Sunday, January 15, 2012

Terimakasih, atas kehancuran...


Minuman itu, jernih dalam gelas mengembun..
Dingin, kuputar jari di bibir gelas
Tatapan kosong, tak menghangatkan cairan itu, dari luar,
Tetap segelas yang panas di dalam..

Aku menenggak perlahan, seteguk, hingga aku lupa berhitung..
Berapa banyaknya merasuk pelan, meruntuhkan kesadaran..
Panas menggelegak, mengembalikan begitu banyak ingatan, sakit, pedih, berbagi dalam senyum...

Aku lupa siapa aku..

Terimakasih, atas hari panjang yang pahit berakhir..
Terimakasih, setelah lembaran itu lumat berserak..
Terimakasih, atas perasaan yang dingin tak berujung
Terimakasih, atas kehancuran dalam tak terjabarkan,...

Terimakasih...


Barat Jakarta, 20 April 2009...


Basahkan jalan setapak


Di pinggiran jalan, sempatkan bernafas..
Menghargai tiap volume, oksigen yang memenuh pembuluh,
seolah terlahir kembali.
Dalam malam gerimisnya mulai menggenang, biarkan tubuh terangkul basah...
Mendingin, tapi memecah penat..

Semua menggigit, gerimis ini mencabik
Tapi sejuknya sesaat mendinginkan jantung berdetak memburu letih
Aku tahu, cukup kupahami di jalan mana kini aku berdiam
Di pinggirannya, aku sapa malam yang gerimisnya perlahan memeluk lembut
Karena semakin terbiasa, semakin terkuatkan...

Dalam malam, di pinggiran jalan ini,
Kusapa kau dalam doa.
Memuja Tuhan Raja Semesta dalam lirik.
Berharap Ia memeluk kita dalam satu yang menguatkan.
Dan syairmu mengalun lembut di pendengaranku.
Tak sedikitpun kulepas kata demi kata, bait yang menenangkan.
Halus berbicara, tak hilang dalam hiruk-pikuk teriknya siang, atau kesendirian fana tengah malam.

Kumohon, berbagilah sejenak.
Ceritakanlah meskipun dalam diam, kumohon berbagilah...
Karena kita sadari, semua perjalanan hidup tak seindah terbayang.
Tapi kita tahu, dari segenggam mimpi kita tumbuhkan,
Ada masing-masing kita di tengah genggaman itu...
Yang memohon lirih, tetaplah bersamaku...


Pinggiran jalan, Surabaya,
18 Februari 2010


Bulan dan lingkarannya


Bulan malam ini, agak temaram
Saat kulihat bergerak perlahan, dan tak menyilaukan, hanya menerangi.
Saat angin memeluk malam kosong, kesendirianku tak berujar apapun.
Hanya menatap polos lekat ke atas, tak menyisakan sedikit jejak dalam suara, kata-kata.

Aku berjalan pelan, saat malam dalam langkah, tetap berjalan.
Karena saat semua diam, kesendirian berbisik perlahan.
Dan sepenggal waktu semakin hidup dalam sabar. Tak berujar, berucap.
Hanya menyisakan kebisuan tertahan, dalam.
Semoga, semua bisa terceritakan lagi, bisa lepas dalam angin yang semilir menyejukkan.


Jakarta, medio Maret 2009


Pusara berdua


Jika ada sejenak waktu untuk kita,
mungkinkah kita legakan nafas sesaat?
Karena hidup berputar cepat,
mengeringkan dahaga untuk berucap patahan kata.

Yang ternyata, ucapku tertinggal banyak di leher, tak mampu keluar.
Hanya dalam malam yang kuhabiskan, melangkah pelan, tak bergumam.

Khayalan akan masa, mendapati diriku bergeming tak terseret, sedangkan mata air mata menggenang mendalam.

Lalu untuk apakah, saat ini kita rebahkan nafas? Jika waktu lampau tak menyisakan senyuman?
Jika ada sejenak waktu bagi aku, nafasku akan kubagi penuh dalam pelukan, cerita panjang, ceria atau sedih, apapun..

Yang meski hanya dalam sedikit waktu, aku yakin dapat menguatkan langkah yang kau jejaki...
Karena kehidupan, selalu bercerita utk kedua kalinya, untuk hidup yang terlahir kembali.



Barat Jakarta, 21 Februari 2010, dinihari.
Berjalan malam, selalu membuka renungan...


Selepas Hujan


Udara kini selepas hujan, mengundangku sedikit berjalan pelan. Memutari beberapa ruas jalan, menghirup bagaimana cairan ini membasahi bumi, tanah yang kupijak. Aura alamnya mengental dalam benakku, sembari hilir-mudik kendaraan tetap menderu tak tergubris.

Selepas hujan, aku resapkan dinginnya yang menusuk pori. Membiarkan tusukan udara itu memejamkan lamunan. Seperti saat-saat melangkah dibawah cemara yang berembun, atau setiap jalan kecil menyusuri sungai. Aku tak melepas keindahanmu, terlebih karena semua menancap kuat dalam gambar-gambar sempurna ingatan ini.

Dan ceritakanlah, kita berbagi, dalam waktu seperti selepas hujan. Dalam ruang yang terpisah jarak, rerintikan air yang menetes dari kaki langit. Kita mendengar suara kita, berbicara satu sama lain dengan bahasa yang hanya kita pahami. Tak mengapa, karena cinta punya keharmonisan kata yang tak perlu diurai panjang dengan beragam rumus. Ceritakanlah, berbagi penggalan hidup keseharian. Entah itu menebarkan senyum dan tawa lepas, atau menunduk diri untuk merenung dalam. Setidaknya, cerita-cerita itu menyatukan dan melegakan.

Selepas hujan, malam ini. Ingatanku tentangmu begitu lekat, kental dalam sayup-sayup suara tawa lepasmu yang tulus. Untuk saat-saat yang menguat di hati kecil, dan genggaman hangat saat dingin menyeruak. Dan tetap aku disamping, seperti yang kau lihat apa adanya, mendengarkan dan berbagi kisah...


re-write from original essay
Bandung, Desember 1996


Good person...


Orang baik, hakikatnya akan tetap begitu...
Dia tahu batasan yang jelas, dia tahu setiap konsekuensi atas kesalahan, dia melangkah, dan dalam kesalahan dia tundukkan kepala & bangun kembali....

Seorang dalam kebaikannya, boleh tenggelam di kesendirian, boleh tenggelam dalam jatuhnya tak berakhir, tapi ikhtiarnya tak pernah selesai, tak pernah berakhir...

Orang baik, kembali merenung, bangkit...
Dia tahu akan kembali dalam fitrahnya, menjadi cahaya untuk sekelilingnya...

Orang baik, semoga kita semua menuju kesana...


Selatan Jakarta, 26 Maret 2009, 00:17..
Semoga setiap jatuh, kita akan teringat...