Sudah cukup lama, aku tidak membaca novel dengan kandungan sastra cukup padat, mungkin karena waktu yang cukup tersita panjang dalam ketekunan kerja atau tumpukan tugas yang harus diselesaikan. Padahal, dulu, pengajar musikku pernah berucap ‘satu-satunya hal yang bias membantu kita lepas dari ikatan ilmiah, itu seni.. musik, atau buku, selalu punya kejutan untuk kita maknakan..’
Lalu, aku ke toko buku, baru saja hari minggu kemarin.. Mengarah ke bagian novel sastra. Dan buku ini muncul di depan mata, dengan sampul putih dan siluet berwarna abstrak tipis untuk figure wanita. The Zahir. Ini judul novel karya Paulo Coelho yang sangat akrab di benakku, yang mengundang aku untuk melihat sejenak, apakah ada diantara deretan buku ini yang plastik pembungkusnya terbuka. Ternyata ada. Ini kebiasaanku, membuka halaman-halaman awal dari sebuah novel untuk melihat ‘kandungan’ di dalamnya. Setelah lembar pertama – yang tentu saja dimulai dengan tulisan saduran dari undang-undang hak cipta – lembar ketiga ada sebuah saduran indah dari Alkitab, Lukas 15:4. Aku seorang Muslim, yang dibesarkan ditengah toleransi tinggi antar agama. Jadi bagiku, kalimat dari kitab suci manapun selalu punya makna yang putih dan punya pelajaran hidup.
Lalu, berlanjut ke lembar ke empat, sebuah puisi dalam kalimat-kalimat Inggris, tentang Ithaca. Ini belum begitu mengundang rasa penasaranku, hingga sampai ke lembar kelima. Sedikit saduran dari lembar tersebut “…Menurut pengarang Jorge Luis Borges, ide mengenai Zahir berasal dari tradisi Islam dan diperkirakan muncul pada sekitar abad delapan belas. Zahir, dalam bahasa Arab, berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita, sampai kita tak bias berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bias dianggap sebagai tingkat kesucian atau kegilaan. (Faubourg Saint-Perez, Encyclopaedia of the Fantastic – 1953)”.
Lembar ini, menggugah penasaranku. “Memenuhi seluruh pikiran kita”, adalah konsep yang tentu tak mudah dibiarkan begitu saja. Hanya dalam hitungan detik, aku putuskan mengambil buku ini secepatnya. Malam itu, aku mulai lembar demi lembar buku ini. Hingga saat aku menulis ini pun, aku belum menuntaskan buku ini. Tapi satu hal yang aku sepakati dari dalam hati, buku ini seperti magnet yang menarik aku terus ke dalamnya, untuk membuka halamannya bukan tanpa makna tapi mengartikan dalam-dalam setiap cerita di paragraf-nya yang padat. Zahir berbicara tentang kehilangan yang tak mudah dimengerti, lelaki yang ditinggalkan tanpa alasan, yang membuatnya tenggelam dalam pertanyaan tak terjawab, menjadi gila dalam batas-batas kesadaran yang tak terjelaskan kata-kata. Dalam pencarian akan jawaban yang memenuhi seluruh benak pikirannya, lelaki itu mendapati dirinya membuka seluruh lembaran hidup satu persatu, masuk dalam antagonisme kepribadian masa lalu untuk merangkai seberapa banyak kesalahan langkah yang telah ia buat. Apa yang selama bertahun-tahun ia yakini sebagai langkah membangun keindahan justru runtuh dalam ketidaksempurnaan hanya dalam sekejap waktu.
Tapi okelah, bercerita tentang isi buku ini, bukan hal yang menyenangkan disini, karena aku tahu pengalaman itu akan berbeda-beda untuk setiap orang. Aku lebih memilih untuk membiarkan siapapun memaknakan buku ini sesuai dengan cerita mereka masing-masing. Dan buku ini – tentu saja – mengijinkan kita untuk menginterpretasikan secara bebas makna-makna tersirat lainnya. Hal yang lebih menarik tentu saja saat aku sampai di bagian ‘pencarian’ yang ada dalam buku ini.
Kita mencari, dan terus-menerus mencari. Mungkin pencarian, termasuk salah satu aktivitas yang secara tidak sadar selalu kita jalankan. Dan hal yang unik dari pikiran kita, adalah kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang berseberangan, jawaban yang bertentangan dengan kondisi indah yang kita artikan sebagai ‘kesempurnaan’ di hidup kita. Kita menganggap sebuah tahapan merupakan hasil dari seluruh kerja keras kita, dan kita mengagung-agungkan daya upaya kita yang berhasil mengantar kita pada tahap itu. Tapi kita lupa atas esensi daya upaya itu, sebuah kesederhanaan dari rumitnya ribuan hal yang tersambung dalam hidup kita. Hidup rumit? Tidak ada yang menolak kalimat ini. Tapi apakah penjelasan atas beragam hal, sebetulnya semakin sederhana saat kita menemukan esensi pribadi kita? Aku sendiri mencoba merangkai dan menyambungkan banyak hal, begitu banyak hal yang terjadi sebelumnya. Hingga aku sampai pada satu titik dimana penjelasan hidup kita sejatinya begitu sederhana, sangat bersahaja.
Tidak butuh kalimat-kalimat rumit untuk mendefinisikan mimpi dan cita-cita. Meskipun tidak ada kata mudah untuk mencapainya. Tapi esensinya tetap, mimpi atau cita-cita atau apapun itu, adalah sebuah adrenalin yang membuat kita tetap berlari. Tercapai atau tidak? Ini yang membutuhkan pemahaman sederhana bahwa hidup kita secara hakiki bukan milik kita, tapi ada dalam putaran yang terikat dengan individu-individu lain. Kita mencari tahap yang lebih tinggi sebagai pencapaian diri, dan seringkali kita lupa esensinya lagi bahwa semakin tinggi pencapaian kita, semakin besar peranan kita untuk sekitar hidup kita. Tidak percaya? Cobalah bayangkan kondisi tersebut sesuai cerita kamu masing-masing.
Hidup, tidak mengartikan diri sendiri begitu saja. Ada proses panjang yang sering membuat kita lelah, atau terlelap, atau silau. Artikanlah sesuai kebutuhan kamu. Tapi nyatanya, semakin rumit kita berpikir, semakin sederhana jawaban atas kerumitan itu. Paradoks? Mungkin. Tapi aku menemukan satu hal tentang kesederhanaan dalam seluruh tujuan hidup dan kecepatan gerak yang sangat dinamis. Bertahan hidup, adalah bertahan untuk terus memiliki peran kita bagi orang lain. Hidup kita milik kita sendiri? Mungkin benar, dan beberapa tahun lalu saat individualisme dan kebebasan masih memeluk aku erat-erat, aku ada di paham ini. Tapi waktu berlalu, dan momen-momen itu tertinggal di belakang, bertransformasi dalam wujud baru. Persona kita, terikat dengan ruang hidup lain, individu lain, dan harapan-harapan lain. Dan kita sampai pada kesimpulan sederhana: hidup kita bukan milik kita sendiri, tapi kita diberi ruang oleh Sang Khalik untuk bisa berperan satu sama lain, sesehat-sehatnya kita sebagai individu bernurani.
Kita mencari dan mengejar kesempurnaan, padahal kita lupa bahwa keindahan ada pada ketidaksempurnaan kita sebagai manusia. Ketidaksempurnaan yang menunjukkan bahwa kita selalu tunduk pada lelah pencarian, yang akhirnya akan bangkit lagi karena adrenalin yang bernama mimpi. Siklus ini terus bergerak, berputar. Ketidaksempurnaan, menunjukkan pada kita betapa kesederhanaan itu begitu indah. Dan jika kita seringkali memprotes berbagai hal yang tidak sesuai dengan idealisme kita, cobalah melihat sedikit pada mata hati kita, bukankah hal-hal yang tidak sempurna itu yang mewarnai hidup kita lebih beragam dan indah?
Dan dari satu buku, hanya dari satu buku ini, aku belajar kembali mengapa pikiran kita bisa dipenuhi begitu banyak hal yang tak mudah aku lepaskan. Dan menyadari hal ini, mengantar pada retrospeksi kesekian kali: penghargaan hati pada kesederhanaan, kebersahajaan, yang selalu abadi dalam nama kemanusiaan…
Barat Jakarta, 11 Agustus 2009
Untuk hal-hal yang memenuhi seluruh pikiranku
No comments:
Post a Comment