Sunday, August 27, 2006

Mengenal & Memberi

Aku bertemu dia, hanya kebetulan
Duduk di depan computer, dalam kesibukan normal kantor
Sederhana, dan tidak berlebihan
Hanya figur yang tampil dalam balutan kebersahajaan


Namanya bermakna dalam,
Meskipun shakespeare tetap berdebat tentang apalah arti sebuah nama
Tapi aku ingat tentang kemegahan masjid di timur tengah,
Yang diinspirasikan dalam namanya
Dan cerminan figur berkerudung, tunduk dalam pesan rasul

Perkenalan yang sederhana, hanya sesingkat itu
Kantor yang rusuh dalam keseharian yang sibuk
Dan aku hanya pendatang yang singgah
Kembali di kota kembang asalku yang alami
Sejenak, tapi menyegarkan

Dan perbincangan berlanjut dengan bantuan teknologi
Pesan singkat yang lahir dari kesigapan jemari menekan tombol
Yang membuat jutaan orang berinteraksi di berbagai belahan dunia
Dan aku menikmati perjalanan panjang dari ujung barat ke timur
Panjang, tapi toh perbincangan bisu dengannya cukup membuat terjaga di perjalanan

Cerita-cerita itu berlanjut terus
Figur yang awalnya tak terjabarkan
Ternyata kharismatik, dan tetap tak berlebihan
Menjalani hidup apa adanya, ikhlas
Mungkin satu yang sulit ditemukan dalam banyak orang saat ini

Dan semakin banyak cerita yang bergulir darinya
Perlahan tapi pasti, kepercayaan yang menguat
Dari respon pendek di pesan singkat itu
Hingga saat-saat perbincangan panjang malam-dini hari,
melintas kota dingin dan panas

Perjumpaan itu bisa terhitung jari
Sangat sedikit waktu terluang untuk temu dan tegur sapa
Karena luasnya jawa membuat aku sadar, negeri ini begitu besar
Bahkan untuk sosok dua manusia yang sering kehilangan kewarasan karena tawa
Atau yang termenung dalam kisah satu dan lainnya

Tak banyak yang bisa kuungkap tentang dia,
Dalam tulisan yang harusnya bisa menjabarkan begitu banyak kepribadiannya
Mungkin karena aku kesulitan, atau kehabisan kata-kata
Ilustrasinya tak semudah aku biasa memotret
Lebih dalam, mungkin karena kedekatan itu lahir begitu saja
Tak dipaksakan

Tapi ceritanya membangunkanku
Bahwa orang sebaik dia harus berhadapan dengan kenyataan
Yang sering menjatuhkan dan mementahkan harap
Dan begitu banyak kisahnya yang membuat lamunanku tak usai

Dia hadir disana, dalam kesederhanaan, lagi, kebersahajaan
Rasio yang sering patah oleh perasaan
Karena dia figur yang jauh dari pamrih
Tak sedikitpun ruang diberikannya untuk menuntut

Aku belajar penyerahan diri darinya
Ketulusan memberi dan ikhlas dalam kenyataan
Seorang yang tak memikirkan bagaimana menjaga hati pribadi
Hanya memberi

Dan ia tak pusing dengan apa yang dimiliki dan tidak
Tidak pusing dengan bagaimana menjaga indahnya lekuk tubuh
Tak melelahkan diri dengan begitu banyak urusan dunia
Ia hanya tampil berbeda dari banyak pribadi lainnya
Karena dia begitu percaya setiap umat Tuhan memiliki jalannya
Dan aku lihat kedewasaan itu lahir dari figurnya yang ceria
Meskipun tetap, ia menyimpan begitu banyak cerita yang mengejutkan

Dan aku belajar tentang hidup, lagi-lagi darinya
Begitu kuatnya kesetiaan dipegang
Betapa kuat ucapan dipegang
Begitu jujur ia bercerita
Tak selalu mudah menjadi diri sendiri
Tapi aku belajar darinya, bahwa tak perlu takut menjadi diri sendiri

Kedewasaannya membuat perasaanku bermain dalam khayal
Memutar pikiran, mencari celah-celah bahagia
Pun tetap, ia manja dalam keakrabannya
Saat percaya membuatnya tunduk dalam sayang
Dan perhatian dalam, amat sangat dalam
Mengagumkan keseharianku yang bosan dengan sandiwara kerja kantoran

Dan ia bergerak dalam kepercayaan diri
Melangkah dengan tenang, tetap tak berlebihan
Menggenggam hari demi hari yang dihitungnya dalam senyum
Yang menenangkan siapapun memandangnya
Meski aku mulai banyak tahu, betapa perih hari-harinya yang terdahulu
Kepedihan yang ia bawa sendiri dalam tidur lelap, mimpi-mipi panjang,
Bahkan kenyataan kesehariannya

Semakin lama, aku mengenalnya dalam
Dari banyaknya kisah yang mengalir, pelan tapi pasti
Tentang hidupnya, mimpi dan harapannya, tangisannya,
kesetiaan, dan kejujuran nurani yang tak tergantikan
Ia tetap terlalu hebat untuk tersia-sia
Dalam hadir dan berlalunya mereka yang tak paham
siapa ia sebenarnya

Ia hanya menjadi diri sendiri,
dalam semerbak hadirnya yang melegakan
dan memberi ketenangan di sekitar
Dan aku, di kejauhan
akan menghabiskan malam-malam
Berdoa ikhlas untuknya, untuk yang terbaik
Dalam hidup, mimpi, semangat, dan cintanya
......semoga tidak ada lagi kepedihan untuknya



Surabaya, 25 Agustus 2006

No comments: