Aku lupa, bagaimana cara bersikap
Dengan baik, dengan tenang, dengan kokoh, dengan senyum
Saat waktu ini datang menghampiri, saat yang menguji seluruh kesabaran
Aku lupa, dan mungkin aku lupa dalam satu jam lebih di siang yang terik,
Aku tetap harus duduk tenang dan terpaku pada ingatan,
Sementara suara-suara itu begitu dekat dan akrab di telinga…
Tetap aku begitu sulitnya untuk bersikap…
Sementara, sesudahnya, aku ingat begitu lekat
Betapa semua tulus ini bersemayam di perasaanku
Awal yang selalu kuanggap, dapat kulalui dengan tenang tanpa gelisah…
Pun nyatanya, perasaan melumpuhkan nalar terkuatku, dan membuatku menunduk dalam
Aku ambruk dalam gelisah yang menerawang, panjang
Pada siang yang teriknya memeluhkan butir resah, atau memanaskan seluruh emosi
Terpanggang dalam kondisi yang satir, ujung-ke-ujung yang tak berujung
Keberanian menggerakkanku untuk mengikuti
Panas suhu memang tak mendukung, toh aku ingin larut dalam situasi ini
Mencoba seberapa besar ketabahan bisa menjagaku, dalam duduk tenangku
Hidangkanlah pemandangan itu, dan aku akan meresapi seluruh kekuatan diri
Mengumpulkan semuanya, dan berkonsentrasi untuk bersabar
Aku tetap nyaris kehilangan akal sehat dalam beberapa waktu di panasnya siang ini
Ternyata, tak semudah yang kubayangkan
Aku larut dalam perputaran yang tak berpihak padaku
Dan sayup-sayup aku tetap mendengarnya, dalam canda dan tawa yang merebak,
Sekali pun aku akhirnya sendiri di tengah keramaian ini
Aku sudah jalankan itu, aku hadapi itu, dengan seluruh kekuatan yang kukumpulkan
Tak semudah yang terbayang, toh aku ingin mencobanya
Dan satir yang terasa, lebih cenderung aku memilih menenggak kopi pahit
Tapi bagaimanapun, hidup menunjukkan kebesarannya, lagi-lagi
Lingkaran ini yang ingin kujalani, kondisi ini yang ingin kutembus
Dan perlahan, bibirku mencoba mengeja kata-demi-kata
Aku bertahan dalam tulusku yang kupilih
Aku bertahan dalam badai-badai panjang tak berkesudahan
Aku menenangkan amarah diri, yang ingin berteriak dalam lubuk hati
Betapa aku tak berkesempatan untuk ikut menggenggam, karena tak mungkin itu terjadi
Di siang yang teriknya menyiksa hingga aura bawah sadarku
Sedikit saja, coba, sedikit saja, jelaskan & ajarkan aku, bagaimana aku menghadapi kondisi ini
Disaat aku tak berhak menuntut apapun, meminta sedikit dari ruangmu
Coba katakana dalam sebait kalimat sederhana, bagaimana aku menakar kehidupanku
Di hadapan bayanganmu yang mendekat namun tak tergenggam?
Dalam panasnya semesta waktu yang singkat pun menghancurkan?
Aku memang akan bercerita tentang banyak hal, tak ada satu titik pun yang tertutupi
Namun seperti apakah kalimat yang seharusnya keluar dari bibirku, saat aku terkunci pada terik yang semakin menggerah, dalam kesempatan pendek yang mengajarkanku akan banyak kesabaran?
Ataukah nilai sebuah tulus & ikhlas, begitu luar biasa akan dicoba dan dicambuk, bahkan oleh singkat waktu yang membakar logika & akal sehat perasaan?
Mohon, ucapkan sedikit kalimat sederhana, agar aku bisa pahami mengapa emosi ini merebak begitu kuatnya dalam siang yang begitu terik….
Aku mohon, dengan seluruh nafas yang mewakili hidupku, aku mohon….
Demi sedikit waktu yang kumiliki, di pagi hari yang pendek, dan sore hari yang menelusuri perjalanan…
Aku mohon, jelaskan dengan sedikit kalimat bijak yang menenangkan, bagaimana caraku memahami semuanya….
Selatan Jakarta, 1 Juli 2008
Hidup laki-laki yang makin 'anomalyst'...
No comments:
Post a Comment