Anak lelaki itu, digandeng bapaknya, berjalan pelan diatas tanah berbatu. Bergelombang, tapi cukup padat untuk menahan beban tiga kendaraan berat yang parkir di area itu. Dua orang mendatangi bapaknya, mengucap salam, dan berdiskusi. Anak lelaki itu hanya memperhatikan, tapi bukan pada tiga orang dewasa yang berbicara bahasa rumit untuk anak seusianya. Si kecil ini hanya melihat seksama pada truck-truck yang diparkir di dekatnya. Dan pelan-pelan ia berjalan mendekati, dan mengamati.
‘De, suka lihat truck?’
Si kecil hapal betul, suara berat bapaknya. Tetap menatap ke truck, ekspresinya terkagum-kagum.
‘Pah, kok bisa yah mobil segede ini?’
Perlahan bapaknya berjongkok di sampingnya, ‘ini, yang namanya truck... mobil gede yang dibuat untuk bawa banyak barang, De...’
‘Kenapa musti bawa banyak barang sih, Pa? Kan bisa pake yang kecil?’
‘Kan kalo bawanya bisa banyak, mobilnya gak usah bolak-balik ngambil muatan terus’
‘Mesinnya gede ya Pah?’
‘Ya pasti gede, kan supaya bisa jalan sambil bawa banyak barang’
‘Yang nyetirnya juga gede?’
‘Tuh, Oom-oom yang disana, yang tadi ngobrol sama Papa’
Si kecil melihat ke arah dua orang dewasa yang tadi berbicara dengan bapaknya.
‘Gede juga ya Pah...?’
‘Bukan badannya yang besar, De... tapi pekerjaannya yang besar’
‘Gak capek Pah, bawa mobil gede gini?’
‘Kalo buat anaknya bisa sekolah, mereka gak pernah capek De... ‘
Si kecil menatap ke bapaknya, yang tersenyum dan mengusap-usap rambut si kecil
‘Makanya, yang rajin yah sekolahnya... malu sama anak-anaknya Oom-oom itu yang tetap rajin sekolah, padahal jarang ketemu bapaknya...’
‘kenapa jarang Pah..?’
‘Kan bapaknya kerja bawa truck ini, supaya anaknya bisa sekolah...’
Si kecil mengangguk, dan tetap terkagum-kagum pada mobil besar dihadapannya.
~~~~~~~~~~~~~
Kadang, kita luput membaca arah mata angin
Atas tujuan yang mana, atau gerakan kita yang seolah tak mudah terpahami
Meskipun bintang berbaik hati mengarahkan, kita tak pandai membacanya
Namun hal fundamental, tertanam kuat dari bertahun-tahun lamanya
Sadar atau tidak, kita berputar dalam fondasi itu,
meskipun dalam bentuk-bentuk baru yang ber-evolusi...
~~~~~~~~~~~~~
Si kecil panik, uang ongkos angkutan pulang sekolahnya, habis karena dia kebanyakan jajan hari itu. Tinggal tersisa beberapa koin, dan ia berjinjit dengan susah-payah di depan telepon umum sekolahnya. Berhasil, satu koin masuk. Nomor yang dituju jelas, nomor kantor bapaknya.
‘Pa, minta tolong dong, uang ongkos aku habis... aku gak bisa pulang ke rumah...’
‘Kamu dimana De sekarang?’ Suara bapaknya terdengar jelas, tenang bergeming.
‘Masih di sekolah Pa... mustinya uangnya cukup, tapi...’
‘Kepake untuk jajan yah, De?’
‘Iya Pa...’
‘Kan kamu tahu, harusnya kamu sisakan untuk ongkos angkot pulang kan?’
‘Iya Pa... Aku lupa...’
‘Kamu tahu kan jalan pulang ke rumah, De? Kamu tetap punya kaki, tangan, badan, dan tenaga kamu sendiri. Kamu lupa sisakan uang untuk ongkos kamu, sekarang kamu pulang ke rumah jalan kaki, bisa kan?’
‘....tapi aku takut Pa...’
‘Gak usah takut... Baca doa dulu, dan Allah nanti nemenin kamu...’
‘Kalo aku gak kuat Pa?...’ Si kecil mulai panik...
‘Kan udah baca doa, berarti udah minta tolong sama Allah, nanti pasti dikasih kekuatan... Ade harus yakin Ade bisa, pasti dikasih kekuatan sama Allah... Berani kan?’
‘...iya deh Pa, aku coba... makasih ya Pa...’
Telepon ditutup, dan si kecil mulai komat-kamit, baca doa sederhana yang dia tahu. Secepat itu, kepanikan menjalar, tapi mulutnya tetap komat-kamit dengan doa-nya. Dan akhirnya, dia melangkah.
Hari itu, terik amat sangat, khas panas tropis di tengah hari. Ia jalan pelan, kadang berhenti sejenak menarik nafas. Tidak perduli mobil lalu-lalang, atau apapun ancaman-ancaman di jalan, dia mencoba tutup semua ketakutannya. Hampir dua jam berselang, saat ia melihat rumah dan berjalan makin cepat. Makin tersenyum, meskipun badannya protes keras karena lelah amat-sangat. Akhirnya ia tiba di rumah. Mengetuk pintu, dan pintu dibuka oleh Bapak-Ibunya. Menangis, ibunya memeluk si kecil. Bapaknya tersenyum lebar, dan ikut memeluk si kecil, dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
‘Apa yang tadi Papa bilang? Kamu pasti bisa kan...?’
‘Iya Pa, Ma... seneng banget aku bisa sampe rumah...’
‘Usaha siapa tadi, De...?’
‘Iya yah Ma, aku sendiri yang jalan sejauh itu...’
Bapaknya memeluknya lagi, dan berujar ‘hanya kamu yang bisa bawa diri kamu maju, De, percaya kalau kamu bisa, percaya pada kemampuan kamu... Allah gak akan membantu kita kalau kita gak mau bantu diri kita sendiri, De...’
Dan siang itu, si kecil begitu menikmati kebersamaan dengan Bapak-Ibu dan Kakaknya... Plus menu baru dalam pikirannya, belajar dan percaya bahwa dia harus bisa merubah dirinya untuk maju.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semesta tidak memelukmu dalam tawa terbahak saat sedih, pun tidak meninggalkan sebersit sinisme dalam kekalutan...
Semesta-mu merangkul kesendirian dalam senyum, yang bijaknya selalu merengkuh hati terdalam, tak membiarkan sungai air mata menggenang, tak akan...
Semesta-mu merengkuhmu dalam kehangatan yang tak kau duga, dia yang tak kau bayangkan, selalu ada dalam butuhmu meski kau tak melihatnya dalam...
Dia selalu ada untukmu, atas nama cinta yang diam tak banyak bersuara
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Lelaki itu ingat, bagaimana hidup menamparnya begitu keras. Duduk subuh dinihari, menutup rakaat terakhir dengan salam, diatas sajadah itu ia mengejamkan mata sejenak. Lorong rumah sakit tempat ia berlari kencang dulu, dulu sekali, saat bahkan seragam sekolah masih dikenakannya. Terlambat, tidak cukup waktu untuknya. Waktu berbulan-bulanpun tidak cukup meyakinkan, dan ia mendengar bisik lirih yang larasnya menembang pelan di telinganya. ‘Terimakasih, untuk semua yang sudah diberikan. Hanya ini jalan satu-satunya agar semuanya terobati, mengurangi pedih. Jaga diri kamu baik-baik, jaga impian kamu, kejar terus supaya jadi nyata.. aku lihat koq dari atas…’
Ucapan terakhirnya, Maha Besar Allah, terdengar menyakitkan dan ironis. Tapi lelaki itu masih terpejam. Lembaran-lembaran berputar cepat. Mundur ke waktu sebelumnya, atau maju ke masa akhir. Ia habiskan subuh ini dengan berkurangnya waktu di hidup, pertambahan masa, dan kalimat yang membunuh subuhnya. Hari ini semua berubah, dan akan berubah keras di hari-hari esok. Entah bagaimana pulih, tapi demi masa, semua tidak akan pernah sama lagi.
Lelaki itu ingat, dan terpejam. Dulu, kini, dan esok, semuanya mungkin sudah terlewati. Meskipun dia tak tahu bagaimana merangkak bangkit, tapi waktu memang menyembuhkan. Perlahan, waktu berbicara banyak hal. Tak sadar, subuh ini, ia sedikit mengulum senyum pada waktu yang begitu hebatnya menjadi tabib bagi therapy hidupnya. Untuk setiap bulan Mei dan Agustus, ia habiskan waktu berbincang di Tanah Kusir, mengangkat kepala ke langit dan tersenyum karena keduanya pasti melihatnya dari atas sana. Atau bulan desember saat ia luangkan waktu sejenak ke bandung hanya untuk nyekar bunga-bunga di tumpukan tanah itu. Tapi ia tahu pasti, waktu tidak meninggalkannya, dan serpihan itu terlekat lagi perlahan meski belum sempurna.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kau boleh menutupnya rapat, sekuat-kuatnya kau genggam tudung perasaanmu untuk tak tergapai, tersentuh siapapun...
Namun mungkin perlahan kau tak sadarkan, bahwa kau mulai sisipkan sedikit demi sedikit ruang perasaan itu, kau mulai terlindungi oleh seorang, nyaman-mu kau rasakan meski dalam bawah sadar...
Tapi kau mencinta kembali, akhirnya setelah kosong, pada figur yang hadir perlahan-lahan dan mengisi tawamu, meredakan tangismu...
Kau tak sadar tapi kau mencinta kembali, bangkit akhirnya, meski kau tak sadar sayang itu merengkuhmu lagi,
seorang yang sahaja tak banyak kata-kata muluk, tapi murni memeluk perasaanmu...
Ceritakanlah, jika kau bertemu perasaan yang bergetar lembut, pelan tapi pasti, apakah kau akan hindarkan diri dari rangkulannya, atau kau izinkan dirimu masuk jauh untuk ditenangkan dalam nyaman?
Bintangmu, sejatinya terangkan malam-malam panjangmu dalam tidur pulas, merangkul mimpi-mimpi yang kau kejar…
Dan lepaskanlah dirimu untuk dipeluk atas nama kasih sayang, yang menenangkan
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Lelaki itu, diam memegang lembaran surat pemutusan hubungan kerja. Ia berhadapan dengan dua lelaki yang sudah cukup berumur dihadapannya. Kasus mereka berat. Perkelahian di area kerja, tidak pernah ditolerir. Dan prinsipnya begitu jelas baginya, ia tak mungkin melanjutkan kedua orang di hadapannya untuk terus mencari nafkah di perusahaan ini. Tapi memberhentikan orang, bukan perkara mudah. Memberhentikan, berarti memutus rantai pencaharian bagi keluarga mereka. Dan kasus seperti ini tidak pernah mudah.
‘tolong pak, saya masih mau kerja disini. Saya salah pak, kami berdua emosi dan mengaku salah… tapi mohon kebijakan bapak untuk tidak memberhentikan kami… saya harus kerja dimana lagi pak?’
Rekan lainnya sudah meneteskan air mata. Berusaha menggali sedikit ruang belas-kasihan agar surat itu tidak ditandatangani. Lelaki itu menatap lekat-lekat ke kedua bapak-bapak di hadapannya. Tetap diam.
‘kalau saya tidak memutuskan, apa kata ratusan teman kalian yang lain? Kalian tahu resiko lebih besar di teman-teman kalian? Konflik fisik ternyata diperbolehkan, dan selanjutnya pengelolaan kita hanya jadi seperti hukum rimba…’
Kedua bapak di hadapannya, akhirnya menangis bebas. Tetap memelas, dengan begitu banyak alasan. Lelaki itu berdoa sejenak, dan mengambil pena.
‘silahkan ditandatangani, pak…’
Kedua bapak itu menatapnya dengan kaget, dan air mata semakin deras.
‘Pak, saya harus lindungi teman-teman bapak yang lain, supaya tidak jatuh di kesalahan yang sama… ini lebih besar dari permasalahan bapak-bapak, dan saya harap bapak bisa mengerti…’
Kedua lembar itu, ditarik oleh mereka berdua. Lelaki itu bisa melihat, air mata mereka menetes ke lembaran itu. Bergetar, dua lembar surat itu ditandatangani oleh mereka. Lelaki itu menarik kembali kedua lembar, dan mengambil pena dan mulai menandatangani bagian surat yang mewakili perusahaan.
‘Terimakasih pak. Tetap banyak doa dan ikhtiar yah pak, agar tetap diberi jalan oleh Allah…’
Ia berdiri, dan menghampiri kedua bapak yang masih menunduk terisak. Refleksnya saat ini mewakili individu pribadi kembali, bukan wakil entitas bisnis bernama perusahaan terbatas. Perlahan, ia merangkul bahu kedua bapak itu, dan berbisik kata-kata maaf yang bergetar pelan. Ia membalikkan badan, dan berjalan meninggalkan meja itu. Menyerahkan kedua lembar surat itu ke asistennya tanpa berbicara apapun, dan turun ke lantai dasar menuju musholla.
Sujudnya terasa begitu kosong, doanya begitu hampa. Nyaris lupa apa yang harus dia ucapkan dihadapan Khalik. Sore itu, ia putuskan mencari seorang pengemudi senior yang sudah bertahun-tahun berdedikasi sebagai pengemudi truck, di perusahaannya. Ia akrab dengan bapak yang satu ini, dan ia hanya ingin bercerita dan berbagi.
Ia bertemu bapak senior itu, di warung samping dekat parkiran truck. Dan seperti hari-hari biasanya, ia memesan secangkir kopi dan menyapa bapak senior itu dengan hangat. Bapak itu selalu ramah, dan murah senyum dengan gaya santun khas priyayi Jawa. Perbincangan berjalan mengalir, dan sampai pada saat bapak itu bertanya dengan ramah…
‘pak, sedang ada beban berat yah Pak..? Mungkin bisa dibagi, supaya ndak terlalu berat pak…’ gaya bicaranya khas Jawa Timuran, ditambah aksen kebapakan yang tenang.
Lelaki itu diam. Beberapa menit, mereka berdua hanya mendengar deru truck yang keluar-masuk di lahan parkir truck itu.
‘Pak, sudah berapa lama bapak bawa truck? Nggak capek pak, kerja seperti ini? Katanya dulu bapak pernah cerita, orang tua dulu punya sawah. Kenapa bapak nggak melanjutkan aja pak jadi petani? Koq malah belok jadi bawa truck?’ Lelaki itu bertanya santun ke pria yang sudah berumur tapi tetap tegap itu.
‘Ah, pak, jalan hidup orang itu beda-beda pak. Dulu, orang tua saya jadi petani, masih enak pak jadi petani. Wong cilik seperti kita, masih bisa manen padi trus kita jual dengan harga layak. Sekarang-sekarang ini, wis ndak iso pak, lebih susah.. kita habis manen padi, musti jual ke pengumpul, nanti pengumpulnya yang jual lagi ke pedagang besar. Kita dapetnya kecil pak, syukur-syukur bisa sisakan sedikit untuk ditabung. Kadang malah tetap berat. Jadi saya waktu seusia bapak ini, saya ingin coba kerja lain yang jujur, tapi masih bisa nabung pak.’
‘Tapi kerja kan dimana-mana gak ada yang gampang pak?’
‘Betul pak, itu dia makanya saya percaya, jalan hidup orang itu beda lho pak. Saya ambil jalan jadi bawa truck, beda jauh sama bapak saya dulu, tapi bukannya lebih ringan pak. Sama-sama berat koq…’
‘Tapi? Ada yang beda yah pak..?’
‘Yah, bedanya yah jalan-jalan pak, bisa lihat dunia luar, bisa punya wawasan, beda kalau di kampung saya cuma lihat sawah yang itu-itu aja… lha wong saya ini waktu muda suka sekali tantangan pak…’
‘Tapi bapak jadi jarang toh ketemu keluarga pak? Wong jalan-jalan ae koyo ngono?’
‘Hahaha, bapakku iki iso ae pak… Ndak opo-opo pak, memang kerjaannya yah begini ini.. saya dua puluh tahun lebih pak jadi supir, mulai malah jadi kernet pak, masangin kek-ban supaya truck-nya ndak mundur di tanjakan, trus bongkar-bongkar barang, trus pelan-pelan belajar bawa truck, trus bisa dan ada tabungan sedikit, saya ambil SIM truck pak. Tapi saya ya percaya aja pak, kalau kerja lurus yah pasti dikasih jalan terus sama Gusti Allah… pernah dikeroyok rampok, sampe diborgol, dibuang ke hutan, tetep aja pak saya bisa lepas karena dilindungi Gusti Allah… alhamdulillah pak, sekarang ini meskipun saya cuman sebulan dua kali tiga kali ketemu keluarga, tapi anak-anak saya bisa sekolah lebih tinggi dari saya pak… Yang sulung aja sudah masuk kuliah lho pak’
Bapak itu tersenyum, menyeruput kopinya, dan menghembuskan nafas lega dengan nikmat kopi sore hari itu.
‘Pak, Bapak nggak pernah capek pak? Pasti berat sekali kan kerja seperti bapak?’
Bapak berumur itu menatap lelaki muda di sampingnya, dan kembali tersenyum seperti figur bapak ke anaknya. Dengan santai, dia merangkul bahu lelaki muda itu..
‘Nggak pernah capek pak, wong aku kerja untuk anak-anakku koq, bukan untuk diri aku sendiri… kalo sudah bicara anak, pasti kita gak pernah capek pak’
Lelaki muda itu tersentak. Gemetar, ia putar waktu mundur jauh sekali ke masa sangat awal dari kehidupannya. Masih kabur, tapi ia mencoba terus.
‘Makasih yah pak, untuk kata-katanya. Anak-anak bapak pasti bangga kalau bapaknya laki-laki hebat’ ujar lelaki itu. Ia berdiri, bersalaman dengan bapak berumur itu.
‘Doa saya untuk bapak dan semua keluarga bapak. Jaga kesehatan lho pak, jangan ngebut-ngebut kalau bawa truck’ ujar lelaki muda itu sambil tersenyum.
Bapak berumur itu tertawa, ‘mohon doanya pak, doanya untuk anak-anak saya yah pak, semoga bisa pintar seperti bapak dan jadi pemimpin yang ngemong ke semua staff-nya’.
Lelaki itu menunduk, ‘saya bukan siapa-siapa pak… saya cuma lokomotif yang menggerakkan kereta.. kalau kereta nggak ada gerbongnya, nggak ada penumpang, lokomotifnya kan gak berfungsi pak’
Lelaki itu pamit dan berbalik, berjalan menjauh saat tiba-tiba ia mendengar bapak berumur itu berkata cukup keras..
‘Pak, gerbong dan penumpang selalu ada pak… tanpa lokomotif, gerbong dan penumpangnya nggak bakal sampai tujuan, pak… Kalau gak sampai tujuan, anak saya dan anaknya teman-teman lain gak bakal bisa sekolah tinggi-tinggi pak… Lokomotifnya harus tetap kuat yah pak. Doa saya untuk bapak, semoga selalu dilindungi Gusti Allah, diberi kesehatan dan kekuatan, supaya lokomotif bapak bisa jalan terus pak.’
Lelaki itu tersentak kembali. Ia berbalik badan dan menatap bapak berumur itu. Bapak itu berdiri kira-kira lima meter di hadapannya, lalu menunduk menghormat. Lelaki itu menundukkan badannya, menghormat lebih tunduk pada bapak berumur itu. Lalu berbalik arah, dan berjalan kembali ke ruangannya.
Duduk di ruangannya, ia putar kembali memori awal hidupnya. Ia sudah tidak tahu lagi, kemana mainan truck kayu yang dibuatkan oleh ayahnya dulu. Tapi ia masih ingat dengan tajam, saat mereka berdua berbincang di hadapan tiga truck ayahnya. Dan ia masih ingat dengan jelas kalimat yang keluar dari suara berat ayahnya…
‘Kalo buat anaknya bisa sekolah, mereka gak pernah capek De... ‘
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Berhenti sejenak, aku lihat langit, berbintang tak seramai biasa, tapi tetap cahayanya menunjukkan arah...
Mungkin kita bisa tersungkur, terjerembab, pun berbentur keras, dalam wujud realitas tak akrab...
Tapi perihal cinta, kita selalu tafakur-kan hati...
Membayangkan sejenak saja menggenggamnya, memberi sedikit senyum pada bathin...
Semoga waktuku masih panjang untuk menatapmu, dalam deru panjang debu beterbangan atau ruas jalan tak berujung...
Sedikit saja izinkan aku menggenggam halus..., dan kau rasakan waktu yang bersahabat pada seluruh hidupmu...
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Barat Jakarta, 24 Oktober 2009, 03:39 dinihari
‘Kalau punya mimpi & cita-cita, bangun dari tidur, bangkit dari tempat tidur, dan kejar mimpi itu jadi kenyataan... kalau terus tidur, mimpi itu tidak pernah jadi kenyataan...’