Udara kini selepas hujan, mengundangku sedikit berjalan pelan. Memutari beberapa ruas jalan, menghirup bagaimana cairan ini membasahi bumi, tanah yang kupijak. Aura alamnya mengental dalam benakku, sembari hilir-mudik kendaraan tetap menderu tak tergubris.
Selepas hujan, aku resapkan dinginnya yang menusuk pori. Membiarkan tusukan udara itu memejamkan lamunan. Seperti saat-saat melangkah dibawah cemara yang berembun, atau setiap jalan kecil menyusuri sungai. Aku tak melepas keindahanmu, terlebih karena semua menancap kuat dalam gambar-gambar sempurna ingatan ini.
Dan ceritakanlah, kita berbagi, dalam waktu seperti selepas hujan. Dalam ruang yang terpisah jarak, rerintikan air yang menetes dari kaki langit. Kita mendengar suara kita, berbicara satu sama lain dengan bahasa yang hanya kita pahami. Tak mengapa, karena cinta punya keharmonisan kata yang tak perlu diurai panjang dengan beragam rumus. Ceritakanlah, berbagi penggalan hidup keseharian. Entah itu menebarkan senyum dan tawa lepas, atau menunduk diri untuk merenung dalam. Setidaknya, cerita-cerita itu menyatukan dan melegakan.
Selepas hujan, malam ini. Ingatanku tentangmu begitu lekat, kental dalam sayup-sayup suara tawa lepasmu yang tulus. Untuk saat-saat yang menguat di hati kecil, dan genggaman hangat saat dingin menyeruak. Dan tetap aku disamping, seperti yang kau lihat apa adanya, mendengarkan dan berbagi kisah...
Selepas hujan, aku resapkan dinginnya yang menusuk pori. Membiarkan tusukan udara itu memejamkan lamunan. Seperti saat-saat melangkah dibawah cemara yang berembun, atau setiap jalan kecil menyusuri sungai. Aku tak melepas keindahanmu, terlebih karena semua menancap kuat dalam gambar-gambar sempurna ingatan ini.
Dan ceritakanlah, kita berbagi, dalam waktu seperti selepas hujan. Dalam ruang yang terpisah jarak, rerintikan air yang menetes dari kaki langit. Kita mendengar suara kita, berbicara satu sama lain dengan bahasa yang hanya kita pahami. Tak mengapa, karena cinta punya keharmonisan kata yang tak perlu diurai panjang dengan beragam rumus. Ceritakanlah, berbagi penggalan hidup keseharian. Entah itu menebarkan senyum dan tawa lepas, atau menunduk diri untuk merenung dalam. Setidaknya, cerita-cerita itu menyatukan dan melegakan.
Selepas hujan, malam ini. Ingatanku tentangmu begitu lekat, kental dalam sayup-sayup suara tawa lepasmu yang tulus. Untuk saat-saat yang menguat di hati kecil, dan genggaman hangat saat dingin menyeruak. Dan tetap aku disamping, seperti yang kau lihat apa adanya, mendengarkan dan berbagi kisah...
re-write from original essay
Bandung, Desember 1996
No comments:
Post a Comment