaman di jalan, dia mencoba tutup semua ketakutannya. Hampir dua jam berselang, saat ia melihat rumah dan berjalan makin cepat. Makin tersenyum, meskipun badannya protes keras karena lelah amat-sangat. Akhirnya ia tiba di rumah. Mengetuk pintu, dan pintu dibuka oleh Bapak-Ibunya. Menangis, ibunya memeluk si kecil. Bapaknya tersenyum lebar, dan ikut memeluk si kecil, dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

‘Apa yang tadi Papa bilang? Kamu pasti bisa kan...?’

‘Iya Pa, Ma... seneng banget aku bisa sampe rumah...’

‘Usaha siapa tadi, De...?’

‘Iya yah Ma, aku sendiri yang jalan sejauh itu...’

Bapaknya memeluknya lagi, dan berujar ‘hanya kamu yang bisa bawa diri kamu maju, De, percaya kalau kamu bisa, percaya pada kemampuan kamu... Allah gak akan membantu kita kalau kita gak mau bantu diri kita sendiri, De...’

Dan siang itu, si kecil begitu menikmati kebersamaan dengan Bapak-Ibu dan Kakaknya... Plus menu baru dalam pikirannya, belajar dan percaya bahwa dia harus bisa merubah dirinya untuk maju.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Semesta tidak memelukmu dalam tawa terbahak saat sedih, pun tidak meninggalkan sebersit sinisme dalam kekalutan...

Semesta-mu merangkul kesendirian dalam senyum, yang bijaknya selalu merengkuh hati terdalam, tak membiarkan sungai air mata menggenang, tak akan...

Semesta-mu merengkuhmu dalam kehangatan yang tak kau duga, dia yang tak kau bayangkan, selalu ada dalam butuhmu meski kau tak melihatnya dalam...

Dia selalu ada untukmu, atas nama cinta yang diam tak banyak bersuara

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lelaki itu ingat, bagaimana hidup menamparnya begitu keras. Duduk subuh dinihari, menutup rakaat terakhir dengan salam, diatas sajadah itu ia mengejamkan mata sejenak. Lorong rumah sakit tempat ia berlari kencang dulu, dulu sekali, saat bahkan seragam sekolah masih dikenakannya. Terlambat, tidak cukup waktu untuknya. Waktu berbulan-bulanpun tidak cukup meyakinkan, dan ia mendengar bisik lirih yang larasnya menembang pelan di telinganya. ‘Terimakasih, untuk semua yang sudah diberikan. Hanya ini jalan satu-satunya agar semuanya terobati, mengurangi pedih. Jaga diri kamu baik-baik, jaga impian kamu, kejar terus supaya jadi nyata.. aku lihat koq dari atas…’

Ucapan terakhirnya, Maha Besar Allah, terdengar menyakitkan dan ironis. Tapi lelaki itu masih terpejam. Lembaran-lembaran berputar cepat. Mundur ke waktu sebelumnya, atau maju ke masa akhir. Ia habiskan subuh ini dengan berkurangnya waktu di hidup, pertambahan masa, dan kalimat yang membunuh subuhnya. Hari ini semua berubah, dan akan berubah keras di hari-hari esok. Entah bagaimana pulih, tapi demi masa, semua tidak akan pernah sama lagi.

Lelaki itu ingat, dan terpejam. Dulu, kini, dan esok, semuanya mungkin sudah terlewati. Meskipun dia tak tahu bagaimana merangkak bangkit, tapi waktu memang menyembuhkan. Perlahan, waktu berbicara banyak hal. Tak sadar, subuh ini, ia sedikit mengulum senyum pada waktu yang begitu hebatnya menjadi tabib bagi therapy hidupnya. Untuk setiap bulan Mei dan Agustus, ia habiskan waktu berbincang di Tanah Kusir, mengangkat kepala ke langit dan tersenyum karena keduanya pasti melihatnya dari atas sana. Atau bulan desember saat ia luangkan waktu sejenak ke bandung hanya untuk nyekar bunga-bunga di tumpukan tanah itu. Tapi ia tahu pasti, waktu tidak meninggalkannya, dan serpihan itu terlekat lagi perlahan meski belum sempurna.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kau boleh menutupnya rapat, sekuat-kuatnya kau genggam tudung perasaanmu untuk tak tergapai, tersentuh siapapun...

Namun mungkin perlahan kau tak sadarkan, bahwa kau mulai sisipkan sedikit demi sedikit ruang perasaan itu, kau mulai terlindungi oleh seorang, nyaman-mu kau rasakan meski dalam bawah sadar...

Tapi kau mencinta kembali, akhirnya setelah kosong, pada figur yang hadir perlahan-lahan dan mengisi tawamu, meredakan tangismu...

Kau tak sadar tapi kau mencinta kembali, bangkit akhirnya, meski kau tak sadar sayang itu merengkuhmu lagi,

seorang yang sahaja tak banyak kata-kata muluk, tapi murni memeluk perasaanmu...

Ceritakanlah, jika kau bertemu perasaan yang bergetar lembut, pelan tapi pasti, apakah kau akan hindarkan diri dari rangkulannya, atau kau izinkan dirimu masuk jauh untuk ditenangkan dalam nyaman?

Bintangmu, sejatinya terangkan malam-malam panjangmu dalam tidur pulas, merangkul mimpi-mimpi yang kau kejar…

Dan lepaskanlah dirimu untuk dipeluk atas nama kasih sayang, yang menenangkan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lelaki itu, diam memegang lembaran surat pemutusan hubungan kerja. Ia berhadapan dengan dua lelaki yang sudah cukup berumur dihadapannya. Kasus mereka berat. Perkelahian di area kerja, tidak pernah ditolerir. Dan prinsipnya begitu jelas baginya, ia tak mungkin melanjutkan kedua orang di hadapannya untuk terus mencari nafkah di perusahaan ini. Tapi memberhentikan orang, bukan perkara mudah. Memberhentikan, berarti memutus rantai pencaharian bagi keluarga mereka. Dan kasus seperti ini tidak pernah mudah.

‘tolong pak, saya masih mau kerja disini. Saya salah pak, kami berdua emosi dan mengaku salah… tapi mohon kebijakan bapak untuk tidak memberhentikan kami… saya harus kerja dimana lagi pak?’

Rekan lainnya sudah meneteskan air mata. Berusaha menggali sedikit ruang belas-kasihan agar surat itu tidak ditandatangani. Lelaki itu menatap lekat-lekat ke kedua bapak-bapak di hadapannya. Tetap diam.

‘kalau saya tidak memutuskan, apa kata ratusan teman kalian yang lain? Kalian tahu resiko lebih besar di teman-teman kalian? Konflik fisik ternyata diperbolehkan, dan selanjutnya pengelolaan kita hanya jadi seperti hukum rimba…’

Kedua bapak di hadapannya, akhirnya menangis bebas. Tetap memelas, dengan begitu banyak alasan. Lelaki itu berdoa sejenak, dan mengambil pena.

‘silahkan ditandatangani, pak…’

Kedua bapak itu menatapnya dengan kaget, dan air mata semakin deras.

‘Pak, saya harus lindungi teman-teman bapak yang lain, supaya tidak jatuh di kesalahan yang sama… ini lebih besar dari permasalahan bapak-bapak, dan saya harap bapak bisa mengerti…’

Kedua lembar itu, ditarik oleh mereka berdua. Lelaki itu bisa melihat, air mata mereka menetes ke lembaran itu. Bergetar, dua lembar surat itu ditandatangani oleh mereka. Lelaki itu menarik kembali kedua lembar, dan mengambil pena dan mulai menandatangani bagian surat yang mewakili perusahaan.

‘Terimakasih pak. Tetap banyak doa dan ikhtiar yah pak, agar tetap diberi jalan oleh Allah…’

Ia berdiri, dan menghampiri kedua bapak yang masih menunduk terisak. Refleksnya saat ini mewakili individu pribadi kembali, bukan wakil entitas bisnis bernama perusahaan terbatas. Perlahan, ia merangkul bahu kedua bapak itu, dan berbisik kata-kata maaf yang bergetar pelan. Ia membalikkan badan, dan berjalan meninggalkan meja itu. Menyerahkan kedua lembar surat itu ke asistennya tanpa berbicara apapun, dan turun ke lantai dasar menuju musholla.

Sujudnya terasa begitu kosong, doanya begitu hampa. Nyaris lupa apa yang harus dia ucapkan dihadapan Khalik. Sore itu, ia putuskan mencari seorang pengemudi senior yang sudah bertahun-tahun berdedikasi sebagai pengemudi truck, di perusahaannya. Ia akrab dengan bapak yang satu ini, dan ia hanya ingin bercerita dan berbagi.

Ia bertemu bapak senior itu, di warung samping dekat parkiran truck. Dan seperti hari-hari biasanya, ia memesan secangkir kopi dan menyapa bapak senior itu dengan hangat. Bapak itu selalu ramah, dan murah senyum dengan gaya santun khas priyayi Jawa. Perbincangan berjalan mengalir, dan sampai pada saat bapak itu bertanya dengan ramah…

‘pak, sedang ada beban berat yah Pak..? Mungkin bisa dibagi, supaya ndak terlalu berat pak…’ gaya bicaranya khas Jawa Timuran, ditambah aksen kebapakan yang tenang.

Lelaki itu diam. Beberapa menit, mereka berdua hanya mendengar deru truck yang keluar-masuk di lahan parkir truck itu.

‘Pak, sudah berapa lama bapak bawa truck? Nggak capek pak, kerja seperti ini? Katanya dulu bapak pernah cerita, orang tua dulu punya sawah. Kenapa bapak nggak melanjutkan aja pak jadi petani? Koq malah belok jadi bawa truck?’ Lelaki itu bertanya santun ke pria yang sudah berumur tapi tetap tegap itu.

‘Ah, pak, jalan hidup orang itu beda-beda pak. Dulu, orang tua saya jadi petani, masih enak pak jadi petani. Wong cilik seperti kita, masih bisa manen padi trus kita jual dengan harga layak. Sekarang-sekarang ini, wis ndak iso pak, lebih susah.. kita habis manen padi, musti jual ke pengumpul, nanti pengumpulnya yang jual lagi ke pedagang besar. Kita dapetnya kecil pak, syukur-syukur bisa sisakan sedikit untuk ditabung. Kadang malah tetap berat. Jadi saya waktu seusia bapak ini, saya ingin coba kerja lain yang jujur, tapi masih bisa nabung pak.’

‘Tapi kerja kan dimana-mana gak ada yang gampang pak?’

‘Betul pak, itu dia makanya saya percaya, jalan hidup orang itu beda lho pak. Saya ambil jalan jadi bawa truck, beda jauh sama bapak saya dulu, tapi bukannya lebih ringan pak. Sama-sama berat koq…’

‘Tapi? Ada yang beda yah pak..?’

‘Yah, bedanya yah jalan-jalan pak, bisa lihat dunia luar, bisa punya wawasan, beda kalau di kampung saya cuma lihat sawah yang itu-itu aja… lha wong saya ini waktu muda suka sekali tantangan pak…’

‘Tapi bapak jadi jarang toh ketemu keluarga pak? Wong jalan-jalan ae koyo ngono?’

‘Hahaha, bapakku iki iso ae pak… Ndak opo-opo pak, memang kerjaannya yah begini ini.. saya dua puluh tahun lebih pak jadi supir, mulai malah jadi kernet pak, masangin kek-ban supaya truck-nya ndak mundur di tanjakan, trus bongkar-bongkar barang, trus pelan-pelan belajar bawa truck, trus bisa dan ada tabungan sedikit, saya ambil SIM truck pak. Tapi saya ya percaya aja pak, kalau kerja lurus yah pasti dikasih jalan terus sama Gusti Allah… pernah dikeroyok rampok, sampe diborgol, dibuang ke hutan, tetep aja pak saya bisa lepas karena dilindungi Gusti Allah… alhamdulillah pak, sekarang ini meskipun saya cuman sebulan dua kali tiga kali ketemu keluarga, tapi anak-anak saya bisa sekolah lebih tinggi dari saya pak… Yang sulung aja sudah masuk kuliah lho pak’

Bapak itu tersenyum, menyeruput kopinya, dan menghembuskan nafas lega dengan nikmat kopi sore hari itu.

‘Pak, Bapak nggak pernah capek pak? Pasti berat sekali kan kerja seperti bapak?’

Bapak berumur itu menatap lelaki muda di sampingnya, dan kembali tersenyum seperti figur bapak ke anaknya. Dengan santai, dia merangkul bahu lelaki muda itu..

‘Nggak pernah capek pak, wong aku kerja untuk anak-anakku koq, bukan untuk diri aku sendiri… kalo sudah bicara anak, pasti kita gak pernah capek pak’

Lelaki muda itu tersentak. Gemetar, ia putar waktu mundur jauh sekali ke masa sangat awal dari kehidupannya. Masih kabur, tapi ia mencoba terus.

‘Makasih yah pak, untuk kata-katanya. Anak-anak bapak pasti bangga kalau bapaknya laki-laki hebat’ ujar lelaki itu. Ia berdiri, bersalaman dengan bapak berumur itu.

‘Doa saya untuk bapak dan semua keluarga bapak. Jaga kesehatan lho pak, jangan ngebut-ngebut kalau bawa truck’ ujar lelaki muda itu sambil tersenyum.

Bapak berumur itu tertawa, ‘mohon doanya pak, doanya untuk anak-anak saya yah pak, semoga bisa pintar seperti bapak dan jadi pemimpin yang ngemong ke semua staff-nya’.

Lelaki itu menunduk, ‘saya bukan siapa-siapa pak… saya cuma lokomotif yang menggerakkan kereta.. kalau kereta nggak ada gerbongnya, nggak ada penumpang, lokomotifnya kan gak berfungsi pak’

Lelaki itu pamit dan berbalik, berjalan menjauh saat tiba-tiba ia mendengar bapak berumur itu berkata cukup keras..

‘Pak, gerbong dan penumpang selalu ada pak… tanpa lokomotif, gerbong dan penumpangnya nggak bakal sampai tujuan, pak… Kalau gak sampai tujuan, anak saya dan anaknya teman-teman lain gak bakal bisa sekolah tinggi-tinggi pak… Lokomotifnya harus tetap kuat yah pak. Doa saya untuk bapak, semoga selalu dilindungi Gusti Allah, diberi kesehatan dan kekuatan, supaya lokomotif bapak bisa jalan terus pak.’

Lelaki itu tersentak kembali. Ia berbalik badan dan menatap bapak berumur itu. Bapak itu berdiri kira-kira lima meter di hadapannya, lalu menunduk menghormat. Lelaki itu menundukkan badannya, menghormat lebih tunduk pada bapak berumur itu. Lalu berbalik arah, dan berjalan kembali ke ruangannya.

Duduk di ruangannya, ia putar kembali memori awal hidupnya. Ia sudah tidak tahu lagi, kemana mainan truck kayu yang dibuatkan oleh ayahnya dulu. Tapi ia masih ingat dengan tajam, saat mereka berdua berbincang di hadapan tiga truck ayahnya. Dan ia masih ingat dengan jelas kalimat yang keluar dari suara berat ayahnya…

‘Kalo buat anaknya bisa sekolah, mereka gak pernah capek De... ‘

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Berhenti sejenak, aku lihat langit, berbintang tak seramai biasa, tapi tetap cahayanya menunjukkan arah...

Mungkin kita bisa tersungkur, terjerembab, pun berbentur keras, dalam wujud realitas tak akrab...

Tapi perihal cinta, kita selalu tafakur-kan hati...

Membayangkan sejenak saja menggenggamnya, memberi sedikit senyum pada bathin...

Semoga waktuku masih panjang untuk menatapmu, dalam deru panjang debu beterbangan atau ruas jalan tak berujung...

Sedikit saja izinkan aku menggenggam halus..., dan kau rasakan waktu yang bersahabat pada seluruh hidupmu...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Barat Jakarta, 24 Oktober 2009, 03:39 dinihari

‘Kalau punya mimpi & cita-cita, bangun dari tidur, bangkit dari tempat tidur, dan kejar mimpi itu jadi kenyataan... kalau terus tidur, mimpi itu tidak pernah jadi kenyataan...’

Sahaja


Hidup kita, kalau dipikir-pikir, tidak pernah memberi pelajaran dalam hal-hal rumit

Selalu saja hal-hal sederhana yang memberi kita gambaran, yang kalau kita tarik begitu panjang, akan memunculkan beberapa hal yang lebih dalam…

Dan aku menikmati hidup dalam bentuk-bentuk sederhana

Dalam langkah ikhlas, dan ikhtiar untuk lebih baik setiap hari di depan

Beberapa waktu lalu, seseorang menyapa di blog, atas tulisanku

Kalimat sederhana yang muncul dari private message, hanya menanyakan kabar

Dan aku bahkan tidak tahu siapa dia, hanya kalimat sederhana

Dan memang, dunia kita menjadi semakin unik saat kita hanya berhubungan dari kata-kata di layar monitor.. cukup unik untuk memberi aku sedikit waktu untuk berpikir, akan membalas apa..

Dan aku membalas ramah, dengan kalimat sederhana saja ‘kabarku baik, bagaimana dengan kamu’

Beberapa orang membaca tulisanku dengan teliti, dan memberi komentar

Salah satunya, orang ini, yang rupanya membaca dengan cukup teliti satu demi satu, dan menanyakan kedalaman topik yang aku bicarakan..

Sejujurnya, aku tidak menulis dengan dalam, aku hanya merasakan dengan tenang

Karena ketenangan yang akhirnya mengalirkan beberapa kata-kata, lalu memanjang menjadi kalimat, dan memanjang lebih jauh dalam paragraph

Aku tidak mau merancang paragraph, tidak.. cukup merasakan apa yang terjadi, apa yang terasa, karena jujur dalam menulis rasanya menjadi nilai yang makin mahal di tengah-tengah absurditas dan dunia yang semakin artificial

Tapi okelah, aku bukan mau membicarakan itu.. tapi lebih pada kata-katanya yang sederhana; ‘menulislah terus dengan sahaja seperti ini.. dan tahun-tahun ke depan kamu bisa melihat banyak hal dari situ..’

Saat ini, aku duduk di sudut warung kopi ini, membaca tulisan itu sekali lagi, dan mulai menulis lagi.. Ternyata banyak hal yang bermain dalam pikiranku, yang sebetulnya bisa tampil begitu sederhananya dalam bentuk-bentuk tulisan.. dan menulis dengan jujur, ternyata menjadi hal yang sulit saat semua hal sederhana itu bertumpuk satu sama lain

Menulis, adalah berbagi.. berbagi banyak hal, tentang hal-hal yang terasa dan bisa jadi pengalaman nyata.. Lama sekali aku tidak mampu menulis dengan jujur, setidaknya saat aku tahu titik terkuat saat menulis itu justru datang saat aku kehilangan, moment bertahun-tahun lalu yang masih sering membuatku diam. Tapi toh, nyatanya, selalu ada moment seperti itu dalam hidup kita…

Sahaja, adalah konsep kuat yang hadir saat ini.. sudut ruangan ini, dengan musiknya yang tenang, memberi aku kesederhanaan berpikir, untuk menulis dengan ‘mengalir’. Dan sekarang, aku mulai menulis lagi, kata demi kata, memanjang menjadi kalimat, memanjang menjadi paragraph… santai dan tak rumit…

Kopi ini, memang tetap jadi teman di saat seperti ini, teman sejati yang memberi pelajaran panjang bahwa sahaja adalah hal terkuat dalam kalimat-kalimatku, untuk tampil jujur apa adanya..



Selatan Jakarta, 18 Oktober 2009, 20:27

Thanks for reminding me that writing is still a part of my life…

Memenuhi seluruh pikiran..


Sudah cukup lama, aku tidak membaca novel dengan kandungan sastra cukup padat, mungkin karena waktu yang cukup tersita panjang dalam ketekunan kerja atau tumpukan tugas yang harus diselesaikan. Padahal, dulu, pengajar musikku pernah berucap ‘satu-satunya hal yang bias membantu kita lepas dari ikatan ilmiah, itu seni.. musik, atau buku, selalu punya kejutan untuk kita maknakan..’

Lalu, aku ke toko buku, baru saja hari minggu kemarin.. Mengarah ke bagian novel sastra. Dan buku ini muncul di depan mata, dengan sampul putih dan siluet berwarna abstrak tipis untuk figure wanita. The Zahir. Ini judul novel karya Paulo Coelho yang sangat akrab di benakku, yang mengundang aku untuk melihat sejenak, apakah ada diantara deretan buku ini yang plastik pembungkusnya terbuka. Ternyata ada. Ini kebiasaanku, membuka halaman-halaman awal dari sebuah novel untuk melihat ‘kandungan’ di dalamnya. Setelah lembar pertama – yang tentu saja dimulai dengan tulisan saduran dari undang-undang hak cipta – lembar ketiga ada sebuah saduran indah dari Alkitab, Lukas 15:4. Aku seorang Muslim, yang dibesarkan ditengah toleransi tinggi antar agama. Jadi bagiku, kalimat dari kitab suci manapun selalu punya makna yang putih dan punya pelajaran hidup.

Lalu, berlanjut ke lembar ke empat, sebuah puisi dalam kalimat-kalimat Inggris, tentang Ithaca. Ini belum begitu mengundang rasa penasaranku, hingga sampai ke lembar kelima. Sedikit saduran dari lembar tersebut “…Menurut pengarang Jorge Luis Borges, ide mengenai Zahir berasal dari tradisi Islam dan diperkirakan muncul pada sekitar abad delapan belas. Zahir, dalam bahasa Arab, berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita, sampai kita tak bias berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bias dianggap sebagai tingkat kesucian atau kegilaan. (Faubourg Saint-Perez, Encyclopaedia of the Fantastic – 1953)”.

Lembar ini, menggugah penasaranku. “Memenuhi seluruh pikiran kita”, adalah konsep yang tentu tak mudah dibiarkan begitu saja. Hanya dalam hitungan detik, aku putuskan mengambil buku ini secepatnya. Malam itu, aku mulai lembar demi lembar buku ini. Hingga saat aku menulis ini pun, aku belum menuntaskan buku ini. Tapi satu hal yang aku sepakati dari dalam hati, buku ini seperti magnet yang menarik aku terus ke dalamnya, untuk membuka halamannya bukan tanpa makna tapi mengartikan dalam-dalam setiap cerita di paragraf-nya yang padat. Zahir berbicara tentang kehilangan yang tak mudah dimengerti, lelaki yang ditinggalkan tanpa alasan, yang membuatnya tenggelam dalam pertanyaan tak terjawab, menjadi gila dalam batas-batas kesadaran yang tak terjelaskan kata-kata. Dalam pencarian akan jawaban yang memenuhi seluruh benak pikirannya, lelaki itu mendapati dirinya membuka seluruh lembaran hidup satu persatu, masuk dalam antagonisme kepribadian masa lalu untuk merangkai seberapa banyak kesalahan langkah yang telah ia buat. Apa yang selama bertahun-tahun ia yakini sebagai langkah membangun keindahan justru runtuh dalam ketidaksempurnaan hanya dalam sekejap waktu.

Tapi okelah, bercerita tentang isi buku ini, bukan hal yang menyenangkan disini, karena aku tahu pengalaman itu akan berbeda-beda untuk setiap orang. Aku lebih memilih untuk membiarkan siapapun memaknakan buku ini sesuai dengan cerita mereka masing-masing. Dan buku ini – tentu saja – mengijinkan kita untuk menginterpretasikan secara bebas makna-makna tersirat lainnya. Hal yang lebih menarik tentu saja saat aku sampai di bagian ‘pencarian’ yang ada dalam buku ini.

Kita mencari, dan terus-menerus mencari. Mungkin pencarian, termasuk salah satu aktivitas yang secara tidak sadar selalu kita jalankan. Dan hal yang unik dari pikiran kita, adalah kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang berseberangan, jawaban yang bertentangan dengan kondisi indah yang kita artikan sebagai ‘kesempurnaan’ di hidup kita. Kita menganggap sebuah tahapan merupakan hasil dari seluruh kerja keras kita, dan kita mengagung-agungkan daya upaya kita yang berhasil mengantar kita pada tahap itu. Tapi kita lupa atas esensi daya upaya itu, sebuah kesederhanaan dari rumitnya ribuan hal yang tersambung dalam hidup kita. Hidup rumit? Tidak ada yang menolak kalimat ini. Tapi apakah penjelasan atas beragam hal, sebetulnya semakin sederhana saat kita menemukan esensi pribadi kita? Aku sendiri mencoba merangkai dan menyambungkan banyak hal, begitu banyak hal yang terjadi sebelumnya. Hingga aku sampai pada satu titik dimana penjelasan hidup kita sejatinya begitu sederhana, sangat bersahaja.

Tidak butuh kalimat-kalimat rumit untuk mendefinisikan mimpi dan cita-cita. Meskipun tidak ada kata mudah untuk mencapainya. Tapi esensinya tetap, mimpi atau cita-cita atau apapun itu, adalah sebuah adrenalin yang membuat kita tetap berlari. Tercapai atau tidak? Ini yang membutuhkan pemahaman sederhana bahwa hidup kita secara hakiki bukan milik kita, tapi ada dalam putaran yang terikat dengan individu-individu lain. Kita mencari tahap yang lebih tinggi sebagai pencapaian diri, dan seringkali kita lupa esensinya lagi bahwa semakin tinggi pencapaian kita, semakin besar peranan kita untuk sekitar hidup kita. Tidak percaya? Cobalah bayangkan kondisi tersebut sesuai cerita kamu masing-masing.

Hidup, tidak mengartikan diri sendiri begitu saja. Ada proses panjang yang sering membuat kita lelah, atau terlelap, atau silau. Artikanlah sesuai kebutuhan kamu. Tapi nyatanya, semakin rumit kita berpikir, semakin sederhana jawaban atas kerumitan itu. Paradoks? Mungkin. Tapi aku menemukan satu hal tentang kesederhanaan dalam seluruh tujuan hidup dan kecepatan gerak yang sangat dinamis. Bertahan hidup, adalah bertahan untuk terus memiliki peran kita bagi orang lain. Hidup kita milik kita sendiri? Mungkin benar, dan beberapa tahun lalu saat individualisme dan kebebasan masih memeluk aku erat-erat, aku ada di paham ini. Tapi waktu berlalu, dan momen-momen itu tertinggal di belakang, bertransformasi dalam wujud baru. Persona kita, terikat dengan ruang hidup lain, individu lain, dan harapan-harapan lain. Dan kita sampai pada kesimpulan sederhana: hidup kita bukan milik kita sendiri, tapi kita diberi ruang oleh Sang Khalik untuk bisa berperan satu sama lain, sesehat-sehatnya kita sebagai individu bernurani.

Kita mencari dan mengejar kesempurnaan, padahal kita lupa bahwa keindahan ada pada ketidaksempurnaan kita sebagai manusia. Ketidaksempurnaan yang menunjukkan bahwa kita selalu tunduk pada lelah pencarian, yang akhirnya akan bangkit lagi karena adrenalin yang bernama mimpi. Siklus ini terus bergerak, berputar. Ketidaksempurnaan, menunjukkan pada kita betapa kesederhanaan itu begitu indah. Dan jika kita seringkali memprotes berbagai hal yang tidak sesuai dengan idealisme kita, cobalah melihat sedikit pada mata hati kita, bukankah hal-hal yang tidak sempurna itu yang mewarnai hidup kita lebih beragam dan indah?

Dan dari satu buku, hanya dari satu buku ini, aku belajar kembali mengapa pikiran kita bisa dipenuhi begitu banyak hal yang tak mudah aku lepaskan. Dan menyadari hal ini, mengantar pada retrospeksi kesekian kali: penghargaan hati pada kesederhanaan, kebersahajaan, yang selalu abadi dalam nama kemanusiaan…


Barat Jakarta, 11 Agustus 2009

Untuk hal-hal yang memenuhi seluruh pikiranku