Sunday, January 31, 2010

Mari kita bicara


Mari, kita mulai semua bicara, dengan berkata perlahan

Bahwa Tuhan punya begitu banyak cara untuk mempertemukan kita

Mereka yang berjalan dengan kosong, atau bertabrakan dengan hidup,

Atau terus mencari dalam kosong, atau sepi di tengah keramaian

Semua selalu ada alasannya, untuk satu atau begitu banyak hal

Seringkali kita tanpa sadar terus berjalan padahal diberikan sebuah cahaya

Bahwa seseorang berjalan dengan ritme yang sama, irama yang sama, atau menunduk sama dengan kita, atau tengadah dengan begitu percayanya

Semuanya atas alasan yang tak mudah kita mengerti, namun nyata dan perlahan kita cernakan semua makna itu

Mari, kita mulai berbagi, dengan saling berdampingan

Dalam waktu-waktu kosong, dimana hilir-mudik keramaian tak valid lagi untuk sebuah kebersamaan, dan kita tinggalkan semua hal

Pergi ke tempat yang tak terganggu, hanya untuk saling berbagi

Cerita-cerita panjang yang tampak tak berakhir, tapi memperkuat diri

Semakin lama, semakin panjang dan tak berakhir, tapi berujung kekuatan yang terbentuk nyata

Dan kita, tak mau aus-kan diri kita atas hal-hal yang tidak alami

Aku dan kamu, kita berbagi untuk sebuah kekuatan yang tak bisa kita jelaskan banyak, hanya bisa kita rasakan dari jalan-jalan panjang yang dingin dan tak kita buka pada siapapun.

Seperti berjalan di bawah ratusan cemara, hutan dingin yang menyegarkan benak kita. Tak peduli suhu yang mendingin, kita tetap tapaki jalan setapak itu dan bergerak perlahan, mengatur nafas untuk terus melangkah dan bercerita.

Aromannya menyegarkan, membuat sebuah ruang ketenangan yang membebaskan kita menjadi diri sendiri. Lalu kita berharap waktu ini tak habis oleh detik jam, atau teori relativitas dapat terjadi bahwa kita bergerak lebih cepat dari waktu seolah sekeliling kita berhenti.

Ceritakanlah tentang dirimu, yang sepi di tengah keramaian, atau lamunan panjang yang menyesakkan pikirmu. Atau saat berada di dalam perjalanan jauh, dalam pesawat yang sedang lepas landas atau mendarat, dan kau daratkan pandangmu keluar bingkai jendela. Sendiri, tak berujar apapun dan hanya memutar begitu banyak kenangan. Kita selalu mencoba keluar dari belenggu, atas nama diri pribadi yang mencoba terbang lepas menjadi diri sendiri. Dan kita terkunci dalam alam yang menamakan dirinya norma, nilai, atau apapun namanya. Dan kita semakin anomaly di dunia yang nyata-nyata sering tak berpihak. Tapi bukankah itu bagian dari kebijaksanaan yang harus kita raih? Dan kebijaksanaan hadir lebih lambat dari ribuan pemahaman pengetahuan yang kita raih. Tak dapat dipercepat, hanya dapat didalami semakin lama waktu berjalan.

Dan aku mendengar. Biarkanlah benakku mendengar, karena kita melibatkan begitu banyak hal yang berputar dalam kalbu dan harus kita lepas, demi tenang yang dapat memeluk kita setelah sekian lama tak tersentuh. Lepaskanlah, dan aku merengkuh dalam setiap getir yang kau lepaskan, setiap peluh yang membasahi langkah, atau setiap kecaman pada diri sendiri atas hal-hal yang tak termengerti. Bukankah Tuhan Maha Baik? Mempertemukan manusia-manusia yang kehilangan tenaga, dengan yang lain untuk menyeimbangkan? Equilibrium terjadi dimanapun, mensejajarkan semangat pun getir. Karena hidup terlalu berharga untuk kita sia-siakan atas hal-hal yang tidak alami. Tapi bukankah kita terlalu sering memetamorfosakan kejujuran atas dalih-dalih artificial dengan maksud menjaga keseimbangan? Lalu, apakah jujur salah? Sama sekali tidak, hanya saja tidak semua hal jujur menyenangkan. Dan semakin dalih itu membelenggu ucap kata dan hati, semakin jauh kita tidak menjadi diri sendiri. Keseimbangan tidak lahir dari hal-hal dalih artificial. Sama sekali tidak. Keseimbangan justru lahir dari hal paling hakiki yang dapat kita utarakan. Dan ceritakanlah, bukankah saat ini kau dapatkan keseimbanganmu kembali dengan membuka ruang-ruang terdalam itu?

Aku menulis, sedikit kata hingga ratusan kata, adalah mencoba menembus batas-batasku yang tak mudah ku-urai, tak mudah aku keluarkan begitu saja. Dan mudah atau tidaknya setiap kata, sangat tergantung bagaimana kau ikut berjalan di setiap cerita. Karena juga begitu banyak hal yang terbagi, karena kau dan banyak hal lain di sekitarku ikut membangunnya. Aku memang mengijinkan begitu banyak hal bermain dengan alam fikirku, karena proses kebijakan tidak berjalan dalam alur yang pendek. Semakin jauh kita melangkah dan mengatur ritme atas banyaknya tamparan-tamparan yang harus kita selesaikan, semakin tenang kita berhadapan dengan hal-hal selanjutnya.

Aku sudah melangkah jauh meninggalkan banyak hal di belakang. Prahara atau api panas, atau malam-malam dingin yang mengunci, atau langkah tak berarah, atau apapun. Tetap aku mencari. Dan aku yakin, kau mencari titik yang sama. Atau sejalan. Atau hanya berbagi informasi agar tak tersesat. Apapun itu, tak mengapa. Karena kita berbagi untuk sebuah kekuatan. Kita menenangkan dan tak mengizinkan jatuh lagi dalam jurang dalam itu sendiri. Kita mengulur sebuah tarikan, yang menjaga keseimbangan kita. Kita bicara dalam bahasa yang akhirnya kita ketemukan setelah sekian lama.

Jadi, mari kita bicara, atas nama ketenangan yang menguatkan diri…



Selatan Jakarta, 31 Januari 2010, 20:44

Lama tak bicara, akhirnya lepas…

No comments: